Bagian 10_yana

Kelas sudah mulai lengang sore itu. Mahasiswa lainnya juga segera meninggalkan kelas begitu dosen keluar, ingin segera pulang agar bisa beristirahat sampai pagi Sabtu tiba, yaitu esok hari. Hari terakhir mereka kuliah di pekan ini terasa begitu membosankan. Laki-laki itu, Sasuke, sampai mengembuskan napas panjang di tempat duduknya. Belum ada niatan untuk beranjak dari sana. Di sisinya ada si surai kuning bermanik safir yang merupakan sahabatnya sejak kecil.

Sasuke memasukkan tangannya ke saku celana untuk meraih ponsel yang tidak dia hiraukan selama mengikuti kelas. Dia membuka ruang obrolannya dengan sang tunangan. Ada sebuah pesan yang belum dia baca, berisi pemberitahuan mengenai jam berakhirnya kelas terakhir yang diikuti perempuan merah muda itu. Jemarinya langsung menari dengan lincah di atas layar untuk mengirim balasan berupa ajakan untuk pulang bersama. Setelah dua centang berubah warna menjadi biru, dia langsung bangkit dan bersegera keluar kelas.

"Hei, Teme! Tunggu aku!" Naruto berseru kesal karena ditinggalkan. Dia mempercepat langkahnya agar sejajar dengan si Uchiha.

Tiba di parkiran, Sasuke langsung menghampiri mobilnya dan mulai membuka pintu, tetapi dia tidak langsung masuk karena menyadari Naruto yang masih berdiri di belakangnya.

"Apa maumu?"

Naruto memberikan cengiran khasnya. "Aku ikut bersamamu, ya, Sasuke? Mobilku masuk bengkel kemarin."

"Apa sekarang kau sudah melarat? Kupikir di garasimu masih ada beberapa mobil dan motor di sana."

"Ah, itu ... semalam aku menginap di rumah Shikamaru dan tadi pagi aku datang bersamanya." Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. "Ayolah, Teme, jangan menjadi orang yang begitu tega dan membiarkanku sendirian."

"Taksi tersebar di seluruh Jepang, Naruto."

"Aku juga sudah lama tidak melihat, Sakura. Biarkan aku ikut."

Sasuke menatap Naruto dengan tajam. "Untuk apa kau menemui Sakura?"

"Eyy, tenang dulu. Aku tidak memiliki maksud apa pun. Lagi pula aku sudah memiliki Hinata." Naruto sedikit memundurkan tubuhnya menjauh dari Sasuke dengan kedua tangan yang terbuka di depan dada. "Untuk kali ini, Sasuke, biarkan aku ikut. Ah, atau aku akan menceritakan 'hal itu' pada Sakura." Dia mengancam Sasuke dengan wajah yang terukir sebuah senyuman penuh makna.

"Cih! Pindah ke belakang ketika Sakura datang."

"Kau memang sahabat yang baik, Teme!"

Naruto memutari mobil Sasuke lalu membuka pintunya dan duduk di samping kursi pengemudi. Selama perjalanan menuju fakultas Sakura yang tidak begitu lama, atmosfer di dalam mobil hening. Sasuke si dingin tentunya tidak akan memulai percakapan lebih dulu jika bukan sesuatu hal yang penting dan mendesak. Lalu, Naruto sekarang sedang sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali kedua ibu jarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel untuk mengetikkan balasan pesan entah kepada siapa.

Mobil akhirnya tiba di parkiran fakultas kedokteran. Dari kejauhan sudah terlihat perempuan bersurai merah muda yang melangkah ke arah mobil. Karena itu, Naruto segera keluar untuk pindah ke belakang. Sebenarnya tadi dia sudah akan melompat melewati celah yang ada di antara dua kursi, tetapi Sasuke lebih dulu menatapnya dengan tajam dan memberikan ancaman 'kecil' yang cukup berhasil membuat laki-laki bermanik safir itu meneguk salivanya.

Begitu masuk, Sakura sedikit terkejut dengan keberadaan Naruto. "Mengapa Naruto ikut dengan kita?" Dia bertanya seraya memakai sabuk pengaman. Setelahnya mobil langsung kembali melaju meninggalkan parkiran dan bergabung ke jalan raya bersama kendaraan lainnya.

"Kita sudah lama tidak bertemu, Sakura-chan. Apa kau tidak merindukanku?" Naruto sudah lebih dulu bersuara untuk menjawab pertanyaan itu sebelum Sasuke membuka mulutnya.

"Sekali lagi kau berbicara aneh seperti itu, aku akan langsung menendangmu keluar dari mobilku."

"Tenanglah, Sasuke. Sakura juga sahabatku, kau tahu."

"Oh ya, Sasuke-kun. Bisakah kita mampir sebentar ke apartemen? Aku sudah lama tidak bertemu Yana," ujar Sakura sambil menatap sang tunangan dengan penuh harap.

"Hm."

Biasanya Sakura akan kesal begitu mendengar jawaban khas yang singkat itu, tetapi sekarang dia tersenyum lebar karena jawaban itu berarti Sasuke akan menurutinya. Mobil pun mulai mengarah ke daerah apartemennya berada.

Sekarang, tinggal berbelok ke kanan dan melaju beberapa ratus meter lagi untuk sampai ke apartemen. Namun, penampakan seseorang yang berlari ke arah jalanan tanpa melihat rambu membuat Sasuke harus mengerem secara mendadak dan tangannya tidak sengaja menekan klakson dengan lama.

Tiiinn!

Sasuke tidak sempat mengumpati orang itu karena menangkap wajah familiarnya, si gadis penyewa apartemen tunangannya. Lalu, dari arah belakang gadis itu terlihat dua laki-laki bertubuh besar yang tampak mengejarnya.

Dia segera menurunkan kaca jendela dan menjulurkan kepalanya ke luar. "Cepat masuk ke mobil!" teriaknya pada gadis itu.

Gadis itu, Reyana, menekan gemetar ketakutan yang dirasakannya karena hampir tertabrak, lalu segera menggerakkan kedua kakinya menuju mobil Sasuke dan masuk ke kursi penumpang belakang. Begitu dia masuk, Sasuke langsung menginjak pedal gas dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Reyana sibuk menghela dan mengembuskan napas di kursi belakang. Kepalanya terasa sedikit pusing karena tidak mendapatkan pasokan oksigen dengan benar selama dia berlari tadi. Ditambah jantungnya terasa hampir berhenti berdetak tadi saat hampir tertabrak.

Dia menoleh ke belakang untuk memastikan jarak dengan orang-orang yang mengejarnya. Jarak yang terus bertambah dalam waktu singkat membuat Reyana tidak lagi bisa melihat orang-orang itu. Akhirnya dia bisa menarik napas dengan tenang.

Tidak terasa, mobil akhirnya berhenti di pekarangan luas dari sebuah rumah besar. Sasuke langsung mengajak mereka untuk masuk ke rumahnya, kediaman Uchiha.

"Terima kasih sudah membantuku," ujar Reyana setelah mereka melewati pintu.

"Yana-chan, apa kau baik-baik saja?" Naruto membuka suara untuk bertanya.

"Itu ... mereka—"

Belum sempat Reyana menyelesaikan kalimatnya, dia jatuh tidak sadarkan diri dan membuat ketiga orang itu panik.

...* * *...

Hari telah berganti, waktu pun pastinya berlalu. Di luar sana, matahari telah bersinar terang untuk membagikan cahayanya kepada Bumi walaupun sebagian besar wujudnya tertutupi oleh awan-awan yang berlalu-lalang di langit Jepang.

Sepasang kelopak mata itu perlahan membuka. Beberapa kali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata. Setelah penglihatannya kembali, ruangan yang asing menyambutnya. Tidak sempat mengorek kembali ingatannya, pintu dari ruangan yang merupakan kamar itu terbuka, menampilkan seorang perempuan bersurai merah muda yang sangat dikenalinya.

"Sakura-san?" Suaranya terdengar serak, hampir hilang. Tenggorokannya yang terasa kering berkemungkinan besar sebagai penyebabnya.

"Oh, kau sudah bangun, Yana-chan. Aku tadinya akan memeriksa apa kau sudah bangun atau belum. Kalau begitu aku akan segera kembali dengan sarapanmu."

Belum sempat Reyana memberi balasan, Sakura sudah kembali menghilang di balik pintu. Gadis itu akhirnya memilih untuk menatap ke sekitar dan berakhir pada langit-langit kamar yang berada di atasnya. Napasnya diembuskan panjang.

Dia ingat sekarang. Si psikopat gila itu sekarang sudah berada di Jepang. Dua bulan penuh kebebasannya sekarang terancam musnah dan digantikan oleh jeruji besi bernama Rheegan Chaselio Vanderson.

Daun pintu terbuka, kembali memunculkan Sakura dari baliknya yang kini bersama baki berisi segelas air, semangkuk bubur dan sup.

"Aku tidak sesakit itu sampai harus memakan bubur, Sakura-san," ucap Reyana seraya mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang. "Itu juga membuatku merasa seperti bayi."

"Aku tidak ingin kau memaksa tubuhmu untuk mencerna makanan setelah tidak sadarkan diri selama dua hari. Jadi, biarkan tubuhmu pulih dulu baru kau bisa mendapatkan nasi sebagai makananmu."

Reyana terkejut mendengar kalimat yang diucapkan pemilik apartemennya itu. "Du—dua hari?"

"Ya," Sakura menatap dalam Reyana, "kau mendapat syok ringan, juga ternyata mengalami dehidrasi ringan. Untungnya pun kau tidak perlu mendapat infus."

"Maaf sudah merepotkan kalian." Kepala Reyana tertunduk.

"Merepotkan apanya?! Kau adalah orang yang membutuhkan bantuan, tentu kami akan membantumu." Sakura tidak setuju dengan Reyana yang merasa telah merepotkan mereka. "Sekarang jangan pikirkan apa pun dan habiskan sarapanmu! Aku akan menungguimu sekaligus memastikan kau benar-benar menghabiskannya."

Sebagai calon dokter, dia tahu bahwa dalam beberapa kasus orang yang sedang sakit akan mengalami penurunan nafsu makan. Itu tidak baik untuk masa pemulihan mereka yang membutuhkan asupan makanan yang nantinya akan diubah menjadi energi. Makan bisa mengambil peran untuk meningkatkan imunitas.

Di sisi lain, sekarang Reyana tahu apa yang dimaksudkan Ino ketika mereka berada di restoran daging panggang waktu itu. Sakura yang sekarang berada di hadapannya memang sedikit menakutkan dengan segala ketegasannya.

"Apa perlu aku suapi, Yana-chan?" Sakura menawarkan.

"Ah, tidak usah. Aku bisa sendiri." Reyana menolak dengan cepat. Setelahnya dia segera mengambil alih baki yang ada di tangan Sakura. Dia makan dengan tenang sampai habis, walaupun ketika semua makanan itu masih tersisa setengah dia merasa sudah sangat kenyang.

Melihat Reyana yang sudah menghabiskan makanannya, Sakura kembali mengambil alih baki itu.

"Sekarang kau bisa kembali beristirahat."

Reyana terdiam untuk beberapa saat. "Sakura-san, orang-orang itu ...." Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Seperti kehilangan kata-kata yang sebelumnya sudah ada, sudah tersusun rapi di dalam benaknya.

"Tidak apa, kau bisa menceritakannya ketika sudah pulih sepenuhnya. Aku—kami tidak akan memaksamu sampai kau benar-benar ingin mengatakannya." Setelahnya Sakura meninggalkan kamar itu dengan Reyana yang kembali sendirian di dalam sana.

Gadis itu menatap pintu yang dilewati Sakura untuk beberapa saat, sebelum menemukan ponselnya yang berada di atas meja kecil di samping ranjang. Tangannya terulur untuk meraih ponsel. Dia akan memberi kabar singkat pada sepupunya, Alex.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!