Bab 10 : Doktor cantik dan Detektif

Setelah tiba di gudang, Geo dan Raka mulai menyelidiki area tersebut, mencari petunjuk yang mungkin membantu mereka memecahkan teka-teki di balik pembunuhan Jia. Mereka ditemani oleh beberapa ahli forensik yang telah ditugaskan untuk menangani kasus tersebut.

Salah satu Ahli Forensik berkata, "Kami menemukan jejak darah di lantai gudang ini. Setelah dianalisis, darah tersebut cocok dengan tipe darah Jia."

"Jadi, ini memang tempat di mana Jia dibunuh. Tapi masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab." ucap Geo dengan suara parau nya.

"Benar, seperti siapa pelakunya dan apa motifnya?" ucap Raka bertanya-tanya.

Saat mereka melanjutkan penyelidikan, Raka menemukan selembar kertas yang tersembunyi di balik beberapa kotak. Dia membacanya dan mendapati bahwa itu adalah laporan kehamilan Jia yang menunjukkan hasil negatif.

Geo dan Raka tak terkejut dengan isinya, namun mereka bingung, kenapa kertas laporan ini bisa sampai ke gudang?

"Geo, lihat ini! Laporan kehamilan Jia menunjukkan hasil negatif. Mungkin ada hubungannya dengan pembunuhan Jia. Tapi apa itu?" tanya Raka semakin bingung

Geo melihat keseliling dan merasakan bagaimana tersiksanya Jia malam itu. Ia merasa sangat sedih dan marah.

Sementara itu Ahli Forensik lainnya berkata dengan keras bahwa, "Kami juga menemukan sidik jari yang tidak cocok dengan Jia di beberapa benda di gudang ini. Kami akan memeriksa sidik jari tersebut untuk mencari tahu siapa pemiliknya."

Dengan bantuan ahli forensik, Geo dan Raka mulai mengungkap teka-teki di balik pembunuhan Jia. Mereka juga berpikir, laporan kehamilan negatif mungkin berperan dalam konflik atau tekanan emosional yang dialami Jia, dan ini bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian pembunuhan.

Hari terus berlanjut. Geo dan Raka, memilih sebuah kafe kecil sebagai tempat mereka untuk menjernihkan pikiran.

Dengan suara yang datar, Geo lebih dulu memulai percakapan.

"Rak, jika dari awal aku menyerahkan kasus Jia padamu, apakah besar kemungkinan jika Dika dan Sua selamat?" tanya Geo dengan suara yang datar dan pandangan matanya yang hanya memandangi kopi hangat yang mulai mendingin.

Mengingat bagaimana Dika dan Sua tewas setelah Jia. Membuat Geo merasa sedikit menyesal. Hanya karena perasaannya pada jia yang mendalam membuatnya tak berpikir kalau sebenarnya kejadian ini merupakan kasus berantai yang harus segera di tangani. Namun, Geo mengabaikan hal itu dan malah hanya terus berduka.

Setelah melihat ekspresi muram Geo, Raka menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan lembut, "Geo, aku tahu kamu merasa bersalah dan sedih. Tapi ingat, kita tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencari pelaku dan kau bisa membalaskan dendam mu dengan memasukkannya ke dalam sel dingin yang menakutkan."

Raka berhenti sejenak, menyesap kopinya, lalu melanjutkan, "Kamu adalah seorang suami dan teman yang luar biasa bagi Jia, dan aku yakin dia tidak ingin kamu merasa bersalah atas apa yang terjadi. Jia, Dika, dan Sua pasti ingin kita tetap kuat dan melanjutkan hidup, sambil mencari keadilan untuk mereka."

Mendengar perkataan Raka, Geo merasa sedikit lebih baik. Dan malam itu mereka pulang tanpa mengatakan sepatah katapun.

Esok harinya, Raka memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit tempat Mila bekerja untuk menanyakan beberapa hal terkait dengan kasus pembunuhan Jia. Raka tidak mengajak Geo, sebab ia merasa Geo masih sedih dan merasa bersalah.

Setelah tiba di rumah sakit, Raka menuju ke ruang praktek dokter muda bernama, Mila.

Saat Raka duduk menunggu di ruang tunggu, Mila keluar dari ruang prakteknya dan menyapa Raka dengan ramah.

"Halo, apakah Anda menunggu untuk bertemu dengan saya? Saya Mila, dokter spesialis psikiatri di rumah sakit ini."

"Halo, Mila. Saya Raka, seorang detektif. Saya sedang menyelidiki kasus pembunuhan seorang, dan ingin menanyakan beberapa hal yang mungkin relevan dengan kesehatannya." jelas Raka.

Mila mengangguk dan mengundang Raka masuk ke ruang prakteknya.

"Baiklah, mari kita bicarakan di dalam ruangan. Silakan duduk."

Setelah mereka duduk, Raka mulai menjelaskan kasus tersebut kepada Mila dan meminta pendapatnya tentang dampak emosional yang mungkin dialami oleh Jia sebelum kematiannya.

"Kami menemukan laporan kehamilan negatif Jia dan ingin tahu apakah dampaknya pada kesehatan mentalnya mungkin terkait dengan kasus pembunuhan ini." ucap Raka.

"Seorang wanita yang mengalami kehamilan negatif bisa merasa kecewa, sedih, atau bahkan depresi, terutama jika mereka sangat menginginkan anak. Setiap individu akan bereaksi berbeda, tetapi penting untuk memberikan dukungan dan pengertian dalam situasi seperti ini." jelas Mila.

"Apakah mungkin dampak emosional ini mempengaruhi kejadian pembunuhan, atau mungkin ada faktor lain yang perlu kami pertimbangkan?" tanya Raka.

"Sulit untuk mengatakan pasti tanpa mengetahui lebih banyak tentang situasi dan orang-orang yang terlibat. Namun, tekanan emosional bisa mempengaruhi perilaku seseorang dan membuat mereka lebih rentan terhadap konflik atau kekerasan. Kita perlu menyelidiki lebih lanjut untuk memahami keterkaitan antara laporan kehamilan negatif dan pembunuhan Jia." jelas Mila lagi.

Setelah memahami semuanya, Raka beranjak dan hendak pergi. Mila ingin mengantar Raka keluar dari ruang prakteknya, namun tak sampai di depan pintu, kaki Mila yang terluka karena tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, meringis pelan dan Raka menyadari hal itu.

Raka melihat ekspresi kesakitan di wajah Mila dan segera merasa prihatin. Dia mendekat dan dengan sopan menawarkan bantuan.

"Mila, sepertinya kamu terluka. Apakah kamu baik-baik saja?"

Mila tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Raka. Aku tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, dan sepertinya aku melukai kakiku sedikit."

Mereka berjalan perlahan menuju pintu, dengan Raka menjaga jarak yang sopan namun siap membantu jika Mila membutuhkan bantuan lebih lanjut. Saat mereka melangkah, Raka mencoba mengalihkan perhatian dari rasa sakit Mila dengan mengajaknya berbicara tentang topik ringan.

"Jadi, Mila, bagaimana kamu bisa tertarik dengan bidang psikiatri?" tanya Raka.

Mila menjawab sambil tersenyum, "Sejak kecil, aku selalu tertarik dengan cara kerja pikiran manusia dan ingin membantu orang yang menghadapi masalah emosional. Itulah yang membawaku ke dunia psikiatri."

Mereka tiba di pintu ruang praktek, dan Raka menahan pintu untuk Mila. Dia menawarkan untuk membantu Mila mencari bantuan medis untuk kakinya yang terluka, tetapi Mila menolak dengan sopan.

"Terima kasih, Raka, tetapi aku akan baik-baik saja. Aku akan mengobati lukaku setelah kamu pergi." ucapnya.

Raka mengangguk dan berpamitan. "Baiklah, Mila. Terima kasih atas bantuannya hari ini. Semoga kakimu cepat sembuh."

Mereka berpamitan dengan senyum ramah, dan Raka berjalan keluar dari ruang praktek. Meskipun pertemuan mereka singkat dan tidak terlalu intim, keduanya merasa ada koneksi yang muncul di antara mereka, dan mereka berharap bisa bekerja sama lagi kedepannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!