NGUUUUUUIIIIING..... NGUUUUUIIIING
Icha kembali terusik oleh suara keras yang memekakkan bagi telinganya. Perlahan, dia tertarik kembali ke alam sadar. Perlahan dia membuka matanya. Kepalanya terasa pusing.
“Eeh. Mbak? Udah siuman?”
Icha menoleh, mendengar teguran itu. Dia tidak langsung menjawab. Dia masih bingung. Dalam hati dia bertanya-tanya, mengapa adiknya tidur di kursi di pinggir ranjangnya?
“Udah. Kalo belum inget, nggak usah dipaksa!” kata Tika sambil tersenyum.
Perlahan ingatannya mulai kembali. Dia mulai ingat mengapa dia bisa pingsan. Ya, karena dia melihat penampakan di ruang tamu. Setelah pencarian ambulance yang tidak mereka temukan.
“Tadi embak denger suara ambulance lagi, dek” kata Icha.
“Iya, mbak. Yang barusan, Icha juga denger. Embak nggak ngigau” jawab Tika.
“Siapa yang sakit?” tanya Icha terkejut. Dia berusaha duduk, walau kepalanya agak pusing. Tika dengan sigap membantu kakaknya.
“Mbah Ijah” jawab Tika.
“Astaghfirullohal ‘adzim. Serius?”
“I.. Iya, mbak” jawab Tika tergagap. Dia seperti takut akan sesuatu.
“Ke depan, yuk!” ajak Icha. Tika mengangguk.
Tika memegangi lengan kakaknya, karena jalannya Icha masih sempoyongan. Sesekali Icha juga memegangi keningnya. Pertanda kepalanya masih terasa pusing.
“Loh, kok?’
Icha terkejut saat sudah sampai di ambang pintu depan. Ternyata hari telah berganti. Matahari sudah bersinar terang. Terlebih, tak hanya ambulance yang berada di dekat tikungan, ada mobil polisi juga. Warga sekitar juga banyak yang berkerumun di depan rumahnya.
“Nduk. Kamu udah siuman?” tanya bu Maryati.
Dia meminta ijin kepada polwan yang berbincang dengannya, untuk mendekati anaknya.
“Masih pusing?” tanya bu Maryati lagi. Icha yang masih bingung hanya mengangguk kecil saja.
“Duduk sini, Cha!”
Terlihat bulek Rini menyodorkan sebuah kursi plastik kepada Icha. Bu Maryatipun setuju dengan ide adiknya itu. Dia meminta Icha untuk duduk dulu.
“Kok banyak polisi, bu?” tanya Icha.
Bu Maryati tidak langsung menjawab. Dia sibuk memeriksa panas tubuh dan denyut nadi Icha.
“Itu kok ambulancenya ambulance jenazah, bu?” tanya Icha lagi.
Dia terkejut saat memperhatikan tulisan di badan mobil ambulance itu. Walau tertutup dedaunan tumbuhan pagar, tapi Icha bisa membacanya.
“Mbah Ijah meninggal, mbak” kata Tika.
“Apa? seriusan? Kapan?” tanya Icha kaget.
Bukannya menjawab, Tika malah menunduk. Dia seperti takut melihat tatapan mata kakaknya.
“Semalem, Cha” sahut bulek Rini, membantu Tika menjawab pertanyaan Icha.
“Inalillahi wa inna ilaihi roji’un. Jam berapa lek?” tanya Icha semakin penasaran. Membuat para polisi yang bertugas, memperhatikannya.
“Belum tahu, mbak Icha. Masih mau di otopsi” sahut polwan yang tadi berbincang dengan bu Maryati. Tertulis nama Sarah di seragamnya. Perhatian Icha beralih padanya.
“Tapi dugaan sementara, Mbah Ijah meninggal sejak sore hari”
“Sore? Ngaco. Siapa yang bikin dugaan?” tanya Icha tidak percaya.
“Nduk!” tegur bu Maryati.
“Kan malemnya kita masih ketemu, bu. Masih sehat, kan? Masa dari sore?” tanya Icha.
“Itu dugaan awal, mbak Icha” sahut polwan tadi.
Melihat senyum merekah di bibir polwan itu, Icha merasa seperti disadarkan, bahwa dia tidak seharusnya emosional begini.
“Maafin Icha, bu! Icha masih syok” kata Icha memina maaf.
“Iya, nggak papa. Berarti mbak Icha juga ketemu mbah Ijah, semalam?”
“Iya. Di depan rumahnya”
“Emang kenapa mbak, kok malam-malam ke rumah mbah ijah? Apa denger sesuatu?”
“Saya sih ke sana karena mobil Ambulance, bu” jawab Icha. Polwan itu menatap bu Maryati.
“Boleh diceritakan, mbak?” pinta polwan itu.
“Semalem itu, saya kebangun gara-gara denger sirine ambulance. Pas saya lihat, ambulance itu belok ke arah rumahnya mbah Ijah. Saya bangunin dong, adik saya. Saya bilang mbah Ijah sakit”
“Tebakan aja?” tanya polwan itu.
“Iya. Orang yang datang ambulance. Masa benerin genteng?” jawab Icha.
Beberapa orang tergelak mendengar jawaban Icha. Sedangkan polwan itu tersenyum kecut.
“Oke. Terus, ketemu sama sopir ambulancenya?”
“Justru itu yang aneh, bu. Ambulance itu ngilang gitu aja. Kita cari sampe ke depan rumah mbah ijah, juga nggak ada. Sampe kita cari ke kandang sana. Nggak ada juga”
“Jadi, itu ambulance betulan atau bukan?”
“Nggak tahu. Ngigau kali, sayanya” jawab Icha, disambut gelak tawa tetangganya.
“Dan mbah Ijahnya keluar, nemuin mbak Icha?” tanya powan itu lagi.
“Iya. Orang Tika juga sempet jelasin, kenapa kita debat di depan rumah beliau. Dan kata mbah Ijah, kalau beliau butuh bantuan, pasti bilangnya ke kita. Beliau nggak punya nomer ambulance, punyanya nomernya bapak sama ibu”
“Embak nggak liat ada keanehan di rumah mbah Ijah?”
“Keanehan apa?”
“Ya, bekas perampokan misal? Atau bekas ada tamu, mungkin?”
“Eeem”
Icha berusaha mengingat-ingat apa yang dia lihat semalam. Tapi dia merasa tidak memperhatikan rumah mbah Ijah.
“Saya nggak merhatiin rumah mbah Ijah, bu. Saya Fokus sama mbah Ijahnya” jawab Icha.
“Emang mbah Ijah dirampok, bu?” Icha balik bertanya.
“Dugaan sementara begitu”
“Astaghfirulloh. Terus, beliau meninggal karena apa?”
“Dugaan sementara, korban meninggal karena kepalanya dibenturkan ke tembok. Dan karena serangan jantung juga”
“Kepar**. Siapa yang tega ngelakuin itu pada mbah Ijah, bu?” kata Icha dengan suara menggeram penuh emosi.
“Nduk. Sabar, nduk!” tegur bu Maryati. Dia elus-elus punggung putri sulungnya itu.
“Manusia laknat. Siapapun kamu, kamu akan berurusan sama Icha” kata Icha lagi. Lirih dan menggeram. Kali ini giginya juga gemeretak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
lha kok.... iso...
btw kk ttp smgt yah...
2023-09-30
1