Udara semakin mendingin di bulan kedua musim gugur. Orang-orang mulai merapatkan jaket tebal mereka untuk menghalau udara dingin menusuk tulang. Bergelung di dalam selimut tebal yang hangat adalah pilihan terbaik yang pernah ada ketika dingin telah menguasai udara. Namun, pilihan tersebut harus digeser ke belakang karena keseharian mereka di hari biasa menempati posisi teratas, posisi terdepan.
Shikamaru, Sai dan Neji sekarang sedang berada di dalam mobil milik Neji. Mereka sedang menuju kediaman Uchiha untuk sekadar bersantai, dengan niatan mengganggu si putra bungsu pemilik rumah karena sudah lama tidak berkumpul bersama mereka. Itu adalah ide Shikamaru yang ketika menyelesaikan kuliahnya merasa bosan jika langsung pulang. Jadi, dia mengajak Sai dan Neji bersamanya. Sebenarnya dia juga mengajak Naruto, tetapi laki-laki bermanik safir itu memiliki janji untuk mengantar Hinata pulang sebagai ganti batalnya kencan mereka berdua kemarin.
Tiba di kediaman Uchiha, gerbang langsung dibukakan untuk mereka karena penjaga sudah cukup mengenali ketiga laki-laki itu sebagai teman dari si bungsu Uchiha. Ketika masuk, salah satu maid langsung mengarahkan mereka ke ruang tamu kemudian beranjak untuk memanggil tuan mudanya.
Sasuke datang ke ruang tamu dengan raut dinginnya. Semua orang bahkan sudah sangat hafal dengan raut khas para keturunan Uchiha. Dia mendudukkan dirinya di sofa tunggal seraya menatap ketiga laki-laki yang bertamu secara tiba-tiba.
"Mau apa kalian ke sini?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar keluar dari mulut Sasuke.
Shikamaru menaruh kedua tangannya di belakang kepala seraya bersandar dengan nyaman. "Kami hanya bosan dan memutuskan untuk mengunjungimu yang sudah lama tidak terlihat," jawabnya dengan santai.
"Rumahku bukan tempat penampungan orang kurang mampu. Pergilah, aku tidak pernah mengundang atau menerima kedatangan kalian." Sasuke menggerakkan tangannya.
"Apakah Sakura di rumah?" Sai bertanya setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Untuk apa kau mencarinya?"
"Tidak ada, hanya bertanya."
Ingin rasanya Sasuke memukul wajah yang terukir senyuman palsu itu. Namun, dengan adanya Sakura di rumah, maka perempuan itu akan marah besar jika tahu dia memukuli Sai karena 'alasan sepele'.
Tiba-tiba ponsel milik Sasuke yang berada di saku celananya berdering. Dia mengeluarkannya dan mulai mengarahkan ponsel ke telinga setelah mengusap ikon berwarna hijau yang muncul di layar. Perbincangan melalui ponsel itu tidak berlangsung lama karena setelah mendapatkan laporan dari orang suruhannya, Sasuke membalasnya dengan singkat lalu memutusnya.
"Kau sedang mencari apa?" Shikamaru bertanya. Dia mendengar balasan yang diberikan Sasuke pada lawan bicaranya di seberang ponsel, terdapat kalimat berisi suruhan untuk mencari tahu lagi.
"Informasi tentang seseorang." Sasuke menjawab. "Karena kau ada di sini, bagaimana kalau kau membantuku mencarinya? Kau bisa memilih dua mobil milikku jika berhasil mendapatkan informasinya."
"Imbalan yang bagus." Shikamaru melemparkan pandangan tertarik kepada Sasuke. "Siapa namanya?"
"Miyaki Yana. Ambil waktumu untuk melakukan pencarian, tetapi semakin cepat kau dapatkan informasinya, semakin cepat kau dapatkan imbalannya."
"Baiklah. Tunggu saja."
"Aku akan ikut," ujar Sai mengundang tatapan yang lainnya. "Ino pernah bilang dia suka salah satu mobilmu."
"Kau juga ingin ikut, Neji?"
"Tidak, kalian saja. Aku tidak tertarik untuk menambah kesibukan, Tenten juga menerimaku apa adanya."
Shikamaru akhirnya hanya mengedikkan bahunya seraya memalingkan wajah.
"Aku baru ingat. Miyaki Yana yang kau maksud itu gadis remaja yang dekat dengan Sakura, 'kan?" Sai bersuara dan memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Kau mengetahuinya?" Salah satu alis Sasuke terangkat sembari netranya menatap laki-laki berkulit pucat itu.
"Sakura pernah membawanya sekali saat kami berada di YakiniQ," Sai membalas. "Jadi karena itu, ya, kau mencari tahu informasi mengenai Miyaki Yana. Seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi, kau memang telah jatuh pada perempuan berkekuatan monster itu."
"Katakan sekali lagi dan aku pastikan wajah pucatmu akan berubah menjadi merah oleh darah." Sasuke menekan setiap katanya dengan tegas. Dia tidak main-main jika itu berhubungan dengan Sakura.
"Jangan terlalu tegang begitu, lebih baik sekarang kita bermain gim. Sepertinya Naruto bilang kau memiliki edisi terbarunya. Cepat keluarkan!" Shikamaru menengahi kedua laki-laki itu sebelum terjadi sesuatu yang lebih jauh.
"Maaf, aku tidak ikut. Tenten membutuhkanku sekarang. Sampai jumpa." Neji berujar sebelum mereka berpindah ke kamar Sasuke untuk bermain.
Tidak mempermasalahkan kepergian Neji, ketiga laki-laki itu melanjutkan langkah mereka untuk menapaki tangga.
...* * *...
"Titip salamku untuk Yana, Naruto."
"Ya, akan kusampaikan."
Laki-laki bersurai kuning itu melambaikan tangannya singkat kemudian masuk ke mobilnya, menyalakannya kemudian mulai meninggalkan kediaman Uchiha. Penjaga langsung membukakan gerbang begitu melihat mobilnya. Naruto sempat menyapa ramah penjaga itu sebelum mobilnya bergabung ke jalanan yang tidak terlalu padat itu.
Setelah mengantar Hinata pulang tadi, Naruto memutar kemudinya menuju kediaman Uchiha. Dia tidak memiliki tugas mendesak yang perlu diselesaikan, jadi bergabung dengan Shikamaru yang tadi mengajaknya lebih baik daripada hanya bersantai bosan di rumahnya. Tiba di sana hanya ada Shikamaru dan Sai. Bersama sang pemilik rumah mereka memainkan gim milik Sasuke yang bahkan belum dia coba karena dilarang oleh laki-laki itu.
Mereka berempat menghabiskan banyak waktu untuk bermain hingga akhirnya Shikamaru mendapatkan panggilan dari Temari yang membuat laki-laki berambut nanas itu kelabakan segera pamit. Sai juga memutuskan untuk ikut pulang bersama Shikamaru.
Tiba di rumahnya, Naruto menempatkan Range Rover kesayangannya bersama mobil lainnya di garasi yang luas itu. Ketika masuk dia mendapati Reyana yang sepertinya baru keluar dari kamarnya. Dia melirik sekilas jam yang melingkari pergelangan tangannya, kemudian kembali pada gadis remaja yang sudah tinggal di rumahnya beberapa waktu belakangan ini.
"Kau sudah makan malam?" Naruto bertanya seraya melangkah mendekati posisi Reyana.
"Umm ... belum, Naruto-san." Reyana menjawab dengan ragu.
"Bagaimana kalau kita ke Ichiraku? Aku sudah sangat merindukan ramen di sana." Tidak menjawab ajakan Naruto, Reyana malah terdiam di tempatnya. "Tidak perlu banyak berpikir. Kau hanya perlu ikut saja."
Akhirnya gadis itu mengangguk dengan kaku untuk menyetujui ajakan pemilik rumah yang dia tempati. "Baiklah." Dalam hati dia kebingungan, padahal di rumahnya terdapat seorang koki yang bekerja, tetapi Naruto lebih sering makan di luar. Selama tinggal di sini pun dia dimasaki oleh koki itu, dan rasa makanannya sangat enak. Reyana mempertanyakan tentang itu dalam hatinya.
Tidak jadi menyimpang kunci mobilnya, Naruto membalik tubuhnya untuk kembali menghampiri mobil kesayangannya. Reyana mengikuti langkah Naruto dari belakang dengan cepat agar tidak begitu tertinggal. Duduk di kursi samping pengemudi, Reyana hanya diam sepanjang perjalanan.
"Ayo, keluar! Kita sudah sampai."
Seruan Naruto menyandarkan Reyana dari lamunannya. Dia keluar dari mobil dengan cepat dan ikut masuk ke dalam kedai Ichiraku yang juga sudah lama tidak dia kunjungi.
"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini." Naruto bergabung ke tiga laki-laki yang sedang menyantap ramen mereka di stool bar.
"Oh, hai, Naruto!" Laki-laki bertubuh gemuk menyapa singkat Naruto lalu kembali fokus dengan ramennya. Di sisinya sudah ada dua tumpuk mangkuk ramen yang telah kosong. Reyana pernah bertemu dengannya saat jalan-jalan bersama sakura dan berakhir di restoran daging panggang. Ya, dia yakin laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan yang pernah ditemuinya hari itu.
Kemudian ada dua laki-laki lain yang tidak pernah Reyana temui sebelumnya. Satunya memiliki rambut yang berantakan dan mencuat ke atas, dan satunya tampak cukup pendiam dan hanya mengangkat rendah tangannya untuk memberi sapaan kepada Naruto.
"Siapa yang bersamamu ini, Naruto?" Laki-laki dengan rambut berantakan bertanya ketika melihat Reyana yang duduk dalam kecanggungan di samping Naruto. Namanya Inuzuka Kiba.
"Ah, ini Yana." Naruto memperkenalkan Reyana kepada kedua temannya. Kemudian dia menyuruh Reyana untuk memesan duluan untuk mereka. Dia tahu Ayame pasti sangat hafal dengan ramen pesanannya.
"Hai, adik kecil! Kita bertemu lagi." Choji yang duduk di ujung meja melambaikan tangannya singkat.
Kiba mendekatkan tubuhnya ke Naruto. "Kau tidak sedang bosan dengan Hinata, 'kan? Dia masih terlalu kecil," bisiknya di samping telinga Naruto. "Yaah, walaupun aku tidak masalah jika kau mau melepaskan Hinata. Aku dengan suka cita menyambut Hinata ke dalam pelukanku."
"Aku tidak segila itu sampai berani melakukannya!" Naruto membalas dengan sengit sembari menatap Kiba dengan tajam. Sama seperti Sakura, dia hanya menganggap Reyana sebagai adiknya.
"Baiklah. Aku tidak berpikiran negatif, tenang saja." Kiba menepuk pundak Naruto beberapa kali seraya menjauhkan tubuhnya dan mulai kembali menyantap ramennya.
Setelah itu perbincangan mereka dijeda oleh datangnya ramen yang dibawa Ayame. Reyana memakan ramennya dengan tenang, tidak begitu menghiraukan Naruto yang telah berbaur dengan teman-temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments