Bagian 14_hujan

Menurut perkiraan cuaca yang dilihat Reyana di televisi, hujan hari ini akan turun dengan deras. Awan-awan kelabu yang telah berkumpul dan menggantung di langit seakan membenarkan perkiraan cuaca itu. Karena itu, saat berangkat ke sekolah tadi pagi Reyana memasukkan payung lipat ke dalam tasnya. Payung itu akhirnya terpakai ketika waktu pulang sekolah tiba dengan langit yang telah mengeluarkan bebannya.

Masih ada beberapa teman sekelasnya yang menetap untuk menunggu hujan reda. Ada yang langsung pulang karena membawa payung seperti Reyana, pun ada yang berlari menerobos hujan karena halte bus yang terletak tidak begitu jauh dari gerbang sekolah.

Hanabi sudah pulang beberapa saat setelah waktu pulang sekolah tiba. Sang sopir menjemput langsung di depan gedung sembari mengembangkan payung untuk gadis itu.

Reyana menyelesaikan tugas piketnya lebih dulu sebelum pulang. Ketika selesai sekolah sudah sangat sepi. Yang tersisa mungkin mereka yang baru menyelesaikan tugas membersihkan kelas seperti dirinya. Tiba di pintu lobi, Reyana melangkah perlahan ke luar lalu mengembangkan payungnya.

Melewati gerbang sekolah, Reyana memilih untuk berbelok ke kiri, bukan arah sebaliknya di mana halte bus berada. Kali ini dia memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki, ingin menikmati suasana di bawah guyuran hujan. Jika sekarang berada di rumahnya, pasti dia sudah dimarahi dan akan dilarang untuk keluar. Usaha pelarian dirinya ini membawa banyak pengalaman baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan itu semua terasa sangat menyenangkan. Yah, setidaknya sampai Rheegan datang dan membuatnya seperti terkekang karena merasa takut untuk berjalan-jalan.

Perumahan tempat kediaman Namikaze berada berjarak tiga puluh menit jika menggunakan mobil atau bus. Reyana tidak tahu dia akan sampai di rumah pukul berapa. Bisa saja dia sampai begitu telat, tetapi itu tidak membuatnya mengurungkan niat. Dia ingin menikmati suasana menyenangkan itu.

Di jalanan masih terdapat beberapa kendaraan yang berlalu-lalang. Pun di daerah itu memiliki bangunan-bangunan yang cukup padat walaupun berukuran kecil. Ada beberapa toko kecil yang masih buka. Reyana yang sedang menikmati jalan-jalannya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Netranya tertuju pada satu toko kecil yang berjarak beberapa langkah darinya. Detik berikutnya matanya berbinar dan melangkah cepat ke sana.

Tiba di toko kecil dengan model terbuka itu, Reyana bisa melihat berbagai macam warna mochi yang sudah jadi dan tersusun di kotak. Tidak hanya mochi, juga ada dango si saudara jauh mochi yang memiliki rasa manis.

Tanpa membuang waktu lebih banyak Reyana langsung memesan dua kudapan itu. Dia sempat ditawari mochi varian baru yang isinya diganti dengan es krim, tetapi gadis itu menolaknya karena mengingat sekarang sedang hujan. Lain kali dia akan datang lagi untuk mencoba mochi es krim itu.

Reyana mendapatkan satu dango bonus yang bisa dia nikmati dalam perjalanan pulangnya. Matanya sampai menyipit senang ketika menikmati sensasi di indra pengecapnya. Ah, benar-benar menyenangkan. Di London dulu jarang sekali dia bisa mendapatkan kudapan enak seperti itu. Bahkan untuk es krim pun susah sekali untuk didapatkannya karena sang saudara kembar.

"Menikmati kebebasanmu, Kitty?"

Suara itu seketika membuat Reyana menghentikan langkahnya. Laki-laki itu selalu berhasil muncul bagai hantu, mengejutkan dan mengundang rasa takut. Dia tidak menyadari keberadaan Rheegan saat berjalan, entah karena terlalu fokus atau memang keahlian laki-laki itu untuk muncul secara 'tiba-tiba'.

Perlahan Reyana membalik tubuhnya. Dia di sana, di bawah guyuran hujan dan tidak terlihat terganggu oleh air yang telah membasahi pakaiannya. Kemeja hitam berlengan panjang dan celana chino slimfit, sangat khas seorang Rheegan. Kali ini lengan kemejanya dilipat hingga siku. Dia setia berdiri di sana sambil menatap Reyana. Tidak ada para bawahan yang biasa menemani laki-laki itu.

"Bagaimana kalau pulang sekarang, Kitty?" Pertanyaan kembali terlontar dari mulut laki-laki itu. "Kau pandai memilih tempat persembunyian yang cukup menyulitkan ya."

Dari kalimat itu, Reyana menyimpulkan bahwa Rheegan tidak bisa menyentuh dirinya yang selama ini tinggal di kediaman Namikaze. Dia pikir selama ini laki-laki itu kesulitan menemukan keberadaannya. Namun, ternyata kesulitan dalam menjangkaunya.

Benar. Rheegan saja bisa meretas ponsel milik Alex, meretas milik Reyana untuk menemukan keberadaan gadis itu bukanlah suatu hal yang sulit. Ketika menemukan keberadaannya, pasti laki-laki itu akan langsung melakukan segala cara untuk membawanya pulang.

Selama Rheegan berbicara, Reyana melangkah mundur perlahan agar tidak begitu terlihat. Dia sedikit menyesali keputusannya untuk pulang dengan berjalan kaki. Langit yang menggelap membuat Reyana sedikit takut, belum lagi hujan yang belum berhenti.

"Pulang, Kitty. Aku berjanji tidak akan ada pertunangan dalam waktu dekat." Rheegan berusaha membujuk Reyana dengan sabar walaupun dalam benaknya sedang dipenuhi suruhan untuk segera menarik gadis itu ke dalam mobilnya yang terletak tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

"Kau berjanji?" Reyana menghentikan usahanya melangkah mundur. Dia sedikit tergoda pada bujukan laki-laki itu.

"Ya. Lagipula tanpa pertunangan kau tetap milikku."

Rheegan tetaplah Rheegan. Seharusnya Reyana tidak tergoda dengan bujukan kosong yang keluar dari mulut laki-laki itu. Mungkin hanya selang dua atau tiga bulan setelah dia pulang pertunangan akan kembali dibahas, lalu akan terlaksana pada akhirnya. Dalam hati Reyana merutuki Rheegan yang seakan-akan begitu terobsesi pada dirinya.

"Tidak perlu banyak berpikir, Kitty. Kita tinggal pulang dan melanjutkan kehidupan seperti sebelumnya." Entah sejak kapan, kini Rheegan telah berada di depan Reyana, juga berdiri di bawah payung milik gadis itu. Jarak mereka begitu dekat hingga membuat Reyana merasa tidak nyaman. Aura dominan milik laki-laki itu selalu berhasil mengintimidasi. Tidak hanya itu, aroma parfum khas milik laki-laki itu pun menyeruak ke dalam indra penciumannya, musk yang bercampur dengan mint yang segar. Ingin mundur, tetapi kakinya kaku, seperti mengakar di tempatnya berdiri sekarang.

"Santai, Kitty, aku tidak akan menggigit." Rheegan berbisik tepat di samping telinga Reyana. Tangannya terangkat dan memainkan ujung rambut gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan lembut.

Tidak seperti ucapan laki-laki itu, tubuh Reyana malah menegang. Napasnya sedikit tercekat.

"Aku ... belum ingin pulang." Akhirnya gadis itu mengeluarkan suaranya. Sedikit ragu, karena itulah dia mengucapkannya dengan pelan.

"Bukankah kau harus bersiap untuk masuk universitas?"

Reyana kembali terdiam. Akhirnya dia berhasil membuat jarak dengan mundur dua langkah. Tangan kanannya menggenggam payung dengan erat. Netranya menatap ke sekitar. Detik berikutnya dia mengumpat dalam hati karena daerah itu cukup sepi, sudah sangat jarang kendaraan berlalu-lalang.

Melihat Rheegan yang tampak sedang lengah, Reyana memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri, kebetulan ada sebuah taksi yang melintas. Jadi, begitu taksi berhenti dia langsung masuk setelah menutup payungnya dengan terburu-buru.

Tidak seperti pemikiran Reyana, Rheegan tidak mengejarnya. Dia hanya menatap kepergian gadis itu dalam diam. Perlahan, sebuah senyuman miring terukir.

"Bermainlah dengan puas, Kitty. Setelah ini aku pastikan kakimu dirantai sampai tidak bisa keluar dari kamar."

...* * *...

Akhir pekan yang tenang pada hari-hari menjelang akhir musim gugur, kediaman Namikaze kedatangan tamu. Seorang laki-laki bersurai merah dengan tato Ai di keningnya telah duduk di samping Naruto sambil fokus memainkan gim bersama si surai kuning. Kedua laki-laki itu telah menghabiskan dua jam di depan televisi untuk bermain sejak kedatangan si laki-laki bersurai merah. Reyana sempat membawakan mereka minuman sebelum kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas.

Jujur, Reyana sedikit terpukau dengan tato Ai yang tergambar di kening laki-laki bernama Sabaku Gaara. Dari yang dia dengar, Gaara adalah adik bungsu dari Temari, teman Sakura. Sekarang laki-laki itu menempuh pendidikan lanjutannya di sebuah universitas di Kyoto dengan beasiswa penuh.

"Yana-chan!" Suara Naruto yang memanggil dirinya dari luar pintu terdengar setelah bunyi ketukan. "Kami memesan untuk makan siang, bergabunglah!"

Reyana melihat jam di ponselnya. Benar, sekarang sudah memasuki waktu makan siang, dia tidak menyadarinya karena terlalu fokus. Dia segera menuju pintu kamar dan membukanya.

"Aku akan segera menyusul, Naruto-san."

"Baiklah kalau begitu." Naruto berlalu dari sana setelah membalas singkat.

Merapikan buku-buku miliknya, kemudian Reyana segera keluar dari kamar agar tidak membuat Naruto dan Gaara menunggu terlalu lama. Tiba di ruang makan kedua laki-laki itu sudah duduk bersisian dengan makanan yang telah tertata di atas meja. Reyana segera bergabung ke sana.

"Karena semua sudah ada, mari makan. Selamat makan semuanya!"

Naruto adalah yang pertama menyerbu makanannya. Bermain selama berjam-jam cukup membuat perutnya meronta meminta asupan.

"Jadi, kau menumpang untuk tinggal di rumah Naruto." Gaara berujar di sela kegiatan makannya. Dia cukup terkejut ketika mendapati seorang remaja di rumah temannya tadi. Seingatnya pun Naruto tidak memiliki saudara selain Karin, sepupunya, yang sekarang sedang berada di New York.

"Ya ... begitulah."

"Di mana orang tuamu?"

"Mereka tidak ada di sini." Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Reyana menjawab pertanyaan semacam itu dengan lancar, tidak ada keraguan dalam suaranya yang bisa membuat orang lain curiga.

"Yana sebelumnya tinggal di apartemen milik Sakura, tetapi karena suatu hal aku menawarkannya untuk tinggal di sini. Lagipula rasanya terlalu sepi sampai orang tuaku pulang." Naruto bergabung ke dalam perbincangan itu. Dia berniat membantu Reyana untuk menjelaskan keberadaannya di kediaman Namikaze itu.

"Kuliahmu lancar?" Naruto bertanya pada laki-laki bersurai merah itu. "Bukankah bulan lalu kau mendapat tawaran untuk magang di sebuah perusahaan animasi?"

"Ini masih semester awal, jadi seharusnya aku belum memiliki kesibukan untuk magang seperti itu."

"Tunggu, jangan bilang kau menolaknya?!" Naruto berseru heboh sambil menatap Gaara tidak percaya. "Di saat seniormu pusing kau malah dengan gampang menolak tawaran seperti itu. Aku tidak mengerti di bagian mana tawaran itu tidak terlihat menarik."

Gaara memang seorang mahasiswa yang baru memasuki semester tiga. Pernah mengikuti kelas akselerasi satu tahun di sekolah menengah pertama membuat laki-laki itu bisa menyusul kedua kakaknya.

"Kau benar-benar ...." Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya. Cukup syok dengan respon sahabatnya itu. "Kesempatan bagus tidak datang dua kali, Kawan."

"Ya, terserah saja."

Terpopuler

Comments

Ersa

Ersa

penasaran rheegan itu pro atau antagonis ya?

2023-10-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!