Mendominasi

...🍃🍃🍃...

Setelah melakukan sarapan yang membuat jantung tidak karuan itu akhirnya Tata dan Afika kembali ke bagian taman kaca, nampak Tata yang masih terdiam dan sedikit berpikir.

"Kenapa?" Tanya Afika merasa bingung dengan Tata yang tiba tiba saja diam itu.

"Apa kamu mau mendengar cerita?" Tata meraih tangan Afika dan mendekap gadis itu dalam pelukannya.

"Baiklah, cerita apa?" Tata mulai menundukkan wajahnya dan hendak memulai cerita panjang yang selama ini hanya menjadi rahasianya saja.

"Kamu tahu, Kak Naura sebenarnya tidak meninggal dalam kecelakaan? Entah mengapa aku merasa bila ingatan kamu tidak ada yang hilang." Ucap Tata memeluk Afika dengan hangat.

"Apa yang akan kamu ceritakan sebenarnya sayang?" Afika berbalik dan menatap manik mata Tata yang nampak sendu.

"Jujurlah padaku." Afika menelan salivanya melihat wajah Tata yang di penuhi oleh rasa bersalah.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Afika berharap bila dia tidak perlu memberi tahu Tata saat itu.

"Aku memiliki IT sayang, aku bisa membaca hati seseorang dengan mudah dari detak jantung dan pergerakan." Jawab Tata, Afika menelan salivanya dan memeluk Tata.

"Sepertinya akulah yang harus bercerita lebih dulu bukan?" Afika bergumam dalam pelukan Tata, Tata mengangguk dan siap mendengarkan cerita Afika.

"Saat kakek akan melakukan penghapusan memori saat itu sebenarnya semua ingatan yang aku miliki masih ada, dan aku juga memilki masa yang tidak aku ketahui. Yaitu, masa depan kita. Banyak hal yang sangat menyakitkan yang aku lihat di sana dan kia berdua berakhir meninggal di dalam sumur, kamu tahu saat itu aku sedang hamil." Tata seketika itu juga melotot dan menatap ke arah mata Afika.

"Lantas apa yang sebelumnya terjadi?" Tata merasa penasaran dengan pa yang sebenarnya terjadi pada Afika.

"Apa kamu tidak akan marah bila aku mengatakannya?"

"Katakan saja, apapun yang terjadi aku juga akan di sini untuk kamu sayang." Tata mengecup sekilas kening Afika.

"Aku masuk pada sebuah lorong waktu, dan saat itu aku melihat banyak gambaran dari masa yang akan datang dan gambaran dimana Ismi adalah kunci yang sebenarnya yang mengetahui maksud dari pembunuhan yang di lakukan pada kedua orang tuaku." Afika mulai merasakan matanya memanas.

Ilustrasi lorong waktu

"Saat itu aku melihat bila aku tidak mengenali mu sebagai Atta dan aku malah mencintai Atta palsu dan menikah dengannya, aku hamil dan meninggal bersama mu. Kamu tahu aku baru sadar bila mungkin anak yang aku kandung saat itu adalah anak mu." Tata mengerjapkan matanya merasa sangat tertekan.

"Aku yakin itu anak kamu, sangat yakin." Ucap lagi Afika meyakinkan Tata, Tata menatap Afika dengan lembut.

"Kenapa bisa seyakin itu?" Tata yang menyembunyikan wajah merahnya, benar saja dia tidak akan rela bila Afika di sentuh siapapun dan dia juga mungkin akan mengorbankan apapun demi Afika.

Afika tidak menjawab pertanyaan Tata dia malah mengecup bibir Tata dengan panas membuat darah Tata menjadi mendidih saat lidah mereka semakin bertaut, suara decakan terdengar dari bibir mereka dan sensasi aneh mulai menjalari tubuh keduanya.

Tata meraih tubuh Afika dan mendudukan tubuh Afika di atas pahanya dan mulai memperkecil jarak di antara keduanya, napas mereka mulai terdengar berat bahkan tangan Tata kini naik ke dada Afika. Dengan lembut dan perlahan Tata mulai meremas satu dada Afika dan tangan yang satunya mulai menyusup ke belakang pakaian Afika.

Afika melepaskan ciuman panas itu dan menahan tangan Tata, wajah keduanya sudah memerah dan detak jantung keduanya sudah tidak beraturan. Afika meraih kedua tangan Tata dan mengecupnya lembut.

"Gerakan ini sama persis sayang, aku yakin yang melakukan itu adalah kamu." Bisik Afika seketika itu juga mata Tata membulat, ternyata Afika melakukan itu hanya demi memberi bukti saja.

"Ayo kita buat lagi dan kita jaga bersama." Tata mariah tengkuk Afika dan mengecup bibir merah itu dengan lembut, Afika bisa merasakan perasaan menuntut kekasihnya dan buru buru mendorong dada bidang itu.

"Apa kamu yakin? Katanya mau cerita dulu?" Afika segera menghentikan tangan liar Tata yang sudah ingin menggerayaminya.

"Untuk apa cerita? Kamu juga sepertinya sudah tahu semua. Waktu sudah membuat ikatan dengan mu sayang, pasti kamu lebih tahu dari aku." Jawab Tata menghentikan aktifitasnya.

"Membuat ikatan seperti apa? Aku saja tidak tahu ikatan apa." Afika merasa sangat penasaran maksud inti dari ucapan Tata.

"Sayang, bila kamu bisa melihat lorong waktu. Itu artinya waktu sudah membuat ikatan dengan mu, sama seperti aku yang sudah membuat ikatan bersama IT." Jawab Tata dengan senyum di bibirnya.

"O...oke, aku kurang paham ta..tapi.." Belum selesai Afika berucap sebuah sistem terdengar memperingatkan mereka.

"Tuan, hal yang anda mina sudah di persiapkan." Afika melongo apa lagi yang akan di siapkan oleh pria ini sekarang.

"Ayo sayang, biar kita kenalan pada dunia ini." Tata mengangkat tubuh Afika dan membawa wanita itu ke kamar mereka di lantai 3.

"Mau apa si sayang?" Afika yang kian jadi penasaran dengan maksud Tata kian menjadi bingung, Tata tidak menjawab dan malah membawa Afika ke atas ranjang.

"Mau makan kamu." Bisik Tata, sontak saja mata Afika melotot. Yang benar saja pikirnya padahal dia semula berucap hanya iseng saja.

"Ta..tapi.. Kamu serius?" Afika gelagapan saat lidah Tata muali menjilati telinganya, sensasi geli dan nikmat seketika melebur membuat rona merah di pipinya.

"Bukankah sudah pernah melakukannya, kenapa harus takut?" Bisik lagi Tata membuat Afika gelagapan hingga napas panas Tata kini terasa di lehernya yang jenjang.

"Ta..tapi Itu di..lorong waktu, akh.." Afika merintih saat sebuah gigitan kecil di berikan Tata di leher miliknya.

" Nikmatilah permainannya sayang." Bisik lagi Tata seketika itu juga Afika memeluk Tata erat, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan pria itu kedepannya. Tapi, Afika memang sudah menyerahkan seluruh cintanya pada Tata saat ini.

"Dengan lembut ya sayang." Lirih Afika menghempaskan dirinya ke atas kasur dengan wajah merah dan baju atasnya yang terbuka hingga bagian belahan dadanya terlihat dengan sempurna.

Melihat ekspresi menyerah pada diri Afika membuat Tata tersenyum lembut, perlahan namun pasti Tata mengecup bibir Afika dan tangannya mulai naik menjamah dua gunung yang sejak saat itu menjadi daya tarik wisata tangannya yang nakal.

Puncak gunung yang berwarna merah muda itu kini terlihat dengan indah membuat dada Tata bergemuruh menantikan hal yang lainnya perasaan ingin memiliki sudah menguasai Tata sejak awal permainannya, sikap mendominasi pria itu sudah membuat Afika kewalahan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!