Bab 19. Tak ditemukannya titik terang, dan ungkapan hati.

Kantor kepolisian, ruang Detektif Raka.

Detektif Raka sedang duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer dengan kening berkerut, mencoba menemukan titik terang dalam kasus Jia, Dika, dan Sua. Lembaran-lembaran berkas tersebar di meja kerjanya, sementara peta kota dengan berbagai penanda terpampang di dinding.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras. Raka langsung terkejut dan melihat ke arah pintu. Di ambang pintu berdiri Komisaris Andi, atasan langsungnya, dengan wajah merah padam dan aura marah yang kuat.

"Raka! Apa kabar kasus Jia, Dika, dan Sua? Sudah berapa lama kita menangani kasus ini, dan belum ada kemajuan sama sekali?!" Bentak komisaris Jona

Detektif Raka yang merasa gugup berkata, "Pak, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah mengumpulkan berbagai bukti dan informasi, tetapi memang belum menemukan titik terang."

Komisaris Jona menggebrak meja, "Ini bukan masalah berusaha! Ini masalah hasil! Apakah kamu tidak sadar betapa pentingnya kasus ini? Publik menunggu keadilan! Media terus mengejar kita!" bentaknya lagi

"Saya mengerti, Pak. Saya akan bekerja lebih keras lagi dan berusaha menemukan petunjuk baru secepat mungkin." ucap Raka bersungguh-sungguh.

Komisaris Jona menunjuk ke peta di dinding, "Lihat peta ini, Raka! Ini adalah kota kita! Dan di kota ini, ada tiga kasus yang belum terselesaikan. Kasus yang membuat publik merasa tidak aman dan tidak percaya lagi pada penegakan hukum!" sentak komisaris Jona.

"Saya tahu, Pak. Saya merasakan tekanan yang sama. Saya berjanji, saya akan menyelesaikan kasus ini secepat mungkin." ucap Raka seraya menatap peta juga.

Komisaris Andi menghela napas dan berkata, "Baiklah, Raka. Saya harap kamu benar-benar bisa menunjukkan hasil secepatnya. Jangan biarkan kasus ini menggantung terlalu lama."

Setelah itu, Komisaris Andi meninggalkan ruangan dengan langkah cepat, meninggalkan Raka yang masih terpaku di kursinya, merasa tertekan oleh tanggung jawab yang begitu besar.

Malam harinya.....

Raka dan Geo duduk di bangku kayu yang sudah agak reyot di depan toko klontong. Di atas meja kecil di antara mereka, terdapat botol alkohol dan dua gelas. Raka meneguk alkoholnya, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

Geo memandangi Raka, "Kamu terlalu keras pada diri sendiri, Raka. Kasus ini memang rumit, tapi kamu sudah melakukan yang terbaik." ucapnya.

"Tapi itu tidak cukup, Geo. Publik menunggu keadilan, dan kurasa kau juga sedang menunggunya. Aku merasa seperti gagal." ucap Raka dengan suara parau.

Geo mengisi gelas Raka, "Kamu tidak gagal, Raka. Kamu hanya butuh waktu. Dan mungkin sedikit bantuan." ucapnya.

Raka menatap Geo dengan menyipitkan matanya, "Bantuan? Dari mana?" tanya Raka.

Geo tersenyum misterius "Mungkin dari seorang jurnalis investigasi yang sedang mencoba menemukan kebenaran?" ucap Geo yang terlihat membanggakan dirinya.

Raka tertawa terbahak-bahak mendengarnya, padahal mereka sama sama di jalan yang buntu tanpa petunjuk, bisa bisanya Geo menyombongkan dirinya.

"Geo, Kita berada di jalan yang sama. Jangan sombong!" ucap Raka memperingati Geo.

Mereka berdua tertawa, meneguk alkohol mereka, dan melanjutkan obrolan mereka hingga larut malam. Meski situasinya sulit, mereka merasa sedikit lebih baik karena memiliki satu sama lain untuk berbagi beban.

Ketika tengah malam tiba, mereka benar benar sudah berada di bawah pengaruh alkohol.

Geo menatap gelasnya sembari berbicara pelan dan menggumam, "Kau tahu, Raka ... Setiap kali aku pulang ke rumah yang kosong, rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang. Jia... dia bukan hanya istrinya, dia adalah bagian terbaik dari hidupku."

Raka menjawab dengan nada bicara yang tak karuan berantakannya, "Maka dari itu ... aku menyuruhmu untuk ting ... bersamaku. Jangan lagi kembali ke rumah itu, kenangan itu ... luka yang besar untukmu." ucapnya terbata-bata.

Geo mengangguk, padahal tidak mengerti inti dari perkataan Raka.

"Aku tahu ... Tapi rasanya sulit ... untuk bergerak maju. Setiap sudut rumah ... setiap benda di dalamnya ... semuanya mengingatkanku pada Jia." ucap Geo dengan suaranya yang parau.

Raka mengambil napas dalam-dalam untuk berbicara sepanjang mungkin, "Aku tahu, Geo. Dan itu normal. Kamu berhak merasa sedih, kamu berhak .... merindukannya. Tapi, kamu juga harus ingat untuk menjaga dirimu sendiri. Jia pasti ingin kamu bahagia, bukan?"

Geo tersenyum sedih seperti orang bodoh yang kehilangan akal, "Ya, kamu benar, Raka. Jia selalu ingin yang terbaik untukku. Dan aku tahu dia tidak akan pernah ingin melihatku seperti ini. Aku akan mencoba, Raka. Aku akan mencoba untuk merelakan dan melanjutkan hidupku." ucap Geo lalu diikuti dengan tubuhnya yang tumbang karena tak bisa lagi menahan kesadarannya.

Raka juga sedemikian rupa, ikut tumbang dan tak sadarkan diri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!