Saat Icha kembali membuka mata, dia tampak mengenali landscape di sekitarnya. Dia lantas menyiapkan tasnya. Timbul keraguan di dalam hatinya untuk pulang sedirian.
Ingatan akan gangguan gaib di terminal masih sangat segar di kepalanya. Bahkan jantungnya masih berdebar-debar takut kala bayangan kebiadapan itu melintas.
Namun, mau tak mau dia harus turun juga. Dia ambil nafas panjang, dan dia hembuskan perlahan sembari membaca doa dalam hati.
“Bu, maaf. Sebentar lagi saya turun” kata Icha kemudian. Dia bermaksud meminta jalan.
“Oh. Kamu udah baikan?” tanya ibu itu.
“Sudah, bu” jawab Icha.
Rasa rindu pada sang ibu, membuatnya nekat melawan rasa takutnya. Ibu tadi tersenyum dan bergeser kembali ke depan. Ichapun ikut bergeser ke kursi di depannya. Tepatnya kursi tambahan yang terbuat dari kayu, yang menutupi jalan masuk ke baris paling belakang.
“Pak. Gapura depan ya, pak” seru Icha. Si sopir itu menengoknya dari spion tengah.
“Emang rumahnya mana, dek?” tanya ibu-ibu di sebelah sopir.
“Sido Dadi, bu” jawab Icha.
“Loh, sido dadi? Sama rumah bu Maryati, bebek?” tanya ibu itu lagi.
“Sebelahnya bu”
“Sebelah mana? Kan rumahnya di pojokan”
“Sebelah kamarnya” jawab Icha sambil tergelak.
“Sebelah kamarnya?”
“Iya. Saya anaknya bu Maryati, bu”
“Owalah” seru ibu itu mengerti.
“Kita anter aja, pak” ajak ibu itu.
“Aduh. Nggak usah, bu. Kasihan yang lain” sahut Icha. Dia merasa tidak enak dengan lima penumpang lainnya.
“Tapi hujannya masih deras lho, nduk”
“Justru itu, bu. Jalannya, susah. Pasti udah berkubang deh, jalannya. Mana berlumpur lagi, seringnya”
“Bener juga sih, bu” kata si sopir.
“Ya udah, kalo gitu. Ini, bawa payung ibu! Kayaknya kamu nggak bawa payung. Mantel juga kayaknya nggak bawa”
“He he” Icha meringis malu, mendapati tebakan ibu itu tepat sekali.
“Ini” kata ibu itu sambil mengacungkan payungnya.
“Lha terus, ibu gimana? Keujanan, dong?” tanya Icha.
“Tenang! Bisnya sampe ke pekarangan ibu, kok” jawab ibu itu.
“Hem?” Icha tak mengerti.
“Ibu ini, istri saya, dek” kata si sopir.
“Oh. Ha ha ha”
Icha tertawa mendengar penjelasan si sopir. Sontak tawanya mengundang candaan dari penumpang lain.
Akhirnya, tibalah dipenghujung perjalanannya. Diapun turun dan membayar ongkosnya. Dia juga berterimakasih atas payung yang dipinjamkan, dan dia berjanji akan mengembalikannya.
*Alhamdulillah. Ketemu sama orang-orang baik. lumayan, lah. Daripada enggak sama sekali*.
Dalam derasnya hujan, Icha melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan. Dia menyempatkan diri berteduh di sebuah saung, tepat di seberang jalan. Dia mencoba menelepon keluarganya. Tapi sama sekali tidak ada yang bisa dihubungi.
“Hadeeeehh. Nasib kalo di pegunungan. Sinyalnya masih kalah sama ujan” keluh Icha.
“Apalagi abis dua kali liat penampakan. Ya Alloh, jadi parno, deh”
Walau mengeluh, tapi Icha tetap beranjak dari duduknya. Dia memberanikan diri untuk berjalan melalui jalur yang melewati pinggiran hutan.
*AUUUUUUKKKK*
*GUK GUK GUK GUK GUK*
Terdengar suara serigala bersahutan dengan suara anjing. Di sekitaran tempat itu memang masih banyak terdapat anjing. Baik yang masih liar maupun yang dipelihara warga sebagai penjaga ternak.
*Sraaaaakkk*
Icha terkejut mendengar suara semak-semak beradu satu sama lain. Tepat di dekat dimana dia berada. Sebuah garis garis membelah semak-semak itu dari kejauhan mendekatinya.
“A... Apa itu?”
Langkah kaki Icha terhenti. Matanya terpaku pada garis yang semakin mendekatinya.
*Sraaaak*
“AAAAA”
Icha memekik kencang, walau sudah dia tahan. Tapi hanya beberapa detik saja dia terkejut. Karena ternyata itu tadi hanyalah sekawanan babi hutan yang lewat menyeberang jalan.
“Huuufftt Huuufftt Huuufftt Huuufftt”
Nafas Icha memburu saking terkejutnya. Seperti orang yang baru saja lari sprint.
“Huuuuuf, fiuuuhh”
Icha menghela nafas dalam. Dai berusaha menenangkan diri dari keterkejutannya. Butuh beberapa saat untuk dia meredakan degup jantungnya yang memburu. Tak kurang dari lima menit dia habiskan, untuk sampai bisa tenang kembali. Dia melanjutkan perjalanannya sambil tetap waspada.
“Kenapa masih nggak ada penerangan jalan, ya?” komentarnya.
Penerangan jalan dari depan saung tadi semakin lama semakin redup. Tak lama lagi, pasti akan segera gelap gulita.
“Ya Alloh, berasa kaya bukan orang sini. Rasanya jadi serem banget, jalan ini"
Karena jalanan semakin gelap, Icha menyalakan lampu flash ponselnya. Cukup terang di tengah kegelapan malam begini. Dia mulai memasuki pinggiran hutan.
Tempat yang dikenal menyeramkan. Sampai-sampai menjadi ikon desa itu. Karena banyaknya orang dari desa lain yang mengalami kejadian mistis saat melewati jalan ini. Tak peduli masih siang hari.
Pohon-pohon jati yang tumbuh besar menambah kesan angker tempat ini. Konon penduduk desa ini tidak berani menebang pohon-pohon jati di sini kalau hanya untuk menambah pundi-pundi kekayaan semata.
Karena sudah beberapa orang yang mengalami nasib buruk setelah melakukannya. Terkecuali memang terpaksa, baru bisa menebang jati-jati miliknya. Jadilah, masih banyak pohon jati berusia tua yang berdiri kokoh menjulang ke angkasa.
Suara desiran angin yang menggoyangkan daun-daun jati itu, menambah suasana sunyi. Bulu kuduk Icha meremang. Dia merinding merasakan suasana horor sendirian, hanya berteman lampu kecil.
Saat dia melihat pohon jati yang paling besar dan sudah lumutan, dia melihat ada kubangan besar di tengah jalan. Panjang kubangan itu lebih panjang dari lapangan voli.
Dengan lebarnya yang menutupi keseluruhan badan jalan.
Dengan perasaan was-was, Icha melipir ke pinggir kiri. Karena dia sudah menebak, kalau kubangan itu bisa sampai selutut, dalamnya.
Menepi hingga keluar jalan, itu berarti harus melewati akar dari pohon jati paling angker di jalur ini. Icha tak berani menoleh ke kiri. Melihat akar yang menyembul dari dalam tanah saja sudah membuat nyalinya menciut.
Cerita-cerita tentang kuntilanak, genderuwo dan sebangsanya, kembali terngiang di benaknya. Membuatnya mempercepat langkah kakinya.
“Alhamdulillah”
Dia mengucap syukur saat berhasil menghindari kubangan air itu. Sempat Icha mendengar ada suara orang berbincang-bincang. Dia tolehkan kepalanya ke belakang. Dia pikir ada orang lain yang hendak lewat, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
"Ya Alloh, itu tadi suara apa, ya? Kok ada suara tapi nggak ada wujudnya?"
Perasaan takut menjadi semakin menggelayut. Dia mempercepat langkah kakinya. Sesekali masih terdengar suara orang tergelak di belakangnya, seolah mengomentarinya. Tapi pas dia tengok, tidak ada siapa-siapa. Dia percepat lagi langkah kakinya, hingga seperti setengah berlari.
“Loh. Kok ketemu kubangan itu lagi?” tanya Icha kaget.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments