Jarik keramat

“Sungkem sama bapak!”

Icha menatap ibunya dengan beribu tanda tanya. Melihatnya saja sekarang sudah seperti melihat musuh, bagaimana bisa sungkem?

Tapi senyuman ibunya, mengingatkannya pada mimpinya saat dia dirawat. Dia ingin terus melihat senyum itu. Dia tidak ingin senyum itu menghilang di tahun depan. Akhirnya Ichapun mengalah.

Dia mengawalinya dengan menyalami setiap tamu yang menjenguk ibunya. Tak ada yang mempertanyakan sikap yang baru saja Icha tunjukkan. Mereka seperti sepakat untuk menanyakan hal-hal yang lucu saja.

Perasaan berat kembali menggelayuti hati Icha, saat dia berhadapan dengan bapaknya. Butuh beberapa saat buatnya, untuk bisa menakhlukkan egonya. Akhirnya Icha sungkem juga. Walau di dalam hati, Icha belum lepas sebagaimana sebelum masalah ini muncul.

Berganti ke sebelahnya, Icha juga tak bisa menutupi rasa muaknya. Dia menatap wanita itu dengan tatapan tajam. Yang ditatap hanya bisa diam tak bicara.

“Nduk” tegur pak Sigit.

Ichapun tersentak. Butuh tak kurang dari lima detik untuk bergulat dengan rasa angkuh dalam hatinya. Pada akhirnya, dia merendahkan juga kepalanya, sungkem pada istri baru bapaknya.

“Mbak. Airnya udah siap”

Teguran lain mengalihkan perhatian Icha. Tika sudah kembali bergabung, tapi tanpa membawa nampan seperti sebelumnya.

“Tapi tehnya aku taruh di belakang aja, ya? He he” lanjut Tika.

“Hempf” Icha tergelak mengingat teh asin tadi.

“Iya” lanjut Icha.

Ichapun pamit kepada semua yang bertamu. Dia mau mandi dan berganti pakaian. Diapun membawa tas punggungnya masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa pake sungkem sama dia segala sih, mbak?”

Tika bertanya saat Icha mau masuk ke kamar mandi. Icha terhenti langkahnya. Dia tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas berat, lalu mengelus kepala Tika. Diapun meneruskan hajatnya untuk bebersih diri.

Tak membutuhkan waktu lama, Icha sudah kembali bergabung di ruang tamu. Berbincang hangat, seputar perjalanan karirnya, kehidupan di perantauan, dan juga akhir dari karirnya di perusahaan yang kemarin.

Sambil becerita, Icha beberapa kali tertarik melihat jarik yang dikenakan ibunya untuk menutupi kaki. Monochrome, begitulah kesannya. Hanya ada warna putih dan hitam. Icha belum pernah melihat yang seperti itu. Belum lagi coraknya yang unik. Dibilang parang rusak, bukan. Dibilang batik keris, juga bukan. Seperti pengembangan motif dari keduanya.

“Kamu kenapa nduk, kok ngeliatin kaki ibu terus?” tanya ibunya.

“Hem? Enggak. Itu bu, jariknya ibu, unik banget. Cuman item sama putih. Icha berasa baru ngeliat, deh” jawab Icha.

“Oh. Bagus, ya?”

“Iya. Biasanya kan, ada warna cokelatnya, bu. Ini bener-bener hitam sama putih doang. Pinjem dong bu”

“Jangan nduk! Itu kan punya ibu” tegur bapaknya.

“Bentaran doang, pak. Bukannya diminta” jawab Icha.

“Jangan sekarang ya, kan masih dipake ibu!” kata bapaknya, masih melarangnya.

“Udah, nggak papa. Anakku ini, yang make” sahut ibunya. Sebuah kalimat yang ambigu buat Icha.

“Bu, jangan! Belum waktunya” cegah bapaknya. Bu Maryati terdiam. Jarik yang sudah dia lucuti dari kakinya, urung dia berikan ke anaknya.

“Apaan sih, pak? Ini cuman jarik, bukannya cincin lamaran. Pake nunggu waktu segala. Lagian Icha udah cukup umur. Udah pantes nerima seserahan” sahut Icha, jengkel.

Dia mengambil alih jarik yang ada di tangan ibunya. Dia bentangkan, dan dia perhatikan detailnya. Icha tersenyum sambil mengangguk-angguk. Dia seperti menemukan artefak dari zaman kuno.

“Nduk. Itu bekas kaki ibumu, lho” tegur bapaknya lagi. Saat Icha memakai jarik itu untuk menyelimuti tubuhnya.

“Ya kenapa? Wangi, kok” Tanya Icha, sambil mencium jarik itu. Tapi kemudian, dia menoleh ke arah ibunya, lalu mendekat ke telinga ibunya.

“Kok ada aroma sirih, bu?” setengah tergelak Icha bertanya dalam bisiknya.

“Adoow”

Icha memekik karena mendapat cubitan dari ibunya.

“Ha ha ha ha”

Diapun tertawa saat melihat ibunya melotot, pura-pura marah. Saat menoleh ke arah bapaknya, dia merasa aneh. Bapaknya seperti menghela nafas berat. Seperti pasrah, tak tahu harus bagaimana mencegahnya memakai jarik itu. Tapi dia tak peduli.

“Oh iya, bu. Mbah Ijahnya kemana, ya?” tanya Icha.

“Mbah Ijah ya di rumahnya, lah” jawab bu Maryati.

“Loh. Kata ibu tadi, mbah Ijah di sini?”

“Lah. Emang ibu bilang gitu?”

“Rencananya sih emang mau ke sini, Cha. Kalo nggak ujan. Tahu sendiri kan, kalo mbah Ijah udah nebak, suka bener. Udah dari siang, mbah Ijah nebak, bakalan turun ujan. Cuman waktunya yang mbah Ijah belum pasti. Bisa sore, bisa malem. Makanya, mbah Ijah bilangnya, kalo nggak ujan, beliau mau ke sini. Tapi kalau ujan, ya nggak bisa. Udah sepuh, Cha. Mbah Ijah udah mulai nggak bisa kena ujan” lanjut bu Maryati.

“Hem. Pasti udah tidur ya, bu?” sahut Icha.

“Iya. Besok pagi aja”

Cukup lama mereka berbincang sembari menunggu hujan reda. Sampai tak terasa kalau malam sudah beranjak larut.

Sempat juga buleknya Icha datang menjenguk ibunya.

Marini, adiknya Maryati. Banyak yang bilang keduanya adalah anak kembar, padahal tidak. Marini terpaut satu tahun dengan sang kakak. Tapi dengan wajah dan perawakan yang memang cukup mirip, tak salah jika orang yang belum kenal menyangka mereka adalah kembar.

Berbeda dengan kakaknya, Marini terbilang kurang mujur untuk urusan percintaan. Pernikahannya dua kali kandas. Dua anak dari dua pernikahannya diambil semua oleh mantan suaminya. Jadilah di usia yang menginjak kepala empat, dia masih sendiri, seperti janda tanpa anak.

“Bu. Malem ini kita tidur bertiga, yuk!” ajak Tika, setelah semua tamu pulang. Termasuk bapaknya. Ya, dia sedang mengantar istri barunya ke rumah yang satunya.

“Mau ngapain?” tanya bu Maryati.

“Ya cerita-cerita, lah. Kan tadi mbak Icha ceritanya cuman yang buat konsumsi publik. Yang buat konsumsi pribadi kan belum” jawab Tika.

“Konsumsi pribadi? Maksud loh?” tanya Icha dengan gaya lucu.

“He he. Ya tentang pacarannya, lah. Kan si aa’ itu ganteng banget. Mana satu tim lagi. kalo lagi tugas ke tengah laut, ngapain aja, mbak? Hi hi hi”

“Ye. Rahasia dong. Kepo, deh” kometar Icha.

“Tuh kan, bu. Mencurigakan. Jangan-jangan, “

“Apa? jangan bikin gosip, deh! Bikin ibu senewen aja” kilah Icha, memotong kalimat Tika.

“Ha ha ha. Iya, iya. Emang butuh nyali lebih sih, buat naklukin galaknya mbak Icha” komentar Tika.

“Wah. Udah berani ngecengin embak, nih. Bu. Boleh dijewer nggak nih?” seru Icha. Dia berusaha menceriakan hatinya sendiri.

“Jangan dong! Udah, kalian tidur berdua, gih!” sahut bu Maryati.

“Lah. Bertiga aja, bu” pinta Tika.

“Udah, kalian berdua dulu aja, cerita-ceritanya. Ibu mau istirahat. Embak juga capek, kan? Pasti bentar lagi molor” tolak bu Maryati, halus.

“Aaah, ibu nggak seru” komentar Tika, merajuk.

Dia pergi masuk ke dalam kamarnya. Icha tergelak melihat tingkah adiknya. Sudah SMA tapi masih kolokan, begitu pikirnya. Keduanya masih menatap Tika sampai masuk ke dalam kamarnya.

“Icha dukung, bu” kata Icha lirih pada ibunya, setelah Tika menghilang di balik tembok.

“Dukung apa?” tanya bu Maryati bingung. Tapi Icha hanya tersenyum.

Dengan air mata yang meleleh, Icha mendaratkan sebuah kecupan sayang di pipi ibunya, sebelum pergi masuk ke dalam kamarnya.

*Ya alloh, udah ngerti aja itu anak. Jadi malu, aku. Emang ibu lagi berusaha ngerebut kembali perhatian bapakmu, nduk. Semoga kedatanganmu kembali ke rumah ini, ikut mengembalikan hati bapakmu ke rumah ini. Seutuhnya*.

Bu Maryati masuk ke dalam kamarnya. Dia menyemprotkan wewangian ke seantero kamar. Dia juga mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang tipis dan menerawang. Lalu dia bersiap tidur bertutupkan selimut.

Terpopuler

Comments

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

vote nya mndrt kk biar mkin smgt yah

2023-09-26

0

lihat semua
Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!