Angin berembus dengan kencang, membawa dedaunan bersamanya, merontokkan yang masih berusaha bertahan pada ranting pohon. Sebuah mobil melaju membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Sepasang cucu Adam dan Hawa yang duduk di kursi penumpang belakang terselimuti hening. Mata sang wanita tertutup sambil kepalanya menyandar pada pundak suaminya. Perjalanan yang panjang membuatnya lelah.
"Sampai di rumah nanti langsung istirahat, biar aku yang mengurus barang-barang kita," ujar si pria bersurai kuning seraya mengelus lembut kepala istrinya yang dimahkotai surai berwarna merah.
"Hm, jangan lupa periksa keadaan rumah. Kita tidak tahu apa yang anak itu lakukan selama kita tidak ada." Wanita itu membalas, masih dengan mata yang terpejam.
Sepasang suami-istri itu baru saja kembali setelah liburan panjang sekaligus perjalanan bisnis ke Korea Selatan. Meninggalkan rumah berbulan-bulan di tangan putra tunggal mereka sebenarnya terasa meragukan. Namun, dengan adanya para pekerja yang akan datang dua sampai tiga kali ke rumah setiap harinya membuat mereka berdua bisa sedikit lebih tenang.
Masih segar di ingatan Minato dan Kushina, pasangan suami-istri itu, ketika mereka meninggalkan sang putra tunggal untuk satu pekan. Ketika kembali mereka disuguhi pemandangan ruang tamu yang kacau dengan beberapa sampah yang bertebaran. Ya, jangan lupakan putra tunggal mereka yang asik terlelap di sofa dengan kepala hampir jatuh.
Kali ini, Minato dan Kushina berusaha percaya pada putra mereka. Usia yang telah bertambah semoga bisa mengubah beberapa sifat anak itu, teledor misalnya.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar setelah melewati gerbang. Minato dan Kushina segera keluar dari mobil. Koper-koper milik mereka dibawa masuk oleh dua orang pekerja.
Ketika masuk, kedua orang itu dibuat terkejut oleh keadaan rumah yang rapi dan bersih, tidak seperti bayangan mengerikan yang terngiang di benak selama beberapa bulan belakangan ini. Kushina harus memuji putranya yang telah berubah. Biasanya pasti ada saja yang membuat dirinya harus meneriaki sang putra.
"Ya ... ini tidak seperti pemikiran kita, tetapi setidaknya kita tidak dibuat pusing saat pulang." Minato merengkuh pundak Kushina yang masih terdiam di tempatnya berdiri. "Ayo, kita sebaiknya segera ke kamar untuk beristirahat."
"Baguslah, aku tidak perlu mengeluarkan suara untuk meneriaki Naruto."
Baru mengambil beberapa langkah, Minato dan Kushina kembali berhenti ketika melihat seorang gadis dari arah kamar tamu yang ada di lantai dasar, Reyana. Mereka mematung di tempat hingga akhirnya Reyana menyadari keberadaan kedua orang itu dan ikut menghentikan langkahnya.
"Siapa kau? Di mana putraku?" Suara Kushina mengalun, mengundang bulu roma Reyana untuk berdiri.
"Ma—maaf, saya Miyaki Yana. Naruto-san pergi sejak tadi pagi." Reyana menjawab dengan gugup. Kepalanya menunduk, tidak berani menatap sepasang suami-istri yang berjarak beberapa meter darinya itu.
Tangan Kushina terangkat untuk memijat pelipisnya, tiba-tiba dia diserang rasa pusing. "Cepat hubungi Naruto dan suruh dia pulang, Minato," titahnya pada sang suami.
"Kau duduklah dulu. Aku tahu kau sangat kelelahan." Minato menuntun Kushina ke arah sofa yang ada di ruang tamu. Setelahnya dia langsung meraih ponsel dari saku celananya dan mulai mencari nomor kontak putranya. Ketika mendapatkannya dia langsung menyentuh ikon berwarna hijau untuk memulai panggilan.
Reyana yang tadinya melanjutkan langkah menuju dapur setelah Minato dan Kushina beranjak ke ruang tamu, menyusul orang tua Naruto sambil membawa baki berisi tiga gelas minuman. Dia menatanya di depan masing-masing dengan gugup.
Selama beberapa saat terjebak dalam keheningan yang menyiksa, akhirnya Reyana bisa menghela napas lega ketika mendengar langkah kaki mendekat dan memunculkan laki-laki bersurai kuning yang mirip dengan pria di depannya sekarang.
"Mengapa kalian tidak memberitahuku kalau akan pulang? Aku pasti akan ke bandara untuk menjemput." Naruto berujar panjang dengan sedikit kelelahan karena berlari ketika masuk, tetapi itu tidak menghalanginya.
"Kau membawa seorang gadis ke rumahku, Naruto." Kushina menatap nyalang ke arah sang putra yang masih berdiri dengan jarak tiga langkah darinya.
Seketika Naruto meneguk salivanya dengan susah payah. Bulir keringat perlahan muncul di pelipisnya.
"I—tu tidak seperti yang Ibu pikiran," ucapnya dengan susah payah setelah mengumpulkan keberanian.
"Kalau begitu jelaskan sebelum aku mengirimmu ke Palung Mariana." Kushina menekan setiap kata yang dilontarkannya, masih sambil menatap putranya dengan intens.
"Baiklah, akan aku jelaskan." Naruto meraup oksigen sebanyak yang dia bisa sebelum lanjut memberikan penjelasan. "Aku hanya menawarkan tempat tinggal yang aman untuk Yana karena dia sempat hampir diculik. Aku, Sasuke dan Sakura untungnya menemukan Yana hari itu. Ini semua hanya bantuan, tidak ada yang seperti pemikiran Ibu."
Kushina menyipitkan matanya, berusaha mengintimidasi putranya. "Kau sudah jujur?"
"Iya, Ibu. Aku tidak bohong sama sekali."
Akhirnya helaan napas Kushina membuat Naruto dan Reyana bisa lega.
"Kau boleh tinggal di sini sampai situasi aman untukmu," ujar Kushina berusaha ramah. "Aku Kushina, ibu Naruto."
"Terima kasih banyak. Saya Miyaki Yana." Reyana membalas. "Saya ... bisa membayar selama tinggal di sini."
"Tidak perlu, Nak." Minato menyela. "Seperti Naruto, kami juga hanya ingin membantu setelah mendengar keadaanmu. Putraku yang membantu orang lain lebih baik daripada dia menghancurkan seisi rumah saat kami tidak ada."
"Itu sudah lewat beberapa tahun. Jangan diungkit lagi, Ayah!" Naruto berseru protes. Saat itu dia masih remaja, jadi wajar jika kesenangan melingkupi begitu mendapat kebebasan. Ya, walaupun memang berakhir kacau, tetapi dia juga sudah mendapatkan hukuman. Tidak lupa dipenuhi omelan dari sang ibu di setiap kesempatan.
...* * *...
Di dapur kediaman Uchiha, perempuan cantik bersurai merah muda sedang sibuk dengan wadah makanan yang diisinya dengan hasil masakannya. Hari ini dia berencana untuk makan malam di kediaman Namikaze, itu direncanakannya karena juga ingin bertemu dengan Reyana. Sudah lama mereka berdua tidak menghabiskan waktu dengan segala urusan perempuan.
Dirasa sudah siap dan penutup wadah telah dipastikan rapat, Sakura memasukkannya ke dalam tas kecil.
Karena Sasuke sedang memiliki urusan dengan kakaknya, alhasil Sakura pergi ke kediaman Namikaze diantar oleh sopir keluarga Uchiha. Itu adalah syarat yang diberikan sang tunangan jika ingin pergi tanpanya. Kebanyakan pekerja yang bekerja di kediaman Uchiha memang menguasai bela diri, dengan senjata ataupun tangan kosong. Ketika masuk, mereka akan menerima pelatihan, tetapi bagi pekerja yang bekerja di dalam rumah tidak berkewajiban untuk mengikuti latihan itu. Seperti para juru masak atau yang mengurus kebersihan rumah besar itu.
Akhirnya mobil yang membawa sakura tiba di kediaman Namikaze. Dia segera keluar dari mobil. Setelah mengucapkan terima kasih dan meminta sopir untuk langsung pulang, dia masuk ke dalam rumah yang tidak kalah besar dengan milik Uchiha.
Ketika masuk Sakura disambut oleh salah satu maid. Dia langsung diarahkan ke dapur setelah mengatakan tujuannya pada maid itu. Tidak disangka, begitu tiba di dapur Sakura mendapati ibu dari Naruto yang sedang sibuk mengolah bahan-bahan makanan bersama juru masak.
"Selamat malam, Bibi!" Sakura tidak sadar sampai berseru seraya melangkah cepat ke arah Kushina dan memeluknya. "Aku tidak tahu kalau Bibi dan Paman sudah pulang."
"Kami baru pulang tadi siang, Sakura-chan. Aku juga merindukan putri merah muda-ku ini." Kushina membalas pelukan Sakura. Untuk beberapa saat mereka meresapi kehangatan masing-masing lalu mengurai pelukan itu.
"Aku berniat untuk makan malam di sini, bersama Naruto dan Yana, karena itu aku membawa ini." Sakura mengangkat rendah tas berisi wadah makanan yang dibawanya. "Jika tahu kalian sudah pulang pasti aku akan memasak lebih banyak."
"Tidak apa-apa, Manis. Kalau begitu biar aku pindahkan dari wadahnya."
"Ah, biarkan aku saja. Lagi pula kau sedang memasak."
"Tidak, aku akan melakukannya. Itu masih bisa menunggu, dan ada Tuan Watanabe di sini, dia bisa mengurusnya untukku."
Sakura pun akhirnya membiarkan Kushina untuk memindahkan hasil masakannya ke piring. Sembari itu dia melihat-lihat makanan yang dibuat Kushina bersama Tuan Watanabe, juru masak mereka.
"Kau tahu, rasanya aku seperti akan terkena serangan jantung ketika melihat gadis itu di rumahku," ujar Kushina dengan pelan.
"Ah, Yana. Awalnya dia menyewa apartemenku, tetapi beberapa waktu lalu dia mengalami kesulitan. Naruto berbaik hati memberikan tempat tinggal padanya."
"Ya, aku sudah mendengarnya. Naruto menjelaskannya tadi." Kushina mengaduk masakannya sebentar kemudian meminta Watanabe untuk memindahkannya ke wadah mangkuk. "Dia ... terlalu mungil untuk mendapat kesulitan seperti itu."
"Apalagi dia sendirian di Tokyo. Entah apa yang terjadi jika waktu itu dia tertangkap dan kami tidak ke sana untuk melihatnya."
Kushina tidak lagi merespon banyak. Dia hanya mengangguk dan bergumam kecil.
Mereka akhirnya pindah ke ruang makan. Minato sudah berada di sana, duduk di kursi yang berada di sisi ujung meja makan yang panjang itu. Pria itu langsung tersenyum ketika melihat wanita bersurai merah kesayangannya datang.
"Selamat malam, Paman Minato."
"Selamat malam, Sakura. Senang melihatmu," balas Minato dengan senyum ramahnya. "Bagaimana Naruto selama kami pergi? Apa dia melakukan hal yang membuat kalian repot?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, Ayah."
Naruto yang memasuki ruang makan bersama Reyana ketika Minato melempar pertanyaan kepada Sakura, langsung menyela untuk menjawabnya. Mengapa orang tuanya tidak mempercayai apa yang dia katakan? Padahal tadi dia sudah bilang tidak melakukan hal-hal aneh yang bisa berdampak merugikan.
Reyana yang melangkah di belakang Naruto hanya tersenyum canggung mendengar dan melihat interaksi keluarga kecil itu. Dia sedikit terkejut mendapati Sakura yang ada di antara mereka. Sakura langsung menarik dirinya untuk duduk di samping perempuan itu untuk makan malam ini. Reyana tidak memiliki alasan untuk menolak, jadi dia diam saja ketika Sakura mendudukkannya di kursi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments