Bagian 01_negeri sakura

Riuh orang-orang yang berlalu-lalang merupakan hal yang wajar dia temui ketika kedua kakinya baru saja menginjak Bandar Udara Internasional Narita. Begitu keluar, seorang laki-laki—yang beberapa hari lalu diberitahukan oleh kakak sepupunya—menghampirinya lalu mengajak untuk menepi.

Laki-laki yang seumuran dengan kakak sepupunya itu adalah bagian dari tim sukses untuk rencananya selama berada di Jepang. Tanpa banyak bicara laki-laki itu menyerahkan sebuah pouch kepada Reyana dan langsung pergi dari sana setelah berujar singkat sebagai bentuk sopan santun. Reyana sendiri tidak terlalu memusingkannya, lagipula setiap orang pasti punya kesibukan. Apalagi ini Jepang.

Setelah persiapan kurang lebih sembilan hari, yang dia akui tidak cukup matang, akhirnya Reyana bisa mendarat di Negeri Sakura ini. Sekarang dia hanya perlu mencari taksi untuk mengantarnya ke hotel yang sudah di-booking. Dengan tangan yang sibuk menarik kopernya, dia berjalan keluar dari bandara.

Setelah mendapatkan taksi, Reyana langsung memberitahukan nama hotel tujuannya kepada sopir. Di dalam taksi Reyana memperhatikan pemandangan kota dari balik kaca jendela mobil.

Tidak salah dirinya memilih Negeri Sakura ini sebagai tujuannya. Negara dengan kebudayaan yang masih kental, tata kota dan arsitektur bangunan yang luar biasa, dan juga dikenal sebagai kampung halaman anime-anime yang terkadang ditonton Reyana di waktu luang. Benar-benar keputusan yang tepat dia memilih negara ini.

Langit di atas sana yang harusnya terang oleh matahari, siang ini tertutupi gumpalan-gumpalan awan kelabu yang mungkin sebentar lagi akan menjatuhkan muatannya.

"Kita sudah sampai, Nona," ujar supir taksi itu setelah memberhentikan mobil di depan hotel.

Setelah membayar Reyana berlari kecil sambil menggeret kopernya dengan susah payah untuk segera masuk ke dalam hotel. Rintik gerimis datang tiba-tiba beberapa menit sebelum taksi yang ditumpanginya sampai di depan hotel.

Selesai berbicara dengan resepsionis, Reyana diantar ke kamar hotel yang sudah di-booking olehnya. Kamar itu berada di lantai empat belas dengan nomor 0326. Setelah membantu Reyana dalam membawa koper milik gadis itu, pekerja itu langsung meninggalkan Reyana di depan pintu kamarnya.

Reyana menempelkan kunci berbentuk kartu ke sensor yang ada di bawah gagang pintu. Setelah terdengar bunyi dan cahaya berubah menjadi hijau, pintu pun terbuka. Dia segera menggeret kopernya masuk ke kamar.

Kamar yang di-booking Reyana adalah sebuah kamar superior dengan nuansa krem dan putih yang membuat kamar itu tampak hangat. Reyana hanya akan menginap di hotel ini selama lima hari. Dan selama enam hari itu Reyana akan mencari apartemen kecil yang akan dijadikan tempat tinggal selama berada di Negeri Sakura ini. Benar-benar tidak matang rencana yang dibuatnya dalam keadaan terburu-buru itu.

Untuk hari ini, Reyana hanya akan beristirahat sepanjang hari di kamarnya. Dia masih merasa jet lag setelah perjalanan jauh melintasi benua yang sangat melelahkan.

Reyana membiarkan kopernya tergeletak begitu saja di dekat pintu. Dengan godaan rasa lelah yang sangat besar, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak butuh waktu lama bagi Reyana untuk jatuh terlelap, dan mungkin sudah mulai menyelami lautan mimpi.

Saat matahari sudah terbenam di ufuk barat, barulah Reyana bangun dari tidur lelapnya. Setelah seluruh nyawanya terkumpul kembali, Reyana langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Selesai kegiatan bersih-bersih untuk melepas penat itu, Reyana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Dia menuju jendela yang ada di kamar itu kemudian membuka tirainya. Tampak di luar sana berliter-liter air hujan jatuh membasahi bumi. Pantas saja Reyana merasakan suhu kamarnya yang terasa dingin. Hujan di luar sanalah penyebabnya.

Dengan membiarkan tirai jendela tetap terbuka, Reyana menuju kopernya yang berada di dekat pintu. Ia menggeret koper itu mendekati ranjang. Setelah menaikkan koper itu ke atas ranjang, Reyana mulai membuka resleting koper.

Reyana mengambil sepasang pakaian dalam, tank top hitam, hoodie oversize berwarna hijau tua, dan celana levis hitam. Setelah semua itu terpasang di tubuhnya, Reyana keluar dari kamarnya untuk menuju restoran yang ada di lantai dasar hotel.

Sampai di restoran Reyana memesan shoyu ramen dan juga cappucino dengan bahasa Jepang yang lancar. Tidak sia-sia dia mengikuti les bahasa asing selama ini. Setelah pesanannya datang, Reyana langsung menyantapnya dengan lahap. Mungkin ini dikarenakan rasa lapar yang sudah menderanya sejak terbangun dari tidur tadi.

Reyana makan sambil memainkan ponselnya yang dipegang dengan tangan kiri. Selama tinggal di Jepang Reyana tidak menggunakan nomor ponsel yang biasa digunakannya sebelum itu. Hal itu juga membantunya 'bersembunyi' dengan baik. Pun selama di Jepang dia hanya akan berkirim pesan dengan Alex, kakak sepupunya, melalui surel. Ya, hanya Alex satu-satunya keluarga yang akan dia hubungi selama berada di Jepang. Surel yang dia gunakan pun baru dan menggunakan nama samaran agar tidak ada yang mengetahuinya. Untuk masalah komunikasi seperti ini dia memang sudah cukup memikirkannya dengan baik.

Setelah menghabiskan makanan dan minumannya, Reyana kembali ke kamarnya. Karena suhu udara yang semakin rendah, sesampainya di kamar Reyana langsung menyalakan penghangat ruangan.

Reyana berdiri di depan jendela untuk melihat ke luar. Hujan masih turun dengan derasnya untuk membasahi bumi. Banyak orang di luar sana yang menggunakan payung untuk menghindarkan diri dari tetesan air hujan.

Bunyi notifikasi dari ponselnya membuat Reyana mengalihkan pandangannya. Ada sebuah surel masuk dari Alex. Sebelum membacanya Reyana menuju ranjang. Ia ingin berada di posisi nyaman sebelum membaca surel itu.

From : alexn.dr(at)mail.com

To : bloomycrhysan(at)mail.com

Subject : -

Hei, adik kecil. Apa kau sudah sampai di hotel? Kau tahu, sejak kepergianmu aku selalu merasa tidak tenang. Takut saja jika Uncle dan Aunty tahu aku membantumu kabur dari rumah. Aku juga takut kalau terjadi apa-apa padamu, tapi semoga saja tidak terjadi apa-apa.

Oh ya, berapa lama kau akan berada di sana? Kau tentu tahu kalau kau tidak bisa bersembunyi terlalu lama. Mungkin setelah kembali dari New York, Uncle dan Aunty akan langsung panik mengetahui kau tidak ada di sana. Dan pastinya tidak perlu waktu lama Uncle akan menyebarkan anak buahnya di seluruh London.

Itu saja yang mau aku ucapkan. Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan terlalu dekat dengan orang asing. Siapkan semprotan merica kalau perlu.

With much love and worries,

Your best cousin.

Reyana tersenyum membaca surel dari kakak sepupunya itu. Tidak menunda lebih lama, dia segera membuat surel balasan untuk Alex. Setelah melihat tanda dengan tulisan 'terkirim' Reyana keluar dari aplikasi surel.

Sekarang Reyana merasa bosan. Ingin menjelajahi media sosial, hanya saja sebelum berangkat ke Jepang dia sudah menghapus semua aplikasi media sosial yang ter-install di ponselnya. Setelah berpikir sejenak, satu-satunya hal yang terlintas di benaknya adalah tidur. Ya, lagi pula ini sudah malam.

...* * *...

Alex sedang memeriksa berkas-berkas berisi keterangan mengenai pasien-pasiennya saat sebuah surel masuk. Melihat nama pengirim dari surel itu membuat Alex memastikan keadaan terlebih dahulu. Saat sudah yakin tidak akan ada siapa pun yang akan datang ke ruangannya, Alex segera membuka surel itu.

From : bloomycrhysan(at)mail.com

To : alexn.dr(at)mail.com

Subject : -

Hai, sepupu. Aku sudah sampai di hotel sejak siang tadi. Aku juga baru selesai makan malam.

Kau tidak perlu merasa takut, bersikap biasa saja. Malahan jika kau menunjukkan rasa takutmu, semua orang akan tahu dan rencanaku akan gagal total. Tentunya aku akan menyalahkanmu jika rencanaku gagal.

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan tinggal di sini, tetapi yang pasti aku akan pulang jika Mom dan Dad membatalkan rencana tidak masuk akal mereka. Tidak apa-apa jika sesekali mereka panik. Mungkin dengan begitu mereka bisa memahami perasaanku.

Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Sampai jumpa saat aku kembali nanti.

With luv,

Beautiful Reya.

Setelah membaca surel itu Alex menghela napas pelan. Sejak mendengar rencana gila Reyana, dia sering menghela napasnya. Seakan-akan begitu banyak beban diberikan padanya. Semakin bertambah ketika rencana gila itu terlaksana hari ini.

Knock... Knock...

"Ya, masuk!" ucap Alex mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.

Seorang suster masuk ke ruangan Alex. "Permisi, Dok. Satu jam lagi Anda memiliki jadwal untuk operasi salah satu pasien, jadi sebaiknya Anda segera bersiap," ujar suster itu.

"Ya, saya akan segera bersiap."

Alex menyesap kopi miliknya yang masih tersisa untuk menjernihkan pikiran, kemudian bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan itu bersama si suster.

Terpopuler

Comments

Ersa

Ersa

mom and dad nya Reyana punya rencana apa sih?🤔

2023-10-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!