Bertemu Tata

Diam-diam seseorang masuk saat waktu sudah menunjukkan tengah malam, sesok pria bertubuh tinggi, berbadan tegak memandangi gadis yang kini tertidur, dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.

"Aku pasti akan melindungimu." bisik pria itu seraya mengelus kepala Afika yang telah tertidur.

Senyum pahit nampak tergambar dari bibirnya, keindahan bulan malam itu tak membuat perasaan ikut membaik. Tangan pria itu tiba-tiba bergetar dia mengelus pipi Afrika dengan perasaan yang sangat sulit dimengerti.

"Afika, apa kau tidak mengingatku sekarang?" Tanya pria itu, dia tahu bila Afrika saat itu sudah tertidur lelap. Namun dia sangat ingin dekat dengan gadis itu, gadis yang selalu menemaninya setiap saat, selalu bahagia bersamanya, dan selalu tersenyum saat menata matanya.

2 jam pria itu berjongkok memandangi wajah Afika, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali turun melalui jendela. Air mata nampak membasahi matanya, senyum pahit tak lepas dari bibirnya.

Hingga pagi tiba dan Afika mulai berjalan dan bertanya apapun pada sang kakek layaknya gadis polos yang tidak mengetahui apapun, Afika bahkan bertanya tentang berbagai macam jenis bunga dan senyum terukir di bibirnya.

Rona kebahagiaan nampak di wajah sang kakek hingga dua minggu lamanya Afika tidak kemana mana, dan akhirnya tepat di hari senin Afika akan mulai menuntut Ilmu. Apa yang akan di lakukan Afika apa dia akan merubah masa depannya yang sangat pilu itu?

Tidak, jelas Afika tidak akan merubah hal itu, dia akan tetap di jauhi oleh teman temannya namun diam diam dia selalu memperhatikan seorang gadis bertubuh tinggi yang diam diam selalu membelanya saat orang lain memojokkannya.

Suatu hari Afika yang tidak biasanya ke kantin akhirnya memutuskan untuk mencari gadis yang selalu membelanya itu, seorang gadis cantik bertubuh tinggi dengan kelakuan seperti seorang laki laki.

"Syuut.. dia ngapain ke kantin?" Seorang gadis berbisik menyenggol lengan temannya yang duduk di sampingnya saat itu.

"Dia kan nyonya besar, ngapain dia ke kantin?" Bisik gadis lain, Afika jelas tidak perduli hingga tiba tiba kaki seorang wanita keluar dari area duduknya dan meletakkannya pada jalan seorang gadis culun yang membawa kuah bakso.

Afika tersenyum dan menghindar, dia kemudian menarik gadis culun itu dan tersenyum ke arahnya. Afika melangkah ke arah kaki yang terjulur dan menginjaknya dengan kasar.

"Uh, maaf aku kira itu akar pohon." Ucap Afika sombong dan mengibaskan rambutnya kembali mencari gadis yang sering membelanya, sayang sekali gadis itu tidak dia temukan.

Semua orang yang melihat itu tak berani membantah malah beberapa Siswa nampak tertawa puas melihatnya dan yang lain merasa kagum pada Afika.

Afika masih sama seperti Afika dalam mimpi buruknya yang tidak memiliki teman dan tidak ada yang berani menyinggungnya hingga acara kelulusannya Afika tidak menemukan sosok gadis yang sering diam diam menolongnya itu.

Afika sama sekali tidak mengubah sejarah, dia bersekolah di Universitas di mana tempat itu sama persis seperti dalam ingatannya yang sudah terpatri, Afika tak ingin mengubah apapun saat itu dia hanya ingin bertemu dengan seseorang.

Hingga waktu yang sudah di tunggu Afika tiba, hari di mana seorang gadis bertubuh ringkih akan menabraknya di jalan. Afika berdandan secantik mungkin dan melangkah di sebuah trotoar jalan menuju area Fakultasnya. Seorang wanita tiba tiba berlari ke arahnya.

Brak...

Bentrokan yang di nantikan oleh Afika akhirnya terjadi, seorang gadis bertubuh tinggi berwajah cantik, berambut hitam kecoklatan, berkulit putih dan bermata coklat keemasan.

"Maaf.. maaf.. aku buru buru nih." Wanita itu kembali merapikan buku buku sketsa di tangannya dan di bantu oleh Afika.

"Aku bantu ya? kelasku kosong katanya karena dua dosen yang akan mengajar sedang sakit." Wanita di hadapnnyapun mengangguk dan menyerahkan beberapa buku miliknya ke tangan Afika.

"Kita ke sana ya, tuh sudah mulai." Wanita itu menunjuk ke arah gedung teater di luar Universitas tepatnya berhadapan dengan gedung Universitas tempat Afika menuntut ilmu.

"Kakak akan tampil di sana?" Tanya Afika penasaran, dulu dia tidak sempat berlama lama dengan wanita itu karena merasa curiga.

"Tidak, aku yang buat kostumnya saja. Kita nonton dulu yu?" Ajak wanita itu dengan gembira menarik lengan Afika untuk duduk di jajaran kursi penonton.

"Oh ya, Aku Tata. Kamu namanya siapa?" Tata bertanya mengulurkan tangannya pada Afika.

"Hai Tata, aku Afika. Salam kenal ya." Afika menjabat tangan Tata dan senyum nampak terukir di wajah Tata.

"Iya, lucu ya namanya Afika dan Tata." Tata tersenyum lembut dan menatap ke tempat di mana para pemain teater muali satu demi satu memasuki panggung. Afika sendiri tidak menatap ke arah panggung matanya terus menyelidik ke setiap sudut wajah Tata.

Tata bukanlah seorang wanita, Afika tahu hal itu namun penyamaran yang di lakukan Tata bahkan mengalahkan para pemeran teater yang kini berlaga. Afika tersenyum lembut, apa jadinya bila dia melakukan sesuatu yang menantang pada Tata apa Tata akan menjauhinya?

Afika kembali menggeleng, dia tidak ingin merusak skenario yang sudah di rancangnya dengan matang. Afika menatap ke arah sketsa sketsa dalam buku di pelukannya.

"Indah." Bisik Afika menyentuh guratan pensil di sana, Tata memalingkan wajahnya menatap Afika yang tengah menahan takjub.

"Apa kau mau melihat karya karya buatanku?" Tata menawarkan diri dan sontak saja binaran cahaya nampak dari mata Afika.

"Mau dong, ini seketsanya aja bagus bagus begini. Kapan?" Tanya Afika dengan sumringah dan penuh semangat.

"Sore ini ada kelas gak?" Tata bertanya berharap harap cemas.

"Enggak ada si, cuma aku harus kasih tau dulu orang rumah." Tata mengangguk setuju, keduanya kembali menatap ke arah panggung Teater, mereka terhanyut dalam setiap gerakan para pemain itu hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan cukup sore.

"Aku telpon kakek dulu ya." Afika menghubungi kakeknya dan mengatakan akan pulang terlambat, kakeknya mengerti dan memperbolehkan Afika pulang terlambat, selain itu sebelumnya kakek sudah menerima pesan dari Atta agar memberi izin pada Afika telat hari ini.

"Kakek udah izinin, oh ya kita mau kemana?" Afika melihat Tata menuju sebuah parkiran dimana mobil mobil mewah terparkir di tempat itu. Sebuah mobil sport berwarna hitam di naiki oleh Tata.

"Wah, mobilnya keren." Afika menyanjung Tata dengan senyum lebar di bibirnya dan tepuk tanagan yang meriah dari tangannya, Tata terkekeh dan melemparkan sebuah kaca mata hitam ke arah Afika.

"Ayo kita melesat cantik." Ucap Tata, Afika tertawa melihat bagaimana kelakuan Tata yang nyata sekali seperti seorang wanita, dia nampak begitu sangat menikmati perannya sebagai wanita jadi jadian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!