Gumpalan-gumpalan awan kelabu terlihat menaungi langit dan menghalangi matahari yang seharusnya sedang menjalankan tugasnya untuk membagi sinar pada Bumi. Di sebuah restoran sushi, Reyana kembali berhadapan dengan laki-laki yang dia temui pertama kali di bandara. Mereka kembali bertemu untuk membahas tentang sekolahnya.
Sebenarnya Reyana telah menyelesaikan pendidikan menengahnya dan sedang fokus untuk mengambil A Level untuk pendidikan lanjutannya. Namun, masalah yang tiba-tiba datang ini membuatnya harus menunda itu dan ... melarikan diri ke Jepang. Dan, karena dia sudah ada di Jepang, dia ingin melakukan sesuatu sampai orang tuanya benar-benar melupakan rencana konyol mereka.
Sesuai usianya saat ini, maka Reyana akan mengikuti tahun kedua di sekolah menengah akhir. Laki-laki di hadapannya ini, Miyamura Aida, sudah mengurus hal itu sesuai permintaan Alexander. Jadi, Reyana hanya perlu menerima beberapa penjelasan mengenai sekolah barunya itu.
Tentu sepertinya sedikit sulit dengan negara dari daerah timur ini untuk membiarkan seorang remaja mendapatkan pekerjaan tanpa surat persetujuan orang tua. Reyana tidak ingin terjebak dalam situasi yang menyulitkan, jadi ia memilih seperti ini saja.
"Memangnya mengapa kau harus melakukan hal ini?"
Reyana sedikit terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan Miyamura setelah penjelasannya. Laki-laki yang dia ketahui adalah teman semasa kuliah kakak sepupunya ini terlihat cukup pendiam dan tidak ingin ikut campur dalam masalah orang lain. Ya walaupun untuk kali ini dia melakukannya karena juga mendapat bayaran. Bukan berarti gajinya sebagai seorang dokter di rumah sakit besar yang ada di Tokyo tidak cukup, tetapi memang dia juga tidak bisa menolak permintaan temannya.
"Kau tidak akan mengerti jika aku mengatakannya. Kau tidak berada di sepatuku, Miyamura-san." Reyana menjawab dengan tidak acuh.
"Katakan saja, aku akan mendengarkan. Alex dulu juga pernah seperti ini. Ya, walaupun tidak sama dalam acara melarikan diri ini."
Reyana mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia kembali mengambil sushi di depannya untuk dimakan dalam satu suapan. Dia terlihat tidak begitu yakin akan menjawabnya atau tidak.
"Orang tuaku berencana untuk menjodohkanku."
"Hanya itu?"
"Apanya yang 'hanya itu'?! Ini masalah besar! Kau tidak tahu laki-laki yang akan dijodohkan denganku. Dia sangat ... ughh!"
"Oh, jadi kalian sudah bertemu."
"Kau tidak bisa menganggapnya seringan itu, Miyamura-san!" Reyana berseru putus asa. Kepalanya dia tenggelamkan ke atas meja. Detik berikutnya dia kembali menatap Miyamura. "Aku sudah bersama dengannya sedari kecil, aku tahu seperti apa dirinya itu."
"Bukankah bagus kalau kalian sudah saling mengenal begitu?"
"Miyamura-saan!" Reyana mengacak rambutnya dengan frustasi. "Bayangkan kalau aku adalah adikmu! Apa kau mau adikmu menghabiskan sisa hidupnya dengan seorang psikopat gila?!"
"Psikopat gila?" Kali ini Miyamura benar-benar akan mendengarkan adik sepupu temannya ini.
"Iya! Aku tahu apa yang selama ini dia lakukan di belakangku untuk memastikan tidak ada satu pun laki-laki mendekatiku kecuali dia," ujar Reyana dengan menggebu-gebu. "Dia itu terlalu posesif dan pengatur. Aku ini jiwa yang bebas. Mereka tidak bisa mengurungku bersamanya di sisa hidupku!"
"Kau sudah memberitahu orang tuamu mengenai ini?"
"Belum, mereka sedang berada di New York saat ini. Aku juga mengetahui tentang perjodohan ini dari laki-laki itu."
"Ah, jadi kau memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur ke sini."
"Begitulah." Reyana kembali melahap sushi di depannya.
"Kau akan berapa lama di sini?"
"Tidak tahu."
Kali ini Miyamura yang mengembuskan napasnya, tetapi dengan pelan, tidak seperti Reyana yang sedang merasa seperti berada dekat dengan kiamat.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa lama-lama sekarang." Miyamura melirik sekilas ke jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Dia masih memiliki jadwal untuk memeriksa pasiennya yang baru selesai operasi empat puluh lima menit lagi. Berkendara dengan mobil dari restoran itu ke rumah sakit ke tempatnya berkerja membutuhkan kurang lebih dua puluh menit. "Ini seragammu dan peralatan tulis. Aku pergi. Baik-baik saja selama tidak bertemu denganku, oke?"
Laki-laki itu langsung beranjak dari sana setelah mengusak puncak kepala Reyana secara singkat. Reyana melihat punggung Miyamura yang semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu restoran.
Kembali mengembuskan napasnya dengan kasar, kemudian Reyana bersiap-siap untuk mengikuti jejak Miyamura, pergi dari restoran sushi itu. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia langsung mengayunkan tungkainya dari sana.
Begitu keluar dari restoran, dia langsung menuju halte bus terdekat. Setelah hampir dua pekan berada di Jepang, dia sudah cukup terbiasa untuk menjalani kesehariannya.
Sebelum benar-benar kembali ke apartemennya, Reyana mampir ke sebuah toko kelontong untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman, juga makanan instan. Ketika keluar dari toko kelontong, rintik gerimis menyambut Reyana sehingga mengharuskannya berlari untuk sampai ke gedung apartemen agar tidak terlalu kebasahan.
Tiba di apartemennya yang sudah dia tempati selama tiga hari ini, Reyana langsung melipir ke dapur kecilnya untuk menyimpan belanjaannya. Lalu dia mengambil satu botol air mineral untuk dibawa bersamanya ke sofa. Meneguk air itu beberapa kali, kemudian Reyana beralih untuk mengecek ponselnya. Kakak sepupunya kembali mengirimkan sebuah surel setelah satu pekan hilang entah ke mana.
From : alexn.dr(at)mail.com
To : bloomycrhysan(at)mail.com
Subject : -
Maaf karena tidak mengirimimu beberapa hari ini. Rumah sakit sedang sibuk-sibuknya sampai aku harus begadang dan menginap.
Oh ya, Ren sudah mengetahui kau yang tidak ada di rumah. Setelah pulang tiga hari lalu dia langsung mencarimu ke mana-mana. Dia benar-benar buruk ketika tahu kau tidak ada di mana pun. Ayah dan ibuku juga ikut turun tangan, sedangkan aku di sini merasa seperti orang jahat yang berpura-pura ikut mencarimu.
Kabar baiknya, mungkin, Ren belum memberitahu Uncle mengenai kau yang hilang. Kalau tahu, aku yakin seluruh London akan langsung penuh dengan para bawahan yang mencarimu.
Ketika kembali nanti kau harus membayar mahal karena aku melakukan semuanya untukmu dengan baik. Jika ada apa-apa kau bisa meminta tolong pada Aida, tetapi tetap ingat untuk tidak mengganggu pekerjaannya!
Aku tunggu balasanmu.
Dengan lelahnya diriku,
Alex.
Reyana menggeleng pelan setelah membaca isi surel yang terkesan penuh kecaman sepupunya itu. Ah, tetapi dia jadi merindukan adik kembarnya, Ren. Saat dia memutuskan untuk melarikan diri, Ren memang tidak ada di rumah. Saudara kembarnya itu sedang berada di Liverpool, entah melakukan apa, Reyana tidak bertanya saat itu.
...* * *...
Di sore harinya yang sangat luang, Reyana mengisinya dengan berjalan-jalan. Dia pergi untuk melihat sekolah yang akan menjadi tempatnya mendapatkan ilmu pengetahuan tambahan besok. Di sana masih tampak para siswa yang berlalu-lalang.
Dari yang diketahuinya dari internet, dalam rangka menambah pengetahuan umumnya, untuk tingkat menengah atas jam sekolah mereka sampai pukul 19.00. Ya, lebih lama dari sekolah lamanya. Kegiatan jalan-jalannya itu sekalian untuk memastikan rute bus mana yang harus dia naiki untuk sampai di sekolah. Tidak akan bagus kalau terlambat di hari pertamanya bersekolah.
Setelah melihat-lihat sekolahnya, yang menurut Reyana tidak buruk untuk sekolah sementaranya, dia mencari tempat makan untuk makan malam sembari berjalan pulang. Bersamaan dengan itu, tidak jauh di depannya sekarang, terlihat sebuah kedai ramen yang ramai. Jadi, Reyana memutuskan untuk makan malam di sana.
Di dalam, tidak seperti pemikirannya, desain interior dari kedai itu cukup modern.
Karena terlalu malas mencari meja, Reyana memilih untuk duduk di stool bar. Dia langsung disambut dengan hangat oleh seorang wanita berseragam koki. Setelah menyampaikan pesanannya, dia menunggu sambil melarikan pandangannya ke sekitar. Kedai ramen itu benar-benar ramai. Sepertinya memang pilihan yang tepat membawa dirinya ke sini, begitu pikir Reyana.
Sedang asik melihat-lihat, Reyana dikagetkan oleh seruan dari seorang laki-laki bersurai kuning yang baru memasuki kedai ramen itu.
"Kak Ayame, aku pesan ramen seperti biasa!"
"Oh, kau datang, Naruto-kun. Tunggu sebentar." Wanita yang tadi menyambut Reyana membalas seruan laki-laki itu.
"Nah, selamat menikmati, Nona." Tidak lama, kemudian wanita bernama Ayame itu datang dan meletakkan semangkuk ramen di depan Reyana.
Gadis itu mengucapkan terima kasih lalu mulai menyantap ramennya. Matanya membulat ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
"Sangat lezat, bukan?"
Reyana menoleh ke sampingnya. Laki-laki bersurai kuning itu menatapnya.
"Ya, aku berbicara padamu. Ramen di sini memang sangat lezat. Aku adalah pelanggan setia di sini, dan aku tidak pernah bosan datang ke sini untuk mendapatkan ramen." Dia berujar dengan riang. Tatapan matanya berbinar seakan sedang menceritakan pengalamannya ketika mendapatkan hadiah ulang tahun terbaik. "Ah iya, namaku Naruto."
"Yana. Salam kenal, Naruto-san."
"Biar kutebak, kau pasti baru pertama kali makan ramen di Ichiraku."
"Ya, aku baru pindah beberapa hari lalu ke apartemen yang tidak jauh dari sini."
"Oh, aku memiliki teman yang sepertinya juga berada di apartemen yang sama. Dia selalu mengingatkanku pada musim semi."
"Ramenmu, Naruto-kun."
Perbincangan mereka dijeda oleh Ayame yang datang sambil membawa ramen milik Naruto.
"Yosh, selamat makan!" Naruto berseru dengan heboh lalu memakan ramennya dengan lahap. Reyana juga melanjutkan kegiatannya makannya yang sempat tertunda. Kembali merasakan lezatnya ramen di lidahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Ersa
Masih menebak2 sapa lelaki yg dijodohkan dg Yana
2023-10-20
1