Bab 16 : Membuka hati dan meminta maaf

Melihat Geo pergi begitu saja, membuat Nadia mengikutinya tanpa mengatakan sepatah katapun.

Nadia berjalan di belakang Geo dengan langkah yang hati-hati, berusaha untuk tidak membuat suara apapun yang bisa menarik perhatiannya. Dia merasa cemas, tapi juga penasaran. Dia tahu Geo adalah orang yang baik dan dia ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Mereka berdua berakhir di taman yang sepi. Geo duduk di bangku taman, tampaknya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Nadia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mendekatinya. Dia duduk di sampingnya, memberinya senyuman yang hangat dan bertanya, "Geo, ada apa? Kamu tampaknya sedang memikirkan sesuatu yang berat."

Geo menoleh dan menatap Nadia, tampak terkejut sejenak sebelum wajahnya melunak. Dia menarik napas dalam-dalam, seolah mencari keberanian untuk berbicara. Nadia menunggu dengan sabar, memberinya ruang dan waktu yang dia butuhkan.

"Hmm, banyak sekali," jawab Geo dengan suaranya yang parau.

"Jika ingin, kau bisa menceritakannya padaku," ujar Nadia.

Geo menatap Nadia dengan intens. Merasa tidak nyaman, Nadia mengatakan, "Kalau tidak, kau bisa diam saja, aku akan mendengarkan keheningan mu dan menemanimu di sini."

Untuk beberapa saat mereka benar benar berada di dalam situasi yang hening. Hingga akhirnya Geo membuka suara.

"Nadia," Panggil Geo dengan suaranya yang parau.

Nadia hanya menoleh dan menatap Geo. Ia merasa sedikit khawatir dan penasaran dengan apa yang ingin Geo sampaikan.

Geo diam beberapa saat seolah memberanikan dirinya untuk apa yang akan ia sampaikan.

"Aku merasa sangat bersalah."

"Hari itu hujan sangatlah deras. Jia meneleponku dan meminta bantuanku, untuk mengantarnya ke rumah sakit. Karena hari itu aku sangatlah sibuk, aku tidak mendengar dengan jelas apa yang Jia katakan padaku."

"Jika malam itu juga aku pulang, dan melihat Jia begitu sedih karena hasil tesnya. Aku mungkin akan menghiburnya. Dan hari ini pun, kita pasti menjalani hari hari seperti biasanya." ungkap Geo seraya memecah tangisnya.

"Kupikir dia baik baik saja karena selalu tersenyum. Tapi, kenapa setelah kematiannya ... Aku selalu merasa dia sering terluka," tambahnya lagi.

Perasaan Nadia bercampur aduk, ia merasa empati terhadap Geo yang tengah dilanda rasa bersalah. Meskipun Nadia tidak mengenal mereka secara dekat, ia bisa merasakan betapa beratnya beban yang mereka pikul.

Nadia duduk di samping Geo, mencoba menawarkan dukungan dan pengertian sebisa mungkin. Dia merasa terpanggil untuk membantu, walaupun ia tahu bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah keadaan. Nadia berharap bahwa dengan mendengarkan dan berbicara dengan Geo, ia bisa membantu meringankan beban yang Geo rasakan.

Nadia melihat Geo yang masih sedih dan menangis tersedu-sedu. Dia merasa perlu memberikan dukungan lebih, jadi dengan perlahan, ia mengulurkan tangannya dan memeluk Geo dengan lembut. Nadia berharap pelukan itu bisa memberikan sedikit kenyamanan dan kehangatan di tengah kesedihan yang dialami Geo.

Awalnya, Geo tidak menyadari bahwa Nadia memeluknya, karena ia terlalu terhanyut dalam kesedihan dan tangisannya. Namun, perlahan Geo mulai merasakan kehangatan dan kelembutan pelukan Nadia. Rasa itu seolah memberitahunya bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi perasaan bersalah ini.

Geo mulai merasa sedikit lebih baik, meskipun air mata masih mengalir di pipinya. Dia menyadari bahwa Nadia, meskipun bukan teman dekatnya, telah menunjukkan kepedulian dan empati yang luar biasa. Pelukan itu menjadi pengingat bagi Geo bahwa masih ada orang yang peduli dan bersedia mendukungnya, bahkan di saat-saat tergelap.

Mereka berdua duduk di bangku taman itu, terjalin dalam pelukan hangat, di bawah sinar matahari yang terang. Meskipun kesedihan dan penyesalan masih ada, mereka berdua merasa sedikit lebih kuat dan lebih siap untuk menghadapi apa yang akan datang.

Sementara itu, angin berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan pohon di sekitar mereka. Suara burung-burung yang berkicau seolah menjadi latar belakang yang menenangkan bagi percakapan mereka. Nadia berharap bahwa di tengah kesedihan dan penyesalan yang Geo rasakan, mereka bisa menemukan sedikit kenyamanan dan kekuatan untuk menghadapi hari-hari yang akan datang.

Beberapa hari kemudian, Geo memutuskan untuk menemui Raka di kantornya. Dia ingin meminta maaf karena pernah membentak Raka saat mereka bekerja bersama. Geo merasa sedikit malu dan gengsi, karena meminta maaf bukanlah hal yang mudah baginya.

Setelah sampai, Geo menemukan Raka sedang bekerja dengan serius di meja kerjanya. Geo menghela napas dan mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi Raka.

"Em, Raka... aku ingin bicara sebentar," kata Geo dengan nada ragu-ragu.

Raka menoleh dan tersenyum, "Oh, hei Geo! Ada apa?"

Geo merasa semakin gugup, ia mulai bertele-tele, "Jadi, umm... beberapa waktu lalu, saat kita bekerja di sini... aku, em... aku agak kasar padamu. Dan, em, aku merasa... aku merasa..."

Raka menyadari apa yang Geo coba sampaikan, namun dia merasa terhibur melihat Geo yang biasanya percaya diri kini terlihat begitu canggung dan malu. Raka tak bisa menahan tawa kecilnya.

Geo akhirnya mengumpulkan keberaniannya dan berkata, "Aku minta maaf, Raka. Aku tidak seharusnya membentak mu. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu."

Raka tertawa sejenak, kemudian dia menepuk bahu Geo dan berkata, "Tenang saja, Geo. Aku tahu kamu sedang tertekan saat itu. Aku menerima permintaan maafmu. Kita semua pernah melakukan kesalahan, yang terpenting adalah kita belajar dari kesalahan tersebut."

Geo merasa lega mendengar kata-kata Raka. Dia tersenyum malu dan mengangguk, "Terima kasih, Raka. Aku akan berusaha lebih baik lagi ke depannya." ucapnya formal. Di tempat kerja Raka, Geo bersikap seolah ia benar benar seperti jurnalis investigasi yang meminta sedikit laporan pada Raka.

Bukan hanya benar benar, Geo memanglah jurnalis investigasi.

Setelah selesai Geo kembali ke kantornya dan melanjutkan apa yang menjadi pekerjaannya.

Setelah mendapatkan persetujuan lagi dari Lenny, Geo menyiapkan diri untuk publikasi. Dia tahu bahwa berita ini akan mengejutkan banyak orang dan mungkin menimbulkan reaksi yang kuat, tetapi dia siap untuk menghadapi konsekuensinya.

Pada hari publikasi, berita tentang skandal penggelapan dana dan korupsi di perusahaan besar itu menjadi berita utama di surat kabar tempat Geo bekerja. Reaksi publik datang dengan cepat dan kuat, dengan banyak orang menuntut tindakan segera dari pihak berwenang.

Sementara itu, Geo terus melacak perkembangan kasus ini dan melaporkan setiap perubahan kepada publik. Dia juga berkomunikasi dengan sumber-sumbernya untuk mendapatkan informasi terbaru dan memastikan bahwa dia selalu selangkah lebih maju dari pihak yang berusaha menutupi skandal ini.

Tak lama setelah berita itu diterbitkan, pengadilan memulai penyelidikan formal terhadap perusahaan dan pejabat yang terlibat. Geo diundang untuk memberikan kesaksian dan mempresentasikan bukti yang telah dia kumpulkan.

Dalam beberapa bulan, sejumlah eksekutif perusahaan dan pejabat pemerintah ditangkap dan diadili. Meskipun prosesnya panjang dan sulit, Geo merasa puas melihat bahwa kerja kerasnya telah membantu membawa keadilan.

Namun, Geo tahu bahwa pekerjaannya belum selesai. Dia terus melacak kasus-kasus korupsi lainnya dan berkomitmen untuk membawa kebenaran ke publik, tidak peduli seberapa sulit tantangannya.

"Dunia mungkin tidak sempurna," pikir Geo, "tapi selama ada orang yang berani berbicara dan bertindak, kita selalu memiliki harapan untuk perubahan yang lebih baik."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!