Malam hari seperti biasa mereka memang banyak bicara tapi mereka hanya akan memperbincangkan masalah sepele saja, seperti memasak dan barang yang laris juga beberapa hal yang sedang viral. Mereka tidak memperlihatkan sosok mereka yang sesungguhnya, nampaknya pria yang di bawa oleh Afika juga sudah bangun namun Afika benar benar malas bertemu dengan pria itu hingga akhirnya tanpa sengaja mereka berpapasan di pagi hari.
"Kamu siapa? Dan kenapa malam itu? Kenapa berada di sungai?" Tanya Afika tanpa rasa berdosa padahal dia sendirilah yang menjatuhkan pria itu ke sungai.
"Aku Attala Attahaya." Ucap pria itu, Afika membulatkan matanya dia benar benar tak habis pikir kenapa pria itu menggunakan identitas Atta.
"Siapa kau?" Ulangi Tata merasa terperanjat ada seseorang yang berani menggunakan namanya dengan gamblang.
"Aku Atta.." Tata mengangkat tangannya menandakan pria itu harus berhenti bicara dan menyeret tangan Afika.
"Kita harus bicara!" Ucap Tata pada Afika menyeret gadis itu masuk ke dalam kamar mereka dan buru buru mengunci kamar itu.
"Afika kau percaya bila dia Atta?" Tanya Tata berharap agar kekasih kecilnya itu tidak terpedaya oleh tipu muslihat orang gila itu.
"Tentu saja, bila dia berbohong dia juga pasti tahu apa konsekwensi yang harus dia hadapi bukan?" Afika bertanya seraya menjawab perkataan Tata, saat itu juga hati Tata terasa remuk.
Dasar gadis bodoh! Dimana kau simpan otakmu itu Afika? Batin Tata yang langsung pergi meninggalkan Afika begitu saja dan berangkat ke butiknya sendirian.
Selama dua hari Tata nampak sangat acuh pada Afika meski Afika datang ke butiknya dia selalu membiarkan Afika sendirian, Afika sadar akan hal itu dan dia membiarkan saja apa yang di inginkan Tata, hingga akhirnya hari ulang tahun mereka terlewatkan dengan acara marahan mereka.
Afika kembali ke kediamannya tanpa Tata dan Tata juga bekerja tanpa Afika, mereka nampak diem dieman saja hingga satu minggu berlalu dan sebuah kejadian yang mencengangkan membuat Tata naik fitam.
Malam itu Tata pulang ke rumahnya dia tidak mendapati Afika dan Atta palsu itu, Tata sangat khawatir hingga untuk pertama kalinya setelah dia marah pada Afika dia memutuskan untuk menghubungi Afika.
"Hei bodoh kau di mana?" Tanya Tata dengan perasaan khawatir namun dengan sifat juteknya yang tidak ada duanya.
"Aku lagi makan malam sama Bunda nya Atta, dia ngasih aku hadiah ulang tahun cantik banget dan dia juga..." Tuuut.. tuuut tuuut.. akhirnya sambungan telepon terputus, Afika tersenyum dan menatap sosok wanita yang kini berada di hadapannya.
"Kak, aku beneran ih besok mau main ke rumah, aku mau ketemu Atta." Pinta Afika, Diana Attahaya adalah Ibu dari Atta yang sebenarnya.
"Memangnya kenapa mau ketemu Atta?" Tanya Diana bingung dengan permintaan anak sahabatnya itu.
"Pengen ketemu aja, soalnya selama aku kehilangan memori di kepala ini aku belum pernah tau bagaimana Atta dan juga belum tahu sifatnya gimana, suatu hari bila tiba tiba ada yang bilang dan ngaku Atta gimana tuh kan aku bisa aja percaya padahalkan bukan. Ketipu kan aku." Afika menjelaskan dengan sedikit manja membuat Diana terkekeh.
"Baik baik, besok kamu datang ke rumah ya? Afika jangan lupa untuk bawa hadiah buat Atta dia pasti kangen banget sama kamu." Diana mengedipkan sebelah matanya pada Afika.
"Oke Kak Diana jangan lupa bilang ke dia kalo dia juga harus kasih hadiah sama aku ya." Afika terkekeh sembari menerima kotak pemberian Diana.
"Jangan lupa kita keluarga, kita lakukan apapun bersama ya. Bila ada masalah jangan sungkan bilang sama kakak oke?" Diana dengan lembut memberi kehangatan pada Afika.
"Siap kak." Afika memberi hormat bendera pada Diana dan membuat Diana terkekeh dan malam itupun akhirnya berlalu dengan perpisahan mereka di jalan.
Afika pulang larut malam sedangkan nampak di ambang pintu Tata yang sudah menunggu dengan wajah masam, saat melihat Afika dia langsung menarik gadis itu ke dalam mobilnya dan membawanya ke suatu tempat.
Tata membawa Afika ke sebuah apartemen mewah dan terus saja diam dengan wajah masam, Afika juga tidak mengatakan apa apa. Afika tahu bila saat itu mungkin kondisi Tata tidak sedang baik baik saja.
"Seneng banget ya keluyuran malam malam." Wajah Tata sangat masam seperti kedondong, Afika mengerutkan dahinya.
"Aku bingung, sebenarnya ada apa dengan mu Ta?" Tanya Afika dengan wajah polos tak berdosanya, Tata memutar bola matanya.
"Sudah ketemu sama calon mertuanya?" Tanya Tata sebal, Afika mengangguk dengan senyum bahagianya.
"Cih, kau ini sebenarnya kemana saat dalam pembagian otak kau tidak datang ya?" Afika mengangkat alisnya merasa geli dengan ucapan Tata.
"Aku datang kok, kamu sendiri kenapa marah marah gak jelas saat pembagian ruh kamu kemasukan setan ya sampe suka marah marah gini?" Afika balik bertanya membuat Tata merasa geram.
"Afika, denger ya kamu beneran percaya kalo dia itu Atta, serius?" Afika mengangkat bahunya tidak perduli dan menghempaskan dirinya ke sofa.
"Ini Apartemen siapa? Aku lelah." Lirih Afika seraya menahan senyumnya di balik bantalan Sofa.
"Apartemen temen, tidur aja di sini ke depannya jangan berhubungan dengan Atta lagi ngerti?" Afika tidak menghiraukan ucapan Tata, mungkin benar akibat lelah yang menggerogoti tubuh Afika membuatnya sangat lelah sehingga dalam waktu tiga detik saja dia sudah langsung tidur.
"Dasar kebo!" Tata memaki Afika dan duduk di samping Afika, Tata mengikat rambutnya yang panjang dan bercermin.
Dasar bodoh, kamu malah percaya sama pria aneh itu Afika. Lihat aku, aku melakukan ini demi siapa? Afika. Batin Tata dengan perasaan getir.
Samar samar Afika mendengar rintihan Tata dia juga merasa kasihan pada pria itu, namun dia berjanji bila besok dia akan memulai segalanya dengan Atta yang seutuhnya. Dia akan memulai babak baru dengan permainan itu.
Tata terus menangis sepanjang malam, saking kalutnya Tata bahkan tidak membawa ponsel atau apapun, dia ke sana hanya ingin memastikan Afika aman dan tidak masuk perangkap pria kurang ajar itu.
Di belahan bumi yang lain seorang wanita berusia 45 tahunan tengah uring uringan berusaha menghubungi anaknya, sedangkan yang di hubungi bahkan lupa mengaktifkan IT dan kalut dalam perasaannya sendiri.
Mungkin benar bila cinta itu buta sama halnya dengan apa yang terjadi pada Atta yang bahkan melupakan seisi bumi karena perasaannya itu, Tata benar benar tidak dapat memaafkan kebodohannya sendiri yang malah datang pada Afika sebgai Tata dan bukan dirinya sendiri yang sangat mencintai Afika, bila semua itu tidak terjadi pasti kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments