Mata Alvin tiba tiba terbelalak saat melihat kotak yang di berikan Tata pada Alvin sudah di buka oleh Kirana, nampak raut keterkejutan di wajah cantik Kirana.
"A..apa ini?" Alvin menatap satu persatu foto dan beberapa flashdisk tergeletak di sana.
"Ini.. benar benar nyata?" Alvin melihat seorang pria yang terbakar di dalam sebuah ruangan.
"I..ini.. nyata kak." Kirana menyerahkan sebuah foto di mana dirinya tengah di masukkan ke dalam bagasi mobil.
"Siapa mereka?" Kirana bertanya dangan rasa curiga, Alvin menjawab dengan menggelengkan kepala. Selama ini yang dia kenal adalah Tata seorang jenius fashion.
"Tapi bagaimana dia bisa tau dan memiliki ini semua?" Kirana menjadi semakin bingung, begitupun dengan Alvin.
"Vin..!!" Jack nampak masuk tanpa mengetuk pintu dan membawa leptopnya yang menyala.
"Kenapa?" Alvin nampak bingung saat Jack masuk dengan wajah serius dan nampak sangat waspada.
"Kita mengetahui keberadaan Joshua." Ucap Jack memperlihatkan sebuah tempat dimana kini nampak Joshua tengah di sekap seorang diri.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Alvin bingung menatap layar laptop.
"Inikan gudang rumah sakit ini." Mata Alvin mengamati sekeliling, memang benar apa yang di tunjukan wanita misterius itupun mengarah ke rumah sakit ini dan memperlihatkan ke arah gudang.
"Ya, kau benar. Tadi menunjukkan ke Istana Wali Kota tapi kemudian menghilang dan menunjukkan ke sini. Ini sangat aneh." Jack menjelaskan apa yang terjadi setelah Tata menghilang dan meninggalkan mereka.
"Tunggu sebentar." Alvin mengambil salah satu flashdisk dan memasukkannya pada laptop yang di bawa oleh Jack.
"Ini?" Jack melotot melihat bagaimana sebuah rekaman yang di ambil dari satelit yang bisa sangat jelas, bahkan memperlihatkan di balik ruangan dengan sensor hawa panaspun terlihat.
"Mengerikan, siapa yang memberikan ini Vin?" Jack bertanya dengan mata penasaran.
"Wanita yang misterius, kau tahu Tata?" Alvin bertanya dengan wajah serius memperhatikan layar laptop.
"Aku pernah dengar kau menyebut namanya saat... Ah, ya aku ingat dia si jenius fashion kan?" Jack menjentikkan jarinya teringat akan sosok yang sering di perbincangan di dunia maya.
"Ya, dia yang memberikan ini pada ku. Periksa semua cctv rumah sakit." Jack tak banyak bertanya saat mendapatkan perintah dari Alvin, dia langsung pamit mengerahkan sebagian orang untuk menangkap Joshua dan sisanya di perintahkan untuk mengawasi cctv rumah sakit, sedangkan yang lain dengan sopan meminta izin pada beberapa pemilik bangunan di sekitar rumah sakit untuk melihat rekaman di luar tempat mereka.
Lengan Kirana gemetar saat melihat bagaimana keseriusan Alvin dalam menghadapi kasus ini, dia juga memeriksa seluruh flashdisk yang di berikan oleh Tata.
Sungguh mengejutkan, bukan hanya video saat penyiksaan Kirana di rumah Joshua tapi juga video masa lalu dimana video itu sempat hilang dan rusak dimana bukti yang menunjukkan ayah tirinya bunuh diri bukan di bunuh.
Berbagai fakta terungkap satu demi satu, hingga sebuah berita televisi mencengangkan mereka. Gadis bernama Afika yang bersama Tata ternyata seorang konglomerat dengan kejeniusan keluarganya dan Afika juga adalah salah satu manusia yang paling rahasia di muka bumi yang saat ini menjadi bahan sorotan media.
"Itukan?" Kirana menunjuk ke arah layar televisi.
Alvin menelan salivanya, meski keluarganya kaya raya dan mungkin hartanya tidak akan habis selama beberapa turunan, tanjakan dan belokan. Tapi Afika, dia lebih dari pada dirinya.
"Ta..tapi mereka tadi kan?" Kirana mengingat saat Tata mengecup bibir Afika dengan mesra.
"Aku rasa ini memang takdir, semua orang jenius memang memiliki kelemahannya masing masing. Dan mungkin itulah kelemahan mereka, mereka mencintai sesama jenis tanpa pandang status." Alvin menjawab dengan sangat bergetar, bila saja media mengetahui hal ini tentu akan menjadi viral seketika.
Namun Alvin bukan pria sebejat itu yang akan menjual identitas seseorang demi uang, Tata sudah membantunya dan itu bahkan lebih berharga bagi Alvin dari apapun juga.
Rumah sakit tempat Kirana tinggal memang terbilang kondusif, mereka tak tahu bila di balik kekondusifan itu terpampang sebuah hal yang siap untuk mengejutkan mereka.
Jack diam diam membawa Joshua dari pintu belakang dan membawanya ke ruang tahanan. Jack awalnya ingin menghajar Joshua terlebih dahulu, namun Alvin melarangnya dan meminta Jack untuk menyerahkan Joshua langsung ke pihak yang berwajib.
Joshua tidak berontak dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang akan mereka lakukan pada dirinya, karena apa yang sudah dia lakukan sudah membuat hidupnya puas. Dia berhasil membalaskan dendam sang ayah dan berhasil merebut beberapa aset berharga Alvin saat keriuhan tercipta saat mencari keberadaan Kirana.
"Aku mau kau apakanpun aku tidak perduli." Wajah Joshua nampak sumeringah.
Aku sudah meletakan bom sebulan yang lalu di kantor dan seluruh tempat tinggal mu Alvin, dan sekaranglah waktunya hahahahha... Joshua tertawa dalam hatinya merasa puas dengan apa yang sudah dia kerjakan selama ini.
Di sisi lain tepatnya di belakang kemudi dan di samping kemudi dua orang wanita tengah cekikikan, Tata dan Afika.
"Kok dia bego di rawat terus si?" Afika berkomentar dan Tata menghentikan laju kendaraannya saat mereka berada di tengah lahan kosong.
"Jangan gitu sayang, lagian ini hari terakhir dia hidup." Tata keluar dari kendaraannya dan membuka bagian belakang mobil tersebut.
"Bunda bawa paket nih." Seorang wanita di atas helikopter menjatuhkan sebuah kotak besar di samping Tata dan Afika.
Bom! Duar!
Suara kotak itu meledak ledak di dalamnya tapi tidak sampai menghancurkan bagian luar kotak itu, hanya suara ledakan saja yang membuat burung burung beterbangan. Bahkan suara ledakan itu terdengar hingga ke kota.
"Wah, Bom nya lumayan juga." Ucap Tata, Afika terkekeh saja seraya membuka penutup kepala Joshua dan menatap jijik.
"Kasus ini lumayan gak sayang?" Afika memeluk Tata dan mengecup bibir Tata dengan manja.
"Jangan mulai lagi deh, please! Aku bunuh aja atau aku buang aja?" Tata memeluk Afika dan membawanya pada dekapan yang hangat.
"Kalian.. Siapa?" Joshua nampak sedikit gemetar melihat Tata mengatakan kalimat sadis dengan santai.
"Oh iya, aku lupa kasih tau nih. Ayahmu itu! Kau tahu siapa dia? Dia adalah bukti yang melarikan diri dari persidangan. Kamu pikir aku akan melepaskan keluarganya begitu saja hah? Sudah menjadi anggota organisasi hitam dan malah mau mengusik orang biasa." Tata berdecak kesal.
Ayah? Apa maksud kalian?" Joshua melotot tidak ingin tau sebenarnya apapun hal buruk tentang ayahnya dan dia juga jelas tidak akan terima bila seseorang menjalakan nama ayahnya sendiri.
"Ah, aku malah mual ayang... Buang aja deh ni orang sebel aku." Afika berbicara manja menutup mulutnya dan memeluk erat Tata.
"Kita lakukan sesuai keinginan Alvin saja, yo ah bawa dia ke penjara." Tata melajukan kendaraannya kembali setelah memasukan Alvin ke dalam mobil itu dan kembali melesat menuju sebuah pulau terpencil.
"Inikan tempat para tahanan Internasional." Afika menunjuk ke arah gerbang, Tata mengangguk faham dan menyerahkan kendaraan itu pada seseorang yang sudah di hubungi oleh dia sebelumnya.
"Kita pulang yu, disini banyak jebakan hati hati." Tata merangkul bahu Afika dan membawanya menjauh dari tempat tersebut dengan berjalan kaki.
Sebuah helikopter menurunkan jaring tangga hingga akhirnya Tata dan Afika naik dan merekapun pergi ke arah dimana kini matahari tengah tenggelam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments