Langit yang ditutupi awan-awan kelabu seharusnya bisa mencegah gadis itu untuk keluar dari rumah. Namun, dia sudah bertekad untuk melakukannya hari ini. Dia telah memikirkannya beberapa hari belakangan. Pun kemarin dia telah menghubungi Miyamura untuk bertemu di sebuah kafe yang ada di kawasan Chuo atas saran laki-laki itu.
Setelah sarapan bersama keluarga kecil Namikaze, Reyana langsung kembali ke kamarnya. Dia melakukan beberapa hal sebelum akhirnya bersiap ketika waktu menunjukkan satu jam tersisa dari waktu janji temu dirinya dengan Miyamura.
Karena cuaca yang seakan menggertak agar tidak meninggalkan bangunan beratap itu, Reyana memutuskan untuk memakai sweater turtle neck berwarna marun dan celana setinggi mata kaki berwarna beige. Rambutnya dia ikat menjadi satu dengan rapi. Setelah mengambil tas selempang hitam miliknya untuk membawa beberapa benda, Reyana langsung meninggalkan kamar yang ditempatinya di kediaman Namikaze.
"Hei, Yana!" Panggilan itu membuat Reyana terpaksa menghentikan langkahnya. "Kau akan ke mana? Cuaca di luar tampak tidak bersahabat." Laki-laki bersurai kuning itu bertanya dengan raut penasaran. Salah satu tangannya sedang menggenggam secangkir kopi yang baru dia buat saat berada di dapur tadi.
"Ah, ano ... itu. Aku memiliki urusan mendesak. Tidak bisa ditunda terlalu lama." Reyana menjawab dengan gugup. Untung saja otaknya bekerja dengan cepat untuk memikirkan alasan yang bisa dia berikan kepada Naruto.
"Bagaimana kalau aku mengantarmu?" tawar Naruto.
"Tidak perlu, Naruto-san. Aku bisa naik taksi." Gadis itu menolak dengan halus sambil berharap laki-laki yang memberikannya tempat tinggal itu tidak curiga pada gelagatnya. "Kalau begitu aku pergi, Naruto-san." Dia sedikit membungkukkan tubuhnya lalu melangkah dengan cepat keluar rumah besar itu.
Reyana harus berjalan terlebih dulu untuk keluar dari kawasan perumahan itu sebelum mencari taksi. Entah sebuah keberuntungan atau sebuah kebetulan, ketika akhirnya dia keluar dari perumahan itu sebuah taksi melintas dengan kecepatan rendah. Dia segera berlari kecil sambil berusaha menghentikan taksi itu.
Ketika taksi tersebut berhenti, Reyana langsung masuk dan menyebutkan tujuannya pada sang sopir taksi.
Menghabiskan beberapa saat waktunya di dalam taksi, akhirnya kendaraan beroda empat itu berhenti di dekat sebuah halte yang ada di distrik Chuo. Membayar ongkos, kemudian Reyana keluar dan berjalan beberapa ratus meter untuk tiba di kafe.
Masuk ke dalam kafe sederhana yang terlihat hangat dengan warna coklat yang mendominasi, Reyana langsung menemukan keberadaan Miyamura yang duduk di sudut kafe dekat jendela kaca besar. Laki-laki itu mengangkat tangan rendah seraya dilambaikan untuk memberitahukan keberadaannya. Tanpa membuat waktu Reyana melanjutkan langkahnya menuju meja yang ditempati oleh Miyamura. Dia langsung mendudukkan diri di hadapan laki-laki itu.
"Jadi, kau membutuhkan apa?" Miyamura bertanya setelah Reyana memesan secangkir minuman hangat.
"Sepertinya aku akan segera pindah dari sini." Reyana bersuara pelan, tetapi masih bisa didengar oleh teman semasa kuliah kakak sepupunya itu.
"Alasannya?" Miyamura menatap Reyana dengan salah satu alis yang terangkat.
"Laki-laki itu sudah tiba di sini dan mengetahui keberadaanku," jawab Reyana sambil membuat pola abstrak di atas meja dengan jari telunjuknya. "Ya walaupun dia tidak bisa menggapaiku saat ini. Tetapi, itu bukan berarti akan seterusnya seperti itu."
"Kau akan pindah ke mana?"
"Aku akan ke rumah Kakek dan Nenek, mungkin setelah itu aku akan pulang."
"Akhirnya menyerah pada perjodohan itu?"
"Tidak. Aku tetap tidak mau." Reyana menjawab dengan tegas. "Aku akan membicarakannya dengan Kakek dan Nenek agar membantuku nanti."
"Yaah, itu lebih bagus daripada melarikan diri seperti ini."
Percakapan mereka terjeda oleh datangnya minuman pesanan Reyana.
"Jadi, kapan kau akan pindah?" Miyamura melanjutkan.
"Pekan depan?" Reyana tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Yang dia pikirkan hanya segera pindah secepat yang dia bisa.
"Baiklah, aku akan mengurusnya." Miyamura menyesap kopi miliknya. "Kalau begitu tanggung jawabku selama kau berada di Jepang akan berakhir. Senang bisa mengenalmu."
"Ya, terima kasih banyak untuk semua bantuanmu, Miyamura-san."
"Sampaikan salamku pada Alex ketika kau pulang nanti."
Reyana mengangguk. "Akan aku sampaikan." Dia mengulurkan tangannya untuk meraih cangkir yang ada di atas meja. Mendekatkan bibir cangkir pada miliknya, kemudian menyesap cappuccino itu.
Jendela kaca di sisi meja yang mereka tempati tampak berembun. Awan-awan yang telah menumpahkan muatannya ke Bumi menjadi penyebabnya. Suhu menurun, dan karena rinai-rinai hujan, orang-orang harus mencari tempat untuk berteduh kala tidak membawa payung.
"Aku harus segera pergi," ucap Miyamura setelah melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Tunggulah sampai hujan reda! Kalau kau sakit maka kepindahanmu juga akan tertunda."
Miyamura meninggalkan kafe setelah itu. Reyana hanya menatap keluar jendela untuk melihat laki-laki itu menghilang bersama mobilnya.
Dia kembali menyesap cappucino miliknya sambil menikmati suasana di saat hujan sedang menghampiri.
...* * *...
Taksi berhenti tepat beberapa meter dari jalan masuk perumahan. Reyana keluar setelah membayar. Setelahnya dia berjalan santai untuk menuju kediaman Namikaze. Hujan yang telah berhenti membuatnya bisa melakukan itu. Dia bersenandung kecil sambil berjalan, lagu kesukaannya.
Tiba di depan kediaman Namikaze, penjaga gerbang menyambutnya. Reyana membalas dengan sebuah senyuman lalu melanjutkan langkahnya. Saat melewati halaman yang cukup luas itu, dia melihat sebuah mobil yang tidak asing sedang terparkir di dekat garasi. Keningnya mengkerut karena itu. Namun, pada akhirnya dia tidak terlalu memikirkannya dan memasuki rumah besar itu.
Suasana sangat sepi. Kedua orang tua Naruto belum kembali sejak tadi, entah ke mana kedua orang itu. Padahal waktu makan siang telah lewat sepuluh menit yang lalu. Karena itu pula Reyana memutuskan untuk segera pulang agar tidak dicurigai.
Masuk lebih dalam, Reyana mendapatkan tiga sekawan itu sedang berada di ruang tamu. Ketika menyadari kedatangannya, mereka bertiga memusatkan pandangan kepadanya. Perasaan Reyana menjadi tidak enak. Langkahnya pun terhenti dan dia mematung di tempatnya untuk sesaat.
Setelah menetralkan degupan jantungnya, dia melangkah mendekati mereka dan memberi salam dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Ketiga orang itu membalasnya dengan singkat, membuat Reyana semakin merasa ada yang salah. Dia berusaha menggali ingatannya untuk mencari kesalahan apa yang dia perbuat, tetapi tidak menemukan apa pun.
"Duduklah dulu!" Suara lembut Sakura mengalun, memecah gelembung keheningan yang melingkupi. "Kau dari mana, Yana-chan? Cuaca di luar sedang buruk."
"Aku tadi memiliki urusan mendesak di luar." Reyana menjawab dengan canggung setelah mendudukkan dirinya di sofa.
"Sangat penting sampai kau tidak apa jika sakit karena hujan?" Naruto menimpali dengan nada datarnya. Tidak biasanya dia seperti itu.
Reyana meneguk salivanya dengan susah payah. Naruto yang kali ini tampak mengintimidasi, entah mengapa, dia tidak tahu.
"Itu tidak bisa ditunda lebih lama," jawabnya dengan baik.
"Ck!"
Suara decakan itu mengalihkan perhatian mereka kepada sang pelaku, Uchiha Sasuke. Sakura memberi sikutan kepada tunangannya itu serta sebuah pelototan tajam.
"Kalian terlalu berbasa-basi, langsung katakan saja!" Sasuke membela dirinya sebelum Sakura melontarkan amarah kepadanya. Kemudian dia beralih pada Reyana. "Tidak ada yang ingin kau katakan? Jujur misalnya?"
"Aku ... tidak tahu maksudmu, Uchiha-san."
Sasuke mendengkus begitu mendengar jawaban Reyana. "Kami sudah tahu alasan kekanakanmu datang ke sini. Kau ingin mengatakannya sendiri, atau aku yang mengatakannya ... Reyana Axelton."
Tubuh Reyana mematung di tempatnya duduk. Terkejut. Dia tidak menyangka identitas aslinya akan terungkap seperti ini. Padahal awalnya dia berniat meninggalkan Jepang tanpa mengungkapkan identitasnya kepada siapa pun. Namun, pada akhirnya itu tinggallah sebuah niatan.
"Aku bisa menjelaskannya," ucap Reyana setelah menenangkan dirinya. "Kalian yang tidak berada di posisiku tidak akan mengerti dan hanya bisa menghakimi. Aku memiliki alasan untuk melakukan ini–melarikan diri dari rumah."
"Alasan tidak kekanakan apa yang bisa diberikan seorang remaja sepertimu."
Reyana berusaha untuk tidak tersulut amarah karena ucapan Sasuke yang menyudutkan dirinya. Dia menghela dan mengembuskan napas sekali dengan pelan.
"Aku setuju pada bagian bahwa aku adalah seorang remaja. Seorang remaja yang memiliki masa depan yang masih panjang, tetapi masa depan itu terancam oleh sebuah perjodohan konyol yang direncanakan orang tuaku."
"Itu tampak tidak begitu bermasalah pada kehidupan dan masa depan yang kau bicarakan."
"Kau bisa bicara seperti itu karena tidak tahu dan tidak mengenal laki-laki yang dipasangkan denganku." Gadis enam belas tahun itu menatap Sasuke dengan tajam. "Aku tahu kalau dia melakukan berbagai hal kotor di belakangku untuk memastikan tidak ada seorang pun laki-laki mendekat. Hanya perlu beberapa waktu dan setelah itu akan terdengar berita buruk mengenai orang-orang itu."
"Laki-laki itu lebih buruk darimu, Teme." Naruto berujar.
"Apa orang tuamu tidak tahu mengenai hal itu?" tanya Sakura. Perasaan iba menghinggapinya.
"Tidak." Reyana menggeleng. "Hanya sepupuku yang mengetahuinya. Dia juga yang membantuku ke Jepang."
"Jika kalian merasa keberatan dengan keberadaanku, aku bisa segera pergi. Lagipula dalam beberapa hari aku pindah ke negara lain."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments