Sang dewi malam telah menggantikan raja siang untuk menduduki tahta di langit dan membagi sinarnya pada Bumi. Bintang-bintang yang seharusnya muncul telah lama hilang oleh awan-awan yang masih berlalu-lalang di langit musim gugur. Hanya sesekali para bintang itu dapat terlihat.
Di kediaman Uchiha, Sakura dan Sasuke baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Kedua orang tua serta kakak Sasuke yang sedang tidak berada di rumah membuat atmosfer terasa begitu sepi. Pun hanya terdapat dua atau tiga maid yang masih berkeliaran di kediaman Uchiha untuk melakukan tugas terakhir mereka. Itu sebelum kembali ke kamar masing-masing yang berada di bangunan terpisah di belakang rumah.
Begitu menyelesaikan makan malamnya, Sakura meminta salah satu maid untuk menyiapkan satu porsi makan malam untuk Reyana yang masih beristirahat di kamar tamu yang ada di lantai dasar.
"Seharusnya kau tidak perlu merepotkan diri. Biarkan saja salah satu maid yang mengantar makan malam gadis itu," ujar Sasuke sembari menatap Sakura yang sibuk melihat maid itu menyiapkan makan malam untuk Reyana.
"Yana masih sakit, dan aku yakin dia akan kehilangan nafsu makan. Aku hanya ingin memastikan dia makan dengan benar." Sakura membalas tanpa menatap sang tunangan.
Begitu siap, Sakura langsung mengangkat baki berisi makan malam itu untuk dibawa ke kamar. Namun, belum dia melangkah jauh, Sasuke sudah mengambil alih baki itu dan berjalan mendahuluinya ke kamar tamu yang ditempati Reyana.
"Biar aku saja. Aku akan memastikan dia makan dengan baik!" Sasuke berseru begitu jaraknya dan Sakura bertambah.
Bersamaan dengan itu, salah seorang maid lainnya menghampiri Sakura dan menyampaikan kedatangan Naruto. Berusaha mempercayai Sasuke dengan tugas memastikan Reyana makan dengan baik, Sakura mengubah haluan ke ruang tamu. Tiba di sana, rambut kuning khas laki-laki itu menyambutnya.
"Ada apa kau datang malam-malam begini, Naruto?" Sakura bertanya dengan tangan yang bertengger di pinggangnya.
Laki-laki itu menampilkan senyuman lebar khasnya. "Tidak ada hal khusus, aku hanya tiba-tiba teringat pada Yana dan memutuskan untuk ke sini saat perjalanan pulang." Dia menjawab dengan santai. "Apa dia sudah sadar?"
Sakura menatap Naruto sejenak kemudian mengembuskan napasnya pelan. Dia menurunkan tangan yang berada di pinggangnya. "Ya, dia sudah sadar pagi tadi."
"Apa aku boleh menemuinya?"
"Sekarang dia sedang makan malam, Sasuke sedang menemaninya di kamar. Aku pikir tidak apa kalau kau menemuinya sebentar."
Setelahnya Sakura mengisyaratkan Naruto untuk mengikuti langkahnya. Laki-laki itu segera bangkit dan menyusul di belakang Sakura.
Tiba di kamar yang ditempati Reyana, begitu masuk terlihat gadis itu yang sedang makan di atas ranjang dengan Sasuke yang memperhatikannya sambil duduk di kursi yang sebelumnya Sakura letakkan di samping ranjang. Naruto dan Sakura yang baru masuk mengambil alih perhatian kedua orang itu.
"Kau lebih terlihat seperti sedang mengancamnya daripada memastikan Yana makan dengan baik." Naruto berceletuk sembari mendudukkan dirinya di sofa yang ada. Celetukan itu dihadiahi tatapan sinis dari si bungsu Uchiha.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan kemudian memilih untuk duduk di tepi ranjang. Dia hanya akan bertindak jika kedua laki-laki itu sudah bertindak berlebihan.
Akhirnya Reyana menyelesaikan makan malamnya walaupun kembali harus memaksakan diri ketika masih tersisa setengah piring. Diperhatikan oleh ketiga orang itu membuatnya begitu gugup.
"Terima kasih untuk makan malamnya." Dia berucap dengan pelan. Kepalanya masih setia menunduk, tidak memiliki cukup keberanian untuk menatap mata salah satu dari tiga orang itu.
"Apa kau sudah merasa lebih baik, Yana-chan?" Sakura yang pertama kali membuka suaranya setelah itu. Dia kemudian mengambil alih baki dan meletakkannya di meja kecil samping ranjang.
"Ya, aku sudah lebih baik."
Kemudian terjadi hening lama di antara mereka berempat. Rasanya kamar itu diselimuti kecanggungan Reyana.
"Sebenarnya apa yang terjadi hari itu?" Naruto membuka suaranya untuk bertanya. Hal itu juga mengundang Sakura dan Sasuke untuk menatap Reyana.
"Aku tidak tahu," ujar Reyana dengan pelan. "Aku baru selesai berbelanja lalu ketika keluar orang-orang itu berusaha memasukkanku ke dalam mobil." Berbohong, itu pilihannya. Kalaupun dia harus pulang, dia tidak ingin pulang bersama laki-laki itu. Dia masih memiliki kakinya sendiri.
"Penculikan?"
"Sepertinya itu bukan penculikan biasa," sahut Sasuke. "Ada banyak orang di Jepang. Mereka pasti sudah menargetkan gadis ini."
"Untuk apa?" Sakura menatap tunangannya.
Sasuke balas menatap Sakura, lalu beralih pada Reyana sekilas. "Aku juga tidak tahu. Kecuali ... identitas gadis ini di tempat asalnya mungkin bisa memberi titik terang."
Tubuh Reyana tersentak mendengar kalimat yang dilontarkan Sasuke. Sekarang dia tidak berani menatap laki-laki bersurai raven itu.
"Bisa saja itu memang penculikan biasa." Sakura bersuara menyatakan pemikirannya. "Tetapi, mau itu penculikan biasa atau bukan, Yana sepertinya sudah menjadi target mereka karena orang-orang itu sampai menunggunya di luar toko."
"Apa beberapa hari ini kau pernah merasa diikuti?" Naruto bertanya.
"Sepertinya tidak," Reyana menjawab dengan ragu, "lagipula aku jarang keluar dari apartemen, kecuali kemarin karena aku memang harus membeli sesuatu."
Kemudian kembali hening. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
"Kau bisa tinggal bersamaku untuk sementara waktu." Naruto berujar, mengundang tatapan mengarah padanya. "Sampai kita yakin mereka menyerah akan kau. Rumahku juga terlalu sepi karena orang tuaku sedang pergi."
"Ya, aku pikir itu ide yang bagus. Kau akan aman di rumah Naruto, Yana-chan." Sakura menyetujui ide dari laki-laki bermanik safir itu.
"Aku ... tidak ingin merepotkan kalian lebih jauh."
"Tidak apa-apa, lagipula aku yang menawarkan. Kau masih kecil dan tidak aman bagimu berada sendirian di apartemen."
Reyana tidak setuju dengan ucapan Naruto yang mengatakannya masih kecil. Dia sudah akan memprotes, tetapi diurungkan seketika.
"Baiklah." Akhirnya dia hanya bisa membalas singkat untuk menyetujui. Setelah dipikir pun pasti dia akan lebih aman di sana daripada di apartemen yang kemungkinan besar sudah diketahui oleh Rheegan.
...* * *...
Seperti pagi biasa di musim gugur dengan kawanan awan kelabu yang menggantung di langit Jepang. Muatannya melebur jatuh membasahi bumi dengan ringan. Rasa-rasanya ingin melanjutkan tidur sambil bergelung di bawah selimut tebal yang hangat. Namun, Reyana tidak bisa melakukannya karena sudah tidak hadir tiga hari di sekolah. Untungnya Naruto dan Sakura membantunya untuk membuat surat izin kepada sang wali kelas.
Reyana sekarang sudah duduk di kursi meja makan di kediaman Namikaze, sibuk menikmati sarapan ringannya yang seperti biasa. Ketika itu Naruto baru turun dari kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu.
"Selamat pagi, Naruto-san."
"Selamat pagi."
"Apa kau memiliki kelas pagi?" Reyana bertanya sebagai bentuk basa-basi. Tidak mungkin dia mendiamkan orang yang sudah baik mau memberikannya tempat tinggal aman.
"Ya, padahal aku sangat malas hari ini. Cuacanya pun sepertinya mendukung, tetapi memangnya aku bisa apa. Ibuku pasti akan marah besar begitu tahu aku membolos," ucap Naruto dengan nada malas.
"Kau akan berangkat sekarang?" Laki-laki itu kembali bersuara tidak lama setelahnya. "Kita bisa berangkat bersama."
"Ah, aku bisa menggunakan bus."
"Halte bus jauh dari perumahan ini. Kau perlu berjalan jauh untuk ke sana. Jadi, lebih baik kau ikut denganku."
Mendengar ucapan Naruto membuat Reyana tidak memiliki alasan untuk menolak lagi. Dia bisa saja terlambat jika harus berjalan jauh terlebih dulu untuk mencapai halte, belum lagi dengan kemungkinan bus dengan tujuan sekolahnya telah berlalu.
Begitu Naruto menyelesaikan sarapannya dengan cepat, mereka langsung berangkat dengan mobil milik laki-laki itu yang sudah diambil dari bengkel dua hari yang lalu. Setelah beberapa saat dalam perjalanan dan akhirnya sampai di sekolahnya, Reyana mengucapkan terima kasih kepada Naruto sebelum keluar.
Dengan langkah yang sedikit dipercepat untuk menghindari rintik gerimis yang belum selesai membasahi Bumi, Reyana melewati gerbang dan masuk ke gedung sekolah.
"Kau mengenal Kak Naruto?" Konohamaru yang tidak Reyana sadari presensinya berhasil mengejutkan gadis itu. Laki-laki itu berdiri di sampingnya sekarang sambil menatap untuk menuntut jawaban.
"Ya, aku mengenal Naruto-san. Kau sendiri sepertinya sudah lama mengenalnya." Reyana menjawab seraya melangkah menuju kelas, diikuti Konohamaru di sampingnya.
"Dia senior yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Dia banyak memotivasi dan mengajariku, itu membuatku mengaguminya."
"Ah, seperti itu."
"Bagaimana kau mengenal Kak Naruto?"
"Aku bertemu dengannya di kedai ramen, kemudian tahu kalau Naruto-san adalah sahabat dari pemilik apartemen yang aku sewa."
Konohamaru tersenyum tipis. "Dia sangat menyukai ramen. Apalagi ramen di Ichiraku."
Tiba di kelas membuat percakapan singkat itu berakhir. Reyana mendudukkan dirinya bangku yang ada di samping Hanabi. Gadis bersurai coklat gelap itu sudah sibuk membaca buku miliknya dengan tenang.
"Selamat pagi, Hanabi."
"Selamat pagi, Yana. Aku awalnya berpikir kalau kau akan sedikit terlambat karena hujan, syukurlah itu tidak benar."
Reyana mengangguk sambil tersenyum untuk membalasnya. Kemudian dia juga mulai menyiapkan buku untuk mata pelajaran mereka di hari ini.
"Aku juga senang akhirnya kau kembali bersekolah."
"Ya, aku juga."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments