Bagian 18_keluarga

Dari gerbang kedatangan internasional, sebuah keluarga kecil keluar dengan lima bodyguard yang mengawal di sekeliling mereka. Melangkah tidak terlalu jauh, akhirnya mereka berhadapan dengan seorang laki-laki bersurai kelam. Di sekeliling mereka terdapat banyak orang yang berjalan berlainan arah maupun searah. Koper berada di tangan masing-masing atau dibawakan oleh petugas.

Lalu-lalang kerumunan orang di Bandar Udara Narita merupakan pemandangan yang sangat lumrah ditemui ketika berada di sana. Pun sebagai bandar udara internasional tentu saja hampir tidak ada hari libur yang menyambangi tempat itu.

"Kami telah mengetahui posisi Reyana," ujar Daniel sembari menatap laki-laki yang berada di hadapannya itu.

"Aku juga tahu." Sebuah balasan singkat terlontar dari bibir laki-laki bersurai kelam itu. "Seharusnya kalian tidak perlu menyusul ke Jepang."

"Reyana adalah keluarga kami. Dia adalah putriku." Daniel merasa tidak suka pada kalimat terakhir Rheegan. Karena itu, dia menekan kalimat terakhirnya untuk mengingatkan laki-laki muda di depannya itu. "Kami memiliki hak atas Reyana. Hak kami lebih mutlak daripada hakmu yang bahkan hampir tidak ada."

Ekspresi wajah Rheegan sempat berubah, tetapi pada detik berikutnya kembali tanpa ekspresi. Meskipun hal itu nyatanya tidak menutupi rahangnya yang mengetat. "Ya, anggap saja begitu."

"Kalau kau mengetahui keberadaan Rey, mengapa kau tidak segera membawanya pulang?" Ren bersuara. Dia juga merasa kesal pada laki-laki sok berkuasa di depannya itu. Dia merasa muak. Kembali mengingat kakak kembarnya melakukan pelarian diri ini dikarenakan oleh laki-laki itu membuat Ren semakin kesal.

"Aku memiliki caraku sendiri." Rheegan menjawab dengan nada datar.

"Permisi, Tuan." Salah seorang bodyguard datang dan menginterupsi pembicaraan yang sempat tegang itu. "Tuan Uchiha ingin berbicara dengan Anda."

Daniel mengangguk kecil sembari mengatakan bahwa dia akan segera menemui pimpinan Uchiha Group itu. Dia menatap putranya serta Rheegan secara bergantian sebelum meninggalkan mereka untuk sebentar.

"Tuan Uchiha," ujar Daniel.

"Saya sudah menghubungi teman yang memberikan putri Anda tinggal. Kita bisa menemuinya di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari sini."

"Ya, tentu."

"Kalau begitu kita bisa berangkat sekarang."

Daniel kembali pada istri dan putranya lalu mengajak mereka untuk mengikuti langkah Uchiha Fugaku berserta pengawal pribadi pria itu. Rheegan juga mengikuti langkah mereka.

Keluarga Axelton menggunakan mobil yang sudah disiapkan oleh Rheegan. Dengan mobil milik Uchiha yang memimpin di depan, mereka menuju restoran yang merupakan tempat pertemuan mereka dengan pasangan Minato dan Kushina, sang pemilik rumah di mana Reyana tinggal sekarang.

Tiba di restoran yang dimaksud, Fugaku mengarahkan mereka ke sebuah ruangan yang telah dipesan. Pasangan Namikaze telah menunggu di sana.

"Silakan duduk," ujar Minato setelah mereka saling memberikan salam singkat.

"Pertama-tama, kami mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantu Reyana dan memberikannya tempat untuk tinggal. Tentu Keluarga Axelton akan memberikan balasan yang setimpal untuk itu."

"Itu tidak perlu Tuan Axelton. Kami membantunya dengan tulus, pun putra kamilah yang awalnya membantu putri Anda." Minato menolak dengan halus.

"Kami juga tulus memberikan balasan itu. Tolong diterima, anggap saja sebagai bentuk besarnya terima kasih kami kepada kalian." Daniel tetap bersikeras agar pasangan Namikaze itu menerima niatnya.

"Baiklah, jika Anda memaksa." Minato akhirnya membalas dengan sebuah senyuman tipis terpatri di wajahnya.

...* * *...

"Jika kalian merasa keberatan dengan keberadaanku, aku bisa segera pergi. Lagipula dalam beberapa hari aku akan pindah ke negara lain."

"Bukan suatu masalah menginap di hotel untuk beberapa hari sebelum hari penerbanganku," imbuhnya dengan santai.

Seketika suasana hening setelah Reyana menyelesaikan kalimatnya. Ketiga orang yang duduk di depannya itu memandang Reyana dengan tatapan yang berbeda-beda. Tatapan Sasuke menunjukkan kepuasan karena sebentar lagi pencuri perhatian tunangannya akan meninggalkan Jepang. Sedang Sakura dan Naruto menunjukkan keterkejutan dan tidak menyangka. Mereka tidak memiliki niatan untuk membuat Reyana pergi, hanya ingin gadis itu mengatakan yang sejujurnya kepada mereka. Namun, gadis itu malah mengatakan sesuatu yang tidak mereka perkirakan. Mereka tidak menyangka akan berakhir seperti ini.

"Kau ... memangnya kau akan pergi ke mana lagi?" tanya Sakura setelah hening yang begitu lama itu.

"Dengar, kami tidak merasa keberatan sama sekali atas keberadaanmu. Aku juga tidak memiliki niatan untuk mencabut izin tinggalmu di rumahku. Pun orang tuaku tidak keberatan dengan keberadaanmu." Naruto ikut bersuara, menyatakan protes. "Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri."

"Naruto benar. Kami hanya ingin kau mengatakan sendiri kebenaran itu. Mungkin setelahnya kami bisa membantumu," tambah Sakura.

"Kalau kau memang ingin pergi, tentu tidak ada yang dapat menghalangi." Setelah sedari tadi diam di tempatnya, Sasuke berujar untuk menimpali. Dalam hati dia berharap agar Reyana pergi secepatnya dari hadapan sang tunangan.

"Ya, aku akui bahwa kalian adalah orang-orang baik yang pernah aku temui. Terima kasih untuk semua bantuan yang telah kalian berikan. Aku sangat berterima kasih," ucap Reyana dengan tulus. "Namun, aku telah memutuskan untuk pindah. Mungkin pekan depan aku sudah pergi, atau bisa juga dipercepat."

"Kau akan pergi ke mana lagi, Yana-chan?"

"Aku—"

"Reyana!"

Suara itu memotong Reyana. Keempat orang yang sedang duduk di ruang tamu itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana, tidak jauh dari mereka, terdapat Uchiha Fugaku, orang tua Naruto, orang tua Reyana dan saudara kembar gadis itu, serta Rheegan.

Kedua mata Reyana membulat begitu melihat orang-orang itu. Sontak dia berdiri, memberikan sorotan mata tidak percaya. Tanpa sadar dia mematung di tempatnya.

Kesempatan itu diambil oleh Ren untuk menghampiri kembarannya, lalu membawa tubuh Reyana ke dalam pelukan eratnya. Mereka adalah saudara kembar, dan berada jauh satu sama lain untuk waktu yang lama terasa menyiksa Ren. Dia begitu merindukan Reyana.

"Aku sangat merindukanmu, Rey," ucap Ren sembari membubuhkan kecupan yang lama di pipi Reyana.

Dengan gerakan kaku, Reyana mengangkat tangannya lalu membalas pelukan Ren. Dia juga merindukan saudara kembarnya itu sama besar. Mereka berdua berbagi perasaan bersama.

"Aku juga merindukanmu," bisik Reyana.

Beberapa saat kemudian bersaudara kembar itu mengurai pelukan mereka. Kini Reyana tidak berani menatap orang tuanya. Dia masih bertekad untuk meminta bantuan kakek dan neneknya agar tidak ada pertunangan yang akan terjadi.

"Ayo pulang, Reyana. Kita akan membicarakan hal ini di rumah." Miraina berujar dengan lembut seraya mengulurkan kedua tangannya. "Kami akan mendengarkanmu."

"Sungguh?"

"Tentu, kami akan mendengarkan alasanmu." Miraina tersenyum lembut, masih sambil mengulurkan tangannya.

Detik berikutnya, Reyana langsung berlari dan masuk ke dalam dekapan sang ibu. Miraina mendekap tubuh putrinya dengan erat. Salah satu tangannya melayang lalu mendarat di kepala Reyana dan mengelusnya sayang. Cairan bening jatuh dari sudut matanya. Dia sangat, sangat merindukan putrinya.

"Putriku," bisik Miraina dengan tangan yang tidak berhenti mengelus kepala Reyana. "Jangan pergi lagi, Reyana."

"Maafkan aku, Mum." Reyana berucap dengan penuh sesal. Kebebasan dan kesenangan yang dia dapat beberapa bulan belakangan ini tentu tidak dapat menutupi fakta bahwa ada orang-orang yang mengkhawatirkan dirinya. Kenyataan itu mengundang rasa sesal untuk melingkupi diri Reyana.

"Tidak, tidak. Maafkan aku yang tidak bisa memahami putriku sendiri." Miraina menangkup wajah putrinya dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi Reyana yang telah basah oleh air mata. Kemudian dia membubuhkan kecupan ringan di kening gadis itu. "Sebagai seorang ibu aku seharusnya tahu bagaimana perasaan putriku. Maafkan aku."

"Tidak, ini salahku." Reyana menggeleng dengan cepat. "Jangan meminta maaf seperti itu."

Miraina tersenyum lembut, lalu kembali memeluk putrinya dengan erat.

Daniel tampak melangkah mendekat, bergabung bersama istri serta putrinya, kemudian membawa kedua perempuan paling berharga itu ke dalam pelukannya.

Adegan manis keluarga kecil itu diperhatikan oleh orang-orang yang ada di sana. Sakura dan Kushina ikut terharu atas kembali utuhnya keluarga itu.

"Sekali lagi terima kasih karena sudah membantu Reyana selama berada di Jepang," ucap Daniel setelah menguraikan pelukannya.

"Aku juga berterima kasih untuk itu." Reyana sedikit membungkukkan tubuhnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!