Sudut pandang

Tata keluar kamar saat waktu sudah siang, dia melihat seorang wanita sedang mengacak acak lemari pendinginnya.

"Ehem, siapa kau?" Tanya Tata geram, wanita itu nampak terkejut dan menjatuhkan sebotol air mineral yang langsung membasahi lantai.

"Aku Ismi sahabat Afika, a..a..aku.." Ismi berpura pura lugu berharap mendapatkan simpati dari Tata.

"Saat kau di sini, jangan pernah mencoba menyentuh barang barang ku. Bersihkan itu!" Perintah Tata dengan nada sangar, diam diam di balik pintu Afika mendengarkan apa yang di ucapkan Tata. Mungkinkah Tata sudah tahu maksud kedatangan Ismi sebenarnya? Pikir Afika dalam hatinya.

Tanpa bertanya lagi, Ismi langsung membersihkan lantai dan berlalu menuju kamar depan, dia menggerutu kesal.

Sial! Aku berniat mengadu domba mereka, malah aku yang kena omel. Kurang ajar! Ucap Ismi dalam batinnya, sedangkan di luar sana Afika keluar kamar dan menatap Tata yang menatap jijik dapurnya.

"Kenapa sih bawa kecoa besar ke rumah, jijik tau!" Tata mengibaskan tangannya. Afika terkekeh dan langsung duduk di samping Tata yang masih menggerutu.

"Jangan gitu dong, aku juga kesal cuma aku gak bisa membuat.." Afika menghentikan ucapannya saat melihat lampu berwarna merah berkedip di belakang lemari pendingin.

Afika mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam gelas yang berisi air, Tata terkekeh melihat kelakuan Afika. Tata menuju kamarnya dan mandi sebelum akhirnya menunggu Afika di depan kediamannya.

Afika masih mencari alat penyadap lainnya namun tak berhasil dia temukan, hingga akhirnya Afika cepat cepat mandi dan mengikuti langkah Tata menuju ke luar kediamannya.

"Afika, kalian mau kemana?" Tanya Ismi saat melihat Afika dan Tata sudah cantik dengan penampilan mereka.

"Aku ingin pulang dulu, kamu gak papa kan di rumah sendirian." Afika ingin muntah rasanya berpura pura baik pada wanita itu, Tata langsung menyeret lengan Afika dan membukakan pintu mobilnya.

Afika melambaikan tangannya pada Ismi dan berlalu bersama Tata meninggalkan kediaman itu, Setiap akhir pekan Afika memang selalu menyempatkan diri datang ke kediamannya namun ini juga yang pertama dirinya mengajak Tata.

Peta digital dalam ponsel Tata memudahkan Tata berkendara dengan cepat dan sampai di depan gerbang megah sebuah istana, Afika dan Tata memasuki gerbang itu saat dua penjaga membukakan pintu untuk mereka.

Afika keluar dari mobil bersamaan dengan Tata, seorang pria tua nampak menyapa mereka dan langsung memeluk Afika, Pria tua itu tak lain adalah kakek Afika. Dia benar benar ingin tertawa saat melihat penampilan Atta yang rela menjadi Tata demi Afika kala itu.

"Ini temannya itu ya?" Tanya kakek menatap Tata dari ujung kaki ke ujung kepala, dia benar benar tak tahan ingin tertawa kala itu.

Dasar Kakek, ketawa aja padahal biar Afika curiga sekalian. Umpat Tata dalam hati, Afika mengangguk dan menggandeng lengan Tata.

"Ini Tata, dia sahabat terbaik ku, kalo boleh milih dia aku pengen banget jadi istrinya." Canda Afika membuat Kakek dan Tata terkekeh dengan candaan Afika.

Aku juga pengen jadi suami kamu sayang. Batin Tata, Tata dan Kakek nampak memberi kode dan Kakek langsung membawa Tata dan Afika untuk memasuki kediaman itu.

"Afika dan Tata kita makan dulu ya, setelah itu kita bisa bermain." Kakek dengan semangat mengangkat tangan tuanya, Afika tertawa dan mengikuti langkah sang kakek, bersama dengan Tata.

Setelah selesai makan, Afika dan Tata duduk di taman belakang sedangkan kakek tadi tiba tiba ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya melihat terlebih dahulu dan meninggalkan Afika dan Tata.

"Di sini teduh." Ucap Tata menatap ke arah di mana pohon pohon seolah tengah memayunginya, Afika mengangguk setuju.

"Ta, besok akan ada seorang pria sakit." Alis Tata seketika terangkat merasa penasaran dengan siapa pria yang di maksud oleh Afika.

"Siapa?" Tanya Tata, Afika menghela nafas dia juga tidak bisa menceritakan apapun pada Tata saat ini, namun dia juga tidak mungkin selamanya seperti itu.

"Sore ini aku berencana bertemu Atta tunangan ku." Seketika itu juga mata Tata membulat dan mengalihkan pandangannya pada Afika yang kini menatap lurus ke arah di mana bunga nampak bermekaran indah.

"Sungguh, Atta itu?" Tata berpura pura polos berusaha mencari tahu tentang siapa Atta bagi Afika sendiri kala itu.

"Berjanjilah jangan ceritakan ini pada siapapun?" Afika mengangkat jari kelingking dan langsung di sambut oleh jari kelingking Atta yang bertaut seolah mengikat janji.

"Sebenarnya aku melupakan ingatan masa kecilku, kakek bilang ini terjadi setelah kecelakaan yang merenggut kedua orang tuaku." Afika menghentikan kata katanya menatap langit yang nampak biru cerah kala itu.

"Beberapa orang bilang bila aku memiliki tunangan masa kecil dia bernama Atta dari bermarga Attahaya. Ah, aku juga belum tahu dia seperti apa? Tapi aku yakin dia orang yang baik." Afika memejamkan matanya.

"Apa kamu mencintainya?" Tata bertanya ragu ragu, dia merasa ragu dengan jawaban yang akan di lontrarkan Afika namun dia juga merasa hampa karena ingatan Afika yang tidak menyisakan sedikitpun tentang dirinya saat itu.

"Aku tidak tahu, ketemu juga belum kan?" Tata mengangguk setuju dengan pendapat Afika dia menggenggam tangan Afika dan berusaha membiarkannya.

"Bila kamu tidak menyukainya sebaiknya katakan saja langsung agar tidak membuat kamu sakit hati berkepanjangan, tapi bila justru dia sangat mencintaimu setidaknya beri dia kesempatan untuk itu." Afika terkekeh mendengar penuturan Tata.

"Bukankah intinya sama saja, kamu memintaku untuk percaya padanya kan? Dasar kau ini padahal kau sahabat ku tapi malah mendukung orang lain." Afika tertawa menyenggol lengan Tata yang terkekeh pula.

"Ya setidaknya kan dia orang istimewa di hatimu dulu, aku yakin dia sangat tersiksa saat tahu kau tidak lagi mengenalinya." Tata berbicara berdasarkan fakta yang dirinya rasakan sendiri.

"Kamu berbicara seolah kamu Atta saja, kalo dia beneran cinta sama aku mana mungkin dia gak nemuin aku sampai sekarang." Afika berbicara seolah memberi kode pada Atta.

AKU di sini Afika. Batin Tata meronta, dia menghela nafas panjang dan terasa sedikit lega. Mungkin bila suatu hari Afika tidak mencintainya lagi dia harus berusaha lapang dada dan menerima kenyataan. Dia juga tak ingin egois mempertaruhkan kebahagiaan Afika. Setidaknya dia bisa menjadi Tata yaitu sahabat baiknya.

"Ta?" Afika merasa penasaran pada pola berfikir Atta dari sudut pandang Atta sebagai Tata tentang dirinya kini, Afika menatap lembut ke arah Tata.

"Seandainya kamu adalah Atta, terus aku malah mencintai orang lain kamu pikir Atta akan menerimanya tidak ya?" Mata Tata seketika melotot, mendengar kata kata mematikan itu mampu membuat tubuh Tata melemas seketika. Tata terpaku berusaha mencari jawaban yang tepat berdasarkan sudut pandangnya sendiri sebagai seorang Atta.

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

Ismi alias si Maya selingkuhan nya Jhosua..

2024-04-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!