Di sebuah ruangan tertutup yang dipenuhi oleh layar-layar komputer yang menyala, terdapat dua orang laki-laki yang menatap layar-layar itu dengan seksama. Perlahan, sebuah senyuman miring tersungging di wajah salah satunya. Akhirnya pekerjaan kecil itu mendapatkan titik terang.
"Wah, mereka berani bermain-main ternyata," ucapnya disertai kekehan kecil. "Kerja bagus. Uangmu akan segera masuk."
Setelah menepuk pundak laki-laki yang terduduk di depan komputer sebanyak dua kali, laki-laki lainnya keluar dari ruangan itu dengan senyuman puas yang tersungging.
"Segera transfer bayarannya," titahnya pada sang bawahan yang sedari tadi menunggu di luar ruangan.
"Baik, Tuan." Sambil mengikuti langkah laki-laki yang dia panggil 'Tuan' itu, jarinya langsung menari di atas layar tablet untuk melakukan perintah tuannya. Lalu, begitu jarinya mendarat di atas ikon persegi panjang berwarna biru, bukti transfer sejumlah besar uang langsung ditampilkan di layar tabletnya. Angka nol yang berderet panjang di belakang angka tiga tertampil kemudian.
Keluar dari lantai bawah tanah, laki-laki itu langsung disambut oleh kemewahan yang melapisi setiap sudut dan sisi rumah besar itu. Tubuhnya hanya terbalut kemeja hitam dan celana chino slimfit berwarna abu-abu anchor hari ini, tidak selengkap biasanya.
"Kau tidak berkerja hari ini?" Seorang wanita yang baru saja akan berlalu menaiki tangga, menghentikan langkahnya begitu mendapati putra tunggalnya bersama salah satu bawahan.
"Aku masih mencari gadisku. Setelah ini aku akan pergi ke kediaman Axelton."
"Jadi kabar itu benar?" Raut wajahnya menyendu. Dia tidak menyangka menantunya benar-benar menghilang, awalnya dia pikir itu hanya rumor yang sengaja dibuat oleh para orang tidak bertanggung jawab atau pebisnis saingan mereka. "Cepat temukan dia, Rheegan. Menantuku yang manis tidak boleh terluka."
Laki-laki yang dipanggil Rheegan itu mengangguk dan tersenyum simpul. "Ya, aku sudah menemukan sebuah petunjuk. Karena itu aku akan pergi ke kediaman Axelton."
"Baguslah kalau begitu."
"Aku pergi, Mother."
Tanpa menunggu balasan Rheegan melanjutkan langkahnya. Kini, dia sudah berada di dalam Audi hitamnya. Menginjak pedal gas, mobil melaju membelah jalanan dengan kediaman Axelton sebagai tujuannya.
Begitu mobilnya sampai di depan sebuah gerbang besar berpenjaga, dia tidak perlu menunggu lama untuk gerbang itu membuka lebar dan memberikannya jalan. Di kedua sisi jalan ditutup pohon-pohon cemara dan jenis-jenis lainnya yang menjulang tinggi, dedaunannya yang rontok oleh angin dan warnanya yang telah menguning kecoklatan kembali mengingatkan kalau puncak musim gugur telah tiba. Itu juga mengingatkan pada hilangnya sang putri tunggal keluarga Axelton sejak dua bulan lalu.
Kedatangannya ke kediaman Axelton diberitahukan oleh salah seorang maid yang menyambutnya kali ini. Tidak lama setelah pergi ke tuannya, maid itu kembali dan menuntunnya menuju ruang keluarga di mana seluruh keluarga Axelton berkumpul saat ini.
"Ah, tepat waktu sekali semuanya berada di sini." Rheegan berujar sembari mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang ada di sana. "Aku sudah tahu di mana Reyana sekarang."
"Di mana dia, Rheegan?" Miraina langsung mendesaknya. Awalnya dia akan langsung menghampiri laki-laki yang masih berdiri itu, tetapi sang suami menahannya untuk duduk kembali. "Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, sepertinya dia baik-baik saja."
"Mengapa kau ragu seperti itu? Apa dia berada di tempat yang berbahaya?" Kali ini Daniel yang bersuara.
"Tidak. Daripada itu, bukankah orang yang bersangkutan pastinya lebih tahu keadaan Reyana?" Rheegan melirik sekilas Alex yang duduk di samping ibunya.
"Apa maksudmu? Kau juga tahu pelakunya?"
"Ah, bukan seperti itu sebenarnya. Tidak ada pelaku maupun korban di sini."
Semuanya terdiam untuk memikirkan makna ucapan Rheegan. Laki-laki itu selalu penuh dengan ambiguitas. Dia tampak senang ketika orang-orang sibuk atas ucapannya.
"Maksudmu Rey bukan hilang melainkan melarikan diri dan ada yang membantunya untuk melakukan itu?"
Tepat sasaran.
Ucapan dari Ren langsung membuat semua yang ada di sana menatap ke arah laki-laki itu.
"Memangnya apa alasan Reyana melarikan diri?" Miraina menuntut jawaban. Tidak habis pikir dengan itu.
"Untuk itu, mungkin Alex bisa menjelaskannya."
Kali ini, semua pasang mata beralih menatap sang empunya nama. Miraina menatap keponakannya dengan tidak percaya, perlahan air matanya kembali luruh.
"Alex, apa maksudnya itu?!" Diana menatap putranya. "Mengapa kau melakukan itu? Dia hanya gadis remaja dan kau membantunya melakukan hal konyol itu, Alex!"
"Dia menangis di hadapanku, memangnya aku bisa apa lagi selain menurutinya?!" Alex akhirnya bersuara. Tangannya terangkat untuk mengusak rambutnya dengan kasar. "Seperti katamu, Reyana hanya gadis remaja, lalu mengapa dia harus dijodohkan dengan si brengsek sialan itu?!" Dia menunjuk Rheegan sembari menatap dengan tatapan nyalang.
Rheegan balas menatapnya dengan tajam. Sepupu dari gadisnya itu tidak tahu apa-apa dan asal bicara, dia kesal akan itu. Dia berdecih pelan.
"Memangnya kau tahu apa mengenai perjodohan itu? Kau bahkan tidak berhak atas apa pun mengenai itu."
"Lihat, Reyana lebih aman berada jauh dari bajingan ini."
"Dari mana kau tahu dia aman sedangkan sudah hampir sebulan kalian tidak bertukar kabar?"
Alex terdiam. "Kau meretas ponselku." Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Rheegan. Ketika jarak mereka menipis, dia langsung melayangkan satu bogem mentah ke rahang kiri laki-laki itu.
Bugh!
Rheegan jatuh ke atas lantai. Sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan sedikit mengeluarkan darah.
"Alex!" Diana menjerit melihat yang dilakukan putranya.
"Jangan lakukan lebih jauh lagi, Alex." Miraina berujar di sela isak kecilnya. "Aku ingin putriku kembali. Itu saja. Jangan buat keributan."
Alex mengembuskan napas panjang. "Maaf, Aunty."
"Aku yang akan menjemputnya sendiri." Rheegan yang telah bangkit bersuara. "Aku juga akan menjelaskan semuanya agar gadisku tahu. Setelah ini, dia akan menjadi milikku sepenuhnya." Setelah berucap dengan tegas, dia beranjak dari sana, meninggalkan kediaman Axelton untuk segera membawa pulang gadisnya.
...* * *...
Sore ini langit tampak menggelap lebih cepat karena kumpulan awan yang melewati langit kota dengan lamban. Reyana sedang berada di toko kelontong terdekat yang terletak di dekat jalan. Tepatnya sekarang dia sedang mengantre di belakang tiga orang. Dia sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat ke depan. Belanjaan dua orang pertama cukup banyak, sepertinya ini akan memakan waktu sedikit lebih banyak. Ketika itu, dia baru teringat kalau kemarin malam sepupunya mengirim surel. Namun, belum sempat dibaca karena saat itu dia sedang mengerjakan tugasnya, pun setelah selesai dia langsung tidur karena kelelahan.
Jadi, sambil menunggu gilirannya, Reyana memutuskan untuk membaca surel dari sepupunya.
From : alexn.dr(at)mail.com
To : bloomycrhysan(at)mail.com
Subject : -
Adik kecil, mereka sudah tahu semuanya. Bajingan itu meretas ponselku dan membongkarnya di depan semua orang. Aku dimarahi habis-habisan oleh Ibu demi kau. Daripada itu, ada yang lebih gawat. Bajingan itu sendiri yang pergi ke Jepang untuk membawamu pulang.
Tubuh Reyana membeku di tempatnya setelah membaca surel singkat itu. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Tangannya pun berkeringat dingin.
Sampai akhirnya gilirannya untuk membayar tiba, pikiran gadis itu kacau balau. Rasa takut perlahan merayapinya.
"Terima kasih telah berbelanja di sini."
Suara sang kasir membuyarkan lamunan Reyana dan membawa kembali kesadarannya. Dia hanya tersenyum kecil kemudian langsung melangkah ke pintu keluar dari toko kelontong itu. Dia ingin segera pulang agar bisa memikirkan rencana selanjutnya secara jernih.
"Puas bermain petak-umpat, Kitty?"
Suara yang terdengar sedikit serak dan dalam itu ... Reyana menghafalnya di luar kepala. Tubuhnya kembali mengkaku bak potongan kayu. Dengan takut-takut, dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke sumber suara.
Dia di sana. Bersandar di mobil hitamnya yang terparkir di tepi jalan. Ada juga dua orang laki-laki bertubuh besar yang berdiri tidak jauh darinya. Reyana tahu, mereka adalah bawahan laki-laki itu. Tidak ada yang berubah dari laki-laki itu. Surai dan maniknya masih sekelam yang dia ingat.
"Kau .... Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Reyana terdengar bergetar.
Seharusnya surel yang baru tadi dia baca sudah memberitahukan segalanya, termasuk tujuan laki-laki itu berada di depannya sekarang ini, menatap dirinya dengan mata kelam itu. Namun, pertanyaan kosong itu terlontar secara spontan.
Laki-laki itu, Rheegan, terdiam sejenak seakan sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan Reyana.
"Aku ke sini untuk menjemput Kitty-ku yang nakal." Dia beralih dari posisi bersandarnya, kini berdiri tegak beberapa meter dari Reyana. "Bagaimana, Kitty? Kita pulang sekarang?"
"Aku ... aku tidak ingin pulang denganmu sebelum perjodohan itu dibatalkan."
"Ah, perjodohan ya." Rheegan menatap Reyana dengan sebuah senyuman miring yang terpasang di wajahnya. "Bagaimana kalau kukatakan kalau sejak lama kau sudah menjadi milikku? Perjodohan itu hanya bentuk formalnya. Mau bagaimanapun, kau adalah milikku."
"Aku bukan milik siapa pun!"
Setelahnya Reyana berlari dengan cepat ke arah yang berlawanan dengan letak apartemennya. Dia masih bisa berpikir untuk tidak membongkar tempat tinggalnya.
Di belakangnya terdengar langkah-langkah tegas dan berat yang mengejarnya. Reyana sedikit menoleh dan mendapati dua bawahan Rheegan mengajarnya dengan cepat, hanya tertinggal beberapa meter darinya. Tidak ada pilihan lain, dia melempar kantung plastik berisi belanjaan ke belakang. Sedikit berhasil, jarak Reyana dengan kedua laki-laki itu sedikit bertambah.
Napas Reyana sekarang sudah tidak beraturan, tetapi dia terus berlari hingga tidak menyadari lampu pejalan kaki yang telah berubah menjadi merah. Lalu dari arah kiri terdapat sebuah mobil yang melaju ke arahnya.
Tiiinn!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments