Bagian 02_merah muda

Sedari kemarin Reyana mengunjungi apartemen-apartemen dalam daftarnya yang sekiranya bisa dijadikan tempat tinggal selama di Jepang. Namun, dari semua apartemen yang dikunjunginya, tidak ada satu pun yang kosong. Dia terlambat mengunjungi apartemen-apartemen itu sehingga ada orang lain yang sudah menempatinya duluan. Padahal besok sudah waktunya bagi Reyana untuk check-out dari hotel.

Setelah mendatangi apartemen terakhir dalam daftarnya, dan kembali mendapati apartemen itu sudah ditempati, Reyana memilih beristirahat sejenak di taman yang berada di dekat sana. Begitu melelahkan, dia sampai beberapa kali menghela napas berat.

Yah, ini adalah risiko dari persiapannya yang tidak cukup matang. Namun, hal melelahkan ini tidak akan membuatnya langsung mundur dan kembali ke rumahnya. Tidak, sampai orang tuanya membatalkan hal konyol yang direncanakan kemarin.

Tidak jauh darinya, seorang perempuan berambut merah muda berdiri dengan tangan yang berada di telinganya. Perempuan itu tampak menawan dengan rambutnya yang seperti warna bunga sakura, bunga khas Jepang. Reyana tidak bermaksud untuk mencuri dengar percakapan perempuan itu, tetapi setelah mendengar kata 'menyewakan apartemen' dia langsung mendekati perempuan itu.

Menunggu hingga perempuan itu menyelesaikan percakapannya, Reyana berdiri dua langkah di belakang.

"Ano, permisi." Reyana berujar untuk mendapat perhatian perempuan itu, sedikit ragu.

Perempuan itu membalik tubuhnya. Rambut merah mudanya ikut bergerak. "Ah, apa ada yang bisa kubantu?" tanyanya.

"Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk mencuri dengar percakapanmu. Aku sedang mencari apartemen, dan kudengar kau sedang menyewakan apartemen." Reyana berucap pelan dan hati-hati.

Mereka adalah orang asing sekarang, dia tidak ingin dituduh yang tidak-tidak. Dia juga merasa gugup berbicara dengan perempuan itu karena begitu mendapati wajahnya, kemenawanan menyambutnya. Ya walaupun dulu dia terkadang ikut ke acara perusahaan ayahnya, tetapi kebanyakan hanyalah para orang tua penuh wibawa bisnis.

"Oh, tidak apa-apa. Aku juga bersyukur bisa bertemu denganmu." Perempuan itu tersenyum hangat. "Namaku Haruno Sakura." Dia memperkenalkan dirinya pada Reyana.

"Senang bisa bertemu denganmu, Haruno-san." Reyana mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan perempuan bernama Haruno Sakura itu. "Kau bisa memanggilku Yana."

"Dan kau juga bisa memanggilku Sakura kalau begitu. Lagipula sepertinya usia kita tidak jauh berbeda," ucap Sakura. "Nah, Yana-chan, kapan kau ingin melihat apartemennya?"

"Apakah bisa hari ini?" Reyana bertanya dengan ragu.

"Tentu saja. Ayo, ikuti aku! Letaknya tidak jauh dari sini," ujar Sakura seraya meraih tangan Yana untuk menuntunnya.

Seperti yang dikatakan Sakura, letak apartemennya tidak terlalu jauh dari taman. Hanya perlu melewati satu blok. Selama perjalanan, jalinan tangan mereka tidak terlepas. Hingga akhirnya mereka memasuki gedung tinggi dan berdiri di depan sebuah apartemen di lantai lima.

Sakura mengeluarkan kunci apartemen yang selalu berada di dalam dompetnya. "Ayo, masuk!" ajaknya begitu pintu terbuka.

Itu adalah apartemen kecil yang sederhana, cocok untuknya yang akan tinggal sendiri. Terdapat dapur kecil yang akan langsung dijumpai ketika masuk, lalu satu kamar tidur, kamar mandi yang bersisian dengan kamar tidur, juga ruang tamu kecil yang lebih cocok sebagai tempat bersantai dengan sebuah sofa untuk dua orang dan satu sofa tunggal.

Reyana sedikit canggung begitu memasuki apartemen bernuansa putih, merah stroberi dan merah muda itu. Sakura mengajak Reyana berkeliling apartemen, menunjukkan setiap ruangan yang ada di sana dan menjelaskan beberapa hal. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersantai di ruang tamu kecil yang ada.

"Apartemen ini memang sengaja tidak aku kosongkan karena sebenarnya tidak berniat untuk menyewakannya. Ini semua karena tunanganku yang mendesak untuk tinggal di rumahnya," jelas Sakura. "Ah, tetapi karena kau sudah ada di sini dan tampak sangat membutuhkannya, tentu aku akan menyewakannya."

"Terima kasih, Sakura-san."

"Jadi, bagaimana menurutmu, Yana-chan?" Sakura bertanya dengan ekspresi wajah berharap.

"Ini lebih bagus dari bayanganku. Aku akan menyewanya," ujar Reyana.

"Ah, baguslah kalau begitu." Sakura tersenyum senang. "Apa kau mau minum sesuatu? Aku juga ingin mengabari seseorang sebentar."

"Tidak perlu repot-repot." Reyana menolak halus tawaran Sakura.

"Baiklah, kau tunggu sebentar, ya." Sakura beranjak dari sana menuju dapur kecil yang berada di samping kanan pintu masuk.

Di dapur, dia menghubungi seseorang–lebih tepatnya adalah sang tunangan–untuk memberitahu mengenai apartemennya. Setelah tersambung dia segera berujar.

"Sasuke-kun, aku mendapatkan seseorang yang ingin menyewa apartemen."

"Laki-laki atau perempuan?" tanya orang di seberang.

"Perempuan, seorang remaja perkiraanku."

"Namanya?"

Sakura mendesah kesal. Kekasihnya selalu seperti itu, khas akan interogasi. "Namanya Yana."

"Nama lengkapnya?"

"Entahlah, tadi dia tidak memberitahukannya."

Dapat Sakura dengar kalau kekasihnya itu menghela napas setelah mendengar jawabannya. Dan itu membuatnya sedikit kesal. "Aku bukanlah orang yang suka ingin tahu privasi orang lain, jadi bukan salahku jika aku tidak tahu nama lengkapnya!" serunya dengan kesal.

"Baiklah, Sakura. Aku akan ke sana saja." Setelah mengatakan itu sambungan telepon langsung diputus secara sepihak sehingga membuat Sakura memberenggut kesal.

Membiarkan ponselnya begitu saja di atas pantri, kemudian Sakura berniat untuk membuatkan minuman. Meskipun Reyana tadi sudah menolaknya, tetapi bagi Sakura, gadis itu adalah tamu sekarang. Jadi, dia memiliki kewajiban untuk menjamunya. Untung saja dia masih menyimpan teh instan, tinggal menyiapkan air untuk menyeduhnya.

Sambil menunggu airnya yang sedang dipanaskan, Sakura kembali memperhatikan calon penyewa apartemennya itu.

Kalau memang perkiraan Sakura benar, gadis itu masih belasan tahun, seusia Konohamaru dan Hanabi, adik Hinata. Surai sepunggung Reyana berwarna coklat cerah dengan sedikit aksen bergelombang di ujungnya. Ya, setidaknya cukup normal sehingga Sasuke tidak akan punya alasan untuk curiga pada gadis itu. Sakura benar-benar menyesalkan sifat overprotektif laki-laki itu. Ya, walaupun dia tidak bisa memungkiri Sasuke yang lahir di keluarga bisnis yang tersohor. Itu seperti sudah ada dalam darahnya.

Begitu air yang ditunggunya mencapai suhu yang sesuai, Sakura langsung menuangkannya ke gelas yang sudah dia masukan kantung teh. Setelah itu dia membawanya ke ruang tamu.

"Ah, Sakura-san. Kau seharusnya tidak perlu repot-repot." Reyana menerima cangkir dari tangan Sakura dengan canggung.

"Tidak apa-apa, kau adalah tamuku sekarang. Oh iya, tunanganku juga akan ke sini." Sakura memberitahu. "Sifatnya sedikit ... overprotektif. Katakan saja jika nanti kau tidak nyaman dengan sikapnya."

Reyana mengangguk dengan kaku. Kemudian menyesap sedikit teh yang sudah dibuat Sakura.

Selang beberapa menit, bel apartemen berbunyi. Sakura bangkit untuk membukakan pintunya. Dia kembali dengan seorang laki-laki tampan bersurai raven. Reyana mengakui kalau pasangan di hadapannya itu terlihat sangat serasi.

Reyana berdiri untuk memberi salam pada laki-laki yang Sakura perkenalkan sebagai tunangannya. Auranya terasa mengintimidasi, tetapi Reyana masih bisa menghadapinya karena dia pernah menghadapi yang lebih buruk darinya.

"Nah, Yana, ini Sasuke. Sasuke, ini Yana yang akan menyewa apartemenku." Sakura mulai bersuara ketika mereka semua telah duduk di sofa.

"Siapa nama lengkapmu?" Sasuke bertanya pada Yana. Tidak berusaha menutupi sifatnya yang terlalu waspada.

"Miyaki Yana. Anda sendiri?" Reyana menyebutkan nama Jepang-nya dengan lantang. Dia tidak akan tertekan hanya dengan menghadapi laki-laki yang duduk tidak jauh darinya sekarang ini.

Dalam hati Sasuke mengakui keberanian gadis itu. "Sasuke, Uchiha Sasuke."

"Oh, Uchiha yang itu?" Reyana sedikit tidak percaya. Dia cukup tahu dengan keluarga pebisnis dari Jepang itu. Dari yang didengarnya pun mereka sedang melangkah untuk merambah kancah internasional.

"Jadi, kau tahu tentang Keluarga Uchiha. Tetapi kelihatannya kau tidak seperti orang Jepang."

"Gen dari ayah saya yang seorang Eropa." Yana tidak berbohong. Dia memang masih memiliki darah Jepang dari pihak ibunya.

Sasuke mengangguk kecil. Jawaban yang masuk akal walaupun tidak menjawab semua pertanyaan terselubungnya. "Berapa usiamu?"

"Tujuh belas."

"Apa kau sendirian di sini?" Sakura menyela sebelum Sasuke berhasil mengajukan pertanyaan lain.

"Ya, Sakura-san."

"Di mana orang tuamu sekarang?" Sakura sedikit merasa iba pada gadis di sampingnya ini. Dia merasakan hidup tanpa orang tua sejak tahun terakhirnya sekolah dasar. Mereka meninggal dalam kecelakaan.

"Itu ... sedikit sulit untuk kuceritakan." Sebenarnya Yana tidak tahu bagaimana lagi harus mengarang cerita untuk bagian itu.

"Kau yakin?" Sasuke tampak tidak puas dengan jawaban itu. Jadi, dia berusaha mendesak Reyana agar gadis itu mengatakan yang sebenarnya. Instingnya mengatakan kalau gadis itu menyembunyikan banyak hal, dan dia tidak ingin menerima risiko jika itu bisa membahayakan Sakura di kemudian hari.

Plak!

Sakura menampar lengan Sasuke. "Kau tidak tahu kalau ada yang namanya privasi? Berhentilah untuk bersikap protektif, Sasuke." Lalu dia beralih pada Reyana. "Itu hakmu jika ingin mengatakannya atau tidak. Aku tidak akan memaksamu."

"Terima kasih, Sakura-san."

"Nah, kurasa aku bisa mempercayakan apartemen ini padamu, Yana-chan." Sakura menyerahkan kunci apartemen yang langsung diterima Reyana dengan ceria.

"Sungguh?"

"Ya, tentu saja."

"Terima kasih banyak, Sakura-san."

"Sudah, sudah. Kau terlalu banyak berterima kasih padahal kita baru bertemu."

"Tetap saja—"

"Sudahlah, aku percayakan apartemen ini padamu ya. Dan kapan kau akan pindah ke sini?"

"Aku akan pindah besok."

"Bagus, apartemen ini akan kembali diisi oleh seseorang."

Sekarang Reyana bisa bernapas lega karena masalah tempat tinggalnya sudah terlewati. Dia tidak akan luntang-lantung di jalanan Tokyo.

Terpopuler

Comments

Rayana Ting Ting

Rayana Ting Ting

Masih membaca

2023-10-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!