Afika yang melihat Tata tidak baik baik saja langsung menggenggam tangan Tata yang sedang mengepal. Afika mengangkat dagu Tata hingga tampaklah sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.
Mata Tata nampak mengeluarkan darah dengan warna merah pada bagian lensa matanya, sebuah tulisan muncul di dalam mata itu dan Afika langsung sadar Tata memang bukan sosok manusia biasa.
Afika langsung memeluk Tata dan merasakan bagaima dada pria itu yang berdetak sangat cepat, Afika menghela napas rasanya tidak mungkin mendapatkan jawaban itu dari Tata.
"Aku mencintai Tata, dan Tata juga harus tahu aku tidak akan pernah mencintai siapapun lagi. Aku hanya bertanya saja tadi, aku hanya ingin tahu apa benar kamu ingin merelakan aku, aku tidak terima bila kamu merelakan aku begitu saja." Lirih Afika mendekap Tata dengan hangat seketika itu juga lensa mata Tata kembali berubah menjadi biru dan tulisan aneh itu menghilang.
Tata merasakan kepalanya seperti tersengat listrik dan pusing seketika, dia langsung terjatuh di pelukan Afika. Afika yang terkejut langsung menepuk nepuk pipi Tata dan dia juga tersungkur akibat tertindih tubuh Tata.
"Ta? Sayang?" Tata tidak kunjung sadar, Afika mulai mengambil pergelangan tangan Tata dan merasakan denyut nadi Tata masih normal, detak jantungnya juga masih terasa di dada Afika.
Tata merasa percuma bila harus berteriak mustahil mereka yang berada di rumah besar itu akan mendengarnya, Afika pasrah dengan tubuh basah berada di bawah Tata. Tanpa sadar Afika memejamkan matanya dan tertidur memeluk Tata.
Tata terbangun saat sudah cukup malam tangannya mulai merasa ke sekeliling dan sebuah benda empuk dan kenyal di rasakan Tata dia membuka matanya dan tersadar bila saat itu dia berada di tepi pantai.
"Afika?" Lirihnya saat melihat ke bagian atas, dan saat ini kepalanya berada di antara gunung kembar milik sang kekasih, Tata mengerjapkan matanya dan benar Afika memang di san dan tertidur pulas.
Tata bangun secara perlahan namun Afika masih belum bangun juga, Tata dapat merasakan seluruh tubuh Afika yang menegang itu di akibatkan dirinya yang terlalu lama di atas tubuh Afika, Tata menghela nafas dan membawa Afika pergi dari sana.
Sebuah rumah pohon nampak menyala dengan warna lampu yang indah bergantian berkedip, Tata tersenyum lembut dan menekan sebuah tombol di pohon itu hingga sebuah tangga turun dari atas dan dengan mudah Tata membawa Afika naik.
Tata terus memperhatikan bagaimana wajah damai kekasihnya, baju Afika sudah mengering begitupun dengan baju Tata, bulu mata yang panjang dan lentik milik Afika nampak teranyam dengan baik membentuk guratan indah.
Tata tersenyum lembut, kamar itu adalah kamar yang biasa di tiduri Tata dan Afika saat masih kecil, mereka selalu menghabiskan waktu mereka di sana, Tata akhirnya tertidur di samping Afika.
Saat suara burung bernyanyi terdengar jelas membuat Afika mengerjapkan matanya dan terasa sebuah tangan melingkari perutnya, Afika mengerjap ngerjapkan matanya hingga sebuah pemandangan hijau dengan banyak buku dongeng menjadi pemandangan pertama Afika.
Afika berbalik dan nampak Tata yang terlelap, Afika menatap ke langit langit dan sebuah nama yang membuatnya tersenyum seketika dengan gambar tangan di sekitarnya.
KAMAR ATTA DAN AFIKA
Itulah tulisan yang terpampang di langit langit kamar, Tata mengerjapkan matanya saat merasakan pergerakan dari Afika alhasil meraka saling berhadapan dan saling bertatap-an.
"Pagi sayang." Bisik Tata dengan suaranya yang masih serak, Afika tersenyum dan memeluk Tata dengan lembut, angin tiba tiba berdesir menerpa keduanya namun selimut hangat yang membalut keduanya tidak membuat Tata dan Afika kedinginan.
"Sayang?" Afika masih bersembunyi di balik selimut dalam dekapan Tata saat dia bergumam tidak jelas dan terus berkata sayang.
Tata yang masing mengantuk hanya menjawab seadanya dan sama sama bergumam, Afika mengigit bibir bawahnya.
"Sayang kamu gak ngaca ya?" Tanya Afika yang sontak saja membuat Tata kebingungan.
"Kamu kaya setan tau, di bawah mata kamu banyak darah kering terus rambut kamu juga pada acak acakan gitu." Gerutu Afika dan sontak saja Tata langsung melotot dan terbangun dari tidurnya.
Tata langsung mencari cermin di sudut ruangan dan melihat dirinya sendiri yang benar saja dia mirip seperti setan yang bangkit dari kubur, Tata menjambak rambutnya yang terasa kaku dan menggeleng.
"Ya ampun, aku beneran kaya hantu." Afika yang masih di atas kasur tertawa terbahak bahak melihat Tata yang nampak sedang berusaha membersihkan wajahnya dengan kasar.
"Lah kok malah ngetawain sih, awas nih aku manan!" Tata mendekat dengan wajah serem Afika langsung sembunyi di bawah selimut, Tata menyibakan selimut itu hingga nampak Afika yang meringkuk.
"Ahahahahha..." Afika tertawa saat tangan Tata mulai menggelitiki perutnya, dia meronta dan menahan kali yang teramat sangat.
"Kalo mau makan aku bersihin dulu sana mukanya, aku gak mau di makan monster jalak kaya gitu." Afika mendorong tubuh Tata hingga Tata langsung terdiam mendengar ucapan Afika.
"Beneran?" Tanya Tata merasa tidak percaya dengan indra pendengarannya sendiri.
"Ya kalo kakak bisa buat aku mau, kalo jelek kaya gitu aku emoh." Afika memalingkan wajahnya hingga senyum nampak terukir dari wajah Tata.
Tata langsung memeluk Afika dan bergegas berdiri mengambil sebuah benda dari lemari di bawah ranjang, benda itu nampak seperti papan seluncur namun nampak menggunakan nos di belakangnya.
"Mau ikut?" Tata mengambil satu lagi yang nampak berwarna merah muda, Afika penasaran dengan hati hati Tata memasangkan pengaman di kaki Afika dan seketika itu juga pengaman yang sampai ke perut itu terikat sempurna di tubuh Afika.
"Caranya begini." Tata menginjakkan kaki belakangnya dan tampaklah benda itu kini terbang dan saat dia menggerakan kaki depannya ke kiri dan ke kanan benda itu juga berbalik ke kiri dan ke kanan.
"Ayo coba." Afika mengangguk dan menginjakkan kakinya hingga dirinya terasa melayang dan kaki belakangnya sudah terkunci dengan alat tersebut.
"Sini, kita terbang bareng bareng." Tata mengulurkan tangannya hingga saat dia memajukan kaki depannya Afika dan Tata langsung melaju menuju hutan di depan mereka. Nampak pula istana megah tempat Tata tinggal.
"Itu istana siapa?" Teriak Afika pada Tata yang kini mereka berada di atas ketinggian dan angin sangat kencang menerpa mereka.
"Itu rumah ku." Teriak Tata dan langsung membawa Afika ke halaman istana itu, banyak robot di halaman depan dan begitupun di lantai 2 dan 3, Afika menatap takjub ke arah tempat tersebut. Tidak di sangka ternyata pria yang begitu tergila gila padanya itu adalah sosok yang memang sangat luar biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments