hantu mbah Ijah?

   “Udah, nduk! Iklasin, ya! Jangan terlalu ditangisin! Biar mbah Ijah nggak kebebanan”

Suara bu Maryati menggema di kamar mayat rumah sakit. Proses otopsi telah selesai dilakukan, dan merekapun telah selesai menjalani pemeriksaan sebagai saksi dugaan perampokan di rumah mbah Ijah.

Saat ini, Icha sedang menatap wajah almarhum mbah Ijah. Ada luka bekas benturan di sana. Juga ada bekas sayatan akibat otopsi. Perawat yang berjaga tidak mengijinkan Icha untuk membuka selimut penutup jenazah mbah Ijah. Alasannya untuk menjaga suasana hati Icha dan keluarga. Karena ada bekas sayatan juga akibat otopsi.

   “Kita ke depan, yuk! Biar jenazah mbah Ijah disiapkan sama petugas” ajak bu Maryati.

   “Iya, bu” jawab Icha lirih.

Mereka berdua keluar dari kamar mayat. Di depan pintu, Tika sudah menunggu bersama pak Sigit. Dia tidak ikut masuk karena takut. Merekapun beranjak menuju tempat penjemputan jenazah.

   “Mbak. Kok simbahnya ditinggal?”

Suara seorang anak kecil sontak mengejutkan mereka berempat. Icha yang paling pertama menoleh. dia sempat menoleh juga ke arah yang ditunjuk anak itu.

   “Kamu nunjuk siapa sih, dek?” tanya seorang ibu muda di sebelahnya.

   “Itu. Simbah putri di depan pintu” jawab bocah laki-laki itu.

   “Dia sedih. Nangis tuh ditinggal” lanjut bocah itu.

Icha bingung dengan ucapan bocah kecil itu. Kenyataannya tidak ada siapa-siapa di depan pintu kamar mayat itu.

  “Bu. jangan-jangan, “ kata Tika lirih.

   “Maafin anak saya ya bu. Dia emang suka iseng. Kebiasaan sama tantenya, suka ceng-cengan” kata ibu itu meminta maaf.

   “Oh, iya. Nggak papa kok, bu” jawab bu Maryati sambil tersenyum getir.

   “Duluan, bu” pamit ibu itu.

   “Silakan” jawab bu Maryati.

Anak kecil itupun langsung ditarik ibunya menjauh dari bu Maryati dan keluarga. Sedangkan Icha masih termenung menatap pintu kamar mayat. Sambil berurai air mata, dia memanjatkan doa untuk almarhum mbah Ijah.

      Krieeet

Pintu kamar mayat tiba-tiba terbuka. Dan seorang perawat keluar sambil tengok kiri-tengok kanan. Dan sebuah ranjang dia tarik keluar. Ternyata itu adalah ranjang jenazah mbah Ijah. Bersama-sama mereka mengiringi ranjang itu sampai ke tempat penjemputan.

   “Icha ikut ambulance ya, bu?” ijin Icha.

   “Ibu temenin, ya?” jawab bu Maryati.

   “Bu”

Tika keberatan dengan keputusan ibunya. Dia masih merasa takut setelah tadi dari kamar jenazah. Dia ingin ditemani ibunya.

   “Ya udah, Icha sama bapak aja, bu” kata pak Sigit menengahi.

Merekapun sepakat. Icha ikut mobil jenazah bersama bapaknya, sedangkan bu Maryati menemani Tika di mobil bak.

Sore ini juga, para warga sibuk menyiapkan pemakaman mbah Ijah. Wanita tua yang tinggal sebatang kara itu, sama sekali tak punya anak maupun cucu yang bisa mengurusnya. Karena kebaikannya selama hidup, para warga dengan suka rela menyiapkan segala sesuatunya.

Tanpa diminta, para warga langsung bedah bumi, menyiapkan liang lahat untuk jenazah. Begitu juga dengan perlengkapan lain. Para warga yang lain juga sudah berkumpul di mushola kampung, menunggu jenazah untuk disholatkan.

Icha sampai menangis lagi, antara sedih dan terharu, melihat hampir semua warga kampung berdiri sejajar menyolatkan almarhum mbah Ijah. Yang menyiratkan kalau mbah Ijah tidak punya musuh selama hidupnya.

Begitu juga saat jenazah hendak dimakamkan, berebutan warga ingin menggotong jenazah almarhumah. Hingga tiba di makamnya, entah sudah berapa belas orang bergantian memikulnya. Tak hentinya Icha menangis, utamanya saat pembacaan doa. Dia tetap duduk di tempatnya, saat yang lain sudah beranjak pulang.

   “Udah, nduk. Mbah Ijah sudah tenang. Biarkan beliau beristirahat!” tegur bu Maryati.

Butuh beberapa kali bujukan agar Icha mau beranjak pulang. Dia masih terpukul, dia masih merasa sangat kehilangan sosok yang mengayominya setelah ibunya. Beberapa teman sebayaannya, tidak begitu dia perhatikan saat menyapanya. Yang menanyakan kabarnya juga hanya dia jawab seadanya. Hatinya masih enggan untuk reunian.

Di mushola, bu Maryati mengajak Icha untuk berhenti sejenak. Karena ternyata para warga ada yang mampir di mushola terlebih dahulu. Ada yang sekedar cuci tangan dan kaki, ada yang mencuci cangkul, ada juga yang membahas soal tahlilan.

Para bapak-bapak sepakat untuk mengadakan tahlilan di mushola selama tujuh hari ke depan, untuk mendoakan almarhumah mbah Ijah.

Beberapa ibu-ibu sepakat untuk membuat takjil untuk tahlilan. Begitu juga dengan bu Sari, istri baru bapaknya Icha. Sebagai pedagang kain bahan pakaian yang menjadi rujukan banyak penjahit, membuatnya ingin ikut berkontribusi. Dengan kemampuan keuangannya, dia menyatakan akan menanggung menu utamanya.

Karena Icha tampak tidak fokus dengan topik pembicaraan dan lebih banyak termenung, bu Maryati berinisiatif untuk pamit lebih dulu. Dia mengatakan kalau Icha butuh istirahat.

Tanpa ba bi bu lagi, para warga langsung mengijinkan mereka pulang terlebih dahulu. Mereka maklum, karena keluarga bu Maryati memang yang paling dekat dengan almarhumah.

   “Dek. Nggak usah masak, ya!”

Pak Sigit yang baru pulang dari mushola, memberikan informasi.

   “Loh. Kenapa, mas?” tanya bu Maryati.

   “Tadi, Sari dapat sokongan ayam dari yu Tinah. Tiga puluh ekor, udah bersih” jawab pak Sigit.

   “Banyak banget, mas?” tanya bu Maryati.

   “Iya. Nggak cuman yang dateng ke mushola aja yang dapet. Yang di rumah juga kebagian”

   “Ya masukin kulkas aja dong, mas! Kan bisa buat dua hari lagi”

   “Yang idup masih lima puluh ekor. Noh, di kandang”

   “Welah. Baik banget yu Tinah. Ngasih ayamnya nggak kira-kira”

   “Iya. Kata dia, dia bisa seperti sekarang ini karena didoain sama mbah Ijah almarhum. Dia ngerasa bersalah, begitu sukses, malah nggak nengokin mbah Ijah. Tahu-tahu udah meninggal”

   “Ya Alloh. Semoga diterima sama Gusti Alloh ya, mas”

   “Iya, dek. Amin. Makanya nggak usah masak dulu! Udah terlanjur dimasakin” perintah pak Sigit.

   “Iya, mas” jawab bu Maryati.

Mendengar sapaan bapak dan ibunya yang lain dari biasanya, membuat Icha yang sedang bersedih bisa tergelak. Tika yang sedang bermain ponsel menyenggol lengan kakaknya. Dia juga merasa aneh. Tapi bagi Icha, itu pertanda kembalinya keromantisan mereka. Dan itu awal yang baik.

Disaat surup tiba, Icha terlihat sudah bersiap-siap dengan mukena dan sajadahnya.

   “Mbak. Kita duluan aja, yuk!” ajak Tika.

   “Masih surup, dek” jawab Icha.

   “Justru itu. Kita maghriban sekalian di mushola. Dan barusan Tika liat, makanan untuk tahlilan udah mulai dibawa. Kayaknya mau diracik di terasnya bu Supin, deh” kata Tika menjelaskan.

   “Emang masaknya dimana?”

   “Di neraka” jawab Tika asal.

   “Ha? Neraka?”

Tak hanya Icha, bu maryati dan pak Sigit juga sempat bingung dengan jawaban Tika.

   “Iya. Sumber dari segala panas”

Di dalam hati Icha mau tertawa, tapi masih kalah dengan rasa sedihnya. Jadinya dia hanya tersenyum geli. Dia paham tempat yang dinamai neraka oleh adiknya itu.

   “Aturan dari tadi, kalo punya ide begitu. Ini beneran udah mau magrib, dek”

   “Ya mending. Dari pada entar abis sholat, malah keduluan yang lain”

   “Serius?”

   “Ya iya, lah. Embak gimana, sih?”

Tika bersikukuh tetap akan ke mushola. Icha hanya mengangguk-angguk sambil mencebirkan bibirnya.

Bukan tentang anggapan tetangga yang dia khawatirkan, tetapi menuju mushola sana, harus melewati satu tempat yang tidak kalah menyeramkan dari jati kobeng. Mungkin Tika lupa, kalau waktu surup itu malah lebih berbahaya daripada malam hari.

   “Bu. Tika ke mushola dulu, ya?” pamitnya pada ibunya.

   “Ati-ati, ya!” jawab bu Maryati.

Tika langsung menuju pintu belakang, tanpa salim pada bapaknya. Di belakangnya, Icha geleng-geleng kepala.

   “Icha ikut Tika ya, bu?” pamit Icha.

   “Jangan ngelamun!” jawab bu Maryati. Icha mengangguk.

   “Pak”

Icha juga salim pada bapaknya. Pak Sigit sempat mengelus kepala Icha. Saat Icha menengadahkan kepalanya, mata bapaknya terlihat sembab. Tapi bibirnya tersenyum. Ichapun pergi menyusul adiknya.

   “Ayo” ajak Icha.

Merekapun memulai perjalanan mereka. Sempat mereka berdiskusi akan lewat jalan yang mana. Mereka memutuskan lewat bawah, karena lebih cepat, tidak memutar. Tapi bagaimanapun juga, di depan nanti, jalan itu akan bertemu di depan rumpun bambu yang dikenal wingit itu.

   “Duluan, mbak”

Terdengar suara bocah laki-laki. Saat mereka menoleh, ada tiga orang bocah yang membungkuk mendahului mereka, lalu berlari kecil sambil bersenda gurau.

   “Eh. Udah gede aja, mereka” komentar Icha.

   “Iya, lah. Udah tiga tahun berlalu, mbak. Tapi emang dasarnya mereka bertiga itu trio jerapah, bongsor” sahut Tika.

   “Jerapah?” Icha tergelak mendengar jawaban adiknya.

Ketiga bocah itu cukup cepat juga larinya. Hanya beberapa saat saja, mereka sudah tidak terlihat oleh Icha. Tertutup kelokan yang entah sudah berada di kelokan yang ke berapa.

   “TOLOOOONG”

Terdengar teriakan minta tolong dari arah depan. Perhatian mereka berdua langsung tersita ke depan. tak berapa lama kemudian, terlihat ketiga bocah tadi berlarian ke arah mereka.

   “Eh eh, ada apa?” tanya Tika, saat mereka sudah dekat.

   “ADA MBAH IJAAAAAH”

Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!