"Kenapa gak tanya langsung aja ke orangnya, katanya nanti sore mau nemuin dia?" Tata mencari jalan aman, Afika terkekeh mendengar jawaban Tata.
"Kan itu baru rencana, aku gak yakin mau ke sana tugas aku masih banyak terus lusa mesti ke sini lagi, oh ya mau apa hadiah ulang tahunnya?" Ya memang benar sekitar dua hari lagi Afika akan berulang tahun, dia juga ingat bila Atta juga memiliki ulang tahun yang sama dengannya.
"Hadiah? Hadiah ulang tahun apa?" Afika melotot, benar juga sekarang identitas Atta adalah Tata tentu tanggal lahirnya juga berbedakan?
"Eh itu maksud ku aku dua hari lagi ulang tahun ke 18, kamu mau hadiah dari aku? Hadiah apa?" Afika mengatakan hal tak masuk akal membuat Tata tertawa.
"Kita ulang tahun di hari yang sama, baiklah aku mau apapun yang di berikan oleh Afika dan Afika juga harus menerima hadiah apapun yang di berikan oleh ku. Oke?" Afika tersenyum, dia memang memiliki sesuatu yang ingin di berikan kepada Tata diapun akhirnya mengangguk.
Sore hari kakek masih belum selesai dengan pekerjaannya dan akhirnya Tata dan Afika memutuskan untuk kembali saja ke kediaman sederhana mereka saat matahari sudah terbenam, mereka sampai di kediaman itu sekilas pukul 9 malam.
Afika menatap sekeliling di mana lampu rumah nampak sudah menyala, Afika mengendap endap melalui jalan belakang membuat Tata merasa heran dan anehnya dia juga malah mengikuti langkah Afika.
Afika masuk dan tidak mendengar suara mencurigakan di rumah itu mereka langsung masuk ke kamar mereka dan benar saja dua alat penyadap di temukan Afika di bawah ranjang mereka, saat Afika akan menghancurkan benda itu Tata menghentikannya.
Tata menulis sesuatu dalam ponselnya dan memperlihatkannya pada Afika, Afika mengangguk saat Tata menulis sesuatu.
Jangan membuat dia curiga.
Afika menghela nafas dan menyimpan kembali alat penyadap itu ke tempatnya, Afika merebahkan tubuhnya di atas kasur dan melihat langit langit kamar.
"Aku mau mandi dulu Ta, aish.. besok aku akan ada pelajaran tambahan tapi perutku sekarang lapar hadeeh beli makanan yu." Tata terkekeh mendengar penuturan Afika.
"Oke oke, kamu mandi dulu saja." Tata menunggu Afika seraya memeriksa cctv rumahnya yang kini sudah di retas oleh Ismi.
Tata terkekeh saat menatap alatnya sendiri yang di gunakan orang lain, Di balik layar Ismi yang melihat seringai Tata merasa terkejut.
"Apa dia sudah tahu?" Ismi mengigit kuku di jari telunjuknya dan menghela nafas berkali kali mencoba menenangkan diri.
Afika selesai mandi sedangkan Tata nampak sudah siap untuk kembali keluar dengan tas belanjaannya dan baju yang lebih santai, untung Ismi tidak sempat memasang kamera pengawas di kamar mereka dan hanya alat penyadap suara saja bila itu terjadi identitas Tata bisa dalam bahaya.
Mereka akhirnya ke luar rumah dan berjalan menuju sebuah mini market yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Afika saat itu benar benar merasa kesal dengan apa yang di lakukan Ismi karena bagaimanapun wanita itu sudah membatasi gerakannya.
"Ta, aku jadi makin penasaran dengan Ismi, dia mau apa sebenarnya." Afika berbisik pada Tata saat sedang memilih belanjaan.
"Aku rasa itu bisa di lakukan dengan cara memutar senjatanya sendiri, itu akan menarik bukan?" Afika mengangkat alisnya, maksud Tata apa pikirnya.
"Aku gak ngerti." Tata tertawa melihat kepolosan Afika dia mendekat ke arah Afika dan membisikkan sesuatu ke telinga Afika.
"Wah, Tata emang keren." Afika mengangkat jempolnya setuju dengan apa yang di bisikan oleh Tata. Afika kira itu memang cara paling keren yang pernah dia dengar dan cara paling efektif untuk menghajar gadis tak tau diri itu.
"Tapi Ta, malam ini seharusnya sebuah perang akan di mulai, aku merasa punya firasat buruk." Tata tersenyum menepuk pundak Afika dan berusaha menenangkan gadis itu.
"Gak apa, kita lakukan bersama sama ya?" Afika tersenyum dan mengangguk setuju.
Malam itu Afika dan Tata pulang namun di tengah malam Afika kembali keluar rumah dimana dia kini sudah menantikan perang yang sesungguhnya, tangan Afika bergetar saat itu.
Langkah kaki Afika terhenti saat dirinya sampai di sebuah jembatan besi, nampak beberapa orang sedang saling kejar mengejar.
"Binggo!" Ucap Afika mengambil tali dari ranselnya dan membuat simpul pada tiang besi dia juga memasang simpul pada besi di sebrangnya itu dan tertawa jahat.
Segerombolan orang datang dan seorang pria nampak berlumuran darah dengan wajah pucat menggunakan baju berwarna putih di kejar 6 orang pria berbaju hitam.
Mata pria itu nampak berlumur darah, Afika mengepalkan tangannya merasakan dadanya yang bergemuruh, dia melompat ke tempat aman dan bersembunyi.
"Kejar dia..." Teriak salah satu pria memasang kaca mata pelacaknya dan terus mengejar pria yang nampak sudah terluka parah itu.
"Aku tidak boleh tertangkap oleh mereka, keluarga Attahaya harus merasakan penderitaan ku kali ini." Geram pria yang kini nampak sudah tertatih tatih.
"Cih, sudah mau mati saja banyak bacot!" Gerutu Afika merasa kesal sendiri dengan apa yang dia lihat.
"Lagi ngapain?" Afika terkejut seketika saat tiba tiba seseorang menegurnya dan langsung memukul tangan wanita yang kini sudah ikut mengendap endap itu.
"Dia siapa?" Tanya Tata, Afika tersenyum kini rasanya sulit punya rahasia dari Tata.
"Dia mahluk menyebalkan, kenapa ke sini tadi di ajak katanya males." Afika cemburu karena tadi sebelum dia pergi dia sempet meminta Tata ikut namun dia malah berkata males.
"Penasaran aku." Mata Tata tersenyum penuh arti saat melihat kelakuan tunangannya itu, dia melihat wajah Afika yang nampak sangat kesal.
"Kenapa sih?" Afika kembali bertanya hingga sesuatu yang mengejutkan mereka kembali terjadi, pria yang sudah hampir menyeret satu kakinya itu terjatuh di jembatan alhasil pria itu jatuh ke dalam air kotor.
"Iiiiyuuuu." Tata mengibaskan tangannya merasa jijik dengan apa yang terjadi, di tambah lagi nampak samar samar bila di bawah sana airnya berwarna hitam pekat.
" Jorok ih, gimana mau bersihinnya coba." Tata benar benar merasa jijik, Afika terkekeh dan langsung melangkah turun dari tempat persembunyiannya bersama dengan Tata.
"Hai om nyari apaan?" Afika bertanya pada seorang pria yang nampak sedang mencari sesuatu, Tata sebenarnya sudah tahu siapa mereka sebenarnya dan tetap menampakkan wajah yang tenang.
"Eh, bukankah ini nona Afika?" Afika mengangguk mendapat pertanyaan semacam itu, namun wajah pria itu tiba tiba memerah saat melihat sosok di belakang Afika.
Tata melotot ke arah bawahannya itu dan mengangkat kepalan tangannya kemudian meniupnya dengan mulut terbuka, pria yang merasa ngeri itu langsung memalingkan pandangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments