Lima hari syuting berturut-turut, Ojan dilarikan ke rumah sakit. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Ojan yang meriang parah dan sampai tidak kuat untuk sekadar bicara, ternyata terkena tipes. Excel, Helios, apalagi Azzam, tidak bisa untuk tidak menertawakan Ojan.
“Orang enggak pernah kerja, dan biasanya jadi beban hidup Sepri, eh mendadak kerja rodi. Ya hasilnya nginep di hotel sambil diinfus!” ucap Azzam dari seberang sana.
Jailnya Helios yang merasa bahagia atas sakitnya Ojan, memang sengaja menghubungi Azzam yang paling jago mengh*ina Ojan.
“Awas kamu ya Jam. Ini yang penting aku bayar. Enggak ngutang apalagi pakai jaminan kuta*ng janda orang,” ucap Ojan benar-benar lirih. Matanya sangat sayu. Karena terbuka dan tertutup kelopak matanya saja, membuatnya tampak makin mengenaskan.
“Ngapain kut*ang janda orang dibawa-bawa buat jaminan bayaran, Jan!” Di seberang sana, Azzam sampai terpingkal-pingkal. Namun, Ojan juga mendadak tertawa gagah sambil refleks duduk ketika di seberang sana, Azzam terjungkal dari kursi pria itu duduk.
Excel dan Helios yang ditugasi menjaga Ojan, langsung syok melihat perubahan emosi drastis dari orang yang sedang mereka jaga.
Karena usia Adam, juga usia Kim yang masih belum diizinkan beraktivitas bebas di rumah sakit termasuk itu menjaga Ojan yang sedang sakit, Chole termasuk Rere, belum bisa turut menjaga Ojan.
“Mas, ngapain?” tanya Excel yang juga jadi menertawakan Azzam.
“Kebanyakan dosa itu kamu. Tahu-tahu aku lagi sakit, ngomong pun sesak napas lemes gini, eh sengaja banget dihina level neraka!” keluh Ojan yang kemudian kembali meringkuk sambil tetap menatap Azzam. Di seberang sana, meski sampai jatuh dari tempat duduk, Azzam tetap saja cekikikan.
“Tapi Jan, itu kamu sudah dapat gaji belum? Kalau belum, kamu mau bayar pakai apa?” tanya Azzam yang sudah kembali duduk.
“Lah, ngapain bingung. Aku kan punya papi mami sultan. Makanya kamu jadi orang yang pinter beripentasi, paksa orang kaya buat angkat kamu jadi anak, biar kamu dapat warisan atau setidaknya pasilitas mewah!” ucap Ojan sekalian menasehati.
“Iya kalau dapat, kalau yang ada kamu dijadikan tumb*al pesugihan, gimana? Diserahin kamu ke j*in atau malah dakj*al sekalian!” balas Azzam.
“Nah itu gunanya jadi orang pinter, Jam. Kalau sampai ketemu yang begitu, ajak temenan. Lagian harusnya bukan aku yang takut, tapi justru mereka yang takut ke aku!” yakin Ojan lagi.
“Si Ojan diam-diam licik banget ya, orangnya!” bisik Helios kepada Excel.
Berbeda dari menjaga orang sakit pada kebanyakan, menjaga Ojan yang sedang sakit malah menjadi ajang lawak bagi Excel maupun Helios yang notabene merupakan mantan mafia.
“Jan, ini Rere WA, katanya lagi ke sini bawa makanan. Sama, ... Adam katanya kangen banget ke kamu,” ucap Excel sambil membaca WA dari Rere, tak lama setelah telepon videonya dengan Azzam, berakhir.
“Bentar deh Mas Excel. Ini ngomong-ngomong biaya rumah sakit, ... aku bisa dirawat di lantai atau kolong tangga saja? Biar biayanya murah. Impusnya dikasih air keran saja, enggak usah diganti-ganti lagi. Sama ... obatnya juga minta dikit-dikit saja. Intinya, aku jangan di ruangan pace ini. Karena seperti kata Jam-Jam, aku kerja rodi sampai nyaris mampus, buat bayar inpus hasilnya hangus. Lah ... aku apalagi anak istriku dapat apa? Sia-sia dong aku kerja diomeli pak Ratadata, eh hasilnya buat nginep di sini?” ucap Ojan lagi. Namun, bukannya menyimak dengan serius, Excel dan Helios malah sibuk menahan tawa. Keduanya sampai lemas dan berakhir jongkok.
“Ini kalian kenapa, sih? Kok malah ngakak sampai nangis gitu?” tanya Ojan terheran-heran. “Aku serius ini loh ... rasa sakitku takut ke duit. Nanti aku mau bilang sudah sembuh, takutnya biayanya mahal. Mau bayar pakai apa? Kut*ang janda tetangga mana laku!” Ojan benar-benar bingung.
Kedatangan seorang suster maupun seorang dokter untuk kontrol rutin, menjadi puncak dari keinginan Ojan yang tidak mau keluar biaya mahal. Ojan mengatakan semua paket hemat versinya dalam menjalani pengobatan, layaknya apa yang sudah sempat ia katakan kepada Excel dan Helios.
“Enggak apa-apalah Sus. Asal biayanya lebih murah, saya dirawat di wece, enggak usah ada tempat tidur enggak apa-apa, yang penting biayanya lebih murah. Sama sekalian, infusnya enggak usah diganti-ganti, diisi ulang saja pakai air dari wece, kan hemat. Ekonomi global sedang semakn pailit, hingga dampaknya bikin hidup ini makin sulit. Bukan hanya ibu-ibu yang menjerit. Karena para bapak juga hampir koid karena tiap saat cari duit!” ucap Ojan.
Helios yang sudah sampai menangis karena kesibukannya menahan tawa, menjadi orang pertama yang keluar meninggalkan Ojan. Kemudian, yang selanjutnya menyusul ialah Excel. Sementara terakhir, yang melakukannya ialah sang dokter. Sebab tak lama setelah kepergian Excel, sang suster juga sampai nangis lemas akibat menertawakan Ojan.
“Loh, ini kok aku malah ditinggal. Terus, kenapa juga mereka malah pada ketawa ngakak sampai nangis gitu. Diminta solusi malah bikin aku bingung sendiri. Ya sudahlah nunggu maiwaifi. Memang cuma maiwaifi yang paling ngerti. Sekelas dokter saja kalah. Memangnya apa salahnya kalau pasien dirawatnya di lantai atau wece saja. Kan biar hemat karena ekonomi global sedang pailit!” gerutu Ojan yang kemudian memutuskan untuk kembali berbaring. Ia melakukannya dengan hati-hati, mengingat tifus yang ia alami, membuat tubuhnya terasa sangat lemas. Ojan merasa tubuhnya tak memiliki tulang.
“Tapi kayaknya kalau aku dipeluk maiwaifi, aku langsung gagah dan perkasa lagi. Duh Adam, daddy juga kangen berat ke kamu. Lebih berat dari berat badannya mbak Septi, pas mbak Septi hampir operbody,” gerutu Ojan benar-benar lemas.
Sekitar satu jam kemudian, Ojan terbangun karena sentuhan dari bahan lembut agak basah yang terasa hangat. Ternyata, itu Rere yang tengah menyeka tubuh Ojan.
“Maiwaifi ... kamu sudah bikin bidadari iri hati. Karena kamu selalu cantik fisik maupun hati. Istri istimewa, calon penghuni Surga yang selalu memuliakan suaminya. Saranghiyu pokoknya!” ucap Ojan masih lemas, tapi ia sengaja memuji sang istri.
Ketulusan sekaligus kesabaran Rere, seolah menjadi cahaya sekaligus penerang tersendiri untuk kehidupan seorang Ojan. Kadang, yang awalnya sangat berat, menjadi agak ringan, jika Ojan melakukannya dengan Rere dan segala dukungan wanita itu.
“Habis ini makan yang banyak yah, Dad. Biar cepat sembuh,” lembut Rere sambil menuntun Ojan untuk duduk. Ia menyeka punggung Ojan, sementara Adam yang duduk di sebelah kaki Ojan, juga tak mau kalah merawat sang daddy.
“Daddy cepat sembuh, ya!” ucap Adam di tengah kesibukan kedua tangannya memijit-mijit kaki sang daddy.
“Masya Allah. Sesempurna ini keluarga kecil kami. Daddy janji akan cepat sembuh, biar kita bisa sama-sama lagi. Biar Daddy bisa kerja lagi!” ucap Ojan merasa sangat bersyukur memiliki Rere dan Adam. Meski ketika ia mengutarakan paket hemat biaya berobat di sana kepada Rere, istrinya itu juga langsung tertawa lemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Naji Ihsan Ahmad
sumpah deh kak di episode ini AQ ngakak abis sampai terkencing 2 dan sakit perut untungnya sempet ke wc ada2 aja tingkah Paojan dan idenya lemes huhh fresh banget pokoknya lelah hilang hati riang makasih yang banyak KK banget semoga tambah eksis dan seru terus Thor cerita nya
2025-01-19
0
Lina Suwanti
baca bab ini bikin pegel mulut,, ketawa mulu
2025-01-20
0
Isma Isma
aslii sakit perut ketawa gara gara ojjan😄😄
2025-01-05
0