Bagian 08_ikon tokyo

Reyana kemarin pulang ke apartemen ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia dan yang lainnya banyak menghabiskan waktu di YakiniQ untuk bercerita banyak dan menikmati yakiniku yang baru matang. Dia pulang dengan diantar oleh Ino yang sekalian akan mengantar Sakura ke kediaman Uchiha. Begitu tiba di apartemen Reyana langsung membersihkan tubuhnya. Kemudian melemparkan dirinya ke atas ranjang dan tidur lelap tidak lama setelahnya.

Pagi ini Reyana terbangun lebih lama dari biasanya. Mungkin itu karena dia kelelahan setelah melewati hari penuh jalan-jalan yang menguras tenaga dan keringat. Kepalanya menoleh ke meja belajar yang berada tepat di samping tempat tidur. Di sana, tas-tas kertas berisi belanjaannya pun belum dibongkar dan dirapikan. Setelah melihat itu, dia semakin yakin kalau kemarin adalah hari belanja yang cukup menyenangkan sampai-sampai dia tidur dalam kondisi lelah yang didasari oleh rasa senang.

Dia pernah seperti ini. Itu mungkin dua bulan lalu ketika dia masih tidak tahu apa-apa, dan hidup dengan tenang untuk mempersiapkan A Level-nya.

Hari itu, Reyana menghabiskan waktu di rumah temannya dengan belajar bersama sebagai alasan agar orang tuanya memberi izin. Tidak seperti ketika bersama dengan temannya yang lain, bersama dengan Zora di rumah gadis itu seharian tidak pernah terasa membosankan. Mereka tidak hanya belajar bersama untuk menyiapkan A Level, tetapi banyak juga hal lain yang mereka lakukan, memasak contohnya.

Gadis yang merupakan satu-satunya sahabat Reyana itu memang memiliki hobi memasak. Reyana belajar mengolah bahan-bahan dasar hingga menjadi makanan dari seorang Zora. Hal itu sangat menguntungkannya ketika berada di Jepang sekarang. Walaupun dia baru bisa membuat makanan-makanan yang sederhana, setidaknya itu sudah cukup untuk membantunya mengenyangkan perut.

Jika kemarin Reyana menyetujui ajakan Sakura karena memang tidak memiliki rencana apa-apa, maka hari ini dia terpikirkan untuk mengunjungi Menara Tokyo yang hanya dilihat dari kejauhan saat mengunjungi Taman Shiba tempo hari.

Menara Tokyo terletak di Akabanebashi, Distrik Minato, Kota Tokyo. Lokasinya yang berada di area pusat Tokyo menjadikan menara ini dekat dengan Roppongi dan area Tokyo lainnya. Menara ini selesai dibangun lebih dari 50 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1958. Menara dengan ketinggian 333 meter ini dibangun dengan tujuan untuk menjadi menara tertinggi di dunia yang bahkan menyaingi Menara Eiffel.

Ketika membaca keterangan terakhir, Reyana terkekeh kecil, itu pekan lalu setelah pulang dari Taman Shiba.

Sekarang Reyana masih memiliki waktu satu jam sebelum Menara Tokyo dibuka untuk umum. Jadi, di selang waktu itu dia membuat sarapan dulu sambil memainkan permainan balok yang terpasang di ponselnya. Begitu selesai dia langsung ke kamar mandi lalu bersiap-siap.

Kali ini, Reyana akan menggunakan jasa taksi untuk mengantarnya ke Menara Tokyo. Jadi, ketika keluar dari gedung apartemen, dia langsung berjalan sedikit untuk mencari taksi. Untungnya tidak lama kemudian terlihat taksi yang lewat. Setelah menyebutkan tujuannya, Reyana bisa duduk dengan nyaman di kursi penumpang belakang sambil melihat bangunan-bangunan yang dilaluinya dari kaca jendela taksi.

Akhirnya Reyana sampai di Menara Tokyo. Menara berwarna merah itu menjulang tinggi di depannya. Terlihat sudah banyak orang yang mengantre untuk membeli tiket. Dia segera bergabung ke baris antrean. Konter tiket terletak di lantai satu di sebelah luar pintu masuk. Begitu mendapatkan tiketnya, Reyana langsung memasuki lift yang ditemuinya untuk menuju dek observasi utama.

Dek observasi utama terletak pada ketinggian 150 meter di atas tanah, dari sana menawarkan pemandangan 360 derajat Kota Tokyo. Reyana sangat puas dengan pemandangan yang didapatnya saat menginjakkan kaki di sana. Dari dek observasi utama itu pun dia bisa melihat Kuil Zojoji yang terletak di area kaki menara. Mungkin suatu hari nanti dia bisa mengunjunginya juga.

Untuk saat ini Reyana hanya akan menikmati kunjungannya di Menara Tokyo dan pemandangan yang tersaji dari sana.

Di sana juga terdapat lantai transparan bernama 'Skywalk Window'. Reyana mencoba untuk menapakkan kaki dan melangkah di atasnya. Dia bisa mengintip pemandangan yang ada di arah bawah kakinya walaupun jantungnya sedikit berdebar.

"Cukup mendebarkan dan menakutkan di saat yang sama," gumam Reyana dengan tangan yang mengepal di depan dadanya, letak organ jantungnya yang masih berdegup kencang.

Setelah puas berada di dek observasi utama, pun sudah naik ke lantai dua, Reyana menuju ke dek observasi khusus yang terletak seratus meter lebih tinggi. Walaupun samar karena tertutupi gumpalan-gumpalan awan yang berlalu-lalang di musim gugur, dia masih bisa melihat penampakan Gunung Fuji dari sana.

Selama di sana Reyana sempat mengabadikan pengalamannya itu dalam sebuah foto yang dia ambil dengan kamera ponsel. Dia mengambil foto di berbagai titik dengan berbagai sudut pengambilan. Dengan begitu, hari ini dia menambah jumlah foto dalam galeri ponselnya.

"Lumayan menambah koleksi foto untuk dipamerkan pada Ren." Dia tersenyum bangga sambil melihat foto-foto baru di galeri ponselnya.

Reyana meninggalkan Menara Tokyo setelah puas melihat pemandangan yang tersaji dari atas sana. Itu bertepatan dengan waktu makan siang yang telah tiba. Oleh karena itu, dia langsung mencari tempat makan terdekat untuk segera mengisi perutnya dan mengembalikan tenaganya.

...* * *...

Hari sudah sore dengan langit yang menaungi berubah menjingga ketika Reyana tiba di Stasiun Shibuya untuk mencoba transportasi tanpa hambatan. Tidak puas hanya dengan mengunjungi Menara Tokyo, dia memutuskan untuk mengunjungi tempat lain yang juga merupakan ikon dari Negeri Sakura ini.

Setelah membeli tiket, Reyana hanya perlu menunggu sebentar sampai keretanya tiba. Untunglah ketika masuk dia mendapatkan tempat duduk. Di samping kirinya adalah seorang wanita berpakaian formal, sedang di samping kanannya adalah sepasang siswa SMP jika tebakannya benar.

Begitu tiba di tujuannya, Reyana langsung mencari pintu keluar 8, atau yang namanya berubah menjadi Hachiko Exit. Ya, Reyana akan mengunjungi patung Hachiko, si anjing terkenal yang setia menunggu tuannya di Stasiun Shibuya.

Saat keluar, keramaian orang-orang yang berlalu-lalang langsung menyambutnya. Bukan hanya ucapan belaka, tempat itu memanglah sangat ramai. Apalagi hanya perlu berjalan sedikit dan akan menemui Shibuya Crossing atau Persimpangan Shibuya yang terkenal ke seluruh dunia itu.

Akhirnya Reyana bisa melihat patung Hachiko secara langsung. Patung Hachiko itu merupakan salah satu monumen tidak resmi Jepang yang dibuat sebagai sebuah penghargaan untuk anjing Akita setia yang menunggu pemiliknya di Stasiun Shibuya setiap hari, bahkan setelah pemiliknya meninggal. Patung Hachiko itu juga sering dijadikan titik temu oleh penduduk lokal atau wisatawan tur. Begitulah yang Reyana baca dari internet.

Gelap semakin menguasai langit, mendatangkan malam di langit Jepang yang masih sibuk.

Reyana membawa dirinya menuju Shibuya Crossing. Dia akan mencari restoran untuk makan malam sebelum pulang. Akhirnya pilihan Reyana jatuh pada sebuah Restoran yang tidak terlalu ramai.

Baru saja masuk, tiba-tiba pundaknya ditabrak dari arah belakang. Sepertinya orang yang menabrak sedang buru-buru karena Reyana merasakan sakit di pundaknya.

"Auch!" ringisnya dengan tangannya yang lain terangkat untuk menyentuh pundaknya. Saat menoleh untuk melihat orang yang menabraknya, Reyana dibuat terkejut ketika mendapati tunangan dari pemilik apartemennya. "Uchiha-san?"

Sasuke menoleh ketika mendengarnya. Salah satu alisnya terangkat dengan kerutan samar di keningnya menandakan kebingungan. "Apa yang kau lakukan malam-malam di sini?" Dia bertanya seraya melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

"Tentu saja untuk makan malam." Reyana menjawab dengan sedikit sinis. Memangnya untuk apa lagi dia berada di restoran itu selain untuk memenuhi kebutuhan perutnya, begitu batinnya yang kesal.

Sasuke mengembuskan napasnya. "Kau ikut denganku saja, kita makan malam bersama."

"Baiklah kalau kau memaksa." Reyana menjawab dengan cepat. Sasuke mendengkus geli mendengar jawaban tanpa pikir panjang itu.

Gadis tujuh belas tahun itu mengikuti langkah Sasuke yang diantar oleh pegawai ke ruangan terpisah setelah laki-laki itu menyebutkan namanya. Sesekali pegawai perempuan itu melirik Reyana. Tiba di ruangan khusus itu Sasuke hanya membaca sekilas buku menu yang diberikan lalu memesan menu untuk dua orang tanpa menanyakan persetujuan gadis itu. Hal itu mengundang delikan dari Reyana.

"Jadi, apa yang kau lakukan malam-malam di sekitar sini? Ini sangat jauh dari apartemen." Sasuke kembali membuka suara.

"Aku tidak mungkin mendekam di apartemen seharian."

"Sakura akan terkejut ketika aku menceritakan sifat aslimu ini."

"Katakan saja, dan kita lihat siapa yang akan dia percaya." Reyana melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Sasuke menantang. "Lagipula aku seperti ini juga karena kesan pertamamu yang menyebalkan. Jadi, dari situ aku simpulkan kalau kau memang menyebalkan dengan wajah tanpa ekspresi itu."

"Bocah pendendam rupanya." Sasuke berujar dengan tidak acuh.

"Aku bukan bocah dan bukan pendendam, Tuan Uchiha!" Reyana menatap Sasuke dengan tajam sebelum menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. "Aku ingin es krim sebagai hidangan penutup."

"Sekarang kau memerasku."

"Ini adalah risikomu yang mengajakku makan malam."

"Kalau begitu pastikan kau menceritakan hal baik tentangku pada Sakura. Dia terlihat menyukaimu."

"Oh, itu sangat mudah. Aku akan menunggu traktiranmu yang selanjutnya."

Sasuke sudah akan kembali membalas, tetapi pintu terbuka dan menampilkan pegawai yang tadi mengantarnya telah membawa makanan mereka. Setelah piring-piring dan gelas tertata di depan masing-masing, Sasuke menyampaikan pesanan Reyana akan es krim sebagai hidangan penutup.

Reyana terkikik kecil mendengar keinginannya dituruti oleh laki-laki dingin itu. Dia menikmati makan malamnya dengan hikmat, pun sampai hidangan penutup tersaji di depannya.

"Es krim di sini boleh juga, rasanya pas dengan lidahku."

Sasuke menatap Reyana sejenak kemudian beralih pada pegawai yang berdiri di dekat pintu. "Siapkan es krim ini untuk dibawa pulang."

"Ini sudah malam, aku bisa sakit gigi—"

"Batalkan."

"—tapi sepertinya sesekali tidak apa-apa. Aku rajin menyikat gigi sebelum tidur."

Sangat puas rasanya mempermainkan laki-laki tanpa ekspresi itu. Dia terkikik geli ketika mendengar Sasuke menggeram rendah.

"Siapkan untuk dibawa pulang."

Tidak hanya mengajak Reyana makan malam bersama, si putra bungsu di keluarga Uchiha juga mengantar gadis itu pulang ke apartemennya. Di sepanjang jalan Reyana sibuk menghabiskan es krimnya tanpa menghiraukan Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Terima kasih untuk makan malam dan tumpangannya, Uchiha-san."

"Jangan lupa dengan apa yang kukatakan tadi tentang Sakura."

"Ya, ya. Aku jamin kau akan segera menerima hasilnya, Tuan Uchiha. Kalau begitu selamat malam." Reyana melambai singkat lalu melangkah memasuki gedung apartemen.

Ketika tiba di apartemennya dan memeriksa jam melalui ponselnya, dia tidak menyangka akan pulang semalam itu lagi. Hampir jam sembilan malam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!