Bagian 05_laki-laki

Ini adalah malam akhir pekan yang terasa dingin. Angin-angin musim gugur bertiup menusuk tulang dengan dinginnya. Tidak sampai menggigil, tetapi tetap saja terasa dingin. Karena tidak ada makanan hangat di apartemennya, Reyana memutuskan untuk makan malam di kedai ramen yang waktu itu dia kunjungi. Lagipula, tempat itu cukup dekat sehingga dia tidak perlu menaiki bus, hanya perlu berjalan kaki sebentar.

Sampai di sana, dia kembali menempati salah satu stool bar. Wanita bernama Ayame pun kembali melayaninya.

"Selamat malam. Apa kau sudah dikuasai sihir ramen kami sehingga datang kembali ke sini?"

Reyana suka sambutan hangat dan ceria dari wanita itu. "Ya, malam ini cukup dingin. Jadi, satu mangkuk ramen sepertinya bisa menghangatkanku," ucapnya disertai senyuman kecil.

"Baiklah, tunggu sebentar dan ramenmu akan segera datang."

Lagi-lagi, sambil menunggu ramennya, Reyana mengedarkan pandangannya untuk melihat-lihat ke segala penjuru kedai ramen itu. Sebenarnya terlihat cukup luas untuk disebut sebagai kedai, tetapi biarkan saja, sebut saja seperti itu agar lebih mudah.

"Hei, kau datang lagi."

Suara yang khas itu kembali mengagetkannya. Benar saja, laki-laki bersurai kuning itu sudah duduk di sampingnya dengan sebuah senyuman lebar.

"Ah, ya."

"Hari ini aku datang bersama kedua temanku, Sasuke dan Sakura, dan gadisku, Hinata."

Reyana kembali dibuat terkejut karena melihat Nona Merah Muda yang menyewakan apartemen padanya. Jangan lupakan laki-laki berambut pantat ayam yang selalu berekspresi dingin.

"Selamat malam, Sakura-san dan Uchiha-san."

"Oh, Yana-chan. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini." Sakura juga terkejut ketika mendapati Reyana yang duduk di samping Naruto.

"Ya, aku sedang mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhku," balas Reyana.

"Ya, kuakui kalau malam ini sedikit lebih dingin. Pastikan kau menutup jendela dengan baik ketika pulang nanti, Yana-chan."

"Tunggu, kalian sudah saling mengenal?" Naruto bertanya sambil melihat Reyana dan Sakura secara bergantian.

"Ya. Yana-chan menyewa apartemenku, Naruto," jawab Sakura.

Pembicara itu disela oleh datangnya ramen pesanan mereka. "Maaf membuat kalian menunggu. Selamat menikmati," ucap Ayame yang kemudian langsung kembali sibuk membuat pesanan lain.

"Yosh, selamat makan." Naruto kembali heboh ketika menyantap ramennya. Reyana sedikit menatap ngeri karena melihat masih ada asap yang menandakan ramen itu masih panas. Benar saja, beberapa detik berikutnya laki-laki itu sudah heboh lagi mencari air.

"Pelan-pelan, Naruto-kun." Suara perempuan bersurai biru tua yang tadi dikenalkan sebagai kekasih Naruto terdengar mengingatkan laki-laki itu.

"Aah, terima kasih, Hinata-chan." Naruto berterima kasih setelah meminum segelas air yang diberikan.

Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Reyana. Ada surel lagi dari kakak sepupunya itu.

From : alexn.dr(at)mail.com

To : bloomycrhysan(at)mail.com

Subject : -

Adik kecil, kali ini sepertinya aku akan membawakan kabar buruk.

Kemarin aku bertemu dengan laki-laki itu di rumah sakit. Aku tidak tahu urusan apa yang membawanya ke rumah sakit. Aku menyapanya hanya untuk berbasa-basi, dan tebak! Dia membicarakan tentang dirimu seakan-akan sudah tahu kalau kau tidak ada di rumah sejak lama. Padahal Ren mengatakan kalau dia belum memberitahunya mengenai dirimu.

Aku juga mendengar dari Ibu kalau Uncle dan Aunty akan pulang besok. Dalam perkiraanku, sepertinya laki-laki itu yang memberi tahu mereka mengenai kau yang tidak ada di rumah, atau mungkin memang Ren yang telah memberi tahu.

Oleh karena itu, aku tidak akan menghubungimu untuk beberapa saat agar mereka tidak curiga. Kau juga tidak perlu membalas surel ini, kau hanya perlu tahu, oke?

Dan ... dia sempat menyinggung Asia ketika kami berbincang.

Jaga dirimu!

Alex.

Reyana tersedak ketika membaca bagian akhir dari surel itu. Dia terbatuk-batuk sampai mengundang perhatian Naruto dan yang lainnya.

"Oh, sial," umpat Reyana dalam bahasa ibu.

"Minum dulu, Yana-chan." Naruto mengangsurkan segelas air kepada Reyana yang langsung diterima dengan cepat. Setelah menghabiskan setengah dari isi gelas, batuknya perlahan mereda.

"Kau baik-baik saja?" Sakura bertanya dengan sedikit khawatir.

Reyana mengangguk. "Ya, aku sudah baik-baik saja, Sakura-san. Maaf sudah mengganggu dan merepotkan kalian," ucapnya.

"Itu bukan apa-apa, lagipula kita sudah saling mengenal," sahut Naruto yang disetujui oleh Sakura. "Ya, Naruto benar."

"Terima kasih semuanya," ucap Reyana dengan tulus.

Akhirnya mereka menyelesaikan makan itu dan keluar bersama.

"Kau akan pulang dengan berjalan?" Sakura bertanya pada Reyana yang ada di sampingnya.

"Ya, lagipula jarak apartemen tidak begitu jauh."

"Sasuke-kun, bagaimana kalau kita mengantar Yana sebelum pulang?" Sakura beralih pada tunangannya yang sedari tadi diam bak patung batu—tidak hanya tidak bersuara, tetapi juga dingin.

"Hm, terserah kau saja."

"Ah, tetapi tidak perlu, sungguh. Pun tampaknya rumah Uchiha-san berlawanan arah dengan apartemen." Reyana menolak dengan halus. Sebenarnya dia juga tidak ingin berada di satu ruang yang sama dengan laki-laki dingin itu. Auranya mengingatkan Reyana pada laki-laki yang tadi membuatnya tersedak.

"Kalau begitu kau bisa bersamaku dengan Hinata." Naruto menimpali. "Aku akan mengantar Hinata pulang, dan itu searah dengan apartemen."

"Ah ya, benar. Kau dengan Naruto saja. Ini sudah malam, jadi lebih aman kalau kau pulang bersamanya." Sakura mendesak Reyana hingga akhirnya gadis itu tidak bisa menolak.

Dan di sinilah dia sekarang, berada di kursi penumpang belakang dalam mobil milik laki-laki bersurai kuning itu. Sepanjang perjalanan mereka yang tidak begitu lama, tidak ada suara yang memecah gelembung kecanggungan. Hingga akhirnya Reyana dapat bernapas lega ketika mereka sampai di depan gedung apartemen.

"Terima kasih untuk tumpangannya, Naruto-san. Selamat malam, dan hati-hati." Setelah itu Reyana langsung masuk. Dia tidak ingin berlama-lama di luar dengan embusan angin yang berlomba untuk menyelimuti tubuhnya dengan dingin.

Naruto pun kembali melajukan mobilnya dari sana.

"Naruto-kun." Hinata memanggilnya dengan suara pelan. Laki-laki itu bergumam pelan untuk menjawabnya. "Kau lebih banyak tidak menghiraukanku tadi."

...* * *...

"Miyaki, apa kau yakin tidak ingin ke ruang kesehatan?"

Entah sudah keberapakalinya gadis itu mendapatkan teguran dari sang wali kelas karena tidak memperhatikan pelajaran dengan baik. Reyana meringis karena siswa sekelasnya menatapnya begitu Kakashi kembali menegur dirinya.

"Maaf, Sensei. Aku izin ke toilet."

"Ya, silakan. Jika ingin melanjutkan ke ruang kesehatan pun tidak apa-apa."

Sepanjang jalannya menuju toilet yang berada di ujung koridor barat, umpatan terlontar dari mulut Reyana secara berkesinambungan. Dia mengerang frustasi karena tidak bisa fokus di pelajaran favoritnya, pengetahuan alam. Ini semua dikarenakan oleh laki-laki sialan yang mengganggu hidupnya dari kecil. Padahal dulu dia tidak seperti itu. Semuanya terasa berubah ketika dirinya menduduki kelas empat di sekolah dasar.

Sampai di toilet, Reyana berdiri di depan wastafel yang di atasnya tergantung cermin besar yang memenuhi sisi dinding itu. Dia membasuh wajahnya beberapa kali, berharap setelah itu bisa mendapatkan kembali kefokusannya.

"Laki-laki sialan!"

"Kau memiliki masalah?" Moegi yang keluar dari salah satu bilik mengagetkan Reyana. Namun, detik berikutnya dia mengembuskan napas lega karena seorang Moegi-lah yang mendapatinya mengumpat.

"Ya, begitulah."

"Aku bisa menawarkan bantuan jika masih dalam kesanggupanku," ujar Moegi sambil mencuci tangannya di wastafel.

Reyana terdiam sejenak. "Mungkin lain kali," ucapnya.

"Aku bisa menghajar laki-laki itu untukmu, sekadar memberi tahu."

"Aku sudah lebih baik. Akan kupikirkan tawaranmu lain kali." Reyana tersenyum geli pada gadis itu.

"Ya, tawaranku akan berlaku sampai jangka waktu yang tidak ditentukan."

"Hm. Ayo, kembali ke kelas."

"Tidak perlu terburu-buru. Lagi pula sebentar lagi waktu makan siang."

Akhirnya Reyana hanya mengangguk dan ikut bersandar pada meja wastafel seperti Moegi. Mereka saling diam dan menatap asal ke segala arah.

"Kau tahu, laki-laki memang sering menyebalkan." Moegi berucap memecah keheningan. Reyana kini memusatkan pandangannya kepada gadis itu.

"Sepertinya mereka tercipta dari gengsi dan ego. Ah, jangan lupakan logika sok tahu mereka. Itu berkali-kali lipat lebih menyebalkan ketika mereka bertindak seakan tahu segalanya."

"Juga sikap mereka yang terlalu mengekang." Reyana menambahkan.

"Kau benar." Moegi akhirnya balas menatap Reyana. "Sepertinya pertemanan kita akan bertahan lama."

"Ya," semoga.

Tidak lama setelah itu, dari luar terdengar suara yang ramai.

"Ayo, kita langsung ke kafetaria!" ajak Moegi seraya menarik pelan Reyana keluar dari toilet. Saat akan menuruni tangga, mereka bertemu dengan Konohamaru dan Hanabi.

"Bagus kita bertemu di sini. Ayo, pergi bersama!" Moegi merangkul Hanabi dan berjalan bersama. Konohamaru berdecih pelan karena merasa ditinggalkan. Kemudian mengayunkan kakinya mengikuti dari belakang.

Sampai di kafetaria mereka ikut mengantre bersama yang lain. Kemudian kembali memilih meja yang berada di dekat jendela besar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!