Tak lama kemudian, terlihat para petugas membawa jenazah mbah Ijah untuk diotopsi. Garis polisi juga dipasang mengelilingi rumah mbah Ijah. Icha berdiri dan langsung berlari menghampiri petugas. Bu Maryati yang kecolongan hanya bisa memekik dan mengejarnya.
Tapi karena karena jenazah mbah Ijah harus segera di autopsi, petugas yang membawa jenazah tidak mengijinkan Icha untuk melihat jenazah itu. Petugas lain yang berjaga juga menghalau Icha. Sama sekali Icha tidak diberi kesempatan, walau sudah menangis memohon-mohon.
“Nanti setelah diautopsi, jenazah akan kami kembalikan ke pihak keluarga. Jadi embak bisa mengurus jenazah almarhumah secara penuh” kata salah seorang polisi.
“Sabar, nduk!” hibur bu Maryati.
“Ya Alloh”
Icha merasakan tubuhnya kembali lunglai. Dia merosot ke bawah sampai bersimpuh di tanah. Petugas itu langsung meneruskan pembawaan jenazah mbah Ijah menuju mobil jenazah.
Tika masih merasa takut, mengingat pertemuan dengan mbah Ijah semalam. Kalau dugaan Polisi benar, mbah Ijah meninggal dari sore, terus yang mereka temui semalam, siapa? Pertanyaan itu terus terngiang di benaknya. Dia bersembunyi di dalam rumah saat ambulance itu lewat.
Ya Alloh. Apa ini de javu lagi? Walau nggak segamblang sebelumnya, tapi tetep jadi kenyataan. Icha jadi takut. Kalo soal ambulance itu de javu, terus, apa penampakan kepala tanpa badan itu juga de javu?
“Kita ke rumah, yuk!” ajak bu Maryati.
Icha tidak menjawab, tapi dia juga tidak menolak saat tubuhnya dipapah ibunya dan polwan bernama Sarah, tadi. Dia kembali duduk di kursi plastik di teras rumah.
Pak Sigit dan beberapa polisi tampak berjalan menuju rumah. Lalu seorang laki-laki datang menggunakan motor bebek. Pak Sigit langsung menunjuk orang itu. Dan polisi yang bersamanya langsung mendekat dan berbincang dengan laki-laki itu.
“Itu siapa, bu?” tanya Icha.
Walau hatinya masih sangat sedih, tapi ingatannya tergelitik pada laki-laki itu.
“Oh. Itu Herman, mantan karyawan bapak. Dulu dia yang jaga malem di kandang” jawab bu Maryati.
“Diberhentiin apa resign?”
“Di berhentiin”
“Kenapa?”
“Dia kecanduan judi. Udah sering kepergok nyolong bebek buat modal judi”
“Astaghfirulloh”
“Sering itu yang satu-dua. Yang banyakan, udah tiga kali, mbak” sahut Tika, menambahi.
“Oh. Terus, hubungannya sama kasus ini?”
“Panjang, nduk” jawab bu Maryati. Icha mengernyitkan keningnya.
“Dia itu banyak utangnya. Punya istri, punya anak. Dia nyolong, karena terpaksa, buat bayar utang. Itupun belum nutup”
“Ya itukan karena ulah dia sendiri, bu” potong Icha.
“Iya, sih. Kalo ngeliat ke sananya, emang semua berpikiran begitu. Tapi kalo mikirin istri dan anaknya, kasihan banget. Makanya sama bapak masih dikaryakan lagi. Tapi bukan di kandang. Dia ditugasi buat nganter makanan ke rumah mbah ijah. Terus, beres-beres rumah beliau”
“Nah. Kemarin, dia ada apa enggak, bu?”
“Itu dia kayaknya, yang lagi mereka tanyain. Dari pagi dia nggak nongol, kemarin. Tapi nggak ngabarin juga, lagi dimananya”
Pak Sigit dan para polisi itu berjalan menuju rumah. Termasuk dengan si Herman. Awalnya Icha biasa saja melihat kedatangan mereka. Tapi setelah dekat, raut wajahnya berubah.
“Mbak. Kenapa sih? Kamu kenal sama Herman?” tegur Tika.
Ya Alloh. Wajahnya kok mirip banget sama penampakan kemarin itu? Postur tubuhnya juga. Jangan dong! Jangan dong! Serem banget kalo apa yang Icha liat kemarin bakal jadi kenyataan.
“Nduk!” tegur bu Maryati.
Icha hanya menoleh. Lalu menoleh lagi ke arah Herman, yang dibawa polisi masuk ke dalam mobil patroli.
“Dia kenapa, mas?” tanya bulek Rini pada pak Sigit. Merujuk pada si Herman.
“Dimintain keterangan di kantor polisi. Saksi doang” jawab pak Sigit.
“Cih. Nggak meyakinkan banget, kalo cuman jadi saksi. Muka-muka kriminal gitu” komentar bulek Rini.
“Jangan ngomong gitu, Rin! Bisa keseret kalo sembarangan ngomong” tegur bu Maryati.
“Kamu kenapa, nduk?” tanya pak Sigit.
“Nggak tahu tuh anakmu. Lihat Herman kok jadi lola gitu” sahut bulek Rini.
“Herman? Kamu kenal dia, nduk?” tanya pak Sigit lagi.
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Icha masih syok.
“Enggak” jawab Icha kemudian.
“Terus?” tanya bulek Rini.
Icha tak langsung menjawab. Dia menggelengkan kepalanya.
“Kayaknya dia orang terkenal di sini. Sampe-sampe, setan aja mau-maunya niruin muka dia” jawab Icha.
“Hus! Jangan sembarangan ngomong, nduk! Kalo nggak kenal, nggak usah ikut-ikutan sebel!” tegur bu Maryati.
Icha memeluk tubuh ibunya. Ada rasa ngeri saat membayangkan kalau apa yang dia lihat kemarin akan menjadi nyata.
“Icha nggak sebel, bu. Emang Icha ngeliat penampakan mirip dia” jawab Icha sesenggukan, masih dengan memeluk ibunya.
“Jiah. Followernya setan. Ha ha ha” komentar bulek Rini, sambil tergelak
“Beneran, mbak?” tanya Tika.
“Seriusan” jawab Icha. Perlahan dia melepas pelukannya.
“Tanya aja sopir mikrobus yang kaca sampingnya retak satu!”
“Maksudnya? Nggak nyambung, deh” tanya Tika bingung.
“Ya. Kaca samping kanan bus itu, bagian paling belakang, tiba-tiba retak, “
“Kok bisa?” potong bulek Rini penasaran.
“Kata sopirnya sih, ada yang nimpuk batu. Tapi di mata Icha, itu bukan batu. Tapi kepala orang”
“Iih. Mbak Icha ih. Bikin parno, deh”
“Embak sendiri juga ketakutan, dek”
“Wajahnya mirip Herman?” tanya bapaknya.
Icha mengalihkan pandangannya ke bapaknya. Tapi sempat termenung.
“Iya, pak. Mirip banget” jawabnya kemudian.
“Kepala doang?”
“Iya”
“Aduh ngilu semua badan Icha, bu” keluh Icha.
Dia terbayang-bayang lagi kepala tanpa badan, dan badan tanpa kepala kemarin. Dia memeluk lagi tubuh ibunya. Bulu kuduknya meremang, saat teringat tubuh terikat yang terjatuh dari atas bukit. Tubuh yang masih bergerak-gerak dan mengucurkan banyak darah dari leher yang sudah tidak berkepala.
“Udah, udah, udah! Jangan diinget-inget!” saran bu Maryati sambil mengelus-elus kepala putri sulungnya.
Beranjak siang, para tetanggapun satu persatu membubarkan diri. Mereka yang punya pekerjaan, merasa terpanggil untuk menjalankan kewajiban itu. Hingga menyisakan para petugas kepolisian dan beberapa warga yang sepertinya tidak punya pekerjaan.
Polwan bernama Sarah tadi mengajak pak Sigit sekeluarga ke polres untuk dimintai keterangan seputar pertemuan mereka dengan almarhum mbah Ijah semalam. Tika sempat takut, tapi akhirnya mau ikut setelah diberi penjelasan oleh polwan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈
hahhhhhh.... icha keren deh
2023-09-30
0