Tidur satu ranjang

Di siang hari yang cukup membingungkan, antara mendung dan gerimis serta nampak samar sinar matahari menghiasi siang itu, sebuah pelangi juga nampak menghiasi keindahannya Afika tanpa sengaja menikmati keindahan itu bersama Tata di sebuah cafe.

"Mau minum apa?" Tanya Tata menatap menu yang tertera rapi dalam sebuah gambar, yang di berikan oleh seorang pelayan cafe.

"Aku mau coffe latte ada?" Afika bertanya dengan senyum di bibirnya, Tata mengangguk dan memesan dua coffe latte untuk mereka nikmati.

"Cuaca hari ini aneh banget." Singgung Tata menatap ke arah luar, Afika mengangguk setuju, ini memang aneh.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Afika membuka pembicaraannya dan nampak cukup serius.

"Katakan saja, tidak perlu sungkan." Tata seperti biasanya sosok baik yang selalu mendukung keputusan Afika.

"Besok aku mau bawa orang untuk tinggal di rumahmu, tapi... Satu hal yang mesti kamu ingat, saat berada di sana jangan pernah percaya pada orang itu sedikitpun." Afika berbicara dengan sangat jelas dan memperingatkan Tata terlebih dahulu agar tidak terjadi salah faham di kemudian hari.

"Maksudnya, kamu mau membawa penipu ke rumah gitu?" Tata langsung mengatakan pendapatnya.

Tawa renyah terdengar dari bibir Afika dan kata kata Tata barusan memang agak kasar tapi itu benar, seorang pramusaji datang menghidangkan pesanan mereka.

"Ini datanya." Afika menyerahkan dua lembar kertas ke arah Tata, Tata mengangkat alisnya membaca setiap bait dari kata kata yang terukir dari kertas tersebut.

"Wah, datanya sangat terperinci. Kamu benar benar keturunan Pramudita ya." Tata menatap kagum pada kertas di depannya.

"Iya dong, tolong ya? Boleh kan?" Afika memelas dengan begitu memohon dan langsung di angguki oleh Tata.

"Tapi ingat, kamu harus hati hati menghadapi seekor rubah." Tata lagi lagi mengatakan gambaran yang begitu tepatnya hingga senyum terukir di bibir Afika.

"Siap, asal Tata jangan pernah dekat dekat dengannya." Afika takut bila jiwa laki laki Atta akan bangkit bila melihat kesemokkan seekor rubah itu.

"Baik baik, tapi kalo mau ada acara hajar menghajar aku bisa bantu. Oke?" Afika mengangguk setuju.

Mereka melanjutkan ngopi santai mereka dan pulang saat waktu sudah cukup sore, Tata terkejut saat melihat kamarnya yang sudah di penuhi barang barang Afika.

"Lah kok?" Tata melihat Afika yang ikut masuk ke kamarnya dan tidur dengan nyaman di kamar itu.

"Aku mau bobo di sini mulai sekarang, aku mau tidur sama Tata." Mata Tata membulat, gila saja pikirnya bagaimana bila dirinya ketahuan.

"Tapikan masih ada kamar kosong, kok aneh si?" Tata menarik lengan Afika, Afika masih diam dan menikmati kehangatan tempat itu.

"Please deh, nanti bakal ada cowok sakit. Mau aku tidur sama dia hah?" Afika memejamkan matanya tanpa sadar mengatakan kata kata tersebut.

"Hah? Apa maksudnya sih?" Afika menutup mulutnya, dia benar benar keceplosan saat itu.

"Aku ngantuk ah, aku mau bobo." Afika memeluk guling dan membelakangi Tata yang masih berdiri dengan rasa penasaran.

"Apa maksudnya tadi? Lagian kalo mau tidur mandi dulu gih." Tata melepaskan sepatu Afika dan meletakkannya di sebuah rak di pojok ruangan.

"Iya iya, aku mandi dulu deh." Afika beranjak dan mengambil handuk Tata yang menggantung, Tata membelalakkan matanya, sedangkan Afika dia tersenyum sekilas.

Afika keluar menggunakan handuk yang melilit tubuhnya sebatas dada hingga bagian tubuh Afika seperti paha terekspose dengan indah, Tata memalingkan wajahnya, pipinya memanas bahkan dia sudah hampir muntah darah melihatnya.

"Kamu bisa gak pakek baju dulu di kamar mandi, gak tau malu banget si." Tata mendorong Afika lagi masuk ke kamar mandi.

"Tata, kitakan sama sama perempuan. Aku juga gak bawa baju ganti loh." Tata menghela nafas dan melihat koper Afika.

"Aku ambilkan, kamu baik baik tunggu di sana." Tata mengambil baju tidur Afika.

"Baju dalamnya juga ya." Teriak Afika dari dalam kamar mandi, Tata menghela nafas dan melihat barang barang Afika, dia sudah beberapa kali menahan dadanya yang hampir melonjak ke luar. Meski dulu dia sangat dekat dengan Afika namun hal seperti itu adalah hal terlarang bagi Tata.

Tata memberikan benda yang di inginkan Afika, Afika di dalam kamar mandi senyum senyum tidak jelas. Afika sangat senang mengerjai Tata, dan kedepannya pasti akan lebih sering lagi.

Tata yang sudah tidak tahan memutuskan untuk ke dapur saja, di sana dia meneguk dua gelas air mineral dan rasa haus di kerongkongannya yang datang tiba tiba itu akhirnya bisa terselamatkan.

"Dia apa apaan si, ya ampun tadi itu bahaya sekali." Gerutu Tata kembali meminum segelas air. Tata memeriksa lemari pendingin dan mengeluarkan beberapa bahan masakan.

Afika yang berada di kamar Tata bisa mendengar dengan jelas suara Tata yang tengah memasak, tapi dia lebih memilih tidur karena kantuk, sedangkan Tata melanjutkan memasak.

Keesokan paginya seorang wanita bertubuh cukup tinggi meski tidak setinggi Afika dan Tata namun dia cukup menawan, bermata indah dengan rambut berponi, wanita itu mengetuk rumah Tata sudah hampir 15 menit.

"Buka gih!" Pinta Afika, Tata menggeleng dan tidur lagi, Afika terkekeh dan turun dari ranjang menuju pintu depan.

Drama tidur tadi malam cukup menguras stamina Tata, dia masih mengantuk dan tidak ingin di ganggu apapun. Afika membuka pintu dan wanita itupun akhirnya melambaikan tangan.

"Tuh di sana kamarnya, aku masih ngantuk." Afika menunjuk kamar depan dimana semula kamar itu adalah kamar yang dirinya tempati. Afika berbalik meninggalkan wanita itu sendirian dan kembali ke kamar Tata.

"Ngantuk ah." Afika memeluk Tata dari belakang dan kembali tertidur, berbeda dengan Afika, Tata malah terbangun namun dia juga tidak bisa memindahkan lengan Afika dari perutnya.

Saat di rasa Afika sudah terlelap Tata berbalik dan menatap wajah polos Afika, aroma tubuh Afika tercium jelas dari indra penciuman Tata, bulu mata lentik Afika mampu memikat Tata dan sebuah kecupan mendarat di kening Afika.

Diam diam Tata juga senang dengan keputusan Afika yang memilih tidur satu ranjang dengannya, memang itu cukup menantang bagi Tata tapi dia bahagia merasakan debaran indah di dadanya.

Di sebuah ruangan lain seorang wanita tersenyum licik dan memasang beberapa alat penyadap di rumah itu, IT di kepala Tata sudah memberikan peringatan bahaya beberapa kali hingga senyum jahat terukir di wajah Tata.

Mau macam macam denganku ya? Mimpi! Batin Tata mengontrol semua alat penyadap itu melalui IT tanpa di sadari oleh orang yang memasangnya. Tata mulai membuat pengaturan baru pada penyadap itu, dia membuat pengaturan di mana hanya hal yang di inginkan Tata saja yang akan terdengar oleh si penyadap.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!