Suasana di rumah itu terasa begitu tegang. Seorang remaja laki-laki berdiri dengan kaki yang menapak tidak jauh dari pintu. Sebentar lagi kedua orang tuanya akan menyerbu masuk setelah mendapatkan kabar hilangnya sang kakak kembar.
Tidak hanya dirinya, di sana juga ada keluarga dari kakak ayahnya. Mereka sudah menghabiskan dua pekan lebih untuk mencari ke segala tempat yang memungkinkan. Namun, tetap tidak ada hasil yang mereka raih. Nihil. Seakan-akan kakaknya itu hilang ditelan Bumi.
Brak!
Daun pintu terhempas membuka, menampilkan sepasang suami-istri yang terlihat kalut dan cemas sejak menerima kabar itu.
"Ren, apa benar Reyana tidak ada di mana-mana?" Suara sang ibu, Miraina, terdengar serak. Matanya telah berkaca-kaca, cairan bening pun sudah berkumpul di pelupuk matanya, menunggu waktu untuk menjatuhkan diri. Remaja laki-laki yang dipanggil Ren itu menjadi tidak tega mengatakan lebih lanjut.
"Sejak kapan Reyana menghilang?" Kini giliran ayahnya, Daniel, yang bertanya. Kemeja yang dikenakannya sudah tidak rapi. Dasi terikat dengan longgar di kerah kemejanya.
"Aku tidak tahu. Sepertinya Rey sudah menghilang sejak aku masih di Liverpool. Ketika aku pulang Rey sudah tidak ada di mana-mana." Akhirnya Ren mengeluarkan suara untuk menjawab. "Kami sudah mencarinya, tetapi tetap tidak mendapatkan hasil." Dia menambahkan. Kepalanya tertunduk dalam. Dia merasa gagal dalam menjaga kakaknya.
"Apa tidak ada dari kalian yang mendapatkan petunjuk?"
"Sebaiknya kita duduk dulu dan memikirkannya dengan kepala dingin." Gallahan, kakak Daniel, berujar dengan tenang. Dia yang selalu berkepala dingin berusaha untuk menenangkan suasana itu.
Akhirnya mereka semua menurut dan menuju ruang tamu yang berada paling dekat dengan mereka. Miraina yang berada dalam rengkuhan putranya menangis tersedu. Dia benar-benar kacau karena kabar itu yang didapat dua hari lalu sebelum kepulangannya dan sang suami dari New York. Bahkan kepulangan itu mereka percepat karena situasi genting ini.
"Kenapa kalian tidak memberitahukannya lebih awal? Dengan begitu kita bisa mencarinya bersama." Daniel berucap dengan raut lelah. Pikirannya berkecamuk. Penuh akan penyesalan karena meninggalkan putrinya sendirian di rumah.
"Kami awalnya berpikir kalau Rey berada di rumah temannya." Ren mengambil alih untuk menjawab. Keraguan terlihat jelas dalam suaranya.
"Ini sudah dua pekan lebih dan belum ada kabar apa pun mengenai Reyana, bagaimana ini?" Miraina berucap di sela tangisnya.
"Tenanglah, Sayang. Aku berjanji akan segera menemukan Reyana." Daniel berusaha untuk menenangkan istrinya. Tangannya mengusap punggung Miraina dengan lembut. "Sebaiknya kau beristirahat di kamar. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang."
"Aku belum bisa tenang sebelum mendapatkan kabar mengenai putriku, Niel. Aku ibunya, dan aku khawatir. Aku takut pada segala kemungkinan yang bisa menimpanya di luar sana! Dia bisa saja sedang meringkuk ketakutan menunggu kita."
"Aku tahu, Sayang. Reyana juga putriku. Aku sebagai ayahnya juga khawatir, tetapi aku juga tidak ingin kesehatanmu menurun. Turuti saja perkataanku. Aku akan segera menyebar para Bayangan ke seluruh London."
"Ren, antar ibumu ke kamar!" titah Daniel.
"Kau juga ikutlah untuk membantu menenangkan Miraina," ujar Gallahan pada istrinya, Diana, yang langsung dibalas dengan anggukan.
Ren memapah ibunya menuju ke kamar. Diana yang berada di sisi lain juga ikut membantu. Baru saja akan menapaki tangga, tubuh Miraina sudah limbung dan jatuh tidak sadarkan diri. Hal itu langsung membuat Daniel berlari dengan khawatir ke arah istrinya.
"Cepat hubungi Jonathan!" Daniel berseru memberi perintah untuk memanggil dokter keluarga mereka sembari dia mengangkat tubuh istrinya. Dia sampai melangkahi dua anak tangga sekaligus agar bisa segera membawa tubuh istrinya ke kamar.
Selang beberapa saat, Jonathan yang akhirnya datang pun memeriksa keadaan Miraina. Setelah menjelaskan keadaan Miraina pada Daniel, dia diantar keluar oleh salah satu maid.
Tidak lama setelahnya, maid itu kembali untuk memberi tahu bahwa mereka kedatangan tamu. "Tuan Muda Vanderson datang berkunjung dan sekarang sedang berada di ruang tamu, Tuan," ujar maid itu.
Mendengar siapa yang datang, Daniel tidak bisa langsung menolaknya. Menitipkan istrinya pada kakak iparnya, kemudian dia menuju ke ruang tamu sendirian.
Tiba di ruang tamu, sosok laki-laki muda yang duduk di sofa menyambutnya. Surai hitamnya yang sekelam malam menunjukkan bahwa dirinya benar-benar seorang Vanderson.
"Saya sudah tahu mengenai Reyana," ujar laki-laki itu setelah Daniel duduk di hadapannya. "Kedatangan saya ke sini hanya untuk memberi tahu kalau saya juga akan ikut turun tangan."
"Ya, akan lebih bagus jika lebih banyak yang melakukan pencarian."
"Saya pastikan akan segera membawa kabar baik." Setelah mengatakan itu, dia langsung pamit pergi. Ketika tubuhnya sudah berbalik membelakangi Daniel yang masih duduk di sofa, sebuah senyuman miring terbit di wajahnya. "Aku akan meladeni permainanmu, Kitty." Dia berucap pelan.
...* * *...
Matahari yang bersinar terang di luar sana sepertinya juga tahu kalau Reyana sedang sangat bersemangat untuk jalan-jalan akhir pekan bersama teman-temannya—Moegi, Hanabi dan Konohamaru.
Mereka merencanakan itu secara tiba-tiba ketika Moegi membicarakan musim gugur di kafetaria kemarin. Jadi, itu berakhir dengan membuat rencana jalan-jalan bersama. Mereka sudah sepakat akan mengunjungi Taman Shiba. Tidak hanya menikmati suasana musim gugur, dari sana mereka juga bisa melihat Menara Tokyo. Ya, walaupun dari kejauhan.
Reyana mematut dirinya di depan cermin untuk melihat penampilannya hari ini. Blus putih berlengan panjang, dan rok selutut berwarna marun telah membalut tubuhnya. Rambutnya yang berwarna coklat cerah diikat sebagian. Merasa siap, setelahnya Reyana segera keluar dari kamarnya, tidak lupa sebelum itu meraih ankle boots marun yang senada dengan roknya dan tas selempang kecil berwarna hitam.
Bus menjadi transportasi andalannya selama berada di Jepang. Perlu beberapa menit hingga akhirnya bus berhenti di halte terdekat Taman Shiba.
Di dekat pintu masuk, sudah terlihat Moegi dan lainnya yang menunggu. Gadis bersurai oranye itu melambai padanya untuk memberitahukan keberadaan mereka. Reyana segera melangkah cepat ke sana.
"Maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama."
"Ah, tidak apa-apa. Kami juga baru sampai beberapa menit yang lalu." Moegi berbicara mewakili Konohamaru dan Hanabi.
"Syukurlah kalau begitu. Aku merasa bersalah jika membuat kalian menungguku terlalu lama."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Ayo, kita langsung masuk sebelum semakin ramai."
Di sepanjang mata memandang, terhampar jajaran pohon ginko biloba yang belum menguning sepenuhnya. Sebenarnya, tidak hanya pohon ginko biloba yang tumbuh di sana, tetapi ada juga pohon kamper dan pohon keyaki atau Japanese zelvoka. Pun seperti yang sebelumnya telah disebutkan, Menara Tokyo yang menjulang tinggi di jauh sana pun terlihat dari Taman Shiba itu.
Reyana menikmati pengalaman pertamanya ini dengan santai. Dia bersama Hanabi berjalan di belakang dengan Moegi dan Konohamaru yang memimpin di depan. Gadis bersurai oranye itu menarik Konohamaru dengan semangat ke segala sudut untuk mengambil beberapa gambar dirinya berlatar belakang Taman Shiba.
Walaupun kakeknya dari pihak ibu adalah seorang Jepang, tetapi Reyana belum pernah ke Negeri Sakura ini sebelumnya. Sang kakek memilih untuk mengembangkan bisnisnya di suatu negara tropis di Asia Tenggara mengikuti sang nenek yang berasal dari sana. Terakhir kali dia mengunjungi negara tropis itu pun ketika masih di kelas lima sekolah dasar. Sering kalinya, di setiap waktu liburan, keluarganya akan mengunjungi negara-negara Eropa. Jarak yang lebih dekat menjadi alasan.
"Bukankah mereka berdua terlihat cocok satu sama lain?" Reyana berceletuk dengan nada geli, masih sambil melihat Konohamaru dan Moegi di depan sana.
"Tidak tahu." Hanabi membalas dengan tidak acuh. Dia fokus pada pemandangan di sekelilingnya, pun tidak terpengaruh oleh orang-orang yang berlalu-lalang.
"Walaupun aku baru pindah dan bersama kalian beberapa waktu ini, tetapi tatapan Konohamaru pada Moegi menunjukkan segalanya, perasaannya." Reyana mencoba memancing topik itu.
"Ya, sudah sejak lama Konohamaru menyimpan perasaannya pada Moegi." Akhirnya Hanabi membuka suara lagi untuk memberikan balasan.
"Aah, sayang sekali sepertinya Moegi tidak menyadari—"
"Bahkan ketika dia masih menjalin hubungan denganku."
Seketika Reyana terdiam. Dia seakan kehilangan suaranya ketika Hanabi menambahkan.
Dia tidak pernah menduga kalau Hanabi dan Konohamaru pernah menjalin hubungan. Bahkan ketika mereka makan siang bersama di kafetaria Hanabi tidak sekalipun menunjukkan ekspresi lebih.
"Ya, itu bukan salahnya karena memiliki perasaan pada gadis lain ketika sedang menjalin hubungan denganku. Pun bukan salahku yang tidak bisa menjaga milikku." Reyana masih terdiam karena tidak tahu ingin membalas apa. Dalam hati dia menyesal karena mengangkat topik itu untuk berbicara dengan Hanabi. "Yang salah adalah gadis yang tidak bisa menjaga harga dirinya sampai menarik perhatian laki-laki yang sudah berada dalam hubungan."
Entah perasaannya saja atau memang begitu adanya. Reyana melihat Hanabi yang menatap Moegi dengan tajam dan dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments