Afika dan Tata akhirnya sampai di depan sebuah rumah sederhana, tempat yang sangat nyaman pikir Afika. Dalam ingatannya dia tahu di sinilah suatu hari dirinya akan tinggal dan bersama dengan Tata sebagai seorang sahabat tanpa mengetahui identitasnya sama sekali.
"Ini rumahku, selamat datang Afika." Tata turun dan membukakan pintu mobil untuk Afika.
"Nyaman sekali di sini." Afika melepas kacamata hitam yang sempat menghiasi matanya, Tata tersenyum dan mencari kunci di tas kecilnya.
"Nah ayo masuk." Tata membuka pintu rumahnya, seketika itu juga air mata Afika jatuh, kenapa Tata sampai berpura pura untuknya. Ini sama sekali tidak adil pikir Afika.
Afika masuk ke dalam rumah tersebut, hawa kekhawatiran tergambar dari wajah Tata namun dia terkejut saat menatap raut wajah Afika yang sendu dan menutup pintu dengan kasar.
"Hei beb, kenapa?" Tata mendekat dan meletakkan tangannya di kening Afika.
"Sudah puas berpura puranya?" Afika tidak ingin membohongi dirinya sendiri, biarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya pada orang lain tapi Afika hanya ingin mengubah sebuah hal saja di hidupnya.
"Apa maksudmu?" Tata bingung dan menatap Afika yang lebih pendek darinya mata biru gadis itu mampu menyihir hatinya.
Afika tak menggubris dan menarik leher Tata hingga wajah mereka saling berdekatan dan sebuah kehangatan di berikan Afika secepat kilat dan membuat mata Tata melotot.
"Kamu Atta ku." Lirih Afika memeluk Atta dan saat itulah Atta terkejut bukan main, identitasnya sebagai Tata terbuang percuma begitu saja.
"Afika.." Tata tak ingin menghindar dia balas memeluk Afika, wajah Afika seketika terasa menghangat.
Brakkk...
Afika terkejut dari lamunanya dan sebuah buku dan sketsa di pelukannya jatuh mengenai kakinya saat dia ternyata baru memasuki rumah Tata.
"Astaga, aduuh.. maaf aku gak sengaja." Afika membereskan kembali sketsa sketsa Tata yang jatuh berserakan. Tata menatap khawatir ke arah Afika dan bukan seketsanya yang dia perhatikan melainkan kaki Afika.
"Ssttt..." Afika meringis saat salah satu buku mengenai kakinya dan tampaklah warna kebiruan di sana yang langsung membuat Tata syok dan menarik tangan Afika.
Tata meminta Afika duduk di atas meja di mana barang barang pentingnya di letakan, Afika memperhatikan bagaimana Tata yang hilir mudik mencari kotak P3K. Afika sadar seorang tunangannya tengah mengkhawatirkan dirinya, meski Tata saat ini belum mengutarakan identitasnya namun berkat lorong waktu itu Afika dapat mengetahui siapa Tata sesungguhnya.
Benar, Afika tak akan pernah mengubah jalan hidup orang lain dan biarkan dunia berjalan pada porosnya, tapi dia tak bisa bila harus membiarkan kehidupannya terulang seperti dalan lorong waktu, namun dia juga sadar bila saat itu bukanlah waktu yang tepat.
Afika harus bertemu dulu dengan Atta palsu dan menghajarnya habis habisan, dia juga berniat akan membuat orang yang sudah berpura pura sebagai tunangannya itu untuk memberikan hukuman yang lebih baik mati untuk merasakannya.
"Kenapa tidak hati hati sih? Lihat kakinya bengkak!" Tata nampak khawatir sekaligus marah marah tidak jelas pada Afika.
"Loh kok marah? Aku.. hiks.." Afika berpura pura menitikan air mata yang sontak membuat Tata kalang kabut dan mendekap Afika.
"Bukan itu maksudku, Sketsa bisa di buat lagi. Kalo kaki kamu gimana? Kalo ada apa apa sama kaki kamu bagaimana sayang?" Tanpa sadar Tata menyatakan kata terlarang dari bibirnya yang biasa dirinya ucapkan saat bersama Afika.
"Kaya suami aja si, lagi khawatirin istrinya yang hamil besar terus jatuh." Afika mengerucutkan bibirnya bersungut sungut membuat Tata terkekeh sejenak.
"Iya, makanya hati hati oke?" Tata melanjutkan mengurut kaki Afika dan tanpa Afika sadari kakinya sudah membaik dan warna biru itu juga hilang.
"Kasih tau kakeknya malam ini nginep aja di sini gimana?" Tata memberikan penawaran, Afika menggeleng. Dia tidak bisa meminta izin sekarang ada beberapa alasan yang tidak bisa dirinya langgar.
"Gak bisa Kak, kita baru aja kenal kakak gak ngerasa curiga kalo aku itu mata mata atau maling gitu?" Tata tersenyum lembut mengutarakan alasannya.
"Emang mau nyuri apa di sini? Kalo ada yang kamu sukai ambil aja gak usah nyuri." Tata memangkas ucapan Afika yang langsung membuat Afika tertegun.
"Kak, apa kakak pada semua orang seperti ini? Kakak gak boleh kaya gini, kakak juga haru HA-TI-HA-TI." Afika mengejakan kata terakhir dan di angguki Tata.
"Gak sih, cuma sama kamu aja. Aku ngerasa kamu orang baik makanya dari pada pulang pergi ke rumah kamu yang jauh itu mendingan tinggal di sini aja." Tata tersenyum kemudian melotot.
"Eh.. maksudku kayanya.. anu.. ah.. eh gini..." Tata salah tingkah, berniat menjelaskan berakhir mengenaskan dan mencurigakan.
"Dari mana kakak tau kalo rumahku jauh?" Afika mendengklengkan kepalanya.
Astaga, aku keceplosan tadi. Aku harus cari alasan yang tepat biar Afika tidak curiga dan mau tinggal di sini. Bisik batin Tata dan mencari jawaban yang di rasa tepat.
"Kamu kan tadi telpon sama kakek kamu yang bertanda rumah kamu jauh kalo enggak ngapain telpon kan langsung aja pulang dulu, bener gak? Ah, udahlah oh ya coba gaun ini dulu deh, kayanya cocok di kamu." Tata tak ingin berbincang lama lama dan mempermasalahkan hal keceplosan itu.
"Bagus sekali gaunnya kak." Afika terpana saat melihat gaun yang di tunjuk oleh Tata.
"Sana pakek, nanti kita jalan jalan biar seru." Tata mengambil gaun itu dan mendorong tubuh Afika dan gaunnya menuju kamarnya.
Afika berganti pakaian dan beberapa kali menatap cermin, ada rasa malu dan sangat bahagia menggunakan gaun itu yang kini menempel di kulit putihnya.
"Cantik sekali." Bisik Afika menatap cermin melihat bagaimana gaun infah itu terpasang sempurna di tubuhnya.
Mata Afika yang besar dengan lensa mata biru dan bulu mata centrik, hidung mancung dan bibir mungil berwarna merah muda itu menyempurnakan penampilannya, rambut panjangnya indah membuat wajah Afika seketika merah.
Afika keluar kamar dan melihat wajah Tata yang memerah dan tertegun sejenak, ada hawa panas yang tiba tiba menguasai tubuh Tata dan membuatnya sejenak sulit bernafas saat menatap penampilan Afika.
"Apa aku cantik?" Afika bertanya seraya tersenyum manis ke arah Tata, bila saja Tata dalam mode laki laki dia tidak akan sungkan merangkul tubuh mungil itu.
Apa yang tadi dia katakan? Terlihat cantik? Yang benar saja, bahkan bunga bunga tercantik sekali pun akan malu saat bersanding denganmu Afika. Tata bergumam dalam hatinya mengagumi kecantikan yang terpancar dari sosok wanita di hadapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
🦂⃟ᴍɪʟᷤᴀᷤʜᷫ ᶜᵘᵗᵉ ✹⃝⃝⃝s̊S
Cantik nya Afika...
2023-09-18
1