Tidak terasa, akhir pekan kembali dia temui begitu cepat. Satu bulan pun telah terlewati sejak Reyana menginjakkan kakinya di Negeri Sakura. Sekarang adalah puncak musim gugur. Pepohonan yang ditemuinya sudah berubah warna seutuhnya. Intensitas hujan di sana tidak terlalu sering. Dapat dihitung dengan jari ketika dia kehujanan saat pulang sekolah. Untungnya selama di Jepang pun kekebalan tubuhnya bisa diacungi jempol. Tidak seperti biasanya, tetapi Reyana bersyukur untuk itu.
Karena di setiap akhir pekan Reyana memiliki banyak waktu luang, dia mengisinya dengan kegiatan bersih-bersih besar-besaran. Dia akan memulai kegiatan bersih-bersihnya sesaat setelah memastikan perutnya mendapatkan asupan pagi. Setelah itu, kamarnya akan menjadi 'pasien' pertama yang mendapatkan perawatan darinya.
Untuk masalah pakaiannya, dia menggunakan jasa penatu yang ditawarkan oleh pemilik gedung apartemen, Sakura sempat memberitahunya ketika pertama kali menyewa apartemen. Biasanya dia akan menggunakannya dua atau tiga kali dalam sepekan. Dua hari lalu dia juga baru mengantarkan pakaiannya. Jadi, setelah kegiatan bersih-bersihnya, dia akan mengambilnya di ruangan pengurus. Biasanya para penyedia jasa penatu akan menerima dan mengembalikan pakaian melalui pengurus apartemen.
Selesai dengan bersih-bersih di kamarnya, Reyana melanjutkan ke ruang tamu kecilnya. Lalu berlanjut lagi ke dapur yang jarang digunakannya itu. Dia tidak ingin menemui hewan pengerat ataupun serangga di apartemennya, apalagi dia tinggal sendiri. Apa yang dia lakukan jika mendapati hewan seperti itu? Ah, dia tidak bisa membayangkannya.
Begitu kegiatan bersih-bersih itu selesai, Reyana beristirahat sejenak sambil melihat-lihat apakah ada yang menarik di ponselnya. Setelah menghapus semua aplikasi media sosial yang ada di ponselnya, terasa tidak ada yang menarik lagi. Mungkin yang bisa menghibur di kala bosannya melanda adalah satu-satunya permainan balok yang terpasang di ponselnya.
Reyana mengembuskan napasnya dengan kasar. Kemudian memutuskan untuk segera mandi agar bisa menyegarkan tubuh serta pikirannya.
Selang lima belas menit, tubuh Reyana yang sudah segar terbalut celana selutut berwarna hitam dan hoodie oversize berwarna soft pink. Rambutnya yang masih setengah basah dia biarkan terurai. Lalu dia keluar dari apartemen, tidak lupa menguncinya.
Dia harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya pintu lift terbuka ketika mencapai lantai dasar. Tungkainya langsung menuju ke arah kiri di mana ruang pengurus berada. Ruang pengurus itu seperti bilik resepsionis dengan kaca pembatas di mejanya.
"Permisi, saya ingin mengambil pakaian atas nama Miyaki Yana."
"Tentu, Nona. Tunggu sebentar," balas wanita berkaca mata yang duduk di balik meja. Kemudian dia berbalik dan memasuki ruangan yang ada di belakangnya. Tidak lama kemudian dia kembali dengan kantung bertuliskan 'Miyaki Yana'.
"Terima kasih."
Wanita itu tersenyum kemudian membalas, "Ya, sudah tugasku. Semoga harimu menyenangkan."
"Anda juga." Reyana pun kembali ke apartemennya.
Ketika keluar dari lift, dari sana sudah terlihat surai merah muda khas yang sangat dikenali Reyana. Dia segera melangkah dengan cepat untuk menghampiri Sakura yang berdiri di depan apartemennya.
"Selamat pagi, Sakura-san." Reyana menyapa seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Selamat pagi, Yana-chan," balas Sakura disertai senyuman hangat yang khas. "Aku berpikir untuk mengunjungimu, tetapi tidak ada jawaban dari panggilanku. Ternyata kau sedang keluar ke ruang pengurus jika tebakanku benar." Netranya mengarah pada kantung yang ada di tangan Yana.
"Ah iya. Maaf sudah membuatmu menunggu. Ponselku juga aku tinggal di kamar." Rasa bersalah berhasil menyusup masuk ke dalam dirinya. "Kalau begitu ayo masuk, Sakura-san."
Mereka masuk ke dalam bersama. Reyana pamit menyimpan pakaiannya terlebih dulu di kamar sebelum kembali menghampiri Sakura yang telah duduk di sofa.
"Kau ingin minum apa, Sakura-san? Aku punya susu, teh dan air."
"Air saja, tolong."
"Baik, tunggu sebentar."
Tidak lama kemudian Reyana kembali dengan dua gelas air dingin di tangannya. Sakura menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
"Sakura-san, apa kau memiliki urusan denganku?" tanya Reyana dengan hati-hati.
"Ah iya, untung kau menyinggung itu." Sakura meletakkan gelasnya lalu meraih tangan Reyana. "Apa kau memiliki acara hari ini? Atau kau sudah punya rencana untuk hari ini?" Dia bertanya.
"Tidak ada."
"Bagus! Kalau begitu kau bisa ikut denganku. Kita akan jalan-jalan bersama. Aku tahu kau bosan selama ini." Sakura berseru senang. "Oh ya, kita akan bersama dengan teman-temanku nanti."
"Apa kehadiranku tidak akan mengganggu?"
"Hey, aku sudah mengabari temanku, dan mereka tidak apa-apa menambah satu anggota lagi. Lagipula, memangnya kau tidak bosan selalu di apartemen? Aku saja dulu lebih sering menghabiskan waktu di luar."
"Kau harus ikut, Yana-chan!" imbuhnya dengan berapi-api.
Reyana terdiam sejenak sambil menatap Sakura. "Baiklah kalau memang keberadaanku tidak mengganggu," ucapnya pelan. Sakura menyambutnya dengan seruan senang. "Kalau begitu aku akan bersiap-siap sebentar."
"Ya, ambil waktumu untuk berdandan dengan manis."
Beberapa menit kemudian Reyana kembali dengan blus cold shoulder berwarna putih dan skinny jeans berwarna hitam yang membalut tubuhnya. Di pundaknya sudah tersampir tas selempang hitamnya.
...* * *...
Setelah mampir ke banyak toko yang ada di pusat perbelanjaan itu, serta bermain sebentar, akhirnya Reyana dan kelima perempuan itu menyudahi jalan-jalan—atau lebih tepatnya kegiatan berbelanja itu. Mereka sudah berjam-jam mengelilingi pusat perbelanjaan itu hingga menghasilkan beberapa tas kertas yang menggantung di tangan masing-masing.
Ketika tiba tadi di pusat perbelanjaan bersama Sakura, perempuan merah muda itu mengenalkan Reyana kepada teman-temannya dan sebaliknya. Ada Ino si rambut pirang yang tampil fashionable, Temari yang memiliki kesan dewasa di mata Reyana, dan Tenten yang berpenampilan tomboi tetapi tetap terlihat manis dengan kepang duanya. Juga ada Hinata yang sudah Reyana kenali sebagai kekasih Naruto. Dia selalu terlihat anggun dan pendiam.
"Ayo kita cari makan siang. Aku sudah kelaparan setelah mengelilingi semua lantai di pusat perbelanjaan ini." Tenten memegangi perutnya dengan dramatis, ditambah ekspresi wajah yang lesu.
"Ya, aku juga sudah lapar."
"Bagaimana kalau ke YakiniQ? Shikamaru dan yang lainnya ada di sana." Temari memberi usul.
"Ah, ide bagus. Aku sudah membayangkan mendapatkan energi kembali setelah memakan daging-daging itu," sahut Ino.
"Bagus. Ayo, ke sana!"
Reyana hanya mengikuti ketika Sakura menariknya hingga berakhir di dalam mobil milik Ino. Dia duduk di kursi belakang sendirian karena Sakura duduk di samping kursi pengemudi. Temari, Tenten dan Hinata bersama di mobil milik Tenten.
Setelah berkendara beberapa saat, akhirnya mereka sampai di depan sebuah restoran daging panggang, YakiniQ. Mereka langsung masuk dengan Temari yang memimpin untuk sampai di bilik yang sudah ditempati Shikamaru, kekasihnya.
Tiba di sana, Reyana melihat seorang laki-laki bertubuh gemuk yang sibuk memanggang daging, laki-laki pucat tanpa ekspresi dan laki-laki berambut nanas yang Temari panggil dengan nama Shikamaru.
"Apa hanya kalian bertiga?" Tenten bertanya ketika mereka sudah mengambil tempat duduk masing-masing.
"Neji dan Lee sebentar lagi akan menyusul." Shikmaru membalas sambil lalu.
"Lalu, siapa anggota baru di samping Sakura itu?" Choji bertanya tanpa mengalihkan fokusnya pada daging-daging yang ada di atas pemanggang.
"Oh, perkenalkan ini Yana. Dia adikku." Sakura mengambil alih untuk menjawab.
"Bukannya tadi kau bilang dia penyewa apartemenmu?" Ino menyuarakan pikirannya.
"Aku sudah menganggap Yana sebagai adikku, Ino-pig. Lagipula gadis manis ini pasti mau kalau kuangkat sebagai adik. Bukan begitu, Yana-chan?"
"Aah, jangan termakan mulut manisnya, Nak. Jidat bisa berubah jadi monster menakutkan dengan kekuatan seribu pukulan." Ino memberi wejangan seperti seorang yang telah berumur lanjut, bersuara dengan tenang sekaligus terdengar khas berwibawa.
"Hey, jangan bicara yang tidak-tidak!"
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Terima saja, Jidat."
"Hei, kalian. Hentikan dan makan saja. Adik kecil kita ini juga butuh makan, dia tidak akan kenyang dengan menonton pertengkaran kalian." Tenten berujar untuk menengahi kedua perempuan itu.
Selanjutnya, mereka fokus memasak daging-daging itu dan menyantapnya. Sakura banyak memperhatikan Reyana dan mengambilkan daging yang sudah matang untuknya.
Lalu laki-laki yang Reyana yakini sebagai Neji dan Lee pun datang. Itu disusul seruan dari Tenten dan Sakura yang membenarkan pemikirannya.
"Ano, apa kalian tahu di mana Naruto-kun?" tanya Hinata yang sedari tadi diam. Mereka yang ada di sana menaruh atensi pada perempuan bersurai biru tua itu.
"Oh, dia dan Sasuke katanya akan mengerjakan tugas yang tenggatnya sudah dekat," jawab Shikamaru.
Hinata sempat terdiam untuk beberapa saat. "Terima kasih sudah menjawab, Shikamaru-kun."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments