Hadirin yang berbahagia, episode ini akan sangat mencemari otak polos kalian semua, mohon di baca biar nanti di bersihin di kamar mandi otak polosnya 😂
"Ta.. ekh.." Sebuah ******* keluar dari bibir Afika saat jilatan demi jilatan di lontarkan Tata membuat Afika tidak dapat menahan dirinya.
Tata yang melihat Afika mengerang kenikmatan merasa puas dengan kemampuannya sendiri, dengan perlahan Tata menyibakkan bagian bawah tubuh Afika hingga terpampanglah pemandangan indah yang selalu menjadi mimpi Tata saat mimpi basah.
Afika merasakan lidah Tata yang kini sudah bermain di bagian bawah perutnya, sedangkan kedua tangannya tidak dilepaskan dari gunung indah miliknya. Afika tidak tahu harus berbuat apa namun beberapa kali dia sempat mencengkeram leher Tata dan menjambak rambut pria itu.
Tata membuka pakaiannya satu demi satu hingga keduanya sudah telanjang bulat tanpa terhalang sehelai benangpun, Afika menatap bagiamana tubuh indah seorang Tata membuatnya menahan malu yang teramat sangat dan menutup pipinya yang memerah.
Tata perlahan memasukkan sebuah urat besar menuju area sensitif milik Afika, seketika itu juga rasa sakit di rasakan oleh Afika, ada rasa tidak tega dari hati Tata melihat bagaimana Afika meremas bantal dan giginya yang menggertak.
Tata menggenggam tangan Afika dan mengecup bibir Afika, untuk kedua kalinya Tata mencoba memasukan urat besarnya lagi, hingga darah dan cairan nikmat terasa di uratnya, hangat, sedikit sakit dan yang jelas nikmat kini di rasakan oleh Tata.
Tata melihat wajah Afika yang kini di setiap sudut matanya nampak mengeluarkan cairan, Tata mengusap cairan itu dan mengecup kening Afika, Tata diam terlebih dahulu merasakan kenikmatan. Namun entah mengapa perasaan mendesak tiba tiba dirinya rasakan.
"Sa..yang.. aku.." Tata merasakan denyutan nikmat, melihat Tata yang mungkin tidak tega kepadanya sedangkan keinginannya sudah berada di puncak membuat Afika melakukan inisiatif. Afika memutar tubuh Tata hingga pria itu kini berada di bawah tubuhnya.
"Sayang?" Tata nampak bingung namun juga takjub, Afika mulai menggerakan tubuhnya hingga membuat mata Tata tertutup dan sekian detik kemudian cairan berwarna putih masuk pada tempatnya.
Tubuh Afika ambruk di atas tubuh Tata merasakan tubuhnya yang telah mengejang dan mengeluarkan perasaan yang sama seperti Tata, Tata mengusap punggung Afika yang basah oleh Keringat dia juga menyibakkan rambut indah itu dan kembali merasakan miliknya kembali hidup.
Afika yang merasakan benda milik Tata yang berada di bawahnya kembali hidup mulai memejamkan matanya saat tubuh Tata kembali turun naik, Tata kembali memutar tubuh Afika menjadi di bawah dan mulai memperlihatkan kemampuannya yang luar biasa.
Tata berhasil membuat Afika merasa puas hingga beberapa jam berlalu dan tubuh Afika sudah lemas dan tertidur pulas, rasa puas yang di miliki Tata dan Afika membuat keduanya saling memeluk di bawah satu selimut yang sama.
Sore itu Tata bangun lebih awal dan cepat cepat menghubungi orang kepercayaannya untuk menyelesaikan sesuatu, sedangkan saat itu Afika masih tertidur pulas.
Malam harinya Afika terbangun dan melihat Tata yang sudah siap dengan jas kebanggaannya, dia tersenyum menatap Afika dan mengecup bibir wanitanya itu.
"Mau kemana?" Tanya Afika bingung melihat bagaimana Tata sudah siap akan pergi, Tata tidak menjawab pertanyaan Afika dia malah memberikan sebuah cincin dengan berlian berwarna biru laut di atasnya.
"Aku cinta kamu sayang." Bisik Tata dan menjentikkan tangannya hingga sebuah robot masuk ke kamar itu dan membuka layar monitornya.
Sebuah pemandangan megah di sebuah istana ternama di Negri barat nampak memukau, Afika menatap Tata dan tersenyum saja.
"Tunggu di sini, malam ini juga aku akan kembali." Bisik Tata mengecup Kening Afika dan pergi, sebuah zet terdengar kasar di telinga Afika setelah kepergian Tata. Hingga dua jam lamanya Afika memperhatikan layar monitor itu dan mulai paham satu demi satu apa yang sedang di lakukan oleh Tata.
Sebuah zet nampak di atas tempat megah itu dan seorang pria turun dengan alat yang pernah di gunakan dirinya bersama Afika dari rumah pohon, Afika tersenyum menatap Tata yang pamer kemampuan. Tata mendarat mulus di atas panggung dan menunduk.
"Sekarang kita lihat berapa jumlah kekayaan dari Tata Attahaya." Sambut salah seorang pria di atas panggung hingga sebuah data muncul di monitor tepat di belakang punggung Tata. Semua data tentang seorang Tata yang misterius akhirnya terbongkar.
Semua orang merasa takjub dengan sosok Tata dan nampak Tata yang hanya tersenyum saja tanpa memperdulikan wajah wajah di bawahnya, sebuah cincin di tangan kananya kini menjadi sorotan publik. Setelah begitu banyak pertanyaan tentang semua hal yang tersembunyi dari seorang Tata hingga tibalah sebuah pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.
"Anda menggunakan cincin di tangan kanan anda, apa anda sudah bertunangan?" Pertanyaan itu lolos dari salah satu duta internasional yang ingin mengetahui sosok pribadi seorang Attahaya.
"Tidak." Jawab Tata sontak hati Afika yang mendengar itu terasa sangat sakit, Tata mengangkat tangan kanannya dan sebuah senyum nampak tergambar di wajah dinginnya.
"Aku sudah menikah." Jawabnya lagi dan sontak Afika melotot mendengar pengakuan dari kekasihnya.
Sejak kapan menikah? Pikir Afika dalam hatinya, Tata mengeluarkan sebuah buku nikah dengan senyum bangganya dia menatap lensa kamera.
"Istriku malam ini sedang menonton di kamar kami, dia belum ingin mengungkapkan diri ke media masa itulah sebabnya kami menikah secara rahasia, tapi karena ini pertanyaan yang baik aku akan menjawabnya dengan baik. Aku sudah menikah bukan bertunangan." Ucap Tata tegas dan lugas.
Semua orang di sana langsung terkejut terutama kedua orang tuanya yang juga ikut hadir, tatapan Tata mengarah ke lensa kamera menunjukkan dua jari jempol dan jari telunjuk yang saling bertaut seperti memindahkan secuir garam.
"Sayang ini untuk mu." Ucap Tata membuka sebuah benda kecil di kepalan tangannya dia mengarahkan benda itu ke langit dan terbang jauh.
Kecepatan mega sonic yang di miliki benda itu membuat benda itu sampai pada tujuannya kurang dari setengah jam benda itu sudah sampai di kamar Afika, Afika tersenyum penuh haru saat menerima benda itu hingga suaranya tersambung dari benda itu ke tempat Tata.
"Ini suara istriku, sayang ucapkan sesuatu." Afika yang berada di belahan dunia lain itu merasa sangat tersanjung bahkan saat itu dirinya belum mengenakan apapun.
"Terimakasih sayang." Lirih Afika, semua orang yang mendengar suara lembut Afika jadi terpana. Suara itu juga langsung membuat kedua orang tua Tata lega karena mereka mengenal jelas sosok yang di katakan Tata sebagai istrinya itu.
"Baiklah, aku akan umumkan kekayaan yang aku punya seperti janji ku, aku tidak yakin masuk 100 besar tapi aku yakin aku mampu berada di angka 1." Ucap Tata bangga, semua perhitungan yang semula di hitung di tahun lalu kini mulai berubah dan mulai menunjukkan kenaikan luar biasa, orang tua Tata juga terkejut melihat kekayaan sang anak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments