Di tengah hutan, seorang kakek-kakek sedang berjalan memikul kayu bakar. Sesampainya di rumah, dia melihat ada seorang tamu sedang menunggunya. Dia tergelak melihat raut muka cemas tamunya itu.
“Belum juga seminggu nduk, kamu udah sampe sini lagi. Pengen yang cepet?” tanya kakek-kakek itu.
“Mbah, ada perubahan nggak terduga. Perlindungannya pindah ke anaknya, mbah. Kemarin aja makannya cuman masuk sesuap. Tumpah semua diobrak-abrik anaknya” jawab tamunya.
“Ha ha ha. Masuk dulu, yuk!” ajak kakek-kakek itu.
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang penuh dengan perlengkapan perdukunan. Mereka duduk bersila dengan sebuah meja yang membatasi mereka. Si kakek itu membakar kemenyan sambil berkomat-kamit membaca mantra.
“Oh” kata kakek tadi. Dia manggut-manggut dan menghela nafas berat.
“Iya, itu mbah. Anak sulungnya yang bikin kacau” kata wanita itu.
“Ha ha ha. Iya” kakek itu tergelak.
“Terus, kamu maunya gimana?”
“Aku pengen nyantet dia aja, mbah. Tapi aku nggak mau jadi tersangka”
“Ya berarti kamu harus cari kambing hitamnya”
“Itu dia, mbah. Siapa yang bisa aku jadiin kambing hitam?”
“Ya mikir sendiri, lah. Orang kamu yang butuh, kok. Aku sih gampang. Sekarang juga bisa, aku kirimin santetnya”
“Jangan, jangan! Kemarin aja aku nggak berani terang-terangan, apalagi ini, khodamnya udah mulai ngerasuk ke anaknya. Bisa langsung ketahuan, mbah”
“Ya udah. Kamu cari aja dulu, kambing hitamnya! Kalo udah dapet, kamu gigit kemenyan ini! Aku akan langsung kirimkan santetnya” kata kakek itu.
“Baik, mbah. Terimakasih”
***
Icha berjalan cepat bukan hanya karena jalanan yang menurun, tapi karena juga dia masih merasa takut. Dia hanya tersenyum saat berpapasan dengan tetangganya.
“Haa”
Icha memekik tanpa suara. Dia terkejut saat melihat ke kiri, dia menjumpai nenek-nenek seram yang semalam melemparinya dengan potongan lengan manusia. Nenek itu menatapnya bengis dengan matanya yang hanya tinggal sebelah. Icha balik badan dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa ganggu Icha, mbah?”
Dalam ketakutannya, Icha spontan bertanya. Tapi pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban.
“Apa salah Icha, mbah? Icha kan nggak ganggu” lanjut Icha. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.
Plek
“HWAAAA”
Icha terkejut, pundaknya ada yang menepuk.
“Icha. Ini aku, Hasan”
“Haaa”
Icha melepaskan tanganya dari wajahnya. Dan saat dia membuka mata, sesosok lelaki tampan tersenyum di depannya. Dia sempat terpana dan tertegun beberapa saat. Butuh waktu untuk dia mengenali siapa yang ada di hadapannya itu.
“Huuufft”
Icha menghela nafas lega. Ternyata yang menyentuhnya bukan nenek-nenek itu.
Loh, dia kemana?
Icha menoleh ke kanan dan ke kiri.
Syukur deh, kalo dia udah pergi.
“Hei, Cha. Kamu kenapa, nyari apa?” tanya lelaki itu.
“Hem? Oh, ee, itu, itu, ”
“Kebanyakan nonton film horor, kayaknya. Makanya ketakutan gitu. Orang nggak ada apa-apa, juga”
“Eee, itu, ee, anu, itu, “
“Hempf”
Hasan merasa lucu mendengar jawaban Icha yang hanya anu dan itu. Icha sendiri merasa malu, di depan lelaki tampan itu, dia malah tergagap.
“Ya udah, ya udah. Kamu mau kemana?” tanya Hasan.
“Eee, mau pulang. Tadi, tadi, abis dari rumah Mita” jawab Icha sambil mengacungkan kresek berisi gula di tangannya.
“Oh. Abis beli gula? Aku juga mau ke sana nih, beli rokok. Sayang ya, kamu udahan” sahut Hasan.
Icha terkesiap mendengar kata-kata lelaki tampan di depannya itu. Seolah-olah lelaki itu ingin pergi bersamanya. Angannya langsung berkelana jauh ke angkasa.
“Hei” tegur Hasan.
“Oh. Anu, anu, iya, itu, “
“Hempf. Ha ha ha ha” Hasan tertawa mendengar jawaban anu dan itu lagi.
“Mau ditemenin pulang?” tanya Hasan.
“Iya”
“Eeeh, nggak usah. Makasih, maksudnya” lanjut Icha meralat ucapannya.
“Hempf. Iya. Ya udah, ati-ati, ya!” kata Hasan.
“Iya, mas. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Icha berjalan lagi. Perasaan takutnya sejenak tertutup oleh perasaan senang. Setelah sekian lama, dia bisa bertemu lelaki tampan itu lagi. Dan sekarang, menurutnya lelaki itu semakin keren saja.
“Assalamu’alaikum” sapa Icha sesampainya di rumah.
“Wa’alaikum salam” jawab ibu dan adiknya.
“Lama amat mbak, timbang ke rumah mbak Mita doang?” tanya Tika.
“Dua tahun pandemi, mager” sahut bu Maryati, sambil membuat teh hangat.
“Hempf” Tika tergelak mendengar ucapan ibunya.
“Bukannya mager, bu. Tiga kali Icha lihat penampakan” jawab Icha.
“Ha?” bu Maryati terkejut mendengar ucapan Icha. Timbul rasa khawatir dalam hatinya.
“Yang bener aja, mbak! Mana ada makhluk halus jam segini nongol?”
“Tahu. Gabut kali, kena PHK” jawab Icha.
“Itu sih, embak. Ha ha ha” sahut Tika.
Icha hanya tergelak mendengar tawa adiknya. Dia membantu ibunya menyiapkan teh hangat untuk semuanya.
“Bantu ibu bawa tehnya, yuk!” ajak bu maryati.
Mereka berduapun langsung sigap membawa dua nampan sisanya. Yang besar dibawa Icha, masih sama berisi wedang teh. Yang satu lagi dibawa Tika, berisi gorengan.
Di depan ternyata sudah berkumpul pak Sigit dan para karyawannya. Pagi ini ada tiga pick up yang siap diberangkatkan ke pasar kota.
“Wah. Makin banyak aja pak, yang siap jual” komentar Icha, saat menyajikan minuman yang dia bawa. Dia berusaha untuk tampak sudah kembali ceria.
“Wah, tadi udah jalan satu pick up, mbak” sahut salah seorang karyawan pak Sigit.
“Seriusan? Tiap hari empat pick up?” tanya Icha bingung. Perhitungan dia, kemampuan panen kandang bapaknya, baru mampu menghasilkan satu pick up setiap harinya.
“Wah, si embak belum tahu, gan” seloroh karyawan itu.
“Emang kenapa, kang?’ tanya Icha.
“Bapak kan punya lahan baru, mbak. Khusus buat pembibitan. Yang di sini sih, udah siap penen semua”
“Lahan baru? Di mana, pak? Kok Icha nggak dikasih tahu?” tanya Icha pada bapaknya.
“Di seberang sana, ngguntur. Yang dulu suka buat maen bola”
“Oh, situ. Keren” komentar Icha.
“Kalo mbak Icha dirumah terus nih gan, alamat butuh pick up baru nih” komentar karyawannya tadi.
“Pengennya juga gitu, Jup. Butuh lima juga aku turunin” sahut pak Sigit.
Icha tersipu mendengar jawaban bapaknya. Dia tahu, itu adalah ungkapan harapan bapaknya, agar dia mau tinggal di rumah, dan membantu mengurusi usaha keluarga itu.
“Monggo semuanya, mumpung masih anget” kata bu Maryati, mempersilakan”
“Terimakasih, bu Mar” jawab mereka.
Icha pamit untuk mandi. Karena dia ingin ikut bapak dan ibunya ke pasar. Dan Tika, yang sudah mandi, juga ijin ke dalam untuk bersiap ke sekolah.
Saat sedang mandi, Icha mendengar ada gerombolan sepeda motor melintas di samping rumahnya. Dia mempercepat mandinya karena penasaran. Saat mandinya sudah selesai, Icha mendengar suara gaduh di depan rumahnya. Seperti orang yang marah-marah. Segera saja Icha berganti pakaian, lalu pergi ke depan.
“Haaa”
Icha terkejut saat baru saja muncul di ambang pintu. Bukan preman-preman yang sedang mengerubungi bapak dan ibunya, melainkan sesosok makhluk yang berada di belakang salah seorang dari mereka. Makhluk itu menyeramkan. Gigi-giginya bertumpuk tidak hanya satu baris. Dan dari mulutnya, terjulur tentakel seperti tentakel gurita.
“Nduk. Kamu kenapa?” tanya bu Maryati, sembari mendekati Icha.
Makhluk hitam legam berbulu lebat, dengan wajah penuh luka cakaran itu menatap tajam ke arah Icha.
“NGGAK USAH DRAMA, DEH!” teriak seorang perempuan. Icha mengalihkan pandangannya pada yang berteriak tadi.
“KALO KAMU PENGEN NYELAMETIN IBUMU, BILANGIN DIA! JANGAN PERNAH LAGI NGEREBUT PELANGGANKU!” lanjut wanita itu.
“Bu” tegur Icha pelan.
“Tenang, nduk! Ini cuman salah paham”
“SALAH PAHAM APANYA, HA?” teriak wanita itu lagi.
“Mau apa lagi? Kan tadi udah dijawab” sahut pak Sigit.
“HEH. BENERAN MAU MATI, LU?” teriak salah satu preman yang menemani wanita itu.
“Udah, dong! Anakku ketakutan, nih. Kan aku udah minta maaf. Aku nggak niat ngejual ke dia. Dia sendiri yang dateng ke sini. Jam tiga malem lho, bayangin! Niatku cuman nolong”
“HEH BOCAH, DENGER NGGAK, TUH? MASIH NGEYEL AJA, IBUMU. BILANGIN DIA! KALO MASIH NGEYEL JUGA, SIAPIN KANTONG MAYAT BUAT DIA!” teriak wanita itu.
Mendengar kata kantong mayat, sontak emosi Icha meninggi. Dia tidak terima ada orang yang mengancam keselamatan ibunya. Dia menatap tajam wanita itu. Ketakutannya hilang. Dan dia tidak tahu, darimana asalnya, tapi dia merasa mendapat keberanian ekstra, yang berkali-kali lipat lebih tinggi.
“APA LU LIAT-LIAT?” teriak wanita itu pada Icha.
Icha merasa tubuhnya seperti dikendalikan orang lain. Seperti seorang jagoan, Icha membuat siluet pistol dengan jari telunjuk dan jempolnya. Lalu dia mengarahkan jarinya ke makhluk hitam di halaman rumahnya itu.
DUAAARRR
“AAAAAA”
Dengan sekali membuat gerakan menarik pelatuk, tiba-tiba saja terdengar ledakan keras di halaman. Semuanya terkejut karenanya. Dan para preman itu berlari menghindar. Icha mendekati wanita itu sampai sangat dekat. Dia tatap wanita itu dengan tatapan mengintimidasi. Keluar juga senyum bengis menghiasi wajahnya.
“Jagoanmu udah mati. Siapa yang mau kamu andelin? Mereka?” kata Icha
“Ja, ja, ja, jangan!” kata wanita itu tergagap.
Terlihat raut ketakutan saat Icha lebih mendekatkan wajahnya. Hampir bersentuhan. Bu Maryati mendekati pak Sigit. Dia senang, tapi juga khawatir.
“Kenapa?” tanya Icha. Wanita itu tidak menjawab.
Icha mengacungkan lagi telunjuknya. Dia arahkan ke sebuah motor yang diparkir agak jauh.
DUUAAAARRR
“HWAAAAA”
Wanita itu menjerit terkejut dan takut bukan kepalang. Seperti sebelumnya, kini motor salah satu dari mereka menjadi korbannya. Meledak dan terbakar hebat. Sontak yang lain kocar-kacir menyelamatkan motornya.
“Pergi, dan jangan pernah ganggu ibuku!” perintah Icha pelan tapi tegas.
“I, iya, iya. Aku pergi, aku pergi” jawab wanita itu.
Ichapun mundur selangkah, memberikan ruang untuk wanita itu pergi. Para preman itu langsung tancap gas begitu Icha menatap mereka bergantian. Tersisa satu, yang bertugas membawa wanita itu.
“ICHAAA”
Bu Maryati memekik kaget, saat Icha tiba-tiba limbung. Pak Sigit reflek menangkap tubuh putri sulungnya, dan membawanya ke sofa tamu.
“Nduk. Kamu nggak papa, kan?” tanya bu Maryati.
“Ambilin minum, Tik!” perintah pak Sigit.
Tikapun langsung pergi ke belakang mengambil air minum. Sedangkan Icha tersenyum walau tubuhnya merasa lemas.
“Minum dulu, gih!” pinta pak Sigit, saat Tika kembali ke depan. Ichapun menerima air minum itu.
“Kamu nggak papa, nduk?” tanya bu Maryati lagi.
“Nggak papa, bu” jawab Icha sambil tersenyum.
“Kamu kok bisa kaya gitu, nduk? Siapa yang ngajarin? Kamu belajar kanuragan?” tanya bu Maryati penasaran.
“Bu. Biarkan Icha istirahat dulu!” tegur pak Sigit.
Bu Maryati menuruti perintah suaminya. Dia membaluri leher Icha dengan minyak kayu putih. Sedangkan pak Sigit sendiri keluar menemui warga yang berdatangan karena keributan tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
wah beneran hebat jg si icha nieh kk... kpn dong temuin si mantan pteman ketemu di biduan.. g sabar deh pgen tau klnjutan keluarga kcil adel dan budi...
2023-10-07
0