“Oh, ya. Ngomong-ngomong, banyak yang mbak lewatin lho, setelah mbak Adel pulang dari tangerang dulu itu. Kan waktu penggerebekan satuan narkoba itu, mbak Adel masih istrinya si Luki, mas Budi kan juga punya pacar, siapa tuh namanya?” tanya Icha, mengalihkan topik pembicaraan.
“Erika” sahut Tika.
“Iya, mbak Erika” seru Icha baru teringat.
“Embak keskip tuh. Gimana ceritanya, tahu-tahu mas Budi nelpon lagi, bilang udah nikah sama mbak Adel, udah punya junior, lagi. Lah, pacarnya kemana?”
“Yaah. Embak sih, maennya di laut mulu. Jadi nggak tahu kan, cerita di darat” komentar Tika.
“Mana duetnya sama aa’ ganteng, lagi. Hayo, ngapain tuh kalo lagi rehat?” lanjut Tika, menggoda kakaknya.
“Malah ngecengin embak”
“Hi hi hi adooow”
Tika tertawa mendapati kakaknya berseru heboh karena godaannya. Sebuah cubitan mendarat di pinggangnya.
“Panjang ceritanya, mbak. Putri cerita itu juga, sehari nggak kelar” kata Tika menjawab pertanyaan kakaknya.
“Oh, ya?” sahut Icha.
“Putri itu adeknya, ya?” lanjutnya.
“Iya, mbak. Masa lupa?” jawab Tika.
“He he” Icha hanya nyengir malu.
“Iya. Intinya, mas Budi dan mbak Adel itu mau dimanfaatin sama kartel narkoba, mbak” kata Tika memulai jawabannya.
“Kartel narkoba? Oh iya, ding. Luki kan, ditangkep juga karena narkoba. Terus?”
“Iya. Salah satunya, yang masuk ke mimpi embak dulu itu. Yang soal dongle. Rupanya, hapenya mbak Vani itu disusupi software khusus, yang fungsinya ngasih kode buat transaksi. Kaya donglenya internet banking gitu”
“Emang buat transaksi apa sih? Embak belum ngerti tujuannya”
“Buat nyimpen uang hasil jualan narkoba” jawab Tika.
“Intinya gitu, deh. Ruwet juga si Putri, ceritanya” lanjut Tika.
“Oh. Terus, hubungan kartel itu sama keduanya?”
“Ruwet, mbak. Singkat cerita, dari sekian kejadian naas yang menimpa mereka berdua, dari yang dikeroyok sampai lupa ingatan, Stevani jadi tersangka, terus fitnah yang bikin mbak Adel marah besar sama mas Budi sampai bentrok di pengadilan, kebakaran EFA mebel, sampai kasus mebel rotan berisi narkoba milik PT. PRAM, ternyata semuanya adalah perbuatan sekelompok orang. Dua kelompok sih, kartel narkoba, sama intel polisi. Beradu, gitu. Dan dari temuan-temuan dari kasus-kasus tadi, mengerucutlah ke beberapa nama, yang merupakan penguasa kartel itu. Dikejarlah sama mas Budi. Temen-temennya sangar lho, mbak. Kopassus, coba”
“Percaya. Kan calon iparnya juga intel polisi? Pacarnya si Putri. Ya, kan?”
“Dih, itu sih intel busuk, mbak”
“Intel busuk?”
“Iya. SI Panjul itu bagian dari kartel itu, mbak”
“Astaghfirulloh”
“Untung Putri tahu. Terus untungnya juga, dia udah mati sekarang” komentar Tika agak emosi.
“Oh. Apa dia terlibat sama berita yang geger di pabrik obat itu?”
“Iya, itu” jawab Tika cepat.
“Ih. Hampir aja mas Budi sama mbak Rika nggak selamet, diberondong peluru sama si Panjul”
“Lah. Tunggu! Pabrik obatnya kan di tangerang, kok mereka bisa sampe ke sana?”
“Iya. Jadi rupanya, mbak Rika itu, intel”
“Lah?”
“Iya. Kata Putri, mbak Rika itu ditugasin buat jaga keluarganya mas Budi. Karena masih ada yang dendam sama keluarganya mas Budi”
“Kok bisa dendam?”
“Ternyata, almarhum pak Rouf, bapaknya mas Budi, dulunya intel, mbak. Dia yang nyusup ke kartel itu”
“Lah. Serius? Ibu sama bapak kok nggak pernah cerita, ya?”
“Putri yang cerita, mbak. Masa bohong?”
“Terus?”
“Nah. Ternyata eh ternyata, salah satu gembong kartel itu, adalah bapak angkatnya mbak Rika”
“Ha. Beneran?”
“Iya, mbak”
“Ya Alloh. Kenapa mimpi Icha bisa presisi begini?”
“Maksud mbak Icha?”
“Sebenernya ada yang embak sembunyiin, nggak embak ceritain waktu itu. Yaitu tentang Erika. embak ngeliat dalam mimpi itu, Erika itu sebenernya adalah anaknya bu Lusi, ibunya mbak Adel. Tapi beda bapak sama mbak Adel. Terus, diadopsi sama seseorang yang anaknya baru saja meninggal karena telat penanganan. Wajahnya sih, mirip sama yang diberitain di tivi. Siapa tuh namanya, Respati?”
“Iya, Respati. Putri juga bilangnya gitu. Jadi, antara mbak Rika dengan mbak Adel dan Madina, itu satu ibu beda bapak. Mbak Rika itu anak pertamanya bu Lusi. Mbak Adel, rupanya anak kedua. Makanya, waktu mbak Rika tahu kalo bapak angkatnya ternyata salah satu dari kartel narkoba itu, dia sangat murka. Dia ngerasa malu banget, mbak. Dianya intel, ternyata papanya malah gembong narkoba. Kan ironi gitu”
“Iya, sih”
“Nah, mbak Rika tuh, yang ngeyel banget, pengen ngabisin bapak angkatnya sendiri itu”
“Oh. Kasihan, ya?” komentar Icha mengerti.
“Kalo si itu, yang hapenya diincer itu, yang masuk mimipi embak?” tanya Icha.
“Mbak Vani?”
“Iya, Stevani”
“Nah. Itu juga unbelieveble, mbak”
“Maksudnya?”
“Ternyata, mbak Vani itu, anak pertamanya pak Rouf”
“Ha?”
“Iya. Jadi, sebelum dicomblangin sama bapak, ternyata pak Rouf itu udah pernah menikah. Cuman istrinya direbut salah satu pembesar kartel itu, mbak. Pembesar kartel itu ngira kalo yang dinikahi sama pak Rouf itu, pacarnya. Padahal bukan”
“Kok bisa?”
“Mereka kembar, mbak”
“Oh ya?”
“Dan kembarannya itu, rekan sejawat pak Rouf. Intel juga. Tapi sayangnya, dia gugur”
“Oh. Gitu. Jadi kakaknya mas Budi, dong?”
“Iya. Nggak nyangka banget, kan?”
“Kok bisa, ya? Ruwet” komentar Icha.
“Eh tapi, gimana ceritanya, mas Budi udahan sama mbak Rika, dan balik sama mbak Adel?” tanya Icha.
Di sini, Tika tak langsung menjawab. Ada raut kesedihan di wajahnya.
“Kenapa, dek? Kok sedih?”
“Enggak, mbak. Tika terpengaruh aja sama gaya ceritanya si Putri”
“Kenapa?”
“Mbak Rika gugur, mbak”
“Ha?” seru Icha kaget.
“Iya. Waktu duel sama bapak angkatnya”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”
Icha merasa sangat syok. Bagaimanapun juga, dia pernah berbincang dan pernah melihat wajahnya Erika lewat panggilan video.
“Sebelum meninggal, mbak Rika ngasih surat sama mas Budi. Intinya, mas Budi diminta untuk menikah sama mbak Adel. Dan ya, begitulah. Setelah seratus hari kemudian, keduanya benar-benar menikah”
“Oh”
“Banyak yang nggak tahu emang, mbak. Kaya dadakan gitu. Mana malem-malem lagi, nikahnya. Tapi resmi”
“Kenapa malam?”
“Nggak tahu. Putri juga bilang nggak ngerti”
“Oh”
“Nggak ada resepsi juga. Tika aja baru tahu seminggu kemudian”
“Ya Alloh. Banyak banget yang embak lewatin, ya? Mana di rumah juga abis huru-hara” komentar Icha.
“Aa’ ganteng sendiri, sekarang gimana kabarnya, mbak?” tanya Tika, mengalihkan pembicaraan.
“Ee, udah bisa ganjen sekarang, ya?” sahut Icha.
“Bukannya udah punya cowok?” lanjutnya.
“Siapa?” sahut Tika.
“Lha itu tadi, bikin teh sampe salah masukin gula”
“Itu sih ibu yang oleng. Segala pake gula bubuk. Samaan kan bentuknya sama garem”
“Ya kan ada tulisannya, dek”
“Mana Tika tahu, orang yang masukin toples juga ibu. Tika deh, korbannya”
“Masa sih?” tanya Icha sambil tergelak.
“Beneran, mbak. Makanya Tika nggak ngeh, kalo toples gula isinya garem. Jangan-jangan toples engkong gua isinya rengginang, lagi”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Icha tertawa mendengar kelakar adiknya. Mereka terus berbincang membicarakan banyak hal. Sebenarnya obrolan mereka masih seru, tapi apa daya, tubuh lelahnya tak mampu menahan kantuk yang datang mendera. Sambil tergelak, Tikapun akhirnya memejamkan matanya. Mengikuti kakaknya yang telah lebih dulu tertidur, berselimutkan jarik ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
masuk crita nya si budi dan biduan sejarahnya.. tegang tau kk pas bacanya jg.. berasa naik rolercoster aja wktu bc part3 yg duel2 gtu
2023-09-28
0