masalah berlanjut

Hari-hari berikutnya, terasa semakin berat buat Icha. Berbagai kabar tentang bapaknya membuat emosinya suka susah dikendalikan. Belum lagi kabar tentang sakitnya sang ibu. walaupun selalu dibantah saat dia menanyakan langsun pada sang ibu.

Kondisi keuangan perusahaan yang tak kunjung membaik, malah justru menurun karena kesalahannya, membuat isu pengurangan karyawan kembali menguat. Icha jadi semakin khawatir tentang kelanjutan kontraknya.

Sang kekasih, walaupun dia orang kepercayaan pemilik perusahaan, namun dia terlihat berat untuk membantu, disaat Icha meminta tolong padanya. Permintaan tolongnya agar dia tidak dimasukkan ke dalam daftar karyawan yang akan dirumahkan, selalu dijawab dengan ketidakpastian. Kekasihnya itu selalu mengatakan kalau Icha itu teknisi andalan, jadi tidak perlu takut.

Di suatu hari, Icha diberitahu kedua sahabatnya kalau dia diundang atasannya untuk berdiskusi membahas kinerjanya selama ini. Ada beberapa kesalahan dan ada satu kesalahan fatal saat melakukan inspeksi di atas kapal yang dinilai gagal. Kegagalan itu membuat kapal tersebut mengalami kerusakan mesin dan hampir terbalik di tengah laut. Hal itu yang memberatkan daya tawar Icha.

Tak mau menyerah, Icha mencoba mengingatkan atasannya atas prestasinya dan juga kesalahan-kesalahan teknisi lain yang lebih banyak darinya.

Tapi rupanya, sang atasan ini bukan membahas opininya, melainkan sedang membahas kekecewaan pemilik perusahaan padanya.

Icha hanya bisa terdiam meneteskan air mata, disaat atasannya memintanya untuk tetap memberikan yang terbaik di sisa kontraknya. Mudah-mudahan pemilik perusahaan masih berkenan memberikan kesempatan untuk Icha.

Di hari itu juga, setelah kelelahan karena semenjak siang bekerja sambil terus memforsir fokus, membuat Icha ingin segera bertemu sang kekasih dan curhat padanya. Terlebih setelah adanya informasi dari atasannya tentang kelanjutan kontrak kerjanya.

Dia berpikir, sang kekasih akan mampir ke rumah makan langganan mereka sebelum pulang. Dan dia ingin menyusul ke sana.

Icha langsung memesan ojek daring dan pergi ke rumah makan itu. Gerimis mulai turun. Tapi tawaran jas hujan dari driver ojek itu dia tolak. Toh sudah dekat, pikirnya. Dia segera berlari ke dalam rumah makan itu, sesampainya di lokasi. Karena gerimisnya mulai keroyokan.

Rumah makan itu bergaya kafe, dengan salah satu titiknya berupa outdoor. Tempat itu pula yang menjadi favorit Icha dan Farhan. Langsung saja Icha menuju ke tempat itu.

*duaarrrr*

“A’?”

Bersamaan dengan gelegar petir yang menyambar, hati Icha juga terasa seperti ikut tersambar. Apa yang dia lihat, sama sekali tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Bahkan bertolak belakang. Farhan memang di sana, tapi orangnya sedang bercanda manja dengan seorang wanita.

“Icha?”

Farhan mengetahui kedatangan Icha, dan dia terkejut. Sesaat kemuadian, Icha menganggukkan kepalanya sekali sebagai isyarat menyapa. Kemudian dia berlalu pergi lewat jalan lain.

“Cha”

Farhan memanggil dan mengejar Icha. Icha mempercepat langkahnya, namun tidak seperti sedang dikejar.

“Cha, tungu! Aku bisa jelasin” kata Farhan, saat berhasil menghadang langkah kaki Icha.

“Apa? Mau bilang kalo cewek itu sodara aa’? Sepupuan, gitu?” tanya Icha. Kalem, tapi tegas. Tatapan matanya juga kalem tapi tajam.

Farhan tak bisa menjawab. Hanya bibirnya yang bergerak-gerak, namun tak ada sepatah katapun yang keluar.

Merasa tak mendapatkan jawaban, Ichapun beranjak bersamaan dengan melelehnya air matanya.

Kali ini dia tidak memesan ojek lagi. Dia terus berjalan meski kontrakannya masih cukup jauh. Tak dipedulikannya hujan yang kini membasahi sekujur tubuhnya.

Hatinya hancur, melihat kekasih hatinya menduakannya. Kini dia merasa nasibnya sama dengan sang ibu. Dan mengingat ulah bapaknya, rasa marahnya semakin menjadi-jadi.

Benda-benda yang tergeletak di jalan, seperti kaleng dan semacamnya, dia tendang dengan kencangnya. Tak peduli ada pengguna jalan yang protes, karena kaleng itu mengenai kepalanya. Untung orang itu memakai helm.

Butuh waktu setengah jam untuk bisa sampai di kontrakannya. Baru saja sampai, belum sempat berganti pakaian, ponselnya berdering. Tika, nama itu lagi yang muncul di layarnya.

“Halo” sapa Icha.

“Mbaak” suara Tika terdengar bersamaan dengan isak tangis.

“Dek, kenapa? Ibu sakit lagi?” tanya Icha mulai panik.

“Bapak udah bener-bener gila, mbak. Besok dia mau ngawinin perempuan itu”

“Astaghfirulloh. Mana bapak?”

“Bentar”

“Pak. Mbak Icha mau ngomong” terdengar suara Tika berseru.

“Kamu ini, suka banget bikin perkara” komentar bapaknya.

“Bapak” seru Icha.

Suara kencang Icha rupanya terdengar oleh bapaknya.

“Apa bener yang dibilang Tika?” tanya Icha.

Bapaknya tidak segera menjawab. Hanya terdengar dengusan nafas hingga beberapa saat.

“Ibu udah kasih ijin, nduk” jawab bapaknya.

“Oh. Gitu? Bapak anggep itu ijin? Bapak nggak bisa bedain, mana ibu ikhlas, mana ibu terpaksa? Itu ibu terpaksa, pak. Dan Icha nggak kasih ijin buat bapak nyamperin perempuan itu”

“Ibumu udah ngerti, nduk. Bapak bakalan adil, kok. Bapak nggak ninggalin kalian”

“PAK” teriak Icha.

“Nduk. Kok teriak?” terdengar suara nenek-nenek.

“Bapak jadi orang nggak ada bersyukurnya sama sekali. Apa bapak inget, dulu bapak itu siapa? Bapak itu cuman buruhnya mbah Ismo. Dijodohin sama ibu tuh, harusnya bapak bersyukur. Sekarang bapak punya segalanya. Udah dikasih enak malah ngelunjak”

“Kok kamu ngomongnya gitu sama bapak? Apa kamu udah ngerasa bisa hidup sendiri tanpa bapak, ha?” tanya bapaknya.

“Halah ngeles aja” bantah Icha.

“Nduk, jaga bicaramu! Bisa kualat kalo berani sama bapakmu” suara nenek-nenek itu kembali bergema.

Tak ada jawaban dari Icha. Tangisnya pecah merasakan dirinya tidak ada yang membela. Butuh beberapa saat untuk dia menenangkan diri.

“Baik, mbah. Mungkin ini terakhir kalinya bapak denger suara Icha. Icha sudah capek, mbah”

“Mbak” protes Tika.

“Sudah dari kemarin-kemarin Icha nahan emosi, mbah. Sudah dari kemarin-kemarin Icha sopan sama bapak. Sampe merendah memohon-mohon juga sudah, mbah. Tapi apa yang bapak kasih, mbah?”

“Oke. Sebaiknya besok Icha pulang. Gantiin bapak, ngurus usahanya simbah” sahut bapaknya.

“Apa?” tanya Icha.

“Bapak nggak akan ngambil sepeserpun”

“DASAR, LAKI-LAKI SEMUANYA BANG***”

“Nduk!”

*Wuuss*

*Praakkkk*

Icha melempar ponselnya dengan kencangnya. Ponsel itu membentur ujung tajam meja tivi. Tampak layarnya hancur tak berbentuk.

Casing belakang bahkan baretainyapun sampai terlepas, saking kencangnya Icha melempar benda itu.

Ucapan terakhir bapaknya tadi, dipahami Icha sebagai persetujuan, atas tegurannya tadi, bahwa bapaknya telah menikmati harta warisan simbahnya. Dan persetujuan, bahwa bapaknya tidak akan lagi menikmati harta itu, karena bapaknya lebih memilih melanjutkan pernikahan keduanya. Diapun menangis sejadi-jadinya.

Dalam kemarahannya, Icha berganti pakaian kembali keluar dari kamarnya. Dia mencegat taksi yang kebetulan lewat jalan besar, untuk mengantarnya ke suatu tempat. Ke sebuah pantai dia menuju. Pantai di sisi barat pulau jawa, dengan sebuah tebing di salah satu sisinya. Dia berjalan sampai ke bibir tebing itu.

*Aku cinta kamu, Icha*

Terngiang kembali bagaimana Farhan, di tempat ini, pernah menyatakan perasaannya.

*Apa kamu mau jadi pacarku*?

Terngiang juga bagaimana laki-laki itu ingin jadi kekasihnya.

*Iya. Aku mau, a*’

Lalu jawaban yang dia berikan pada laki-laki itu ikut terngiang di telinganya. Tapi baginya, semua itu telah hancur ditelan dusta.

Yang dia inginkan adalah dukungan, yang dia dapatkan adalah rencana pemecatan. Yang dia inginkan adalah perhatian, yang dia dapatkan malah pengkhianatan. Dia ingin bapaknya mengerti, tapi suaranya justru tak digubris.

Icha merasa hatinya sangat sakit. Seolah-olah dia sendiri yang merasakan pengkhianatan yang menimpa ibunya itu. Dia merasa sendiri, dia merasa tak ada artinya lagi untuk hidup.

*Selamat jalan, pak. Semoga bapak bahagia dengan kepergian Icha*.

Tubuh Icha condong ke depan. Semilir angin tak lantas mampu menahan bobotnya. Tubuh itu semakin condong, condong, condong,

*Syuuut*

“ICHAA”

Dalam keremangan malam, Icha merasa ada yang memeluk tubuhnya. Ada wajah tampan juga di samping wajahnya. Icha bingung, apakah ini nyata atau halusinasi? Namun kemudian dia tersenyum. Tak penting sekarang, apakah itu nyata atau halusinasi. Karena sebentar lagi, semuanya akan segera usai.

***

Icha merasa bingung saat membuka matanya. Karena pikirnya, alam kubur tidak seperti ini. Munkar dan nakir juga seharusnya laki-laki, bukan perempuan.

“Cha. Kamu udah siuman?” salah satu dari dua wanita itu menyapanya.

Barulah Icha mengerti, dirinya belumlah berpindah alam. Dia masih hidup. Dan dia bisa menebak, dimana dia sekarang. Seorang dokter dan seorang perawat datang memeriksa keadaannya. Tak lama kemudian, dokter itu berbicara dengan kedua wanita tadi.

“Siapa yang bawa aku kemari, Nov?” tanya Icha dengan suara lirih, saat salah satu wanita itu mendekatinya.

“Ya siapa lagi kalo bukan super hero kamu, Cha” jawab Nova.

Icha menghela nafas berat, membuat Nova berpikir. Karena Icha tidak mengucapkan syukur, seperti biasanya kalau dia mendapat nikmat.

“Udah, jangan banyak mikir dulu! Kasihan ibumu. Udah sakit, malah kamu bikin panik” saran Nova. Icha tak membantah. Dia menganggukkan kepalanya.

Sejenak dia termenung. Dia teringat sesuatu. Dia merasa baru saja bertemu seorang perempuan, yang menegurnya akan perkataan kasarnya. Tapi bukan nenek-nenek. Dia seperti putri sebuah keraton jaman dulu. Icha tahu, pertemuan itu terjadi di alam mimpi.

Wanita itu menegurnya untuk memperhalus ucapannya. Karena Icha hanyalah manusia yang tidak diberitahu tentang takdir yang akan ditimpakan pada setiap makhluk.

Wanita itu mengatakan pada Icha, mungkin takdir yang Icha tidak sukai ini adalah yang terbaik untuk keluarganya. Karena, kalau sang bapak mau mendengarkan ucapannya, maka takdir kedua yang akan menghampiri keluarganya.

Diawali dengan limpahan harta yang terus mengalir sampai bingung mau menyimpannya dimana, tapi kemudian akan disusul dengan bencana dahsyat, yang akan berujung dengan kematian sang ibu. Dan jika takdir kedua itu yang dipilih, maka dibilangan tahun depan, kematian akan menghampiri ibunya.

Tentu saja Icha tidak menginginkan ibunya meninggal di tahun depan. Dia masih ingin bersama ibunya dua puluh tahun lagi, bahkan kalau bisa, lebih dari itu.

Wanita itu tersenyum. Jawaban itu, sudah merupakan isyarat jelas, tentang takdir mana yang Icha tetapkan untuk dia pilih.

Belum selesai dia mengingat mimpinya, Rita datang dengan ponsel terarah padanya. Ya, sang ibu yang menelepon dengan panggilan video. Air mata Icha tak bisa dibendung lagi. Dia merasa bersalah, telah membuat ibunya bertambah sakit, karena memikirkannya.

“Maafin Icha ya, bu!”

Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya. Sudah pasti ibunya memaafkannya. Malah diberikan untaian doa, agar dirinya bisa mengendalikan semua perasaannya.

***

Setelah pulih, Icha tidak lagi memikirkan kontraknya. Dia hanya pasrah mengikuti takdir. Dilanjut, dijalani. Tidak dilanjut, ya apa boleh buat. Begitu pikirnya.

Dia juga sudah tidak memikirkan Farhan. Dia sudah masa bodoh dengan laki-laki itu. Hubungan mereka kini tinggallah tandem kerja saja,itu juga kalau memang ditandemkan.

Walau begitu, dia merasa aneh dengan sikap Farhan, yang tak memberikan klarifikasinya. Sekalipun ada banyak sekali kesempatan. Dan dia sendiri tidak menutup diri.

Tapi takdir tidak berpihak padanya. Enam bulan setelahnya, Icha benar-benar tidak dipertahankan lagi. Dia benar-benar harus pulang. Kepulangannya, hanya dilepas kedua sahabatnya.

Laki-laki itu tidak memunculkan batang hidungnya. Kata Nova, Farhan sengaja menjauh darinya, karena punya alasan tertentu. Tapi disaat Icha menanyakan alasannya, Nova sendiri tidak diberi tahu. Farhan mengatakan, aklau dirinya punya alasan yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang.

“Supra natural lagi?” tanya Icha.

“Apa lagi. Nggak mungkin kan, intel” jawab Nova.

Di hari minggu, pagi hari, mereka berpisah di terminal bus. Terasa berat bagi Icha, berpisah dengan kedua sahabatnya. Walau memang sering terpisah karena pekerjaan, tapi dia tidak pernah menduga akan terpisah dengan cara seperti ini.

Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!