Drama pas makan malam

   “TOLOOOONG”

Terdengar teriakan minta tolong dari arah depan. Perhatian mereka berdua langsung tersita ke depan. tak berapa lama kemudian, terlihat ketiga bocah tadi berlarian ke arah mereka.

   “Eh eh, ada apa?” tanya Tika, saat mereka sudah dekat.

   “ADA MBAH IJAAAAAH”

Ketiga anak itu terus berlari melewati keduanya begitu saja. terus berlari sampai menghilang di belokan belakang rumahnya. Jalan yang tembus ke samping rumah mbah Ijah.

   “KE RUMAH PAK AZIZ AJA, FAN!”

Walau sudah tidak terlihat lagi, tapi suara teriakan mereka masih terdengar. Tika jadi takut karenanya. Tak lama kemudian, suara derap kaki ketiga bocah itu sudah menggema di atas kepala mereka. ya, mereka melintasi jalan atas yang memutar.

   “Mbak. Pulang aja, yuk!” ajak Tika.

   “Hem?” Icha sempat tidak tersambung.

   “Lah. Gimana, sih? Tadi ngebet pengen duluan, sekarang minta pulang”

   “Ya kan ada mbah Ijah, mbak” jawab Tika.

   “Hadeeh. Orang belum liat kok udah takut?” ledek Icha.

   “Emang embak berani?”

   “Ya kita lihat dulu. Belum tentu juga kita bisa ngeliat”

   “Kita lewat rumahnya pak Aziz yuk, mbak!”

   “Sama aja, Tika. Paling mereka liatnya juga di rumpun bambu itu. Lewat sana juga ngelewatin rumpun bambu itu” tolak Icha.

   “Aduh. Gimana, ya?”

   “Udah hayu lanjut! Keburu maghrib” ajak Icha sambil beranjak jalan.

   “Mbak. Tungguin!” panggil Tika.

Mau tidak mau Tika harus ikut berjalan. Karena akan lebih menyeramkan kalau harus jalan sendirian. Sepanjang jalan mulutnya berkomat-kamit membaca surat-surat pendek. Icha tergelak melihat ekspresi adiknya. Walaupun dia juga sama, sedang melafadzkan surat-surat pendek, di dalam hati.

   “Mbak”

Tika menggamit dam memeluk tangan Icha saat hendak melewati rumpun bambu itu.

   “Tenang, dek. InsyaAlloh nggak ada apa-apa” kata Icha menenangkan.

Mereka terus berjalan sambil terus waspada. Dari arah jalan atas, terlihat ketiga anak laki-laki tadi di kejauhan. Mereka berjalan bersama pak Aziz dan beberapa warga lainnya.

   “Alhamdulillah. Aman, kan?” kata Icha, sesampainya di pertigaan jalan.

   “Serius aman, mbak?” tanya Tika.

Ternyata semenjak memeluk tangan kakaknya tadi, Tika memejamkan matanya. Sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya.

   “Mana? Nggak ada, kan?”

Icha memutar tubuh adiknya hingga menghadap ke rumpun bambu itu. Walau terkejut, tapi Tika bisa bernafas lega. Karena ternyata tidak ada penampakan di sana.

   “Alhamdulillah” ucap Tika lega.

   “Kira-kira, yang diliat bocah-bocah tadi, beneran mbah Ijah apa bukan ya, mbak?” tanya Tika.

   “Setahu embak sih, orang yang sudah meninggal itu sudah terlepas hubungannya dengan dunia. Kalaupun diijinkan kembali, itu hanya di atas makamnya sendiri. Nggak bakal kemana-mana” jawab Icha.

   “Heem. Semoga aja begitu. lha terus, yang mereka lihat tadi, apa?”

   “Ya nggak tahu. Bisa aja itu perbuatan jin penunggu rumpun bambu itu” jawab Icha.

   “Ya udah yuk, mbak! Serem, ih” ajak Tika, begitu melihat ada batang bambu yang bergerak melambai-lambai.

   “Itu kena angin, dek” kata Icha beropini. Tapi dia juga mengikuti adiknya balik kanan.

   “Haa”

Icha terkejut bukan main, sampai tubuhnya diam tak bergerak.

   “Kenapa, mbak?” tanya Tika bingung.

Tapi Icha tidak menjawab. Matanya terbelalak menatap kedepan. Di matanya, dia melihat sosok yang tadi malam dia cari. Seharusnya sosok itu tidak mungkin akan dapat dia jumpai lagi, karena sosok itu sudah dipendam di dalam bumi. Tapi sekarang sosok itu sedang berdiri menatapnya. Ada senyum tersungging di bibir sosok itu, tapi juga ada air mata yang meleleh di pipinya.

   “Mbak. Kenapa, sih? Jangan bikin takut, deh!” tegur Tika.

Tapi lagi-lagi Icha tidak merespon. Hatinya sedang berdebat dengan logikanya. Rasa rindu yang berat itu membuatnya ingin mendekati sosok itu. Tapi kenyataan bahwa sosok itu telah meninggal, membuatnya bertanya-tanya, siapakah yang dia lihat ini? Setankah?

   “Nduk”

   “Haa”

Sebuah tepukan di pundaknya menariknya ke alam sadar. Dia bingung melihat banyak orang di sekitarnya. Dan ada kedua orang tuanya di belakangnya.

   “Tuh, kan. Mbak Icha aja sampe ngefreeze gitu, pak Aziz” kata salah satu bocah tadi.

   “Kamu ngeliat apa, nduk?” tanya bu Maryati.

Icha tidak langsung menjawab. Dia masih terlihat bingung. Dia menoleh ke arah depan lagi. tapi sosok mbah Ijah tadi sudah tidak dia temukan lagi.

   “Mbak Icha liat arwahnya mbah Ijah, ya?” tanya bocah tadi.

Perhatian Icha tersita pada sumber suara itu. Sesaat ingin dia membenarkan apa yang ditanyakan bocah itu. Tapi kalau itu dia lakukan, maka akan terjadi fitnah dan kehebohan, tentang arwah mbah Ijah yang gentayangan. Dia tidak mau hal itu terjadi. Dia menggelengkan kepalanya.

   “Bukan. Itu tadi, kuntilanak” jawab Icha. Entah bisa disebut berbohong atau tidak.

   “Tuh. Itu tadi jin penunggu rumpun bambu itu, Ki” sahut pak Aziz.

   “Tapi tadi kita lihatnya tuh, mbah Ijah, pak”

   “Namanya jin, bisa nyerupain apa aja. Niru kamu juga bisa”

   “Ih. Bapak. Malah nakut-nakutin aja” protes bocah itu.

   “Ya udah, yuk kita ke mushola!” ajak pak Aziz.

   “Yuk” sahut pak Sigit.

Merekapun berjalan bergerombol. Bocah-bocah itu masih waspada. Takut kalau tiba-tiba dicegat sosok mbah Ijah lagi.

Di rumah bu Supin, ternyata sudah rame ibu-ibu yang hendak meracik makanan untuk tahlilan. Saat bu Maryati dan keluarga datang, mereka berhenti merumpi. Membuat Tika curiga.

Karena waktu maghrib sudah tiba, mereka dihimbau untuk sholat berjamaah terlebih dahulu. Di saat antri wudhu, ada yang kelepasan bicara, kalau mereka tadi sedang membicarakan arwah mbah Ijah. Ternyata bukan hanya ketiga bocah tadi yang dihantui arwah mbah Ijah. Beberapa ibu-ibu juga sempat ditemui sosok mbah Ijah. Tempatnya berbeda-beda, tapi yang jelas, tempat-tempat itu adalah tempat yang sering dilewati almarhumah.

Mendengar perbincangan itu, Icha merasa sedih. Pengetahuannya yang terlalu dangkal soal arwah, membuatnya bertanya-tanya, apakah yang mereka temui itu benar-benar arwah mbah Ijah, atau bukan.

Tapi yang jelas, satu tepukan di punggungnya, sukses membuatnya beranjak dari tempat berwudhu. Ibunya tersenyum dan berjalan mengiringinya masuk ke dalam mushola.

Setelah sholat maghrib berjamaah, cara tahlilanpun dilasanakan. Icha dan Tika mengikuti ibunya, meracik makanan untuk para peserta tahlilan.

Di teras bu Supin, acara merumpipun ikut digelar kembali. Bahkan ada ibu-ibu yang terang-terangan berghibah ria tentang kemunculan arwah mbah Ijah, yang menurutnya gentayangan. Sontak ghibahan itu memancing opini dari ibu-ibu yang lain, dengan pengalaman masing-masing di kala surup tadi. Mereka seolah tak peduli dengan keberadaan Icha sekeluarga, yang merupakan keluarga terdekatnya mbah Ijah.

Lama-lama Icha tidak kuasa mendengar ghibahan mereka. lalu dia pamit pulang lebih awal, dengan alasan kepalanya pusing. seolah tidak merasa bersalah, ibu-ibu yang berghibah tadi malah memberikan saran pada Icha untuk minum ramuan ini dan itu, karena kata mereka cocok buat yang habis perjalanan jauh. Tika ikut pulang dengan alasan menemani kakaknya. Tinggallah bu Maryati yang bertahan dengan segala ghibahan para tetangganya.

Setelah acara tahlilah dilaksanakan, pak Sigit kembali pulang. Tapi kali ini tak hanya dengan bu Maryati, ada bu Sari yang ikut serta. Icha menyambut mereka dengan hangat, tapi lain dengan Tika. Dia tampak tidak bersahabat. Alih-alih salim, dia malah langsung masuk ke dalam kamarnya.

Saat diajak makan bersama, Tika lebih memilih menggoreng telur daripada makan soto buatan ibu tirinya, yang kaya akan suiran daging ayam itu. Bu Sari memaklumi sikap Tika, yang belum menerima kehadirannya.

   “Pak. Gimana hasil penyelidikan polisi?” tanya Icha, sembari menunggu makanan disiapkan bu Sari.

   “Penyelidikan masih berlangsung. Polisi masih olah TKP. Keliatan kan, ada beberapa mobil di depan?” jawab pak Sigit.

   “Jadi, belum ada pernyataan dari polisi, pak?”

   “Ya baru yang tadi itu. Soal kerampokan, dan perkiraan sebab kematian mbah Ijah”

   “Icha agak bingung, pak. Emang mbah Ijah punya simpenan apa, sampe dirampok? Icha belum pernah liat ada sesuatu yang menarik buat dirampok deh, pak”

   “Kalo sekarang emang aneh, sih” sahut bu Maryati.

   “Kalo dulu tuh, di tahun tujuh puluhan, nggak aneh” lanjut bu Maryati.

   “Kok bisa, bu?” tanya Icha.

   “Mbah Ijah pernah nikah sama juragan toko emas” sahut pak Sigit.

   “Oh, ya? Baru tahu, Icha”

   “Ya. Tapi emang, suaminya mbah Ijah berpulang duluan. Setelah kerampokan pas abis belanja perhiasan emas”

   “Innalillahi. Dianiaya rampoknya, pak?”

   “Enggak. Meninggalnya sih, karena sakit. cuman ya, mungkin sakitnya karena kepikiran aja, sama peristiwa kerampokan itu”

   “Dan nggak ninggalin warisan, pak?” Tika ikut bicara.

   “Keliatannya?” pak Sigit balik bertanya.

   “Itu dia, pak. Tika juga sama bingungnya sama mbak Icha. Icha belum pernah liat ada yang sangat berharga yang sampe ngundang perampok” jawab Tika.

    Tik tuk

Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya Icha. Melihat siapa yang mengirimi pesan singkat, Icha meletakkan sendoknya, dan mengambil ponselnya.

    Klunting

Karena tidak memperhatikan letak sendoknya, alhasil sendoknya terjatuh.

   “Cuci dulu, nduk!” saran bapaknya.

Ichapun beranjak dari kursinya. Dia menuju tempat mencuci piring.

    Ceeesssss

   “AAA”

Icha tiba-tiba memekik kencang.

   “Kenapa, nduk?” tanya bu Maryati.

Icha sempat tertegun, dan memainkan keran air di tempat mencuci piring itu.

   “Enggak. Kecoak. Tadi nongol antenanya, dari bawah. Icha kaget” jawab Icha.

   “Ooh”

Semuanya tergelak mengingat pekikan Icha yang cukup mengagetkan tadi. Ternyata hanya kecoak. Tapi jawaban tadi bukanlah jawaban jujur. Icha hanya asal menjawab saja. Dia sendiri belum yakin dengan apa yang dia lihat.

 Entah betulan atau dia masih kelelahan. Air keran yang seharusnya bening, di pandangan mata Icha tiba-tiba saja berubah menjadi merah pekat dan kental seperti darah. Tapi setelah dia memekik, air tadi kembali jernih seperti seharusnya.

Icha menggelengkan kepala, menepis pikiran-pikiran tentang setan. Dia percepat proses mencuci sendoknya, agar bisa segera melanjutkan makan malamnya.

   “Ha?”

Dia memekik lagi. Tapi kali ini tanpa suara. Saat dia hendak melangkah kembali ke meja makan, mendadak dia melihat pemandangan yang mengejutkan di meja makan. Soto ayam yang dibawa ibu tirinya, seolah berubah menjadi kuah darah dengan isian belatung, dan cacing cincang. Sempat juga dia melihat potongan jari kecil seperti jari bayi. Satu suap bahkan sudah masuk ke mulut ibunya. Sudah tertelan, dan akan menyuap untuk yang kesekian kalinya.

Icha langsung merasa mual. Icha ingin mengingatkan ibu dan bapaknya, tapi pasti dianggap mengigau lagi. Dia berpikir keras, bagaimana caranya agar dia didengarkan.

   “Hemp”

Terdengar suara mual. Membuat semua orang menoleh lagi ke arah Icha.

   “Hemp”

Mengingat belatung-belatung itu masuk ke dalam perutnya, membuat Icha tak kuasa menahan mual. Dia memutar badan menghadap tempat mencuci piring, bersiap jika tidak tahan untuk muntah.

   “Mbak. Kamu kenapa?”

Tika bangkit dari duduknya dan mendekati kakaknya.

   “Heem.... heemmmm”

Icha tidak menjawab. Dia malah menggeram-geram.

   “Mbak?”

Tika bingung melihat kakaknya menggenggam sendok dengan tangan kaku. Juga mata yang melotot penuh kemarahan.

   “Jangan makan makanan itu! Aku kesakitan” kata Icha pelan dan menggeram.

   “Makan, makanan mana? Soto apa telur?” tanya Tika.

   “JANGAN MAKAN MAKANAN ITU!!!” kata Icha sambil mengayunkan sendok di tangan kanannya.

   “AAAA”

   “AWAAASSS!!”

    Wuusss

Sendok itu hanya membelah udara. Di waktu yang tepat, pak Sigit menarik Tika menjauh.

   “AKU KESAKITAAAAAN”

    Braaang

   “AAAWW”

Icha menggebrak meja makan dengan kerasnya. Bu Maryati dan bu Sari berteriak ketakutan. Bu Sari bahkan sampai lari ke depan rumah, menghindari amukan Icha.

   “JANGAN MAKAN MAKANAN ITU. AKU KESAKITAAANN”

     Sraaaaang praaaang

Icha mengobrak-abrik seisi meja. Dia sendiri ketumpahan kuah soto itu.

   “Icha” panggil pak sigit

    Deerrrt

   “Aaaakkk”

Seperti tersengat listrik, sentuhan dua jari pak Sigit di dada Icha, sanggup membuat Icha pingsan. Pak sigit membopong putri sulungnya itu ke kamarnya. Dia meminta bu Maryati untuk mengganti pakaian Icha yang basah ketumpahan kuah soto.

Terpopuler

Comments

Afri

Afri

itu lahnya Bu dari yg jumpaiin dukun .. yg merubah biji bijian menjadi serbuk putih ..
karena Icha ada yg jaga badan .. maka nolak d tubuhnya

2023-11-05

2

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

apa jangan2 ibu tiri nya itu ingin melenyapkan semua ya.. kok bs sih

2023-10-02

0

lihat semua
Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!