Saat tersadar, icha kembali melihat adiknya di sisi ranjangnya. Dia tersenyum manis dan mengucap syukur atas siumannya sang kakak. Di luar kamar, terdengar suara orang berbincang-bincang. Tidak begitu jelas, tapi Icha merasa kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
Gila. Bapak punya ilmu kadigdayan? Disenggol aja rasanya kaya disetrum. Eh tapi, kalo bapak punya ilmu kadigdayan, kok dia bisa nggak tahu soal makanan itu, ya? Mana ikut makan, lagi. Aneh.
“Mbak?” tegur Tika.
Icha tak langsung menyahut. Dia menatap adiknya, pura-pura masih bingung.
“Ya?” sahut Icha.
“Mbak Icha ngerasain apa?” tanya Tika.
“Emang embak tadi kenapa, Dek?” Icha gantian bertanya, pura-pura juga.
“Embak tadi kesurupan. Hampir aja Tika embak tusuk pake sendok”
“Ha? Masa sih? Nggak mungkin. Masa embak sejahat itu?” respon Icha pura-pura kaget.
“Namanya juga kesurupan, mbak. Mana ada yang sadar?”
“Terus embak ngapain aja?”
“Embak ngamuk. Soto semeja tumpah semua”
“YA Alloh. Embak ketumpahan ya? Panas rasanya, perut” Icha masih pura-pura.
“Iya, lah. Orang taplak meja ditarik gitu aja. Ya kuah sebaskom tumpah semua ke badan”
“Yah. Nggak jadi makan, dong?”
“Bagus, lah. Emang dari awal Tika udah curiga sama bu Sari”
“Curiga?”
“Ya ada yang nggak beres, pastinya. Kalo enggak, kenapa ce es nya ibu sampe ngamuk gitu”
“Ce es?”
“Iya. Kata bapak, ibu tuh punya khodam pendamping, yang selalu jagain ibu”
“Oh. Masa sih? Terus”
“Ya kalo khodamnya aja sampe ngerasuk ke embak dan ngamuk gitu, berarti emang ada yang nggak beres sama makanannya. Apalagi sampe bilang, jangan makan makanan itu, aku kesakitan. Berarti kan, sesuatunya itu bersifat gaib. Dia yang kesakitan, sih”
Di dalam hati Icha ingin tertawa. Karena itu hanyalah akal-akalannya saja. Sama sekali dia tidak menyangka kalau kalimat selintas itu bisa meyakinkan mereka.
“Udah fix, bu Sari memang mau nyelakain ibu” lanjut Tika.
Mendengar kalimat itu, Icha jadi teringat dengan belatung dan cacing cincang yang dimakan ibunya. Emosinya seketika meninggi. Terlebih, dia juga ikut memakannya. Apapun tujuannya, dia merasa sajian tadi sangat menjijikkan.
Tunggu! Apa aku udah berubah jadi indigo? Kok aku bisa ngeliat yang orang lain nggak bisa liat? Serem sih kalo liat penampakan. Tapi kalo kemampuan ini bisa buat nyelametin ibu, kayaknya lebih baik aku terima, deh.
“Mbak?” tegur Tika.
“Ya?”
Angan-angan Icha buyar karena teguran itu.
“Embak bisa duduk, kan? Makan dulu, yuk! Udah Tika masakin nasi. Tika juga goreng bebek tuh”
“Wah. Enak tuh. Bebek kita sendiri, kan?”
“Iya, lah. Tenang. Sama sekali nggak tersentuh sama bu Sari”
“Oke”
Ichapun beranjak bangun dari tidurnya. Tikapun mengambilkan makanan buat Icha, setelah memastikan Icha bisa duduk dengan stabil. Merekapun makan bersama, sepiring berdua.
Setelah makan malam selesai, Icha mengajak Tika bergabung dengan yang lain. Tika keberatan dengan ajakan kakaknya. Dia beralasan masih ada bu Sari di depan. Tapi kata Icha, justru karena ada bu Sari, mereka harus melindungi ibu mereka. Tikapun setuju.
Kedatangan Icha disambut banyak pertanyaan. Ternyata tidak hanya bapak, ibu, dan ibu tirinya saja. Ada bulek Rini dan seorang tamu laki-laki. Icha tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tatapannya tajam mengarah ke bu Sari. Sudah dari tadi dia merasa aneh, dan sekarang jadi bertambah aneh. bagaimana bisa ibunya tetap menerima kehadiran bu Sari?
Apa actingku kurang meyakinkan? Kenapa ibu masih nerima dia? Harusnya ibu marah, dong? Apa takut sama bapak? Aduh, bapak juga. Apa nggak ada curiganya sama sekali, ya? Bukannya bapak punya kadigdayan? Apa cintanya buat ibu udah luntur? Santai banget, sih?
“Nduk”
Sebuah teguran membuyarkan lamunannya. Tangan bu Maryati menggapai tangannya, megisyaratkan sebuah perintah, agar Icha duduk di sebelahnya.
“Udah, nduk! Kan ibu sama bapak nggak papa, “
“Ya nggak bisa gitu dong, bu” potong Icha.
Sontak suasana menjadi tegang. Terutama bu Sari. Mendapat tatapan tajam dari Icha, membuatnya salah tingkah.
“Barang nggak kelihatan itu tadi, bu. Icha tadi itu masih setengah sadar dan sempet liat, sekalipun antara sadar dan pingsan. Kalo ibu tadi lihat, Icha yakin ibu nggak akan sesantai ini nanggepinnya”
“Tapi itu bukan perbuatanku, Cha” seru bu Sari, membela diri.
“Ya. Pastinya” sahut Icha.
“Hem?” Tika bingung dengan ucapan kakaknya.
“Bukan hal baru buat Icha, denger pengelakan kaya gini” kata Icha, namun nadanya seperti digantung.
“Yang jelas-jelas kerekam CCTV aja masih bilang, bukan saya yang ngambil” lanjut Icha.
Bu Sari terlihat tidak percaya dengan yang dia dengar. Tuduhan disertai sorot mata tajam itu terlalu menusuk hatinya. Tapi mau melawan omongan itu, dia masih sungkan dengan suaminya.
“Ini barang nggak kelihatan, bu. Gimana Icha bisa percaya kalo itu bukan perbuatan bu Sari?”
“Nduk”
Pak Sigit angkat bicara. Seketika pandangan Icha teralihkan kepada bapaknya. Sorot matanya tetap tajam, walau tak setajam saat menatap madu ibunya.
“Yang masak soto itu, banyak orang. Tetanga-tetangga, bulekmu Rini, bahkan bapak juga ikutan. Yang nyembelih kan, bapak” kata pak Sigit menjelaskan.
“Bapak mau bilang, bulek rini main dukun? Atau tetangga-tetangga kita, yang main dukun?”
Bulek Rini sempat terbelalak mendengar ucapan Icha. Dia terkejut namanya disebut Icha. Nada bicara Icha juga terdengar semakin meninggi di telinganya.
“Nduk. Sudahlah! Susah membuktikan barang nggak keliatan kaya gitu. Semua orang punya peluang menjadi pelaku, “
“Ya tapi buat apa, bu?” ujar Icha memotong perkataan ibunya.
“Apa yang tetangga-tetangga iri dari kita, sampe kepikiran ngusilin kita?” lanjut Icha.
“Iya, ibu tahu. Tapi nuduh orang tanpa bukti juga salah, nduk” sahut bu Maryati.
Icha tidak menjawab. Ucapan ibunya itu seperti tidak bisa dia bantah. Jauh di dasar hatinya, Icha membenarkan ucapan ibunya itu. Kini dia hanya bisa menatap lekat mata ibunya. Ingin marah, tapi tidak tahu harus kepada siapa.
“Huuuuffff”
Icha menghela nafas berat. Di dalam hatinya terjadi perdebatan. Jiwa kestarianya memintanya untuk meminta maaf, tapi egonya mengatakan sebaliknya.
“Maafin Icha, bu!” kata Icha kemudian.
“Ha?”
Tika berseru karena terkejut mendengar ucapan kakaknya. Tatapan mata garang tadi, kini tampak redup di mata Tika.
“Mbak?”
Tika menuntut penjelasan dari Icha. Dia tidak terima melihat kakaknya melempem begitu saja. Terlebih saat melihat madu ibunya itu tersenyum lega.
“Syukurlah, akhirnya mbak Icha mengerti posisi ibu” jawab bu Sari.
Tika semakin tersulut emosinya. Dia lebih memilih mendekat ke buleknya.
“Mbak. Ibu ini tinggal sebatang kara. Bersama keluarga ini, ibu ngerasa jadi punya keluarga lagi. nggak masalah kalo mbak Icha dan Tika nggak suka sama ibu. Tapi demi apapun, mustahil buat Ibu punya pikiran buat ngusilin kalian” lanjut bu Sari.
Icha tidak menjawab. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Suasana menjadi hening untuk beberapa waktu lamanya. Sampai Icha melihat ada seseorang di depan pintu.
“Ibu. Itu tamu yang di depan pintu kok nggak disuruh masuk sekalian?” tanya Icha.
“Tamu? Siapa, nduk?” tanya bu Maryati bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
weh spo neh kui...
2023-10-03
1