Awal masalah

Icha beranjak mendekat dan langsung melompat naik, saat salah seorang penumpang membukakan pintu untuknya. Icha memilih duduk di kursi paling belakang, di pojok kanan. Dia letakkan tas punggungnya yang terlihat berat itu di lantai.

 Saat mikrobus itu mulai berjalan, Icha melambaikan tangan ke arah Yuna. Yuna menyambut lambaian tangannya. Di dalam hati dia merasa bersyukur sekali, disaat dia membutuhkan pertolongan, ada orang baik yang dengan senang hati menolongnya.

   “Wah. Bakal ujan deras, nih. Ati-ati, pir!” kata salah seorang penumpang.

   “Iya. Makanya ini saya berangkat lebih awal. Lagian udah sepi, mbok” jawab si sopir.

Dia memegangi keningnya, seolah menyesali sesuatu. Ya, dia lupa mengenai payung ataupun jas hujan. Kalau sudah begini, dia hanya bisa mengandalkan jaket parasutnya. Berharap jaketnya bisa melindunginya dari hujan, jika hujannya belum berhenti saat dia harus sudah turun.

    Joko tingkir ngombe dawet. Jo dipikir marai mumet! .....

Ponsel wanita itu berdering. Dengan sedikit tergelak, dia mengambil ponsel itu dari saku jaketnya.

“Halo assalamu’alaikum” sapanya.

“Wa’alaikum salam”

Suara kalem keibuan menjawab dari seberang telepon. Icha tersenyum mendengarnya.

“Sudah sampe terminal, nduk?” tanya orang yang menelepon.

“Sudah, bu. Ini Icha sudah naik angkutan ke timur” jawab Icha.

"Nggak ada kendala kan, selama perjalanan?"

"Selama perjalanan sih, nggak ada, bu. Cuman mimpi buruk aja" jawab Icha sedikit berbohong.

"Ya Alloh, mimpi apa, nduk?"

"Haduh, serem banget pokoknya bu. Icha sampai nggak habis pikir, kok bisa Icha mimpi kaya gitu"

"Nggak baca doa ya, pas mau tidur?"

"He he. Namanya juga ketiduran, bu"

"Ya pantes. Makanya jangan lupa berdoa! Biar setan nggak bisa ganggu kita"

"Ibu pernah mimpi sesuatu yang nggak masuk akal nggak, bu?"

"Kaya yang kasusnya Putri itu? Belum pernah, sih. Emang kenapa, nduk?"

"Ibu tahu, Lurau Mardianto? Sama Sumarti?" Icha balik bertanya.

"Allohu Akbar. Itu mbah buyutmu, nduk. Orang tuanya mbah Topo"

"Kalau Raden Manaf?"

"Ya Alloh. Icha mimpiin beliau?"

"Iya, bu. Ya itu, yang Icha bilang horor. Lurah Mardianto, Sumarti, Janto, sama nenek-nenek yang dibilang emaknya lurah itu"

"Allohu Akbar. Mereka semua leluhurmu, nduk"

"Kalau begitu, apa wanita itu termasuk bagian dari rencana itu, bu?"

"Bukan" terdengar jawaban cepat dari seberang telepon.

Icha terkesiap. Terlalu cepat jawaban dari seberang telepon doa dapatkan. Seolah-olah yang di seberang telepon sangat mengetahui tentang ceritanya. Dia juga bingung, karena seolah-olah yang di seberang telepon itu membela wanita yang dia tanyakan.

"Ibu tahu soal itu? Ibu pernah bertemu Raden Manaf?" Tanya Icha kemudian.

"Belum. Tapi mbah Ismo pernah cerita"

"Ya Alloh. Ibu yakin wanita itu bukan bagian dari rencana manusia abadi itu?"

"Abadi dari mana? Udah almarhum, dia. Dia tidak punya keturunan. Jadi, tidak akan ada lagi yang ngincer anak-cucu beliau bertiga"

"Ibu yakin?"

"Yakin"

Icha terdiam. Dia sedang menganalisa ucapan ibunya. Di dalam hatinya dia belum merasa lega. Baginya, tidak mungkin dia diberikan penglihatan semacam tadi kalau tidak ada tujuannya.

“Sudah, sudah! Jangan mikirin itu dulu! Tugas Icha sekarang adalah pulang secepatnya. Udah kangen, tahu. Mau ngerampok juga, oleh-olehnya"

"He he"

Icha tergelak mendengar ucapan yang nada bicaranya mirip seorang sahabat. Padahal itu ibunya.

"Udah makan, belum?”

   “Udah, bu. Tadi ada yang jual nasi ayam. Nggak nyangka, enak lho, bu” jawab Icha.

Dia memilih untuk tidak menceritakan pengalaman menyeramkan yang baru saja dia alami.

   “Alhamdulillah”

   “Ibu, gimana kondisinya? Sudah baikan?” potong Icha.

   “Udah. Orang ibu nggak papa, kok”

   “Iya, deh. Ibunya Icha emang wonder women. Tapi banyakin istirahat ya, bu! Icha sedih kalo ibu sakit”

   “Iya, nduk. Segitunya mikirin ibu. Kamu ati-ati, ya! Nanti kalo udah mau turun, kamu telepon, ya! biar nanti dijemput bapak”

   “Ngapain, bu? Lagian, emang dia ada di rumah?” tanya Icha dengan nada ketus.

Sejenak, tak ada jawaban dari seberang telepon. Hanya helaan nafas yang lirih terdengar.

   “Ada. Itu lagi ngobrol sama tamu”

Jawaban dari seberang telepon itu, membuat wajah Icha berubah merah padam.

   “Ada ada wanita laknat itu ya, bu?”

Ibunya Icha tidak segera menjawab. Hal itu membuat Icha salah tingkah. Dia merasa bersalah telah menanyakan hal itu.

   “Iya, ada” jawab ibunya, kemudian.

   “Maafin Icha, bu!”

   “Kenapa harus minta maaf?”

   “Ya, Icha barusan salah nanya. Eemm, “

   “Nggak salah kok, nduk. Ya udah. Ati-ati, ya!” potong ibunya.

   “Ya, bu”

   “Eh bu. Mbah Ijah ada, kan?” tanya Icha.

   “Loh. Kok malah mbah Ijah yang ditanyain?”

   “Ya kan gantinya uti, bu. Yang ngayomin kita”

   “Heem. Siapa nih yang lebih disayang? Ibu apa mbah Ijah?” tanya ibunya.

   “Ya dua-duanya, bu. Semuanya Icha sayang” jawab Icha dengan nada merengek. Takut ibunya marah.

   “Ha ha ha. Iya, iya. Ibu bercanda. Udah, ati-ati, ya!”

   “Iya, bu”

   “Assalamu’alaikum”

   “Wa’alaikum salam”

    Huuufffttt

Icha menghela nafas berat. Belum juga hilang rasa syoknya dengan kejadian mistis tadi, pikirannya malah memutar ingatan menyedihkan. Dia sandarkan kepalanya di sandaran kursi. Pening terasa kepala itu memikirkan kejadian demi kejadian yang terjadi setengah tahun belakangan.

    Ya Alloh. Kenapa harus seperti ini? Kenapa engkau pertemukan lagi Bapak dengan mantan kekasihnya dulu? Sedih Icha, lihat ibu dimadu. Belum juga ibu bisa ikhlas menerima kenyataan bahwa dirinya dimadu, sekarang Engkau buat Icha kehilangan pekerjaan. Icha sedih ya Alloh, denger ibu sakit gara-gara mikirin icha.

Enam bulan lalu

  Icha sering terlihat murung karena memikirkan keadaan di rumahnya. Beberapa kali bahkan dia sampai mendapatkan teguran dari rekan kerjanya karena ketahuan melamun. Padahal mereka sedang bergelantungan di atas sebuah tangki minyak yang bukan main tingginya. Untungnya rekan kerjanya itu adalah kekasihnya. Jadi hanya teguran lisan saja yang dia dapatkan.

Ketika pulang kerja, disaat mereka mampir makan malam, sang kekasih suka menanyakan tentang masalahnya. Namun Icha selalu bilang baik-baik saja. Walau sebenarnya kesal, sang kekasih masih bisa bersabar. Dia masih setia mengantarnya sampai ke kontrakan dan menyatakan kesediaannya untuk menjadi tempat berbagi cerita.

Sering dia mendapatkan telepon dari adiknya,.yang selalu curhat mengenai tingkah polah sang bapak. Sering juga dia kepusingan, karena tidak tahu harus berbuat apa.

Terlebih ketika mendengar kabar, ibunya sudah sakit saja bapaknya masih nekad meminta ijin untuk menikah lagi. Bapaknya selalu beralasan kalau masih ada janji yang masih belum dia tepati. Walau janji itu dipertanyakan oleh Icha, karena terhalang restu, tapi bapaknya masih menganggap itu sebagai janji yang harus ditepati.

Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!