bayangan masa lalu

"Adek ngapain, di sini?"

Gadis itupun membuka matanya. Betapa terkejutnya dia, menyadari bahwa dia tidak sedang berada di koridor terminal. Melainkan berada di tengah-tengah kuburan.

Diapun beranjak bangun dengan wajah kebingungan.

Dia memindai sekitarnya, tak satupun yang sama dengan yang baru saja dia lihat. Ponselnyapun ternyata masih dalam posisi terkunci. Saat dia menengadahkan kepalanya, seorang bapak-bapak dengan sarung di pundak sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir.

"Pak. Ada siapa?"

Terdengar seseorang berseru dari kejauhan. Sosoknya terlihat jelas meski cukup jauh. Seorang wanita muda, seumuran dengan gadis itu. Wanita itu berjalan menghampiri mereka.

"Ajak ke rumah dulu aja, pak! Kayaknya embaknya ketakutan" kata wanita itu, setelah mencapai posisi mereka.

"Adek, ini anak bapak. Kita ke rumah bapak duku, yuk! Adek sepertinya baru datang dari jauh" ajak bapak itu.

Gadis itu tidak segera menjawab. Dia masih bingung dengan apa yang tengah terjadi dengannya. Apakah ini halusinasi, atau malah yang di koridor tadi, yang halusinasi? Pertanyaan itulah yang mengemuka di benaknya.

"Mbak. Kalau yang sekarang ini, embak udah di alam nyata" kata wanita itu sembari jongkok di depan gadis itu. Gads itu memperhatikannya.

"Kalau yang sebelumnya, itu embak lagi diganggu" lanjutnya. Gadis itu masih tidak bergeming.

"Yuk mbak, kita rehat di teras! Itu rumah kami" kata wanita itu lagi. Dia menunjuk salah satu rumah, tepat di arah dimana dia datang tadi.

Walau masih super bingung, namun gadis itu menganggukkan kepalanya. Sebuah senyum dia dapatkan dari wanita yang mengajaknya. Dia masih memasang sikap waspada, barangkali ini adalah halusinasi juga.

Sekeluarnya mereka dari area makam, banyak orang yang mendatangi mereka. Orang-orang yang merupakan warga sekitar, menanyai perihal gadis itu. Beberapa orang diantara mereka malah bercerita sendiri, kalau ini adalah kali ke tiga ada orang yang diganggu sampai terdampar di makam itu.

Karena gadis itu masih syok, mereka sepakat untuk memberikan waktu untuk gadis itu menenangkan diri.

Merekapun membubarkan diri. Sang tuan rumah dengan sabar menemani gadis itu. Bahkan kini lengkap dengan sang istri pula. Mereka mengajak gadis itu berbincang, walau pastinya belum mendapatkan respon positif. Butuh waktu lama bagi gadis itu untuk bisa keluar dari ketakutannya.

"Nama saya Icha, pak" kata gadis itu memperkenalkan diri.

"Oh. Adek namanya Icha? Saya Hartono. Istri saya, Astri. Anak saya, Yuna" sahut sang tuan rumah.

"Terimakasih pak, sudah mau menolong Icha. Kalau bapak tidak menemukan Icha, nggak tahu deh, Icha bakal kaya gimana"

"Sama-sama, dek Icha. Bukan hal aneh lagi di sini. Setiap tahun ada saja yang nyasar ke makam itu"

"Kalau boleh tahu, tadi mbak Icha ngeliat apa?" Tanya Yuna. Perhatian Icha teralihkan.

"Aduh. Pemandangan yang ngeri banget, mbak Yuna. Penyiksaan yang sangat tidak manusiawi" jawab Icha.

Suaranya berat, menggambarkan kegeraman dan kesedihan. Air matanya juga meluncur begitu saja. Dia juga menceritakan apa saja yang dia lihat di koridor tadi.

"Apa yang dek Icha lihat itu, adalah bayangan masa lalu, dek"

"Bayangan masa lalu, pak?"

"Iya. Apa yang dek Icha ceritakan adalah kejadian nyata di masa lalu. Kekejaman yang dilakukan sekelompok orang yang organisasinya sudah dibubarkan mbah Harto. Adek tahu kan, maksud saya?"

"Ya. Dari penggunaan bambu itu, persis seperti foto diorama yang pernah Icha lihat" jawab Icha.

"Dulu, bangunan lama terminal itu, nyambung sampai ke ujung belakang kuburan itu" kata pak Hartono menunjuk ke makam. Icha menoleh ke arah yang ditunjuk pak Hartono.

"Bangunan itu dulunya adalah kantor milik pemerintah kolonial Belanda. Orang pribumi nyebutnya, benteng" lanjut pak Hartono.

"Benteng itu, bukannya bangunan rumah sakit ya, pak?" Tanya Icha.

"Itu benteng wetan. Yang terminal ini, benteng kulon" jawab pak Hartono.

"Oh" Icha mengangguk-angguk mengerti. Dia baru tahu soal itu.

"Benteng kulon sempat dikuasai orang-orang itu, dan digunakan untuk membantai orang-orang yang mereka cap sebagai setan desa. Banyak yang gugur di benteng itu" kata pak Hartono.

"Lalu, kenapa benteng itu menghilang, pak?"

"Benteng kulon terbakar hebat saat TRI melakukan penumpasan kepada mereka. Ya, nggak masuk sejarah, sih. Tapi memang ada pertempuran di sini"

"Oh"

"Qodarulloh, benteng kulon hampir hilang tak berbekas. Tersisa bangunan yang dipakai buat teminal, dan pohon beringin itu" kata pak Hartono, menunjuk pada beringin di tengah makam.

"Setelah itu, tanah benteng ini diambil alih pemerintah dan dibagikan kepada warga. Khusus bagian belakang ini, di situlah tempat pembantaiannya. Makanya tidak ada yang mau dikasih tanah itu. Dengan kesepakatan bersama, tanah itu dijadikan pemakaman"

"Sungguh biadap" kata Icha lirih.

Dia menangis mengingat bayangan kekejaman yang tadi dia lihat. Yuna mendekat dan menghiburnya.

"Adek yang hati-hati, ya! Jangan suka ngelamun! Mata batin adek sensitif. Bisa jadi, akan ada makhluk tak kasat mata yang usil pada adek. Atau adek tanpa sengaja masuk ke dimensi gaib"

. "Astaghfirulloh. Lalu Icha harus bagaimana pak?"

"Banyak berdzikir saja! Dan jangan banyak melamun. Lebih baik tidur kalau sedang dalam perjalanan menggunakan kendaraan umum"

"Memangnya adek ini dari mana dan mau kemana?" Tanya bu Astri.

"Saya dari Tangerang bu, mau ke Sido Dadi" jawab Icha.

"Loh. Arah ke timur tinggal satu angkutan lagi lho, dek. Nginep aja, ya?" Seru bu Astri.

"Terimakasih, bu. Tapi Icha lagi ditungguin ibu Icha"

"Anterin aja, pak! Kasihan, Sido Dadi. Kita juga pernah ditolong orang Sido Dadi" pinta bu Astri pada suaminya.

"Nggak usah repot-repot bu, terimakasih. Icha naik angkutan umum saja" tolak Icha lembut.

"Bukannya ngusir dek Icha, kalau mau ikut angkutan umum sih, bentar lagi dateng dianya. Mending kita anter aja" tawar bu Astri lagi.

"Terimakasih bu. Ini saja Icha sudah merepotkan" tolak Icha lagi.

"Mbak Icha beneran udah baikan? Kalau belum, nginep aja mbak, besok Yuna anter" seru Yuna.

"Terimakasih mbak Yuna. Icha udah baikan kok" jawab Icha. Yuna tak membantah.

"Mungkin lebih baik Icha pamit, bu Astri, pak Har. Lemah teles ya bu, pak" lanjut Icha pamitan.

"Iya, dek Icha. Kita juga pernah ditolong orang Sido Dadi. Jadi, nolong orang Sido Dadi kami anggap kaya nolong keluarga sendiri"

"Alhamdulillah. Terimakasih bu Astri" sahut Icha.

"Yun. Anterin mbak Icha ke terminal, gih!" Perintah bu Astri ke Yuna.

"Iya" jawab Yuna.

"Bentar mbak. Yuna ambil kunci motor dulu" kata Yuna ke Icha.

Tak lama kemudian Yuna telah kembali dan siap mengantarkan Icha. Ichapun salim dan pamitan pada pasangan suami-istri yang telah menolongnya itu. Hanya lima menit, keduanya telah sampai di terminal.

"Makasih mbak Yuna, sudah mau Icha repotin" kata Icha setelah turun dari motor.

"Sama-sama, mbak" jawab Yuna.

"Yuk, saya temenin ke dalem" tawar Yuna.

"Nggak papa nih, mbak?" Tanya Icha basa-basi.

"Nggak papa. Saya seneng kok, bisa bantu mbak Icha" jawab Yuna.

"Makasih banget ya, mbak Yuna. Icha memang masih agak takut"

"Iya. Yuk!" Ajak Yuna.

Ichapun mengangguk setuju. Keduanya berjalan menyusuri koridor depan. Yuna mengajak Icha masuk dari pintu yang berbeda. Dan tak perlu masuk koridor lagi, mereka telah sampai di tempat keberangkatan bis lokal ke arah timur.

“YOOO. BERANGKAT, BERANGKAT, BERANGKAT”

Seseorang berteriak dengan kencangnya. Terlihat sebuah mikrobus bergerak dari arah apron kedatangan, menuju apron keberangkatan. Terminal kota ini tak seberapa besar.

*KRATAK KRATAK KRATAK*

*DUEEEEERRR*

Sebuah petir menggelegar dengan pongahnya. Memberikan peringatan bahwa awan yang terkumpul di langit bukanlah awan biasa. Andai ini siang hari, pasti orang-orang akan mengerti, betapa pekatnya awan yang menggelayut di atas kepala mereka.

“Ikut, pak”

Icha berteriak memanggil sang sopir. Karena tampaknya sang sopir tidak hendak memarkir mobilnya dulu.

"Mbak. Icha pamit, ya?" Seru Icha.

"Ati-ati mbak Icha!" Sahut Yuna.

"Makasih atas semuanya. Semoga Alloh membalas dengan yang lebih baik lagi"

"Amiin"

"Mari mbak Yuna, assalamualaikum"

"Waalaikum salam"

Icha beranjak mendekat dan langsung melompat naik, saat salah seorang penumpang membukakan pintu untuknya. Icha memilih duduk di kursi paling belakang, di pojok kanan. Dia letakkan tas punggungnya yang terlihat berat itu di lantai.

Terpopuler

Comments

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

🍵𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎🦈

nah tuhhhh ada apa lg yg bakaln terjadi... lnjut lg kk siap d tgu ya kk

2023-09-20

0

lihat semua
Episodes
1 kejadian horor di terminal
2 bayangan masa lalu
3 Awal masalah
4 masalah berlanjut
5 kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6 jati kobeng
7 bertemu bapak dan dia
8 Jarik keramat
9 reuni dengan adek
10 cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11 ambulance tak kasat mata
12 ambulance jenazah
13 de javu yang mulai jadi nyata
14 hantu mbah Ijah?
15 Drama pas makan malam
16 Protes Icha
17 Icha ketakutan
18 Bertemu sahabat
19 Ribut-ribut di depan rumah
20 Belanda?
21 Icha tertangkap?
22 Bayangan kekejaman
23 keharuan Icha
24 Akan ada apa ya?
25 Dapat kiriman santet
26 Belum usai
27 Akan dimulai lagi
28 Santet ke dua
29 Bertemu pendamping
30 Kejutan setelah siuman
31 Dicekik sampai sekarat
32 Demit, kelabang, banaspati
33 Dijenguk para sahabat
34 Akhirnya boleh pulang
35 Perjalanan pulang
36 Keris senggol modot
37 Herman
38 Jadi kenyataan lagi
39 Pemakaman Herma .
40 Bayangan panther hijau
41 para sahabat pamitan
42 Insiden saat mengantar bebek
43 Indri
44 Kecemburuan aneh bu Maryati
45 Horor di perjalanan pulang
46 Dijebak makhluk gaib
47 Hampir tidak selamat
48 Kupat tahu yang mengundang tanya
49 Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50 Terowongan bawah tanah
51 Tempat tinggak leluhur
52 Tujuan diajak ke dalam terowongan
53 Keterkejutan Hasan
54 Jadikan dia budakmu!
55 Kok kaya bau darah?
56 Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57 Peringatan dari Budi
58 Rampok penggali tanah
59 Tubuh bulek Rini berasap
60 Terbuai tatapan lembut
61 Setelah terbuai
62 Mobil baru
63 Curhatan Indri
64 Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65 Ternyata bukan hanya terkena sirep
66 Siuman
67 Rawat jalan
68 Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69 Mulai lagi
70 Penganiayaan tak berperi
71 agak mereda
72 Pertengkaran di depan UGD
73 Ribut di parkiran
74 Gangguan di kamar UGD
75 Tragedi lagi di rumah Icha
76 Bertambah lagi yang masuk UGD
77 Hasan mengesalkan
78 Serangan di ruang ICU
79 Serangan kedua
80 Indri nekad
81 Deep talk dengan bu Sari
82 Salah masuk toilet
83 Sebuah cerita dari masa lalu
84 Interogasi dan kenyataan
85 Masuk radar densus 88
86 dijenguk Budi
87 Indri masuk UGD
88 Indri meninggal
89 pulang dari rumah sakit
90 Akhirnya terungkap
91 Bulek Rini buka baju
92 Adegan tak senonoh
93 Bagai tersambar petir di siang bolong
94 Strategi Icha
95 Perbaikan besar rumah
96 Icha terjatuh dan pingsan
97 Sandiwara dimulai
98 sandiwara masih berlanjut
99 Bahasa isyarat
100 Icha mengkode Farhan
101 Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102 Bulek Rini mulai beraksi
103 Eksekusi
104 duel maut
105 Akhirnya tertangkap
106 Peran serigala malam
107 Kejujuran
108 Terungkapnya rahasia
109 Ternyats begini aslinya
110 bencana masih belum usai
111 Bandayuda Wisarga
112 Setro paneter rogo
113 Kembali ke alam nyata
114 Kapan aa' nikahin Icha?
115 Menuju pernikahan
116 Akhirnya sah
117 Tangan kiri juga boleh
118 Sampai jumpa di cerita berikutnya
Episodes

Updated 118 Episodes

1
kejadian horor di terminal
2
bayangan masa lalu
3
Awal masalah
4
masalah berlanjut
5
kepala tanpa badan dan badan tanpa kepala
6
jati kobeng
7
bertemu bapak dan dia
8
Jarik keramat
9
reuni dengan adek
10
cerita Tika tentang si Budi dan sang biduan
11
ambulance tak kasat mata
12
ambulance jenazah
13
de javu yang mulai jadi nyata
14
hantu mbah Ijah?
15
Drama pas makan malam
16
Protes Icha
17
Icha ketakutan
18
Bertemu sahabat
19
Ribut-ribut di depan rumah
20
Belanda?
21
Icha tertangkap?
22
Bayangan kekejaman
23
keharuan Icha
24
Akan ada apa ya?
25
Dapat kiriman santet
26
Belum usai
27
Akan dimulai lagi
28
Santet ke dua
29
Bertemu pendamping
30
Kejutan setelah siuman
31
Dicekik sampai sekarat
32
Demit, kelabang, banaspati
33
Dijenguk para sahabat
34
Akhirnya boleh pulang
35
Perjalanan pulang
36
Keris senggol modot
37
Herman
38
Jadi kenyataan lagi
39
Pemakaman Herma .
40
Bayangan panther hijau
41
para sahabat pamitan
42
Insiden saat mengantar bebek
43
Indri
44
Kecemburuan aneh bu Maryati
45
Horor di perjalanan pulang
46
Dijebak makhluk gaib
47
Hampir tidak selamat
48
Kupat tahu yang mengundang tanya
49
Apa ada kaitannya, antara dua leluhur?
50
Terowongan bawah tanah
51
Tempat tinggak leluhur
52
Tujuan diajak ke dalam terowongan
53
Keterkejutan Hasan
54
Jadikan dia budakmu!
55
Kok kaya bau darah?
56
Ternyata ada yang jahil. Siapakah dia?
57
Peringatan dari Budi
58
Rampok penggali tanah
59
Tubuh bulek Rini berasap
60
Terbuai tatapan lembut
61
Setelah terbuai
62
Mobil baru
63
Curhatan Indri
64
Ada yang menanam tumbal. Siapa, ya?
65
Ternyata bukan hanya terkena sirep
66
Siuman
67
Rawat jalan
68
Penglihatan gaib tentang mbah Ijah
69
Mulai lagi
70
Penganiayaan tak berperi
71
agak mereda
72
Pertengkaran di depan UGD
73
Ribut di parkiran
74
Gangguan di kamar UGD
75
Tragedi lagi di rumah Icha
76
Bertambah lagi yang masuk UGD
77
Hasan mengesalkan
78
Serangan di ruang ICU
79
Serangan kedua
80
Indri nekad
81
Deep talk dengan bu Sari
82
Salah masuk toilet
83
Sebuah cerita dari masa lalu
84
Interogasi dan kenyataan
85
Masuk radar densus 88
86
dijenguk Budi
87
Indri masuk UGD
88
Indri meninggal
89
pulang dari rumah sakit
90
Akhirnya terungkap
91
Bulek Rini buka baju
92
Adegan tak senonoh
93
Bagai tersambar petir di siang bolong
94
Strategi Icha
95
Perbaikan besar rumah
96
Icha terjatuh dan pingsan
97
Sandiwara dimulai
98
sandiwara masih berlanjut
99
Bahasa isyarat
100
Icha mengkode Farhan
101
Sesuatu yang besar akan segera dimulai
102
Bulek Rini mulai beraksi
103
Eksekusi
104
duel maut
105
Akhirnya tertangkap
106
Peran serigala malam
107
Kejujuran
108
Terungkapnya rahasia
109
Ternyats begini aslinya
110
bencana masih belum usai
111
Bandayuda Wisarga
112
Setro paneter rogo
113
Kembali ke alam nyata
114
Kapan aa' nikahin Icha?
115
Menuju pernikahan
116
Akhirnya sah
117
Tangan kiri juga boleh
118
Sampai jumpa di cerita berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!