kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala

Disebuah gubuk kayu, jauh di belantara hutan, seorang laki-laki tua, sedang berkonsentrasi membaca mantra. Matanya tajam menatap kemenyan yang dia bakar. Asapnya mengepul menerpa jenggot brewoknya.

Di depannya, seorang wanita sedang duduk bersimpuh menghadap laki-laki itu dengan wajah tegang. Wajah ayunya sesekali melengos, menoleh ke arah lain, karena asap kemenyan itu tertiup angin ke arahnya.

Masih sambil berkomat-kamit, laki-laki tua itu mengambil lemperan atau cobek yang berisi biji-bijian. Ada banyak sekali jenis biji-bijian di lemperan itu. Dia meletakkan lemperan itu di atas tungku tempatnya membakar kemenyan.

*WOOUUUKKK*

“AAAA”

Api dalam tungku kemenyan itu tiba-tiba membesar, saat laki-laki tua itu menyipratkan air kembang tujuh rupa ke celah-celah tungkunya. Seolah-olah air kembang tujuh rupa itu adalah pertamax turbo. Kontan saja, wanita di depannya itu memekik kencang saking kagetnya.

*Srek srek srek srek*

Laki-laki itu megaduk-aduk biji-bijian di atas lemper itu sampai perlahan menghitam. Tangannya sendiri juga ikut menghitam karena biji-bijian itu. Tak ada raut kepanasan, walau api dalam tungku itu terus berkobar.

Tangan itu terus membolak-balikkan biji-bijian itu tanpa alat bantu sama sekali.

Perlahan kobaran api di dalam tungku itupun mengecil, mengecil, lalu padam. Menyisakan bara yang sebagaimana semestinya.

Biji-bijian itu telah menghitam seluruhnya seperti biji kopi siap giling. Masih dengan berkomat-kamit juga, laki-laki itu menutupi biji-bijian itu dengan telapak tangannya.

“Ha? Loh?”

Biji-bijian yang hitam legam itu berubah menjadi serbuk putih, saat tangan itu berpindah tempat. Padahal kopi saja kalau ditumbuk, tetap berwarna hitam. Beras dan jagung juga tetap hitam. Tapi ini malah memutih, seperti tepung.

Laki-laki tua itu tersenyum melihat keterkejutan wanita yang ada di depannya. Dia kumpulkan bubuk biji-bijian itu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah plastik klip kecil. Kemudian dia berikan bubuk itu kepada wanita yang ada di depannya.

“Taburkan sedikit bubuk ini ke dalam makanannya! Maka tubuhnya akan menolak perewangannya sendiri. Pagar gaibnya juga akan rusak dari dalam. Taburkan sedikit-sedikit sampai habis. Hasilnya akan terlihat jelas setelah serbuk itu masuk semua ke dalam tubuhnya” kata laki-laki tua itu.

“I.. I.. Iya, Ki” kata wania itu tergagap.

Dia menerima bubuk biji-bijian itu. Walau masih ada raut ketakutan di wajahnya, namun seringai bengisnya mulai mengembang di bibirnya.

“Akan lebih aman buatmu, jika kamu punya orang yang bisa dikambing-hitamkan. Jadi kamu bisa aman dari semua tuduhan” kata laki-laki itu lagi.

“Hem? Oh, iya. Aki benar” jawab wanita itu. seringai bengisnya semakin lebar mengembang.

"Oh ya. Untuk rencana kemarin, bagaimana? Jadi apa tidak?"

"Jadi, Ki. Sudah dieksekusi. Ini dia lagi nyimpen hasilnya" jawab wanita itu.

"Hem. Gitu, ya?" Komentar laki-laki tua itu. Dia seperti menerawang sesuatu.

"Kalian harus hati-hati! Setelah pengapesanmu yang datang, pengapesan dia juga sudah pulang. Aku jadi tidak yakin, jalan kalian akan semulus biasanya. Kalian harus pintar-pintar mengatur siasat agar tidak menjadi bumerang" lanjut laki-laki itu kemudian.

"Baik, ki. Saya akan ingat pesan aki"

"Ya sudah, pulanglah!"

"Terimakasih, ki. Pamit"

***

Bim bim

Icha tergagap terjaga dari tidurnya. Suara bel micro bus ini mengejutkannya. Dia tidak tahu sudah seberapa lama dia tertidur. Dia celingukan melihat ke luar jendela, berusaha mengenali tempat yang dia lewati.

*BRAAAAKKK*

“AAAAAA”

*CIIIIIIITTTTT*

Mikrobus itu mengerem mendadak setelah terdengar suara benturan keras dan teriakan kencang dari arah belakang.

“Dek, kamu nggak papa?”

Para penumpang di depannya, semua melihat ke arah belakang. Salah satunya menanyai Icha. Tapi Icha masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Seorang ibu-ibu bahkan sampai pindah ke belakang untuk menenangkan Icha.

“DASAR BERANDALAN. KELUAR KALO BERANI”

Teriakan itu sontak menarik perhatian Icha. Dia menolehkan kepalanya ke kanan. Di balik kaca yang kini buram, dia melihat sang sopir tadi sedang berkacak pinggang menghadap ke arah semak-semak di seberang jalan.

“JANGAN BERANINYA CUMAN NIMPUK BATU TERUS LARI! AYO DUEL KALO PUNYA NYALI! SAMPE MATI JUGA GUA LADENIN”

teriak si sopir itu lagi. Icha tertegun mendengar teriakan itu.

*Batu? Serius itu tadi batu? Ya Alloh. Kepalaku kenapa, sih? Kenapa batu bisa keliatannya kepala? Mana lehernya kaya bekas digorok. Mukanya itu, kaya kesakitan banget ya Alloh. Icha kenapa, sih*?

Icha kembali menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bayangan mengerikan itu masih lekat di kepalanya, membuatnya ketakutan. Si ibu tadi masih mengusap-usap punggungnya sembari menenangkannya.

“Dek. Adek nggak papa?”

Seruan dari arah depan menyentakkan Icha. Terlihat si sopir melongok dari pintu penumpang. Dia menatap langsung padanya.

“Enggak. Nggak papa, pak” jawab Icha.

“Adek nggak terluka, kan?”

“Enggak, pak”

“Kasih minum dulu, pak!”

Seorang ibu-ibu yang duduk di sebelah kursi sopir, memberikan sebotol air mineral kepada si sopir. Si sopir itu lantas merantaikan air mineral itu melalui para penumpang di dekatnya.

“Makasih, pak” kata Icha saat menerima air mineral itu.

“Kita lanjut ya, dek?” ijin si sopir.

“Silakan, pak” jawab Icha.

Si sopir itu lantas kembali ke kursi kemudinya. Sedangkan Icha meminum air mineral itu. Mikrobus itupun berjalan kembali. Icha menyandarkan kepalanya ke belakang, sembari menghela nafas berat.

Saat dia menoleh ke luar kaca, dia melihat ada yang bergerak-gerak di atas bukit. Dia menelengkan kepalanya, mencari sudut yang lebih jelas.

“Aaa”

Icha memekik lagi. Matanya nanar, tak percaya dengan apa yang dia lihat di luar sana. Yang dia pikir kayu, ternyata yang jatuh dari bukit itu adalah manusia. Manusia yang tangan dan kakinya terikat ke tubuh.

Orang itu meronta-ronta seolah merasakan kesakitan yang teramat sangat. Dan yang lebih membuatnya tebelalak adalah darah orang itu menyembur deras dari dalam leher yang sudah tidak ada kepalanya lagi.

“Aaa... aaaa”

Icha ingin berteriak, tapi entah mengapa, suaranya seperti tercekat di leher. Seperti orang yang sedang sakit tengorokan.

“Nduk, nduk” tegur ibu-ibu yang berada di sebelahnya.

“Ibu, ibu. Itu, itu” kata Icha, sambil menunjuk-nunjuk ke luar.

“Tenang, nduk! Tenang!” pinta ibu itu.

“Tapi bu, itu tadi”

“Iya. Setan memang suka aneh-aneh. Kamu baru pertama diliatin yang kaya gitu, ya?”

“Ha?” Icha tak mengerti. Ibu itu tersenyum.

“Yang kamu lihat itu, tidak nyata, nduk. Itu

perbuatan setan” jawab ibu itu.

“Setan?”

“Iya. Istighfar!” pita ibu itu.

“Astaghfirullohal’adzim”

Icha kembali menyandarkan kepalanya. Dia memejamkan matanya. Sembari berharap, agar ketakutannya segera mereda.

*Ya Alloh, ini udah yang kesekian kalinya. Sebelumnya malah kaya de javu. Icha ngeliat orang kesangkut di crane, dibilangnya halu. Eh, besoknya beneran kejadian. Yang tadi malah dibilang penglihatan dari kejadian masa lalu. Yang ini apa, ya Alloh? Bayangan masa lalu apa apa de javu lagi? Semoga ini hanya perbuatan makhlukmu yang jelek itu. Icha memohon perlindungan padamu ya Alloh, dari godaan setan-setan pengangguran. Mbok mereka dikasih kerjaan to Gusti! Biar mereka nggak iseng. Icha takut, ya Alloh. Dulu aja yang cuman mimpi, Icha ketakutan*.

Terpopuler

Comments

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

laaah.. itu mereka lagi kerja Cha, nakut2in kamu /Facepalm/

2023-10-26

2

Dharris Tio

Dharris Tio

🤣🤣🤣

wah. malah ngarep.

2023-09-27

0

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

lah baca yv akhir aq mlh ngakak... nek setane megae trus sugeh mboj aq di tf to2

2023-09-26

0

lihat semua
Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!