Setelah sampai di rumah, Nadia dengan cepat menghampiri pamannya, Arief, yang telah membekukan kartunya.
Ia melihat Arief duduk di salah satu bangku taman sambil membaca buku. Nadia menghampiri Arief dengan perasaan kesal karena baru saja mengetahui bahwa kartu kreditnya dibekukan oleh Arief.
"Paman, apa alasan kamu membekukan kartu kreditku? Kita perlu bicara!" Sentak Nadia dengan berdecak pinggang.
Arief, yang terkejut dengan kedatangan Nadia, menutup bukunya dan menatap Nadia dengan ekspresi bingung.
"Nadia, apa yang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti."
"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku baru saja mencoba menggunakan kartu kreditku, dan ternyata sudah dibekukan. Aku yakin ini ulahmu!" tuduh Nadia lagi.
"Nadia, aku tidak tahu menahu tentang itu. Aku tidak punya alasan untuk membekukan kartu kreditmu. Mungkin ada kesalahpahaman." ucap Arief bingung.
Nadia, yang masih tidak percaya, melanjutkan: "Paman Arief, jika kamu tidak mau mengaku, aku akan melaporkan masalah ini ke pihak berwajib. Kamu harus menjelaskan alasannya!"
Arief, yang merasa dituduh secara tidak adil, mulai merasa kesal.
"Baiklah, Nadia. Aku akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Tapi, aku bersumpah, aku tidak melakukan apa-apa terkait kartu kreditmu." ucap Arief meyakinkan Nadia lagi.
Mereka berdua kemudian pergi ke bank bersama untuk mengklarifikasi masalah ini. Setelah berbicara dengan pihak bank, ternyata ada kesalahan sistem yang menyebabkan kartu kredit Nadia dibekukan. Arief tidak ada hubungannya dengan kejadian tersebut.
"Paman, aku minta maaf karena menuduh mu tanpa bukti. Terima kasih sudah mau membantuku mengurus masalah ini." ucap Nadia.
"Tidak apa-apa, Nadia. Aku mengerti kamu merasa frustrasi. Yang terpenting sekarang masalahnya sudah terselesaikan." ucap Arief mengerti.
Sore itu, setelah kejadian di bank, Arief dan Nadia memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe favorit mereka. Mereka duduk di pojokan, memesan dua cangkir kopi dan beberapa potong kue. Setelah memesan, Nadia menatap Arief dengan serius.
"Nanti kembalilah dan tinggal di rumahmu." ucap Arief tiba tiba.
Nadia tersenyum pahit, "Rumah?" gumamnya.
"Paman Arief, aku minta maaf karena tadi pagi. Aku salah karena terlalu emosional dan menuduh mu tanpa bukti. Tapi, aku tak akan pernah kembali kerumah itu lagi."
Arief menatap Nadia dan tersenyum. Dia mengangkat tangannya dan mengelus kepala Nadia dengan lembut.
"Nadia. Aku mengerti. Kamu merasa frustrasi karena ayah dan ibumu. Tapi, mau bagaimanapun mereka tetaplah orang tuamu, orang yang tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Mengertilah dengan apa yang ayah dan ibumu lakukan, dan kembalilah ke rumah. Mereka menunggumu dengan harapan." ucap Arief.
Namun, Nadia berdiri dengan tegak dari duduknya dan berkata, "Paman, apakah ada orang yang rela mengurung anaknya hanya karena cinta yang tidak di restui? Lagipula aku sudah mengatakan kalau aku sudah tidak menyukai pria itu lagi!" ucap Nadia dengan marah.
"Terima kasih, Paman Arief. Kamu selalu sabar dan pengertian. Jika saja ayah dan ibu seperti itu, maka aku tak akan menjadi anak terlantar seperti ini."
Arief tak bisa berkata kata dan hanya terdiam saat melihat keponakannya pergi menjauh dari tempatnya.
Nadia merasa berat untuk melangkahkan kakinya menjauh dari Arief. Memenuhi perintah untuk kembali ke rumah bukanlah tugas yang mudah seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Kenangan tentang orang tua yang begitu obsesif terhadapnya, membuat setiap langkah menuju rumah terasa seperti membebani hatinya. Dia merasa enggan untuk menginjakkan kaki di rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, namun sekarang terasa lebih seperti penjara bagi hatinya yang lelah.
Berjalan menyusuri jalan taman membuat hati Nadia sedikit tenang.
Sore itu, Nadia memutuskan untuk menghabiskan waktu di taman kota yang indah, mencoba melupakan perasaan berat yang mengekang hatinya. Sambil menikmati keindahan alam dan semilir angin yang menenangkan.
Sementara itu, Geo juga tengah berada di taman yang sama, mencari ketenangan pikiran setelah menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Dia duduk di sebuah bangku taman, menatap langit yang cerah sambil merenung.
Tak lama kemudian, saat Nadia berjalan di sepanjang jalan setapak, dia menoleh dan melihat sosok yang tak asing lagi baginya. Itu adalah Geo, yang sedang duduk termenung di bangku taman. Nadia merasa kaget dan hatinya berdebar. Wajahnya berstruktur tegas dengan dagu yang kuat dan alis tebal yang memberikan kesan maskulin. Bibirnya tipis dan selalu terlihat tenang, menambah daya tariknya. Tak Hera kenapa hati Nadia berdebar kala melihat Geo yang duduk dengan tenang.
Nadia menghampiri Geo dengan ragu-ragu, berharap dia tidak mengganggu momen tenangnya.
"Geo? Apa kabar? Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini." ucap Nadia seraya tersenyum kikuk karena tidak tahu bagaimana harus menyapa Geo.
Geo menoleh, terkejut melihat Nadia di hadapannya. Wajahnya yang tadinya muram, kini berubah menjadi senyuman kecil yang licik.
"Oh, hai Nadia. Aku baik-baik saja. Tapi, aku tak yakin dengan pertemuan yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu akan menjadi kebetulan jika bertemu di sini, sekarang," ucap Geo dengan senyumnya.
Tentu, ketampatan saja tak akan membuat orang menjadi sempurna, sikap Geo yang terus saja mengejeknya membuat Nadia merasa sangat kesal. Namun, mau bagaimanapun, Geo adalah penyelamat yang mengeluarkannya dari sel dingin. Setidaknya Nadia merasa ia harus menjaga sikapnya.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiran sejenak, menikmati keindahan alam di sini. Tampaknya kita punya alasan yang sama untuk datang ke taman ini, ya?" tanya Nadia mengalihkan topik.
Geo memilih tak menjawab dan kembali menutup matanya, membiarkan angin segar melewati wajahnya. Setelah tak mendapat respon, Nadia duduk di samping Geo dan meniru apa yang Geo lakukan. Menutup mata, dan merasakan angin sejuk. Ia merasa seolah seolah perkataan pamannya tadi ikut terbang terbawa arus angin.
Kini, seolah-olah mereka tengah berbagi cerita dengan alam itu sendiri melalui telepati yang tak terucapkan. Senyum Nadia terukir lembut di wajahnya saat angin yang sedikit kencang menyentuh kulit halusnya, membawa kehangatan dan kenyamanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di tengah keheningan yang memeluk mereka, Geo perlahan membuka matanya dan memandangi Nadia yang tersenyum lepas, seolah beban hidupnya telah terangkat. Melihat kebahagiaan yang tercermin di wajah Nadia, entah mengapa Geo merasa rindu akan senyuman seperti itu pada dirinya sendiri, meski dia tahu bahwa kemungkinan untuk kembali merasakan kebahagiaan seperti itu tampak begitu jauh. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ada keinginan yang tak pernah padam untuk menemukan kembali cahaya kebahagiaan yang sempat hilang.
Saat itu juga, Geo teringat dengan mimpinya yang terhubung dengan lentera. Senyum Nadia, yang begitu tulus dan hangat, mengingatkan dirinya dengan lentera yang ia mimpikan semalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
R Suryatie
kadang menemukan kata yg typo,, msh menebak2 ceritanya berbau misteri atau apa
2023-09-20
0