Nguuuuiiing.... nguuuuuiiiing...... nguuuing
Tidur Icha kali ini terganggu oleh suara yang terlalu memekakkan bagi telinganya. Dia tidak tahu, sudah berapa lama dia tertidur. Suara keras itu sukses menariknya kembali dari alam mimpi. Tak lama kemudian dia terbangun.
Lamat-lamat dia bisa mengenali suara apa itu. Tebakannya itu adalah suara sirine. Kian lama suara itu kian mendekat. Membuat Icha penasaran untuk melihat ke luar. Dia bangkit dari tidurnya, lalu pergi kedapur, dia buka jendela yang menghadap ke jalan.
“Ambulance?”
Walau belum terlihat bentuknya, tapi Icha sudah mengeluarkan tebakannya. Ya, apalagi, pikirnya. Suara sirine dan lampu strobo merah, menjadi penanda jelas pada kendaraan yang berfungsi sebagai ambulance.
“Siapa yang sakit?” gumam Icha lagi.
Mobil ambulance itu kini mulai terlihat bentuknya. Mobil itu berjalan terus sekalipun telah melewati rumah terakhir sebelum rumah Icha. Membuat Icha semakin bingung.
“Kok terus? Jalannya kan rusak, di bawah. Mau ke rumah siapa, emang?”
Icha masih terus bertanya-tanya. Sedangkan mobil ambulance itu mematikan sirinenya, saat melintasi rumah Icha. Hanya tinggal lampu strobonya saja yang dinyalakan. Icha menutup kembali jendela itu, dan beranjak ke depan. Dia ingin melihat lewat pintu depan. Saat dia menyibakkan tirai kaca depan, dia melihat mobil ambulance itu berbelok ke kanan.
“Mbah Ijah?” gumam Icha.
“Astaghfirulloh”
Setengah berlari, Icha beranjak kembali ke kamarnya. Dia melihat Tika masih tertidur pulas.
“Tika, tika. Mbah Ijah sakit, dek” kata Icha sambil menggoyang-goyangkan tubuh Tika.
“Eeem. Apa sih, mbak?” Tika menggeliat.
“Mbah Ijah sakit” kata Icha lagi.
“Apa?” Tika terkejut. Sontak dia bangun dan duduk.
“Mbah Ijah sakit, Tik. Barusan ada ambulance lewat, belok ke kanan situ. Ke mana lagi kalo bukan ke rumah Mbah Ijah?”
“Astaghfirulloh”
Tikapun bangun. Dia mengikuti kakaknya menuju depan rumah. Sempat dia menabrak daun pintu yang sudah tertutup kembali. Membuat bu Maryati terbangun. Dia terkejut dan penasaran dengan kehebohan di luar kamarnya.
“Mana, mbak?” tanya Tika, setibanya di depan rumah.
“Ke sana. Ke rumah mbah Ijah” jawab Icha.
“Hayu dilihat!” ajak Tika.
“Hayu” jawab Icha. Merekapun memakai sandal.
“Icha, Tika. Kalian mau kemana?” seru bu Maryati.
“Mau lihat ambulance, bu” jawab Tika, tanpa menghentikan langkahnya.
“Ambulance?” gumam bu Maryati. Diapun mengikuti kedua putrinya.
“Mana, mbak?” tanya Tika, saat sudah tiba di tikungan. Dan tidak terlihat ambulance yang dimaksud Icha.
“Loh. Tadi belok ke sini, dek” jawab Icha. Dia berjalan menuju rumah mbah Ijah. Sepuluh meteran dari tikungan.
“Ya, mana? Nggak ada, juga” kata Tika, sambil mengikuti kakaknya.
“Loh. Kok nggak ada, ya? Apa ke kandang?”
“Ngapain ke kandang?”
“Hei, hei, hei. Jangan kenceng-kenceng ngomongnya! Malem” tegur bu Maryati.
“Ada apa, kok rame-rame?”
Seseorang menyapa mereka. Dia berdiri di ambang pintu, dengan tongkat kayu di tangan kananya. Tubuhnya agak bungkuk, bertopang pada tongkat kayu itu.
“Nah, itu mbah Ijah” seru Tika.
“Emang simbah sakit ya, mbah?” tanya Tika pada wanita tua di depannya itu.
“Enggak. Simbah sehat-sehat aja” jawab mbah Ijah. Dia berjalan mendekati ketiganya.
“Memangnya siapa yang bilang simbah sakit, nduk?” lanjut mbah Ijah.
“Ini, mbak Icha. Tadi Tika dibangunin. Bilangnya ada ambulance belok ke rumah mbah Ijah. Tapi nyatanya nggak ada” jawab Tika.
“Iya. ibu juga nggak denger suara ambulance” sahut bu Maryati.
“Tadi dibunyiin, bu. Masa nggak denger sih? Tapi emang pas lewat depan rumah kita, sirinenya dimatiin. Tinggal strobo merahnya aja yang jalan” jawab Icha.
“Simbah nggak minta bantuan siapa-siapa dari tadi. Kalaupun simbah sakit, pasti simbah bilangnya sama kalian. Kan cuman kalian yang paling deket. Simbah nggak tahu nomernya ambulance. Tahunya cuman nomernya pak sigit sama bu Maryati. Tinggal pencet angka satu atau dua” kata mbah Ijah.
“Icha mau lihat ke kandang dulu, bu. Siapa tahu itu tadi orang jahat” kata Icha.
“Biarin aja, nduk! Cuman bebek ini” kata bu Maryati.
“Tapi Icha penasaran, bu”
“Ngigau kali, kecapekan” sahut Tika.
“Ish”
Icha merajuk. Dia pergi ke arah kandang tanpa pamit. Icha merasa percaya diri, karena penerangan di sini cukup memadahi. Karena di ujung sana ada kandang dari peternakan keluarga Icha. Peternakan bebek terluas di kota ini. Lebih dari satu hektar tanah yang dipakai sebagai kandang.
“Dek, mau kemana?”
Terdengar teguran dari arah tikungan, saat bu Maryati hendak mengejar Icha.
“Eh, mas Sigit” sahut bu Maryati. Dia salim dulu saat laki-laki itu mendekat.
“Itu, anakmu. Tadi ngebangunin adiknya. Bilangnya ada ambulance lewat dan belok ke rumah mbah Ijah. Tapi nggak ada. Dan mbah Ijahnya sehat-sehat aja” lanjut bu Maryati.
“Terus, itu Icha sama Tika mau kemana?”
“Mau ke kandang. Icha masih penasaran. Dia nggak mau dibilang ngigau. Dia berpikiran kalau ambulance itu pergi ke kandang”
“Buat apa ambulance ke kandang?”
“Ya itukan prasangka Icha. Takutnya itu tadi orang jahat, pikir dia”
“Eeem. Masuk akal juga, sih. Hayu dilihat!” ajak pak Sigit.
“Hayu” jawab bu Maryati.
“Mbah. Kita tinggal ke kandang dulu, ya?” ijin bu Maryati pada mbah Ijah.
“Monggo. Silakan bu Mar” jawab mbah Ijah.
Merekapun pergi ke kandang. Tapi sampai di pintu gerbang kandang, tak ada tanda-tanda ada mobil ambulance. Bahkan penjaga malamnyapun sampai bingung dengan cerita Icha. Dia yang tidak tidur, sama sekali tidak mendengar suara sirine sama sekali. Sekalipun tidak dinyalakan, dia sama sekali tidak mendengar ada mobil mendekat.
“Pinjem senternya, mas” pinta Icha.
Icha yang masih penasaran, sama sekali terlupa dengan kejadian menakutkan di jati kobeng. Pikirannya fokus untuk membuktikan keberadaan ambulance itu. Diapun pergi ke dalam lokasi kandang, bertemankan Tika.
“Psssttt”
Pak Sigit menahan bu Maryati saat wanita itu akan menyusul kedua putrinya. Dia menyodorkan sarung yang tadianya dia selempangkan di pundaknya.
“Buat apa?” tanya bu Maryati.
“Itu” jawab pak Sigit, menunjuk pada tubuh bu Maryati.
“Astaga”
Bu Maryati terbelalak, menyadari kalau dirinya tidak berpakaian sebagaimana biasanya. Dia lupa kalau dia sedang menggunakan seragam dinasnya. Buru-buru dia ambil sarung pemberian suaminya, lalu dia pakai untuk menutupi tubuhnya.
Mereka berduapun ikut kemana Icha dan Tika pergi. Saking penasarannya, Icha sampai mengelilingi seluruh areal kandang. Dan sama sekali tidak menemukan apa yang dia cari.
“Udah lah, mbak. Tika nggak bakal ngeledek embak, kalo emang embak ngigau. Tika juga pernah. Pulang, yuk!” ajak Tika.
“Iya, nduk. Kan kamu juga abis diganggu sama penunggu jati kobeng. Beberapa orang yang cerita sama ibu, pengalaman horor itu suka kebawa sampai tidur. Ada yang kaya kamu gini. Keliatannya doang melek. Ternyata tidur. Jadi waktu dia bilang liat ini, liat itu, bukan matanya yang ngeliat. Itu penglihatan dari alam bawah sadarnya. Alias ngigau” sahut bu Maryati.
Icah tak langsung menanggapi ajakan adik dan ibunya. Dia menatap keduanya bergantian.
“Huuuffft” Icha menghela nafas berat.
“Semoga aja emang ngigau” kata Icha kemudian.
Merekapun kembali keluar kandang. Tika sempat bertanya kepada ibunya, mengapa memakai sarung bapaknya. Ibunya bilang, kedinginan. Dia mengangguk-angguk, dan menyalahkan kakaknya. Gara-gara kehebohan tadi, ibunya jadi kedinginan. Tapi Icha malah tergelak. Karena dia teringat pakaian apa yang dipakai ibunya. Bukan pakaian yang tadi dipakai saat menerima tamu. Sampai di depan rumah mbah Ijah, Icha menghentikan langkahnya. Dia menatap ke arah rumah mbah Ijah.
“Kenapa, nduk?” tanya bu Maryati.
“Mbah Ijah marah ya, bu? Kok udah ditutup lagi, pintunya? Keberisikan ya, sama suara Icha?”
Bu Maryati tersenyum mendengar pertanyaan putri sulungnya.
“Enggak, mbak. Emang jam segini udah waktunya mbah Ijah istirahat. Mana ujan lagi. Terlalu dingin buat mbah Ijah lama-lama di luaran” jawab bu Maryati.
“Kalo cuman keberisikan sih, udah kebal, mbak. Dari kecil juga, tiap hari embak bikin ulah di rumah mbah Ijah” tambah pak Sigit.
“Panci sama ember dibikin drum” sahut bu Maryati.
“Tungku kayu dilempar mercon. Tungkunya ditiup, merconnya meledak” Tika ikut menambahi. Pak Sigit tergelak.
“Untung mbah Ijah pake corong bambu” lanjut tika.
“Kok inget, sih? Kan kamu masih kecil, dulu?” sahut Icha heboh.
“Ha ha ha ha”
Tika tidak menjawab, hanya tertawa lepas, bersamaan dengan bapak-ibunya.
“Besok pagi aja, mbak” saran bu Maryati, setelah puas tertawa.
“Iya deh, bu. Kasihan juga mbah Ijah, kalo Icha ganggu” jawab Icha.
“Ya udah, yuk!” ajak pak Sigit.
Merekapun beranjak meneruska perjalanan. Sekilas, dia melihat gelagat Tika, seperti sudah tidak sesaklek dulu sebelumnya. Tidak frontal terhadap bapaknya. Dan buat Icha, itu awal yang bagus. Karena buatnya, untuk melakukan perubahan ekstrim, ya harus dengan cara yang ekstrim pula. Ekstra sabar, ekstra mikir, dan ekstra berusaha. Seperti pakaian yang kini dikenakan oleh sang ibu.
”Ibu. Itu siapa?” tanya Icha saat sampai di tikungan. Dia menunjuk ke arah rumahnya.
“Siapa, nduk?” tanya bu Maryati.
“Itu, nenek-nenek” jawab Icha. Matanya masih lekat menatap sosok yang dia pikir akan bertamu.
“Nenek-nenek?” tanya Tika.
“Astaghfirulloh. IBUUUU”
Tiba-tiba saja Icha seperti terkejut dan ketakutan. Dia bersembunyi di balik punggung ibunya.
“Nduk. Kamu kenapa?” tanya bu Maryati bingung.
Tidak salah memang, kalau Icha ketakutan. Karena nenek-nenek itu, memutar kepalanya sampai seratus delapan puluh derajad ke belakang. Dan menampilkan wajah yang hampir seluruhnya tinggal tengkorak saja. Hanya mata sebelah kanannya yang tersisa.
“Mbah. Siapapun sampeyan. Kalo sampeyan berasal dari jati kobeng, pulanglah ke tempat sampeyan!” seru bu Maryati.
“Anakku cuman lewat, nggak bermaksud mengganggu. Jangan diikutin, ya! Pulang, mbah!” lanjut bu Maryati.
“Buu. Icha takut, bu” rengek Icha.
“Udah, nduk. Nenek-neneknya udah pergi” kata pak Sigit.
Icha tak langsung menjawab. Dia masih merasakan takut. Tapi dia penasaran juga. Dia kumpulkan keberanian untuk mengintip ke depan. Dan benar, sosok menakutkan tadi sudah tidak ada di depan rumah. Dengan masih takut-takut, Icha menyebarkan pandangannya. Takut kalau sosok tadi bersembunyi di suatu tempat.
“Ayo, nduk!” ajak bu Maryati.
“Bu. Nenek-nenek tadi beneran udah pergi, kan?”
Icha masih menggelayut di tubuh ibunya. Dia sembunyikan wajahnya di pundak ibunya. Dia takut, kalau-kalau nenek-nenek tadi muncul kembali saat mendekati rumahnya.
“Nduk. Pintunya nggak muat, kalo jalannya berjejer gini” tegur bu Maryati.
“Oh”
Icha mengangkat kepalanya. Dia agak terkejut saat mengetahui dirinya sudah berada di depan pintu. Dia sempat menoleh ke belakang. Tapi hanya ada bapaknya yang berdiri dua langkah darinya.
“Masuk, yuk!” ajak ibunya.
Ichapun melepas pelukannya. Dia berinisiatif membukakan pintu.
“HUAAAAAA”
Icha berteriak lagi sambil melompat ke belakang, setelah selangkah dia menapaki lantai rumah.
“IBUUUUUU”
“ICHAAAA”
Icha pingsan setelah memanggil ibunya. Dia sempat menunjuk ke arah lantai di depan meja tamu. Bu Maryati terkejut melihat anak sulungnya limbung ke belakang. Beruntung suaminya sigap menangkap tubuh Icha. Dia membopong Icha masuk ke kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments