Bagian 19_rumah

Gemerlap dari lampu besar yang menggantung di tengah ballroom luas itu menyuarakan kemewahan dari pesta yang sedang diadakan di sana. Puluhan orang tampak memenuhi ballroom itu, menghadiri acara peringatan hari ulang tahun pernikahan dari pemilik perusahaan besar di Jepang, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto.

Orang-orang yang menghadiri acara tersebut berlalu-lalang memenuhi ballroom dengan pakaian-pakaian yang terlihat elegan dan mewah. Gaun dan tuksedo. Walaupun dalam beberapa hari musim dingin akan datang, tidak membuat mereka perlu khawatir dengan kondisi cuaca yang hari ini lebih dingin dari sebelumnya.

"Selamat untuk hari jadi pernikahan Anda!" Daniel menjabat tangan Fugaku sembari melontarkan ucapan selamat. Di sisinya terdapat sang istri yang telah tampil menawan. Miraina mengikuti jejak Daniel, lalu terlibat perbincangan khas wanita bersama Mikoto.

Sebelum hari kepulangan mereka kembali ke Inggris, Fugaku mengundang Keluarga Axelton untuk hadir dalam pestanya.

"Terima kasih, Tuan Axelton." Fugaku berujar. "Jadi, Anda sekeluarga akan kembali ke London besok?"

"Ya, kami akan kembali besok. Tentu Anda tahu perusahaan tidak bisa ditinggalkan begitu lama."

"Ya, benar."

"Putriku juga masih harus mengurus kuliah mereka. Banyak yang harus dia persiapkan untuk itu."

"Ah, apakah mereka ikut datang? Menantuku sepertinya sudah terikat pada putri Anda."

"Ya, putra dan putriku ikut ke sini. Mereka berada di sana." Daniel menunjuk kedua anaknya yang berada tidak jauh dari posisi mereka. Pun ada Rheegan di sisi Reyana dengan tangan yang selalu setia tersampir di pinggang gadis itu. Reyana tampak diapit oleh kedua laki-laki yang telah bersamanya sedari kecil itu.

"Oh, mereka ternyata sudah bersama putra dan menantuku."

Benar, juga ada Sakura dan Sasuke di sana. Ketika melihat sosok Reyana di antara para undangan, Sakura dengan bersemangat langsung menarik tangan Sasuke untuk ikut menghampiri gadis itu. Sasuke yang ditarik menampilkan wajah yang sedikit kesal walaupun tidak terlihat. Dia pikir setelah kebohongan Gadis London itu–sebutan yang dibuat Sasuke entah kapan–terungkap maka Sakura tidak akan lagi suka padanya, tetapi pemikirannya itu salah. Setelah kepergian Reyana dari rumah Naruto, Sakura hampir setiap harinya membahas mengenai gadis itu. Telinganya terasa panas mendengar nama gadis itu diucapkan berulang kali.

"Yana-chan, jadi kau akan pergi besok? Aku akan merindukanmu," ujar Sakura dengan raut wajah yang terlihat sedih.

"Ya," jawab Reyana. "Aku juga akan merindukanmu. Sekali lagi terima kasih untuk kebaikanmu selama aku berada di sini."

"Kau sudah banyak mengucapkan terima kasih, Yana-chan. Lagi pula, kalaupun waktu terulang kembali aku tetap akan senang mengenalmu."

"Oh ya, apakah besok aku boleh mengantar keberangkatanmu?" Sakura berimbuh dengan penuh harap. Lagipula besok dia tidak memiliki kelas. Jadi, dia pasti bisa kapan pun waktu keberangkatan Reyana bersama keluarganya–juga laki-laki yang katanya akan dijodohkan dengan gadis itu.

"Tentu. Boleh, Sakura-san."

"Jam berapa pesawatmu akan lepas landas?"

"Kami sudah akan berada di bandara pukul sepuluh besok pagi."

"Baiklah, akan kupastikan tidak terlambat besok."

Mereka berdua lanjut asik mengobrol, tidak mempedulikan tiga laki-laki di sana yang memasang tampang bosan. Terlalu larut dalam pembicaraan perempuan sampai mengacuhkan sekitar.

"Hai, kalian semua!"

Suara yang khas itu terdengar, menginterupsi pembicaraan Reyana dan Sakura. Menoleh ke arah sumber suara, mereka mendapati Naruto bersama Hinata di sampingnya.

"Aku mencari kalian tadi, ternyata kalian berada di sini," ujar laki-laki bermata safir itu dengan nada yang sedikit berlebihan. "Oh, Teme. Mengapa wajahmu kusut begitu? Sama seperti kemeja ayahku tadi sebelum berangkat, Ibuku langsung berubah cerewet karena itu. Padahal aku sudah bersyukur seharian ini tidak mendengar omelannya."

"Berisik, Dobe." Lirikan tajam dilontarkan oleh si bungsu Uchiha. Bukannya takut, Naruto malah tertawa kecil. Sudah bersama Sasuke sedari kecil membuat itu tidak mempan terhadapnya.

"Oh ya, Yana-chan. Apa besok aku boleh mengantar kepulanganmu ke Inggris? Aku pasti akan sangat merindukanmu setelah ini, kau sudah kuanggap seperti adik sendiri."

"Tentu boleh, Naruto-san. Besok kami sudah akan di bandara pukul sepuluh besok pagi."

"Satu lagi, apa aku boleh meminta nomor ponselmu? Jadi, kalau aku sudah terlalu merindukanmu kita bisa saling mengirim pesan, bahkan saling menelepon."

Sudah akan menjawab, tetapi tekanan di pinggangnya membuat Reyana menoleh pada laki-laki yang sedari tadi tidak melepaskan dirinya. Awalnya dia sudah berusaha melepaskan diri, tetapi putra Vanderson itu sangatlah keras kepala. Tidak menghiraukan Rheegan, Reyana kembali beralih pada Naruto.

"Nanti aku akan memberikannya."

Setelah kalimat itu terlontar, Reyana kembali merasakan pelukan Rheegan di pinggangnya semakin mengerat. Itu mengganggunya walaupun tidak menyakitkan.

"Sakura, kita perlu menemui tamu yang lain." Sasuke berujar dengan datar. Sebenarnya itu hanya alasannya untuk menjauhkan sang tunangan dari si pencuri perhatian. Dia lelah tidak dihiraukan oleh Sakura.

"Baiklah." Sakura membalas dengan malas. "Kalau begitu sampai jumpa besok, Yana-chan."

"Ya, Sakura-san."

"Aku dan Hinata juga akan berburu hidangan. Sampai jumpa besok!" Naruto dan Hinata ikut meninggalkan mereka.

Lalu, di saat Ren mengalihkan pandangan dari kakak kembarnya itu, Rheegan langsung menarik Reyana menjauh dari sana. Dia membawa Reyana keluar dari ballroom. Merasa jarak mereka dengan ruangan diadakannya pesta itu sudah cukup jauh, Rheegan secara tiba-tiba menyudutkan Reyana ke dinding. Wajahnya dengan Reyana hanya berjarak beberapa centimeter, hingga mereka bisa merasakan embusan napas masing-masing.

"Apa-apaan kau ini?!" Reyana berseru kesal sembari berusaha melepaskan diri. Namun, tubuh Rheegan yang menjulang di depannya itu tidak berhasil dia geser seinci pun.

"Reya, ... sepertinya perlu selalu diingatkan bahwa kau adalah milikku. Aku tidak pernah suka berbagi." Laki-laki itu menekan setiap kata yang dia lontarkan. "Apakah suatu kesenangan nomor ponselmu dimiliki banyak orang, bahkan laki-laki lain? Pasti akan lebih menyenangkan jika dalam waktu dekat ada darah yang jatuh ke jalanan."

Tubuh Reyana seketika menegang begitu mendengar ucapan Rheegan. Seharusnya dia tahu itu, tetapi sepertinya kebebasan yang didapatkannya beberapa bulan ini menghambat kepekaannya.

"Kau tidak akan melakukan itu, Rhee."

"Aku selalu lebih dari mampu untuk melakukan apa pun yang aku mau. Jadi, tentukan pilihanmu sekarang."

"Aku ...." Kedekatan di antara mereka membuat napas Reyana terasa mencekat. Dia ingin segera terbebas dari posisi ini. "Baiklah, tidak akan ada nomor yang tersebar dan orang yang darahnya berkurang."

"Pilihan yang bagus, Kitty." Rheegan tersenyum–lebih tepatnya menyeringai puas mendengar jawaban Reyana. Tangan menepuk lembut puncak kepala gadis itu secara singkat. "Kalau begitu, mari kembali nikmati pesta ini."

...* * *...

Reyana merasakan hangat yang melingkupi tubuhnya, padahal Jepang telah memasuki musim dingin. Pelukan seorang perempuan bersurai merah muda menjadi penyebabnya. Sakura memeluk Reyana dengan erat, tidak mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka.

"Aku benar-benar akan sangat-sangat merindukanmu, Yana-chan," ujar perempuan itu dengan suara yang lirih. Suaranya hanya terdengar oleh Reyana karena Sakura berbicara tepat di samping telinganya.

"Aku juga akan merindukanmu, Sakura-san. Aku tidak akan pernah melupakan orang sebaik dirimu."

Mereka berdua saling meresapi kehangatan masing-masing, sebelum menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi akan berpisah.

"Reyana, kita harus segera masuk." Suara Miraina memasuki telinga kedua orang yang sedang berpelukan itu.

Mereka akhirnya harus mengurai pelukan yang nyaman itu. Namun, sebelum benar-benar melepaskan satu sama lain, Reyana menyelipkan sebuah kertas kecil ke dalam saku jaket yang dikenakan oleh Sakura. Dia melakukan itu senatural mungkin agar tidak ada yang menyadarinya, terutama si putra Vanderson.

Tentu Sakura menyadari pergerakan Reyana, tetapi dia diam saja ketika melihat senyum dengan makna tersembunyi yang diukir oleh Reyana di wajahnya. Akhirnya dia hanya balas tersenyum.

"Sampai jumpa, Yana-chan!" Suara khas si laki-laki bersurai kuning, Naruto, mengudara dan masuk ke pendengaran Reyana. Dia menoleh pada laki-laki itu, memberikan senyuman terbaiknya pada seorang baik lainnya yang telah banyak membantu selama berada di Jepang.

"Tidak ada selamat tinggal ya, aku percaya jika suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Meskipun itu hanya berpapasan sekilas sehingga tidak ada di antara kita yang menyadarinya." Naruto berimbuh.

Mendengar kalimat Naruto membuat Reyana berharap hal itu tidak terjadi. Dia tidak ingin hanya berpapasan yang tidak mereka sadari. Tidak ingin. Yang dia inginkan adalah mereka bertemu, lalu bertukar rindu setelah lama tidak bertemu dan berakhir menghabiskan waktu di Ichiraku untuk menikmati ramen lezat di sana sambil bercerita. Itulah yang diinginkannya.

Tanpa disadari, cairan bening berkumpul di pelupuk mata Reyana.

Tidak peduli berapa lama mereka menghabiskan waktu bersama yang terbilang singkat itu, kebersamaan yang tercipta di antara mereka berhasil mengikat Reyana, hingga rasanya tidak ingin pulang, kembali ke rumahnya.

Rumah. Tempat untuk berpulang, di mana ada seseorang yang memikirkan dirimu.

Gadis tujuh belas tahun itu mendapatkan rumah baru. Dengan si pemilik surai yang selalu mengingatkan pada musim semi, si ceria dengan suara khasnya, juga dengan si arca dingin yang seringnya mengundang kekesalan. Mau seperti apa pun, sebuah tempat di hatinya telah ditempati oleh mereka. Karena itu semua, Reyana rasanya sulit untuk meninggalkan rumahnya.

"Pulanglah, Yana-chan." Sakura bersuara dengan lembut. Dia dapat melihat bendungan air mata di pelupuk mata gadis itu, dan ... hal itu juga berhasil mengundang yang sama terjadi padanya. "Berkunjunglah suatu hari nanti. Kami akan selalu membentangkan tangan untuk menyambutmu."

Pada akhirnya Reyana tidak bisa menahannya. Dia melangkah dengan cepat lalu menubrukkan dirinya pada Sakura. Cairan lakrimasi berhasil jatuh dari pelupuk matanya setelah itu.

"Aku akan berusaha agar suatu hari nanti bisa kembali ke sini, untuk kalian," bisiknya dengan lirih.

Sakura mengusap punggung Reyana, untuk menenangkannya. Setelah itu dia meraih wajah Reyana, kemudian menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu.

"Nah, tersenyumlah. Tidak ada perpisahan di sini, akan terus ada pertemuan lainnya."

Menuruti ucapan Sakura, Reyana menampilkan senyuman terbaiknya. Di sampingnya telah ada Rheegan yang lalu menyampirkan tangannya di pinggang Reyana.

"Kita pergi," ucap Rheegan pada Reyana. Kemudian mereka menyusul yang lainnya, yang telah beranjak lebih dulu dari sana.

Kembali pada keramaian bandar udara. Dengan orang-orang yang berlalu-lalang ke segala arah yang berbeda. Beberapa tampak melangkah dengan cepat, untuk mengejar waktu. Pun dengan latar suara pesawat yang lepas landas, suara pengumuman dari alat pengeras suara.

Pada tempat yang sama, di mana semuanya bermula, kini menjadi tempat di mana semuanya berakhir.

..._tamat_...

..."Tempat untuk berpulang adalah tempat di mana ada seseorang yang memikirkanmu."—Naruto: Shippuden...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!