Hari ini, bu Maryati pulang lebih sore dari biasanya. Karena ternyata ada perusahaan catering besar dari luar kota yang datang membeli bebek dalam jumlah besar.
Saking banyaknya, sampai-sampai harus mengambil stok bebek yang ada di kandang. Dan semua karyawannya dikumpulkan di pasar wage. Itu juga Icha harus ikut membantu, walaupun hanya membantu pengemasan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore, saat pesanan itu telah selesai disiapkan.
“Alhamdulillah” seru Icha senang.
“Udah hayu semuanya, bantu beberes!” seru bu Maryati.
“Astaghfirulloh, iya. kita masih harus tahlilan lagi, ya?” gumam Icha.
“Itu dia. Nih, embak bagian pembukuan, deh! Masih inget kan, gimana ibu nata duit?”
“Siap. Masih kok, bu” jawab Icha.
Masing-masing seperti sudah paham akan tugasnya. Sehingga hanya dalam hitungan menit, semua pekerjaan sudah selesai dikerjakan. Tinggal Icha saja yang belum selesai.
“Ya udah. Ngitungnya dirumah aja, nduk. Yang penting nggak ada yang kececer, kan?” kata bu Maryati.
“Nggak ada, bu. Udah ditata semua” jawab Icha.
“Ya udah, yuk!” ajak bu Maryati.
Icha satu mobil bersama bapak dan ibunya. Mereka berkonvoi dengan tiga mobil lainnya. Langit terlihat lebih gelap dari yang seharusnya. Mendung hitam telah membayang di atas kepala. Pak Sigit mempercepat laju kendaraannya, karena takut keduluan hujan.
“Pelan aja, pak! Kalaupun keburu ujan kan ya belum berkubang. Masih bisa lewat, kali” seru bu Maryati.
“Iya, bu. Bapak khawatir aja. Mendung begini, datengnya surup jadi nggak jelas. Mudah-mudahan kita udah sampe rumah sebelum surup” jawab pak Sigit.
“Iya, sih” sahut bu Maryati.
Ini sih udah surup
“Hem?”
Icha yang duduk di pinggir kiri menoleh ke kanan. Membuat ibunya menoleh dengan wajah bingung.
“Barusan ibu bisikin apa?” tanya Icha.
“Ibu nggak ngebisikin” jawab bu Maryati.
“Lah?”
Icha bingung. Suara tadi jelas-jelas sangat dekat dengan telinganya. Dan hanya ada ibunya di sebelah kanannya. Tidak mungkin itu tadi suara bapaknya. Orang suaranya suara perempuan. Dan lagipula, posisi bapaknya cukup jauh untuk bisa berbisik sepelan itu.
“Jagan bikin parno, deh!” tegur bu Maryati.
Icha yang sempat tertegun, langsung buang muka ke arah depan. Saung di pinggir jalan penanda jalan masuk ke desanya sudah terlihat. Bu Maryati tampak tegang setelah mendapati keanehan yang dialami putri sulungnya.
Ati-ati, pak!
“Iya, pak. Ati-ati! Kemarin di depan, dalem” kata Icha, sambil menoleh ke kanan.
Bu Maryati tersentak. Dia menoleh ke kiri dengan wajah semakin tegang.
“Siapa yang ngajak kamu bicara, Cha?” tanya bu Maryati.
“Loh. Bukannya barusan ibu bilang sama bapak buat hati-hati?” Icha balik bertanya.
“Dari tadi ibu diem, Cha” jawab bu Maryati.
“Astaghfirullohal’adzim” gumam Icha, menyadari apa yang telah terjadi.
“A’u dhubillahi minassyaitoonirrojiim....”
Icha lantas memanjatkan doa, memohon perlindunganNya. Bu Maryati mengikuti apa yang dilakukan Icha. Terlebih saat akan melintasi jati kobeng. Surat kursi mereka lafadzkan berkali-kali. Bahkan saat rumah mereka sudah terlihat atapnya.
“Alhamdulillah”
Bu Maryati berseru lega saat tiba di halaman rumahnya. Icha juga melakukan hal yang sama.
“Dek, dek. Orang lahir di sini kok masih takut aja” sindir pak Sigit sambil tergelak.
“Icha, mas. Bikin horor. Orang adek diem, dikata ngebisikin. Siapa coba yang ngebisikin?” jawab bu Maryati.
Icha turun sambil tergelak. Baginya, gestur ibunya jauh lebih manja dari biasanya. Mirip seperti gestur manjanya dulu sama mantannya.
Ah, kenapa malah keinget si aa’? Ditinggal pas sayang-sayange, emang sesuatu.
“Nah. Sekarang malah ngelamun. Kamu kenapa sih, Cha?” tanya bu Maryati.
Icha tersentak mendapat teguran ibu. Dan didapatinya dua pasang mata sedang menatapnya, menunggu jawaban darinya.
“Keinget mantan, bu” jawab Icha sambil tergelak. Bu Maryati dan pak Sigit saling pandang.
“Ibu sih, manjanya nggak inget tempat. Jadi baper deh, Icha” lanjut Icha sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
“Emang adek manja gimana, mas? Perasaan biasa aja?” tanya bu Maryati lirih.
“Hempf. Ya, sebelas dua belas lah, kaya Tika” jawab pak Sigit sambil tergelak.
“Tika sih cerewet, mas”
“Ha ha ha ha”
Pak sigit tertawa saja saat masuk kembali ke dalam mobil. Ya, dia akan memasukkan mobilnya ke dalam garasi, di dalam area kandang bebek.
“Udah mandi, dek?” tanya Icha pada Tika.
“Udah, dong. Emangnya embak, masih bau bebek. Hi hi hi” jawab Tika.
“Wah. Udah berani ngecengin embak, ya?” seru Icha sambil bersiap menggelitiki adiknya.
“Ampuuun” seru Tika kegelian digelitiki kakaknya.
“Icha. Buruan mandi! Udah surup” seru bu Maryati.
“Iya, bu” jawab Icha.
Mau tidak mau, dia harus melepaskan gelitikannya. Tika meleletkan lidahnya, menggoda kakaknya. Icha hanya tergelak saja saat hendak masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian dia keluar kamar dan pergi mandi.
Saat selesai mandi, dan hendak berakaian, Icha mendengar ada yang datang. Dari suaranya dia bisa menebak kalau yang datang adalah Mita. Dan dari suaranya juga, Icha bisa menebak kalau Mita datang membawa rantang.
Dia tersenyum membayangkan apa yang ada di dalam rantang itu. Diapun mempercepat pengeringan rambutnya menggunakan handuk. Saat menggunakan handuk, otomatis matanya tertutupi handuk.
DAKKK
“Haa?”
Icha terkejut mendengar suara benturan keras di papan. Sontak dia menarik handuknya. Dan betapa terkejutnya dia, saat menarik handuknya dari kepalanya, dia mendapati dirinya sudah tidak berada di kamarnya lagi.
Padahal dia merasa belum beranjak selangkahpun. Masih tetap menghadap ranjangnya. Yang berarti dia juga masih menghadap ke utara, sejajar dengan arah rumahnya.
“Astaghfirullohal’adzim. Ini aku dimana?”
Di mata Icha, yang terlihat di sekelilingnya adalah hutan belantara. Banyak pohon-pohon menjulang tinggi. Sejauh mata memandang ke depan, tampak kalau tempat ini tidak ramah manusia.
Suasana redup karena menjelang malam terasa mencekam dengan suara-suara binatang malam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan tidak ada jalan setapak sekalipun.
Siuuut
Bruukkk
“Astaghfirulloh”
Untuk kedua kalinya Icha terkejut. Dalam keremangan menjelang malam, dia masih bisa melihat seseorang terjatuh tepat di sebelah kanannya.
“Ooooooi”
Grusak grusak grusak
Terdengar suara teriakan dan derap langakah orang yang berlari di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi di belakangnya.
“Ya Alloh. Mereka siapa?”
Icha merasa takut. Dia merasa akan terseret dalam masalah orang yang tergeletak itu jika tidak segera bersembunyi. Tapi dia bingung mau bersembunyi kemana.
Glodeekk
Krieeeet
Bruukk
Perhatian Icha teralihkan pada sesuatu yang bergerak tak jauh dari kakinya. Sebuah pintu yang terbuka dari dalam tanah.
“Astaga, Parto?” seru seseorang yang muncul dari dalam tanah.
“Hoe. Parto ketembak” serunya lirih, sambil melongok kembali ke dalam tanah.
Tak lama kemudian, orang itu keluar bersama satu orang lainnya. Dan mereka menarik orang yang tergeletak tak bernyawa itu ke dalam lubang tempat mereka muncul. Di kepala mayat itu terdapat lubang sebesar telunjuk, dengan darah masih mengalir dari dalamnya.
“Aku gimana? Kok mereka nggak nanyain aku?”
Icha kebingungan saat mereka melintasinya begitu saja tanpa menegurnya. Bahkan melihatnya pun seolah tidak.
“Woyooo”
Icha sempat menoleh ke belakang. Orang-orang yang berlarian itu terdengar semakin mendekat. Sempat dia melihat bendera merah putih berkibar, tapi ada warna biru di bawahnya.
“Belanda?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
kembli ke masa jaman belanda ini ya kk
btw beneran kan si istri barunya pak sigit main dukun utk mlyaokan semuanya
2023-10-08
0