Bagian 12_ayah

Tumpukan map dan kertas-kertas memenuhi meja kerjanya. Dunia yang dapat dia lihat dari kaca jendela besar yang memenuhi satu sisi ruangannya seakan tidak menarik, bahkan hanya untuk sekadar melepas penat dan lelah dengan melihatnya.

Netranya sibuk bergerak untuk membaca runtutan kalimat sebelum menandatanganinya. Pusing sempat melanda sehingga dia harus memijat pelan pangkal hidungnya untuk meredakan. Tidak hanya masalah perusahaan raksasanya yang mengundang lelah, masalah putri tunggalnya yang berada jauh di benua lain pun menjadi salah satu penyebabnya.

Sebagai orang tua, sebagai seorang ayah, tentu Daniel dilanda akan kekhawatiran. Dia sama khawatirnya dengan Miraina, sang istri. Namun, dia tidak bisa menunjukkannya karena salah satu di antara mereka harus bisa menjadi sandaran bagi yang lainnya. Kekhawatirannya, pun kekhawatiran yang lainnya, tidak akan berhenti sampai sang putri kembali ke dalam pelukan mereka.

"Reyana," gumamnya dengan pelan seraya mengistirahatkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk. Pada akhirnya lelah berhasil membuat Daniel menunda sebentar pekerjaannya. Dia sedikit melirik ponselnya yang berada tidak jauh dari papan ketik komputer, dalam hati berharap layarnya menyala, untuk mengangsurkan kabar baik padanya.

Beberapa hari setelah kepergian Rheegan ke Jepang untuk menjemput Reyana, Daniel belum mendapatkan informasi apa pun lagi dari laki-laki itu. Ya, dia tahu Jepang cukup luas. Jadi, mungkin keberadaan pasti putrinya belum dapat ditemukan.

Knock... Knock...

Setelah terdengar bunyi ketukan pintu, suara dari seorang wanita mengalun menyusulnya. Begitu Daniel memberi izin, pintu ruangannya terbuka. Dari baliknya muncul sang sekretaris dan dua orang yang memiliki janji temu dengannya hari ini, pimpinan Uchiha Group dan sekretarisnya. Dia hampir melupakan hal itu karena sibuk memikirkan hal lain. Sekretarisnya langsung kembali keluar setelah mengantarkan kedua orang itu.

Bangkit dari kursinya, kemudian Daniel menghampiri Uchiha Fugaku dan menjabat tangannya. Dia juga melakukannya pada sekretaris pria itu.

"Selamat datang di London, Tuan Uchiha."

"Terima kasih."

"Mari, silakan duduk. Kita memerlukan tempat nyaman untuk membicarakan banyak hal."

Setelah itu mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mulai sibuk membicarakan projek kerja sama mereka yang juga merupakan projek langkah awal Uchiha Group membentangkan sayap di Eropa. Pembangunan, para pekerja, pencarian investor, dan beberapa hal lainnya mereka diskusikan. Pembicaraan itu berlangsung selama dua jam, mereka berhenti ketika mendekati waktu makan siang. Di selanya, sekretaris Daniel sempat masuk untuk mengantarkan minuman kepada mereka.

Yakushi Kabuto, sekretaris Uchiha Fugaku, merapikan berkas-berkas penting saat kedua pimpinan itu berbincang santai sebelum makan siang bersama nanti.

"Bahasa Jepang Anda cukup lancar, Tuan Axelton."

"Ah, ya. Ayah dari istri saya seorang Jepang, itu menjadi salah satu alasannya."

Fugaku mengangguk kecil. Netranya sempat mencuri lihat ke dinding belakang meja kerja Daniel yang terdapat beberapa bingkai foto yang tergantung.

"Kelihatannya Anda sangat mencintai keluarga Anda." Fugaku berucap pelan.

"Ya, mereka mengalahkan tumpukan perhiasan bermata berlian yang diproduksi perusahaan kami." Daniel membalasnya disertai senyuman kecil.

"Ya, Anda benar."

Perbincangan itu disela oleh dering yang terdengar dari ponsel Daniel. Pria itu pamit sebentar untuk menerima panggilan yang datang dari istrinya. Tidak lama, beberapa menit kemudian dia sudah kembali ke ruangannya.

"Dari yang saya dengar Anda memiliki dua putra. Pekerjaan Anda pasti lebih ringan dengan bantuan keduanya." Daniel membuka kembali perbincangan mereka.

"Ya, mereka mulai belajar setelah lulus dari sekolah menengah atas." Fugaku tersenyum tipis. Suatu hal yang jarang terjadi, apalagi pada seorang Uchiha. "Bagaimana dengan Anda?"

"Mereka sekarang seharusnya sedang bersiap untuk A Level."

"Seharusnya?"

"Ya. Putri saya sepertinya sedang merajuk sehingga pergi dari rumah." Daniel tersenyum getir. "Seharusnya saya tidak pergi ke New York hari itu."

"Apa Anda sudah menemukan keberadaannya?"

"Dari informasi terakhir yang kami dapat, dia berada di Jepang. Sudah ada yang ke sana untuk menjemputnya, tetapi Jepang cukup luas, bukan? Jadi kami belum mendapat informasi lain."

"Saya bisa memberikan bantuan agar putri Anda segera ditemukan. Saya akan menyuruh putra saya untuk ikut membantu pencarian."

"Jika itu tidak merepotkan saya akan senang menerimanya." Daniel berharap dengan menerima bantuan dari Fugaku, putrinya bisa segera ditemukan dan mereka bisa kembali bersama. Banyak hal yang membuatnya khawatir, apalagi musim dingin akan segera tiba. "Saya akan mengirim fotonya pada Anda."

"Tentu saja."

Setelah perbincangan yang berakhir dengan Fugaku memberikan bantuan untuk ikut mencari putri Daniel, Reyana, mereka beralih pada sebuah restoran yang berada cukup dekat dengan kantornya untuk makan siang. Mereka menuju ke sana dengan menggunakan mobil milik Daniel yang dikemudikan oleh sopir pribadinya.

Sebelum itu, Fugaku sempat memerintahkan Kabuto untuk segera mengirim foto putri Daniel kepada Itachi, putra sulungnya, agar pencarian dapat segera dilakukan.

...* * *...

Jalur keluar bioskop dipenuhi oleh para penonton yang telah menyelesaikan film yang mereka tonton. Dua di antaranya adalah pasangan Naruto dan Hinata. Selesai dari kelasnya, Naruto didesak oleh Hinata untuk menonton bersama. Itu dilakukan karena sebenarnya acara menonton mereka seharusnya telah dilakukan dua pekan yang lalu, tetapi laki-laki bersurai kuning itu terlalu sibuk dengan persiapan tugas akhirnya. Jadilah mereka baru bisa melakukannya sekarang. Kalaupun Hinata tidak mendesaknya, dapat dipastikan acara menonton itu akan diundur lebih lama lagi.

Pasangan itu melaksanakan acara menonton mereka setelah makan malam di salah satu restoran yang ada di pusat perbelanjaan itu. Jadi, ketika film berdurasi lebih dari dua jam itu selesai, hari telah semakin larut. Itu membuat mereka memutuskan untuk langsung pulang.

Naruto mengantar sang kekasih lebih dulu dengan Range Rover hitam miliknya. Selama perjalanan, suara Hinata mendominasi atmosfer di dalam mobil. Pernyataan betapa senangnya dia ketika akhirnya bisa menonton bersama Naruto, mengomentari film yang tadi mereka nonton, atau membicarakan kesehariannya saat kuliah.

Akhirnya Range Rover hitam itu berhenti di depan kediaman Hyuga yang masih terlihat kental khas Jepang dengan kayu-kayu yang menjadi bahan dasar rumah. Naruto keluar dari mobil dengan cepat kemudian berlari kecil ke sisi lain mobil untuk membukakan Hinata pintu. Walaupun samar, terlihat pipinya yang bersemu karena diperlakukan demikian oleh Naruto.

"Terima kasih, Naruto-kun," ucap Hinata dengan malu-malu. Tangannya terangkat untuk menyelipkan rambut ke belakang telinga.

"Baiklah. Kau langsung masuk dan beristirahatlah. Tidur yang nyenyak, Hinata-chan."

Hinata mengangguk kecil sebelum beranjak menuju pintu gerbang. Namun, belum tangannya menyentuh gagangnya, pintu sudah dibuka dari dalam. Kemudian disusul munculnya dua orang gadis.

"Oh, Kak Hinata. Kau sudah pulang ternyata, baru saja Ayah akan meminta Kak Neji menghubungimu," ujar Hanabi begitu melihat keberadaan kakaknya.

"Ya, Hanabi. Aku habis menonton film dengan Naruto." Hinata membalasnya dengan sedikit malas. "Kau sendiri mau pergi ke mana?"

"Tidak, aku hanya mengantar temanku ke depan. Kami baru selesai mengerjakan tugas kelompok beberapa saat yang lalu."

"Ah, ya. Kita bertemu lagi, Hinata-san." Reyana berucap sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. "Naruto-san." Dia juga melakukannya pada Naruto yang didapati berdiri tidak jauh dari sana.

"Aku tidak tahu kalau kalian berada di sekolah yang sama."

"Ya, begitulah." Hanabi menjawab dengan singkat. "Oh ya, kau akan pulang dengan apa? Ini sudah cukup malam dan tidak ada bus yang beroperasi lagi sepertinya." Dia beralih pada Reyana.

"Kau benar. Mungkin aku bisa—"

"Kau bisa pulang denganku. Memangnya aku terlihat seperti orang yang tega membiarkan gadis sepertimu pulang sendirian?" Naruto menyela dengan cepat.

Di sisi lain, Hinata sudah melihat kekasihnya dengan tatapan tidak terbaca. Reyana menyadarinya, bahkan dia langsung menoleh pada perempuan bersurai biru tua itu setelah Naruto selesai berucap. Kakak-beradik ini begitu mirip dalam hal seperti itu, batinnya menggerutu.

"Tidak perlu banyak berpikir. Ayo, cepat masuk ke dalam! Kau hanya perlu melakukan itu." Naruto kembali bersuara karena tidak mendapati balasan apa pun dari Reyana.

Reyana memutar tubuhnya dengan kaku. "Kalau begitu aku pamit, Hanabi. Selamat malam dan sampai jumpa di sekolah." Dia pamit pada Hanabi, kemudian kembali membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada Hinata. Setelahnya dia segera masuk ke dalam mobil milik Naruto. Laki-laki bersurai kuning itu juga mengikuti jejaknya setelah kembali pamit pada kakak-beradik Hyuga dan melambaikan tangan pada mereka.

Mobil kembali membelah jalanan Jepang dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan Reyana hanya diam dan menatap ke luar jendela mobil.

"Kau tampak dekat dengan adik Hinata," ujar Naruto dengan pandangan yang tidak beralih dari jalanan.

"Kami duduk bersisian di kelas."

Naruto mengangguk kecil sebagai bentuk tanggapannya.

Setelah itu, hening kembali memenuhi atmosfer mobil sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Namikaze.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!