Bab 15 : Amarah yang terlepaskan

Esok harinya, Geo dan Raka memanggang rotinya sendiri dan mulai sarapan pagi bersama. Sembari itu, mereka berbincang dan sepakat akan pergi ke tempat Dr. Nita untuk mendapatkan hasil pemeriksaan.

Sementara di sisi lain, Nadia tak tahu harus memakai apa setelah selesai mandi. Meski sudah mencuci dan mengeringkan pakaian nya dalam mesin cuci dari tadi subuh, wanita itu merasa tidak enak jika harus memakai pakaian yang sama.

"Sepertinya tak apa jika memakainya hari ini saja. Aku akan pulang dan tinggal di apartemen ku sendiri nanti," ucap Nadia seraya mengendus pakaian yang ia pegang.

"Aku sudah mencucinya jadi tidak terlalu bau lagi," ucapnya menegaskan.

Baru saja melepas handuk dan akan memakai pakaiannya, pintu kamar tiba tiba terbuka. Mata Geo dan Nadia bertemu, jarak mereka yang agak jauh, cukup untuk melihat dengan jelas satu sama lain.

Dengan cepat Geo menutup pintu lagi. Nadia yang terpaku dan syok memilih untuk diam dan tidak berekspresi apapun. Namun ia kehilangan arah dan tak tau harus berbuat apa. Dia berbolak-balik dari tempatnya, dan menatap ke semua penjuru arah, menjadi linglung untuk waktu yang cukup lama.

Setelah tersadar, ia masuk keruang ganti untuk memakai pakaiannya. Kalau kalau Geo masuk tanpa aba aba lagi.

Sementara itu, Geo juga mengalami sesuatu yang cukup mengejutkan. Ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat oleh matanya, hal itu membuatnya terkejut dan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ditambah lagi, ia telah lama merasa kurang diperhatikan dalam hal keintiman dan kasih sayang. Situasi ini, meski membingungkan, juga membangkitkan rasa keinginan dalam dirinya yang telah lama terpendam. Bisa dibilang, Geo sedikit bergairah saat melihat tubuh Nadia yang sedikit telanjang tadi.

Geo berdehem lalu berkata, "A-aku memanggang roti untukmu, turun dan sarapan lah. Aku dan Raka akan pergi ke- ke laboratorium forensik untuk penyelidikan. Dan tentu, jika kau ingin ikut bersama ka-kami."

Meskipun terdengar samar, namun Geo mendengar kata, "Baiklah," Jauh dari pintu kamar tersebut.

Di laboratorium forensik, setelah menunggu beberapa menit, hanya Geo dan Raka saja yang diperbolehkan untuk memasuki ruang Dr. Nita. Dan Nadia tentunya menunggu di luar.

"Raka, saya punya kabar yang menarik untuk kalian. Dari hasil pemeriksaan, saya menemukan sampel keringat di kalung yang dikenakan oleh pelaku." ucap Dr. Nita.

"Benarkah? Itu berarti kita punya petunjuk baru!" ucap Raka dengan antusias.

"Baguslah! Keringat bisa memberi kita banyak informasi. Apa yang bisa kita ketahui dari sampel tersebut, Dr. Nita?" ucap Geo.

"Dengan sampel ini, kita bisa melakukan tes DNA, yang bisa memberi kita lebih banyak informasi tentang identitas pelaku." jelas Dr. Nita

"Tapi, saya harus mengingatkan kalian bahwa tes DNA tidak selalu memberikan jawaban yang pasti atau identifikasi yang akurat. Ada batasan dalam teknologi dan sumber daya yang tersedia, jadi kita harus berhati-hati dalam menginterpretasikan hasilnya." Jelasnya lagi

Bukannya senang, Geo merasa semakin frustrasi dengan situasi ini, setelah mendengar perkataan Dr. Mila, Geo mengerti dan seakan langsung tahu, bahwa pelaku ini akan sangat sulit ditemukan.

Wajahnya tampak tegang dan matanya berkaca-kaca. Dia menghela nafas panjang dan mengusap dahinya yang basah oleh keringat. Dia merasa seolah-olah mereka telah mencapai jalan buntu dalam penyelidikan ini, dan setiap langkah maju yang mereka ambil tampaknya hanya menghasilkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Geo melihat ke sekeliling, mencari sesuatu untuk membantu mengalihkan perhatiannya dari rasa frustrasi yang membara. Dia mencoba untuk tetap fokus pada tujuan akhir mereka - menemukan pelaku - tetapi sulit untuk tidak merasa kewalahan oleh tekanan dan ketidakpastian.

Dalam hati, Geo berharap agar mereka segera menemukan petunjuk yang jelas dan berguna, agar mereka bisa menyelesaikan kasus ini dan mengembalikan kehidupan mereka kembali normal. Namun, dia juga tahu bahwa mereka harus tetap tabah dan terus melanjutkan, tidak peduli seberapa sulitnya.

"Ah, jadi kita mungkin masih belum bisa menemukan pelaku dengan cepat. Saya merasa sedikit frustrasi, karena kita sudah berusaha keras dan sepertinya kita belum mendapatkan kemajuan yang signifikan." ungkap Geo.

"Tenang, Geo. Walaupun tes DNA mungkin tidak memberikan jawaban langsung, setidaknya kita punya petunjuk baru untuk diikuti. Kita harus tetap positif dan terus bekerja sama untuk mengungkap kebenaran." ucap Raka, menenangkan Geo.

"Raka benar, Geo. Kita harus tetap optimis dan tidak menyerah. Saya yakin dengan kerja keras dan kerjasama kita, kita akan berhasil mengungkap identitas pelaku." Dr. Nita mengimbuh.

Geo hanya merespon senyuman. Mengingat kalau pelaku begitu licin saat menghindari hukuman, membuat Geo benar benar naik pitam. “Jia, jangan pernah memaafkan orang yang telah membunuhmu. Begitu juga denganmu, Dika dan Sua. Kalian, jangan pernah memaafkan orang yang bertanggung jawab atas kematian kalian. Kalian juga jangan pernah berpikir untuk memaafkan ku. Karena, jika setalah aku bisa menangkap pelaku itu, apapun alasannya, aku akan tetap membunuhnya.” ucap Geo dalam lubuk hatinya yang paling mendalam.

Raka melihat kefrustasian Geo dan merasa perlu untuk menghiburnya. Dia menepuk bahu Geo dengan lembut dan tersenyum hangat lalu berkata, "Geo, aku tahu kamu merasa frustrasi sekarang, tapi ingatlah bahwa kita semua ada di sini untuk mendukung satu sama lain. Kita telah menghadapi banyak tantangan sebelumnya, dan kita selalu berhasil menyelesaikannya bersama."

Geo mengangguk perlahan, mencoba menenangkan diri dan meresapi kata-kata Raka.

"Kadang-kadang, kita memang perlu melalui proses yang sulit dan membingungkan untuk mencapai hasil yang kita inginkan. Tapi yang terpenting adalah kita tidak menyerah dan terus bekerja keras." imbuh Raka.

Geo tersenyum tipis, merasa sedikit lebih baik setelah mendengar kata-kata Raka.

"Jadi, mari kita tetap fokus dan bekerja sama sebagai tim. Aku yakin kita akan menemukan petunjuk yang kita butuhkan dan menyelesaikan kasus ini. Kita bisa melakukannya, Geo!" ucap Raka, menyemangati Geo.

Merasa sudah mendapatkan petunjuk, Geo dan Raka berterimakasih para Dr. Nita dan keluar dari ruangan tersebut.

Namun, Dr. Nita teringat sesuatu dan menghentikan mereka.

"Tunggu!" sentak Dr. Nita.

Geo dan Raka berbalik dan melihat Dr. Nita yang tengah mencari sesuatu.

"Aku merasa sedih setelah melihat Geo yang frustasi hingga aku lupa mengatakan pada kalian. Sampel yang ada pada kalung pelaku yang membunuh Sua, tidak sama dengan orang yang membunuh Jia ataupun Dika." ungkap Dr. Nita.

Geo dan Raka saling bertatapan, seolah melakukan telepati,pertanyaan mereka sama, yaitu siapa dan kenapa mereka menggangu orang yang tak bersalah.

"Dan juga, tulisan tangan yang ada pada buku harian Jia, pada halaman terakhir, itu bukanlah tulisan tangan Jia sendiri, melainkan orang lain."

Setelah keluar dari laboratorium, Raka menatap Geo sekali lagi.

Raka merasa seperti ada yang terlewat, dan saat itu juga ia menyadarinya.

"Geo, jangan bilang jika kau punya maksud tersembunyi dengan menolongku menangkap pelakunya. Kau, tidak mungkin akan diam saja setelah tertangkap, bukan?"

Geo tersenyum tipis, "Kau menjadi detektif sungguhan, Raka. Maaf, tapi sulit bagiku untuk diam dan tenang kita pelaku sudah ada di depan mataku. Lihat saja setelah pelakunya tertangkap nanti," ucap Geo dengan amarahnya yang terpendam lalu melangkahkan kakinya. Namun, langkah kaki Geo dihentikan Raka pada saat itu dengan mencengkram lengan Geo.

"Geo, kau tahu. Bukan ini yang diinginkan Jia. Jia pasti tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirimu, karena dirinya. Tenangkan dirimu dan berpikirlah dengan jernih, kau pasti-"

"Kumohon diam lah!" Bentak Geo.

Raka terkejut, karena setelah kematian istrinya, baru kali ini Geo melepaskan amarahnya.

"Yang diinginkan Jia? Apa kau tahu apa yang diinginkan oleh istriku?" ujar Geo dengan nada suara yang meninggi, ekspresinya tampak tegang. "Memangnya kau siapa?" tambahnya, menunjuk Raka dengan jari yang bergetar karena amarah.

Di saat yang sama, Nadia melihat semua yang dibicarakan Raka dan Geo. Ia juga melihat Geo yang pergi dengan marah dan kesal.

Nadia merasa bingung dan penasaran tentang apa yang terjadi antara Raka dan Geo. Karena ia bukan teman baik mereka. Melihat Geo pergi dengan marah dan kesal, Nadia merasa sedikit khawatir tentang bagaimana perasaan terdalam Geo saat itu.

Terpopuler

Comments

R Suryatie

R Suryatie

penuh misteri

2023-10-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!