bertemu bapak dan dia

“Loh. Kok ketemu kubangan itu lagi?” tanya Icha kaget.

“Lah. Itu, jati tadi” kata icha lagi.

“Astaghfirulloh”

Dia menyadari kesalahannya. Gara-gara terkonsentrasi pada kubangan di tengah jalan tadi, Icha jadi melupakan satu keharusan jika lewat jati kobeng di malam hari, yaitu membaca ayat kursi.

“A’udzubillahi minassyaitonir rojim”

“Ha ha ha ha ha ha”

Saat icha mengucap ta’awudz, terdengar tawa kuntilanak dari arah atas. Reflek Icha mendongak. Di atas sebuah dahan, Icha melihat sesosok wanita berjubah putih sedang duduk mengayun-ayunkan kakinya. Di pangkuannya ada sesosok balita sedang dia pegangi.

Keduanya memilki persamaan, kulit wajahnya sama-sama rusak. Dalam terpaan cahaya lampu ponsel, Icya bisa melihat sebelah mata mereka hilang, dan kulit separuh kepala keduanya habis dimakan ulat. Menyisakan tengkorak putih tapi kotor. Bahkan di mulut sang balita, ada sebuah pisau dapur yang menancap.

“Allohu la ilaha illa huwal hayyul qoyyum....”

Icha mulai melafadzkan ayat kursi. Baru juga sepenggal, dia merasakan adanya gangguan lain. Terdengar suara gamelan khas reyog ponorogo.

Seorang jathil cantik menghampirinya dengan menari. Seperti saat menghampiri dadak merak. Senyum penari itu sangat manis, sehingga Icha tak merasakan takut.

*DUEEENG*

“AAAAAA”

“Ya’ lamuma baina aidihim.....”

Icha berteriak saking kagetnya, saat tiba-tiba terdengar suara seng jatuh dengan kerasnya, bersamaan dengan si jathil yang membuka mulutnya. Dan mulut itu bisa melebar sampai tulang belakang. Kulit wajahnya sobek begitu saja.

Ichapun mempercepat bacaannya sambil memejamkan matanya. Dia ketakutan saat jathil itu seperti hendak melahapnya.

*Hi hi hi. Kamu manis sekali cah ayu. Ayo, ikutlah menari bersamaku. Kamu baru saja pulang, kamu layak untuk disambut meriah*.

Terdengar bisikan di telinganya, membuat Icha keluar keringat dingin.

*Minuman segar telah tersedia untuk melepas dahagamu, cah ayu. Ayo, ikutlah denganku*!

"Alloha la ilaha illa huwal hayyul qoyyum..."

Icha menyentakkan tangannya saat mengulang ayat kursinya. Jathil tadi menarik tangannya, hendak membawanya ke hutan.

*Ayo cah ayu! Makanan lezat juga telah tersaji untuk melepas rasa laparmu. Tilam sari juga telah tersaji untuk melepas penatmu. Kamu tamu istimewa. Kamu layak disambut bagai ratu, cah ayu*.

Tak cukup satu kali, dua kali dibacakan juga, suara jathil itupun masih saja terdengar. Butuh lima kali sampai suara jathil dan suara-suara lain itu benar-benar hilang.

Perlahan Icha membuka matanya. Saat dia dapati di depannya sudah tidak ada si jathil menyeramkan tadi, Icha langsung berlari, pergi dari tempat itu. Tak peduli dimana si kunti berada.

*Gluduk gluduk gluduk*

Terdengar suara menggelinding dari arah belakang Icha. Tak lama kemudian ada sebuah benda bulat yang menggelinding menyalipnya. Icha sempat mengira kalau itu adalah buah kelapa yang jatuh. Tapi saat dia berhenti dan menoleh ke belakang, dia tidak mendapati satu pohon kelapapun tumbuh di sana. Hanya ada pohon jati.

“Itu tadi apa?” gumamnya.

Dia mulai berjalan lagi. Dengan perasaan takut, dia berjalan ke tengah, menghindari benda bulat yang menggelinding tadi.

Perasaannya semakin tidak enak saat dia semakin dekat dengan benda itu.

Kalau dibilang kelapa, ada semacam rambutnya. Seperti ijuk pohon salak. Dan lebatnya sampai tergerai ke belakang.

Icha penasaran dengan benda itu. Walau takut, dia memberanikan diri untuk mendekat. Dengan kaki kirinya, dia mencoba menggelindingkan benda itu.

“Baaa”

“AAAAAAA”

Betapa terkejutnya Icha. Saat benda bulat itu menggelinding sekali, sisi yang tadi menghadap tanah, berubah menjadi sebuah wajah yang menyeringai padanya.

“IBUUUUU”

Dia berteriak memanggil ibunya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan payungnya yang terbang terbawa angin. Dia berlari dengan kencangnya.

*Gluduk gluduk gluduk*

“Hi hi hi hi”

Kepala tanpa badan tadi kembali menggelinding dan seolah mengejar Icha. Dia menyalip dari kanan.

“ASTAGHFIRULLOOOOH”

Icha berteriak mengucapkan istighfar.

“Hi hi hi hi”

Kepala itu malah berhenti di depan Icha. Sengaja dia menakuti Icha dengan menampakkan wajahnya ke hadapan Icha.

“PERGI KAMU MAKHLUK JELEK!”

*Duaakk*

“Yuuh”

“IBUUUUU”

Icha menendang kepala itu dengan kencangnya. Kepala itu melambung jauh entah kemana. Icha terus berlari sambil memanggil ibunya. Tentu saja ibunya tidak bisa mendengarnya. Masih cukup jauh untuk bisa sampai rumah.

Sepanjang jalan, tak ada satu rumahpun yang pintunya terbuka. Lampu-lampunyapun sudah tidak menyala. Membuat suasana jalan desa ini tak ubahnya seperti jalan angker di pinggir hutan tadi. Namun itu tidak penting. Dia terus berlari walau nafasnya sudah mulai tersengal.

“IBUUUU”

Saat dia melihat rumahnya sudah dekat, dia berteriak lagi. Tak lama kemudian, yang dia panggil muncul di pinggir jalan bersama beberapa orang lainnya.

“IBUUUU”

Sekali lagi dia berteriak sambil terus berlari. Walau sudah tinggal lima meteran lagi.

“Icha, awaaas!”

“AAAA”

Bruuukkk

“ICHAA”

Icha tersandung batu, karena tidak memperhatikan tanah yang dia lalui. Dia jatuh tepat di hadapan ibunya. Sontak ibunya membungkuk untuk menolongnya. Tapi Icha yang masih ketakutan, tidak mau langsung berdiri lagi. Dia memeluk kaki ibunya dengan eratnya. Dia sembunyikan wajahnya di betis sang ibu.

“Kita masuk dulu, nduk! Di sini basah. Bajumu juga basah. Yuk!” ajak ibunya.

Dengan masih memeluk erat ibunya, Icha mau diajak masuk ke dalam rumah. Itu juga dia tidak mau langsung berganti pakaian. Dia masih ketakutan. Dia masih memeluk erat ibunya. Bahkan tas punggungnya juga belum dia letakkan. Butuh waktu lama baginya untuk menenangkan diri.

“Kok nggak nelpon ibu, nduk?” tanya ibunya, setelah Icha tenang.

Icha tidak segera menjawab. Dia menebar pandangan ke arah jendela terlebih dahulu. Merasa tidak ada yang mengikuti, Icha baru menatap ibunya. Mimik wajah ibunya seperti mengulangi pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. Barulah Icha paham.

“Ibu sih, beli hape nggak sekalian towernya” jawab Icha asal.

Para tetangga yang sedang bertamu tergelak mendengar jawaban Icha. Walau terkesan asal dan berkelakar, tapi semua orang paham apa maksud Icha. Bahkan ada yang sampai memeriksa ponselnya. Dan mengkonfirmasi kalau sinyal telepon sedang down, alias menghilang.

“Mbak Icha lupa berdoa, ya?” tanya seorang anak perempuan. Mungkin di usia SMA.

Icha tak langsung menjawab. Dia tersenyum kecut dan mengangguk.

“Iya, Tik” jawab Icha kemudian.

“Ya udah. Minum dulu, mbak!” kata anak perempuan itu lagi. Dia menyuguhkan teh hangat kepada Icha.

“Makasih” jawab Icha.

Setelah rasa takutnya mereda, rasa dingin di tubuhnya mulai mengganggunya. Dan wedang teh yang masih mengepul asapnya itu, terlalu menggoda untuk dibiarkan. Diapun menyeruput sedikit.

“Eem”

Icha mengeluarkan suara aneh. Membuat anak perempuan yang menyuguhkan teh tadi bingung.

“Kenapa, mbak?” tanyanya.

Tapi Icha tidak segera menjawab. Dia menoleh kepada ibunya.

“Tika abis ditembak cowok ya, bu?” tanya Icha pada ibunya.

“Nggak tahu. Kenapa, emang?” jawab ibunya sambil tergelak.

“Ada gitu, bikin wedang teh pake garem?” tanya Icha.

“Ha?”

Anak perempuan yang membuat teh tadi terkejut. Serta merta dia mencicipi teh buatannya itu.

“Astaghfirulloh” ucapnya, merespon rasa yang dia kecap.

“Hempf. Ha ha ha ha”

Icha dan yang lain tertawa melihat ekspresi anak perempuan yang dipanggil Tika, itu. Dengan tersenyum malu, Tika membawa gelas wedang teh itu kembali ke belakang.

“Nduk. Sekalian siapin air panas buat mandi embakmu!”

Seorang laki-laki seumuran ibunya berseru sambil melihat ke arah belakang rumah, membuat Icha menoleh.

“Ya, pak” sahut Tika dari arah dapur.

Emosinya kembali menggelegak saat melihat bapaknya. Ingatannya akan perdebatan mereka tempo hari semakin mengobarkan amarahnya. Terlebih, bapaknya malah membawa serta perempuan, biang dari segala masalah di rumah ini.

*Dia memang lebih cantik sih, dari ibu. Pantes kalo bapak nggak bisa lupa sama dia. Tapi apa perjodohan masih bisa dijadikan alesan, kalo keduanya sama-sama nerima? Udah jadi anak, lho. Dua, lagi. Dan apakah janji yang terhalang restu masih dihitung dosa kalo nggak ditepati*?

“Nduk”

Teguran itu menyentakkan Icha dari lamunannya.

“Sungkem sama bapak!”

Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!