Sebenarnya, Reyana sudah pernah membacanya di internet bahwa pukul tujuh pagi di Jepang masih tampak seperti pukul lima dini hari di negara asalnya, matahari masih tampak malu-malu untuk menunjukkan wujudnya. Karena itu sekolah-sekolah di Jepang dimulai pada pukul setengah sembilan pagi. Jadi, masih ada waktu kurang lebih satu setengah jam sebelum sekolahnya dimulai.
Dia bangun pukul tujuh pagi ini. Karena langit yang masih gelap begitu menggodanya untuk kembali terlelap, Reyana memutuskan untuk mencuci wajahnya ke kamar mandi. Setelahnya dia memutuskan untuk membersihkan apartemennya dalam rangka mengisi waktunya yang masih cukup luang sampai waktu keberangkatannya ke sekolah nanti.
Sedari dulu Reyana sangat ingin mencoba melakukan semuanya sendiri, ya, walaupun dia tahu kalau itu tidak akan mudah dan pasti akan penuh dengan keringat. Namun, Reyana senang setidaknya sekali seumur hidup dia pernah melakukannya.
Setelah kegiatan bersih-bersih singkat, Reyana membuatkan sarapan untuk dirinya. Kemarin dia sempat membeli beberapa kebutuhan pokok. Jadi, pagi ini dia bisa sarapan dengan roti berselai cokelat dan susu.
Di sisa empat puluh menit ini, akhirnya Reyana memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap. Dia cukup bersemangat untuk hari pertamanya. Selang dua puluh menit kemudian Reyana sudah berada dalam balutan seragamnya yang tidak jauh berbeda dari yang ada di anime yang pernah ditontonnya. Sekolah barunya ini juga memiliki almamater berwarna marun. Dia cukup puas dengan penampilan barunya itu.
Meraih tasnya dari atas meja belajar, kemudian dia bergegas keluar untuk mencapai halte bus terdekat. Namun, karena mengingat sekarang adalah musim gugur di Jepang, Reyana yang sudah berada di depan lift memutar tubuhnya kembali ke apartemennya untuk membawa payung lipat.
Begitu tiba di halte, bertepatan dengan datangnya bus yang bertujuan ke sekolahnya.
Di sepanjang perjalanan, bus sempat berhenti di tiga halte yang mana di setiap haltenya ada beberapa remaja dengan seragam yang sama dengannya ikut masuk ke bus itu. Hingga akhirnya bus berhenti di halte keempat yang berada tidak jauh dari Sekolah Menengah Atas Konoha, Reyana dan para remaja itu turun di sana.
Ah.
Reyana awalnya berpikir kalau dia tidak akan merasakan itu lagi karena sebelum-sebelumnya juga sudah pernah. Namun, ternyata rasa gugupnya tetap sama ketika memasuki sekolah barunya itu. Reyana mengikuti langkah para siswa lainnya untuk masuk ke gedung sekolah, dan sekarang dia kebingungan untuk mencari ruang guru.
"Hai! Aku lihat kau sedang kebingungan."
Sedikit terkejut, ketika menoleh Reyana mendapati seorang gadis bersurai oranye yang dikepang dua.
"Ah, iya. Aku sedang mencari ruang guru," ujar Reyana.
"Hoo, pasti kau siswa baru, ya. Kau sudah tahu nama wali kelasmu? Aku akan mengantarkanmu padanya."
"Terima kasih, namanya Hatake Kakashi."
"Kau berada di kelas yang sama dengan temanku, di kelas 2-4. Kau bisa memanggilku Moegi. Aku di kelas 2-1. Ayo, kuantar ke ruang guru!" Gadis bernama Moegi itu merangkul lengan kanan Reyana dan membawanya pergi ke ruang guru.
Ruang guru yang berada di lantai dasar memudahkan mereka sehingga tidak harus menapaki anak tangga.
"Nah, itu dia. Kakashi Sensei adalah yang memakai masker itu. Kalau begitu sampai jumpa di waktu makan siang!" Moegi melambaikan tangannya sembari berlalu dari sana.
Menarik dan mengembuskan napas sekali, Reyana pun masuk dan menghampiri meja wali kelasnya itu.
"Kau pasti siswa baru itu, bukan?" Masih tersisa jarak dua langkah dari posisi wali kelasnya itu, tetapi pria bersurai perak itu sudah berbalik dan berujar.
"Ah iya. Saya Miyaki Yana."
"Kau bisa memanggilku Kakashi Sensei." Pria bersurai perak itu berucap. "Kau datang tepat waktu karena kita akan langsung ke kelas. Ayo, ikuti aku!"
Reyana mengangguk lalu mengikuti langkah wali kelasnya itu.
Mereka akhirnya sampai di depan kelas 2-4. Terdengar suara bising dari dalam, yang seketika langsung berubah hening ketika Kakashi masuk.
"Berdiri!"
Seorang perempuan bersurai hitam pendek yang duduk di depan berseru, seraya bangkit dari bangkunya dan diikuti oleh yang lainnya.
"Beri salam!"
"Selamat pagi!"
"Ya, selamat pagi semuanya. Kalian bisa duduk." Kakashi berdiri di samping mejanya. "Kita mendapat seorang siswa baru hari ini. Silakan perkenalkan dirimu."
Reyana berdiri di depan kelas dengan gugup. "Namaku Miyaki Yana. Semoga kita bisa berteman baik, mohon bantuannya." Dia sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Baiklah, aku harap kalian memperlakukannya dengan baik dan membantunya. Kau sudah bisa duduk, Miyaki."
Reyana kembali mengangguk dan mulai melangkah ke belakang kelas di mana sebuah bangku dan meja kosong tersisa. Itu berdampingan dengan milik seorang gadis cantik bersurai coklat gelap.
"Hai! Namaku Hyuga Hanabi, kau bisa memanggilku Hanabi." Gadis itu mengambil langkah pertama untuk memperkenalkan dirinya.
"Senang mengenalmu. Kau bisa memanggilku Yana kalau begitu."
Hanabi tersenyum manis ke arahnya sambil bergumam kecil. Reyana tidak mendengarnya karena suara Kakashi di depan kelas sudah menarik perhatiannya untuk memandang ke sana.
Pelajaran pertama di kelas mereka hari ini adalah matematika, dan itu cukup memusingkan dengan segala angka yang saling bertumpang-tindih bersama garis-garis. Dua siswa laki-laki tampak tidak memperhatikan penjelasan, yang satu sedang menatap ponselnya di laci meja, sedangkan yang satunya lagi tampak sudah tenggelam dalam lautan mimpi. Reyana berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengikuti jejak si siswa kedua karena sudah pernah mendapatkan materi itu di sekolahnya dulu.
Hanabi di sampingnya tampak sangat fokus dan sibuk mencatat di bukunya. Reyana tidak menyangka akan mendapatkan teman yang seambisius itu.
...* * *...
Waktu makan siang akhirnya tiba. Para siswa menyambutnya dengan suka cita lalu bersegera menuju kafetaria yang berada di lantai dasar. Reyana menyimpan buku-bukunya dan peralatan tulis ke dalam tas terlebih dulu.
"Ayo, kita bisa ke kafetaria bersama!" ajak Hanabi yang sudah berdiri dari duduknya. Reyana mengangguk untuk menerima ajakan itu. Dia turut membawa ponselnya, sudah menjadi kebiasaan.
Tiba di kafetaria, Reyana mengikuti jejak Hanabi untuk mengantre sambil membawa baki miliknya. Setelah menerima makan siang mereka, Hanabi mengajak Reyana untuk duduk di meja dekat jendela besar yang mengarah langsung ke lapangan.
"Jadi, apa kau suka dengan sekolah barumu?" Hanabi bertanya di sela kegiatan makan mereka.
"Ya, begitulah." Reyana menjawab sambil lalu. Dia tidak terlalu tahu harus menjawab apa. Semua sekolah sama saja baginya, tempat menimba ilmu yang terkadang membosankan.
Asik mengedarkan pandangan sambil menikmati makan siangnya, netra Reyana menangkap eksistensi Moegi yang berjalan ke arahnya sambil membawa baki berisi makan siang miliknya. Di sampingnya seorang laki-laki dari kelas yang sama dengannya—kelas 2-4, yang tadi dia lihat tertidur di jam pelajaran pertama mereka—tampak mengikuti Moegi.
"Hai! Kita bertemu lagi," ujar Moegi begitu berdiri di samping meja yang dia tempati. "Aku baru ingat kalau tadi lupa menanyakan namamu."
"Ah, namaku Miyaki Yana."
"Apa aku boleh memanggilmu Yana?"
"Ya, tidak apa-apa."
"Bagus, kita akan menjadi teman yang baik tampaknya." Dia berujar dengan senang. "Oh iya. Apa kami boleh bergabung?"
Reyana melirik Hanabi untuk sesaat. Karena gadis bersurai coklat gelap itu tampak tidak terganggu maupun memperlihatkan reaksi berlebih, akhirnya dia mengangguk untuk pertanyaan Moegi.
"Dia adalah Konohamaru, temanku yang sekelas denganmu," ujar Moegi setelah mendaratkan tubuhnya di samping Reyana.
"Salam kenal," ucap Reyana dengan pelan. Dia tidak terlalu berharap laki-laki bersurai coklat itu mau berteman dengannya, lagipula dulu dia juga tidak bisa membuat pertemanan dengan seorang laki-laki. Ya, selain 'dia'.
"Apa kau bukan orang Jepang? Wajahmu tidak terlihat seperti orang Jepang." Tiba-tiba Konohamaru bertanya.
"Hei, tidak sopan!" Moegi berseru seraya membubuhkan jitakan kecil di kening Konohamaru yang mengundang protes dan ringisan kesakitan dari laki-laki itu.
"Ah, tidak apa-apa. Ayahku memang seorang Eropa."
"Sudah kuduga."
"Aku selesai. Sampai bertemu di kelas, Yana." Hanabi yang sedari tadi diam dan fokus pada makan siangnya beranjak duluan dari sana setelah berucap singkat. Reyana merasa tidak enak karena sudah tidak menghiraukan gadis yang padahal sudah baik mau berbicara padanya.
"Kau bisa kembali ke kelas bersama Konohamaru nanti. Jadi, nikmatilah makananmu dengan tenang." Moegi berujar.
"Baiklah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments